Wanita Seribu Luka

Wanita Seribu Luka
Teman ku musuh ku.


__ADS_3

" Uwaaaaaaheeeemmm...." pukul 06.30 pagi, Emine baru bangun dari tidur semalamnya. Sudah memposisikan diri duduk, Iya menguap dengan mulut seperti goa gajah dengan mata yang masih tertutup dan kedua tangan di dorong kencang keatas membentuk WiFi.


Setelah puas menguap dan 25% jiwa-jiwanya sudah mulai berkumpul, Emine membuka mata yang berat dan kaku itu perlahan. Saking mengantuknya, mata yang sudah 20% terbuka mendadak tertutup kembali dan itu terjadi sekitar 4 kali. Untuk ke 5 kalinya Emine memutuskan membuka matanya 100%. Pandangannya langsung tertuju ke depan.


" Astaga!!!" Rasa malu di pagi hari ketika seorang polisi di luar sangkar besi sedang menatap Emine dengan senyum tipis semacam menertawakan. Spontan Emine menutup mulutnya yang tadi sempat terbuka lebar.


" Apa dia melihatku tadi sedang menguap? Aaaaaa,,,, ini sungguh memalukan." Gumam Emine dalam hati dengan wajah kecutnya.


Okan berjalan kearah Emine lalu membuka pintu sel. Emine membuang pandangannya kesamping karena terlalu malu untuk menatap pria itu.


" Selamat, kau dibebaskan."


Pandangan yang tadinya di buang kini kembali mengarah pada Okan.


" Benarkah???" Ucap Emine tidak menyangka akan keluar dari penjara secepat ini. Terukir garis senyum simpul pada wanita yang nampak sangat bahagia setelah mendengar berita menggembirakan di pagi hari.


Saking bahagianya, Emine lupa dengan kondisi kakinya yang belum pulih dan langsung berdiri, melangkahkan kaki begitu semangat untuk keluar.


" Ahhhhh,,,,," Alhasil baru satu langkah melangkah, Emine ambruk bersimpuh di lantai.


Okan yang masih berdiri di luar sel, segera masuk menghampiri Emine dengan sangat cemas.


" Kau tidak apa-apa?" Tanya Okan berjongkok menyetarakan tubuhnya di depan Emine. Emine menggelengkan kepalanya memberi kode bahwa dirinya baik-baik saja. Tapi Okan bisa melihat ekspresi Emine dengan sangat jelas sedang menahan rasa sakit.


" Hati-hati!!!" Ucap Okan memegang kedua tangan Emine memberi bantuan untuk Emine segera berdiri.


Rambut panjang Emine yang tergerai menutupi wajah Emine yang sekarang sedikit tertunduk. Emine kembali menegakan kepalanya menghadap Okan dengan rasa begitu canggung.


" Terimakasih." Ucap Emine kemudian menyikap rambutnya kebelakang.


" DEG,,,"


Okan tidak bisa membalas ucapan Emine. Ia terkejut melihat ada banyak tanda merah kebiruan di leher Emine yang sekarang terekspos bebas. Dres yang Emine kenakan di bagian leher sangat terbuka. Tanpa komando, Okan mengambil jaket yang terlgeletak di bawah dan mengibaskannya kebelekang tubuh Emine lalu menutupi sampai bagian depan.


Emine merasa bingung kenapa Okan menutupi tubuhnya lagi padahal hari ini cuaca tidak dingin. Salah tingkah juga dirasakan Emine karena sikap Okan yang begitu manis. Pipi Emine bersembur merah.


" Tidak,tidak. Ini milik mu. Aku tidak membutuhkannya lagi." Emine menolak jaket itu dan segera melepasnya.


" Kau harus memakainya." Ucap Okan dengan tatapan cemas dan suara sedikit ragu memakaikan lagi jaketnya pada Emine. Okan tidak tau apa yang harus ia katakan untuk 5 bekas ****** yang telah ia tempatkan pada leher seksi wanita ini.


" Sudah 2 hari. Kenapa masih ada bekasnya?" Tanya Okan dalam hati sangat takut jika Emine tidak menyukai atau tidak nyaman dengan hal ini.


" Kenapa aku harus memakainya? Sudah ku bilang aku tidak membutuhkannya lagi. Lagi pula aku tidak yakin bisa mengembalikannya nanti." Ucap Emine kembali memebuka jaketnya.


Tidak punya pilihan lagi, Okan terpaksa memberitahu Emine dari pada nanti orang lain melihatnya.


" Itu,,, Lehermu. " Ucap Okan gugup menunjuk leher Emine ragu dan tidak berani melanjutkan ucapannya.


" Leher ku?" Emine bingung dengan ucapan sekaligus ekspresi Okan. ia meraba-raba lehernya tapi tidak merasakan ada sesuatu yang berbeda.


" Deg,,,,,"


" Astaga." kejut Emine dalam hati dengan mata membulat ketika kejadian malam itu terlintas di otaknya. Emine langsung memakai kembali jaket Okan dengan rasa malu yang semakin meningkat lalu bergegas segera pergi dengan kaki pincangnya.


" Emine." Menahan tangan Emine.


Emine berbalik, hatinya sungguh berdebar.


" Bisakah kita bertemu lagi di lain waktu?" Ucap Okan penuh harapan.


" Tentu. Kita akan bertemu lagi jika kondisi ku sudah membaik." Ucap Emine dalam hatinya ia sedang berfikir kenapa dirinya tidak bisa menjauhi Okan jika pada akhirnya hanya akan bertemu dengan hubungan kosong. Sampai saat ini Emine masih mengira Okan sudah memiliki wanita lain karena kejadian piama itu.


Ozgur yang sedari tadi duduk menunggu Emine, kini berdiri menghampiri Emine yang baru saja keluar.


" Nona. Ini tongkat mu."


" Kakek tidak ikut?" Tanya Emine karena matanya tidak bisa menemukan sosok pria tua itu.

__ADS_1


" Tidak. Dia lebih memilih menunggu mu di rumah." Ucap Ozgur membalas.


Emine merasa kecewa, ia berharap kakek tua menjemputnya. Emine tidak terlalu memikirkan hal itu dan segera pergi dari tempat ini.


Okan, Murat, dan Tiras ikut mengantar Emine sampai ke luar.


" Nona. Mobil mu ada pada ku. Bisakah aku meminta alamat mu? Aku akan mengembalikannya." Ucap Murat masih mengingat mobil Emine ada padanya.


" Aku yang akan mengambilnya nanti. Lagi pula aku belum memerlukannya." Balas Emine.


" Nona. Aku akan menyiapkan mobil dulu." Tiba-tiba Ozgur menyela meminta ijin untuk memutar balik mobil yang terparkir di sebrang jalan. Emine menoleh dan menganggukan kepalanya.


" Nona. Apa kau masih mengenali ku?" Sambung Murat berfikir Emine tidak mengenalinya lagi.


Emine tersenyum tipis. Bagaimana ia bisa melupakan pria bermulut dua yang sempat berdebat dengan dirinya dan membuat Emine kesal hari itu.


" Tentu. Kau yang pernah bertengkar dengan ku di depan rumah Okan. Dan juga dia,,~~" Emine melempar pandangannya pada Tiras, berfikir sejanak mengenai pria ini.


Untuk pertama kalinya Tiras mendapat tatapan dari Emine. Jantungnya berdebar melihat mata Emine yang biru.


" Dia adalah pria baik. Kau yang megijinkan ku untuk pergi dari teman mu ini." Ucap Emine dengan senyum manisnya. " Perkenalkan. Nama ku Emine. Boleh aku tau nama mu tuan?" Tanya Emine menyodorkan tangannya ke arah Tiras.


" Nama ku Tiras." Balas Tiras menjabat tangan Emine dengan perasaan gerogi yang sudah tak karuan. Tangan Emine begitu lembut hingga membuat tangan Tiras menempel begitu lama.


" Ehemmmm,,," Okan berdehem membubarkan pegangan tangan mereka. Cemburu sudah berulang kali terjadi padanya, tapi ia masih tidak berani mengungkapkan cintanya pada Emine. Bahkan setelah berani menggagahi mulut dan leher Emine, ia masih tetap menjadi lelaki pengecut soal cinta. Tidak heran Okan seperti itu karena trauma akan cintanya dulu yang pernah dicampakan oleh Serin.


" Tiiiinnnnnnn,,,,," Suara Klakson dibunyikan Ozgur dari sebrang jalan.


" Kalau begitu aku pergi dulu." Emine pamit dengan matanya yang diarahkan kepada Okan sebelum berbalik dan pergi. Rasa tidak rela untuk berpisah sedang bersarang di hati mereka berdua. Namun apa daya tidak ada yang berani membuka suara di antara mereka untuk saling menghentikan. Akhirnya Emine pergi begitu saja.


Emine menoleh kanan kiri memastikan tidak ada kendaraan yang lewat. ketiga polisi itu memutuskan untuk masuk ke dalam namun suara teriakan menghentikan mereka.


" Aaaaaaaaaaaaaa,,,,,,!!!!!" Mobil truk tiba-tiba muncul dengan kecepatan full dari balik persimpangan. Tidak ada kesan mengerem atau mencoba untuk berhenti dari truk itu seakan-akan memang sengaja ingin mencelakai Emine.


" Nona. AWASS!!!" Teriak Ozgur dengan mata membulat tegang melihat truk itu melaju ganas sedangkan Emine masih berdiri di tengah-tengah jalan.


" Brukkk,,,," Badan Emine terguling-guling ke sisi jalan dengan pelukan erat dari seorang pria yang baru saja menyambar tubuhnya. Akhir pose, Emine dan pria itu saling menatap dengan tubuh miring mereka.


Darah keluar dari pelipis Orsan karena sempat berbenturan dengan trotoar jalan saat melindungi Emine.


" Berhati-hatilah!! Ada yang sedang mengincar nyawamu." Ucap Orsan lalu melepas pelukannya dari Emine dan lari secepat mungkin dari sana.


Okan lari menghampiri Emine diikuti 2 rekannya. Ozgur turun dari mobil juga ikut menghampiri Emine dan Ozgur lebih awal sampai dari Okan.


" Nona. Kau tidak apa-apa?" Ucap Ozgur membantu Emine berdiri.


" Emine. Kau baik-baik saja kan?" Ucap Okan saat Emine sudah berdiri dengan tatapan kosong kearah larinya Orsan.


" Nona. Apa ada yang terluka?" Tanya Tiras juga ikut kawatir.


Tidak ada yang mendapat jawaban atas kekawatiran mereka dari Emine. Otak Emine masih mencoba mencerna maksud dan tujuan Orsan menyelamatkannya sekaligus ucapan Orsan yang begitu lekat di ingatan Emine.


" Nona." Ozgur menyentuh lengan Emine memberi pancingan kesadaran terhadap mata Emine yang masih membeku.


Emine mengerjapkan matanya, melihat sekeliling ternyata 4 pria disekitarnya sedang mematap cemas kearah dirinya.


" Ya. Aku tidak apa-apa." Entah kenapa mulut dan hati Emine begitu kaku untuk mengatakan bahwa yang menyelamatkannya adalah pembunuh berantai. Emine memilih diam.


" Siapa kau sebenarnya? Kenapa aku selalu lemah saat berhadapan dengan mu?" Tanya Emine dalam hati sangat terganggu dengan apa yang terjadi pada dirinya.


Wanita yang sedang duduk di dalam mobil sedari tadi mengamati 5 orang di depannya sekarang memacu mobilnya dan meninggalkan tempat itu dengan rasa kesal yang memuncak karena rencananya untuk membunuh Emine gagal.


" Sial. Kenapa Emine selalu beruntung? Siapa dia yang sudah berani menyelamatkan Emine??" Ucap wanita itu emosi.


Wanita yang sudah membayar seseorang untuk menabrak Emine tidak lain adalah sahabat Emine sendiri, Serin.


Dari kejadian Okan mengakui cintanya pada Emine sampai malam dimana mereka berdua berciuman panas di jeruji besi, membuat Serin buta akan kenyataan bahwa Emine adalah sahabatnya sendiri. Cinta Serin untuk Okan sangatlah besar hingga mampu membuatnya untuk melakukan hal apa pun demi mendapatkan Okan kembali. Kebencian Serin untu Emine sudah menjadi satu dengan darahnya yang kini mengental. Meski Serin tau sebenarnya Emine tidak mengetahui apa pun tentang hubungan antara dirinya dan Okan tapi itu tidak mengurangi niat jahat Serin kepada Emine yang nantinya akan dilanjutkan dengan seribu drama Serin atas nama persahabatan.

__ADS_1


*


Di tengah perjalanan pulang, Emine melempar pandangannya ke luar jendela mobil menatap pemandangan kota Istanbul yang lama sudah tak ia lihat dengan tatapan kosong. Meski sorot mata Emine begitu mati, tapi otaknya sedari tadi terus bekerja mencari tau siapa yang sedang mengincar dirinya. Saat ini hanya ada satu tersangka yang dapat Emine temukan yaitu Kemal.


" Ozgur." Panggil Emine kepada Ozgur yang sedang fokus menyetir di sampingnya. " Bagaimana pergerakan Kemal?" Tanya Emine menatap Ozgur dari arah samping.


" Kemal?" Menatap Emine sekilas lalu kembali mengarahkan pandangannya ke depan. " Dia masih berusaha mencari keberadaan Nyonya Velief dan anaknya. Tapi Kemal tidak akan semudah itu menemukan posisi Nyonya Velief." Ucap Ozgur memberi jawaban.


Bukan jawaban ini yang Emine inginkan. Emine kembali bertanya lebih spesifik lagi.


" Apa Kemal mengenali ku?" Tanya Emine.


" Sepertinya tidak. Kemal mungkin hanya tau kau adalah pencuri malam yang begitu terkenal membahayakan bagi orang-orang jahat." Ucap Ozgur. Ozgur juga mengetahui Emine hanya akan menerima misi jika Emine ada di pihak yang benar atau klayennya adalah orang yang baik.


" Aku tidak menuduh, tapi apa mungkin salah satu dari anak buah kakak Velief memberitahu tentang diriku pada Kemal?" Emine bertanya seperti karena yang tau dirinya adalah pencuri malam adalah Velief, beserta bawahannya termasuk anak buahnya.


Ozgur tidak mengerti kenapa Emine bertanya seperti itu. Sebagai ketua dari bodyguard Velief, Ozgur merasa sedikit tersinggung klannya dicurigai.


" Nona. Jika salah satu dari kami ada yang berhianat, tidak mungkin dia memberitahu tentang dirmu pada Kemal. Akan lebih tepat jika dia memberi tahu keberadaan Nyonya Velief karena itu lebih penting." Jawab Ozgur.


Emine diam seketika setelah mendengar jawaban Ozgur yang sangat benar.


" Maafkan aku!! Aku tidak bermaksud apa-ap." Ucap Emine kembali melempar pandangnya ke pemandangan di luar.


" Jika bukan Kemal lalu siapa lagi??" Tanya Emine dalam hati. Emine tidak yakin jika ini adalah perbuatan dari korban-korban pencuriannya dulu.


Waktu perjalan pulang digunakan Emine untuk berfikir dan berfikir tapi tidak menemukan jawaban. Hingga sampai di dalam rumah kakek tua pun Emine masih melamun.


Ozgur sudah membuka sabuk pengamannya tapi Emine tak kunjung berkutik sedikit pun.


" Nona." Panggil Ozgur mengagetkan Emine.


Emine sadar dari lamunannya.


" Kita sudah sampai." Ucap Ozgur kepada Emine yang matanya terlihat linglung menatap sekitaran rumah ini dari dalam mobil.


Emine langsung turun dari mobil. ia masuk kedalam rumah besar yang sampai saat ini tidak ada perubahan secara signifikan. Hanya ada beberapa pot bunga di depan rumah yang beralih posisi.


" Kakek,,," Ucap Emine bahagia dan haru melihat kepala botak dibagian atas yang terlihat dari balik sofa.


Kakek tua berdiri, lalu membalikan badannya setelah mendengar suara yang sudah 1 bulan lebih ia rindukan. Cucu angkat tersayangnya sudah berjalan cepat kearahnya dengan kaki pincang dan mata berkaca-kaca lalu memyambar tubuh kakek tua dengan pelukan dan air mata penuh kerinduan.


Kakek tua membalas pelukan Emine.


" Maafkan kakek Emine. Maafkan semua kesalahan kakek!!l Ucap kakek tua dengan nada penuh penyesalan dan rasa bersalah.


Ozgur jadi ikut terharu melihat mereka berdua. Selama hidupnya, Ozgur tidak pernah merasakan kasih sayang dari orang tua atau keluarganya karena semua keluarganya di bunuh dan hanya Ozgur yang berhasil selamat. Dan akhirnya ia di pungut oleh orang tua Velief di jalanan.


Emine melepas pelukannya kemudian beralih menatap kakek tua dari atas sampai bawah.


Kesedihan Emine semakin bertambah melihat tubuh kakek tua yang berubah menjadi kurus kering. Tulang pipi kakek tua begitu terlihat. keriput kulitnya yang putih pucat semakin membuat kakek tua seperti kakek tua yang tak terurus.


" Apa ini kakek? Kenapa kakek tidak menjaga kesehatan?" Tanya Emine dengan air mata yang sudah membasai pelupuk dan pipi.


" Kakek masih sehat. Lihat ini!!" Kakek tua menarik lengan bajunya dan memperlihatkan dengan percaya diri ototnya yang hanya tinggal tulang belulang.


" Apa selama satu bulan ini kakek tidak makan dengan benar? kenapa bisa sampai sekurus ini?" Tanya Emine begitu iba melihat kakek tua.


" Bagaimana kakek bisa makan sedangkan kau terbring lemah memperjuangkan hidupmu?" Tanya kakek tua dengan ekspresi tak kalah menyedihkan dari Emine. Ozgur sudah menceritakan semua yang terjadi pada Emine. Dari malam penembakan, Emine koma di rumah sakit, kematian Emine dan juga keajaiban yang terjadi pada Emine.


" Dasar kakek bodoh. Makan tidak makan sama sekali tidak ada hubungannya dengan nyawaku." Ucap Emine kembali memeluk kakek tau yang sudah ia anggap sebagai malaikat yang telah merubah hidupnya.


*


*


*

__ADS_1


Minta dukungan kalian ya para readers tercinta untuk like+ komen!! Jangan cuma di baca trus ditinggal gitu aj!! Oh iya untuk kalian yang lupa nge like ep² yang sebelumnya karena keasikan ngikut alurnya, tlng kasih jempolnya biar ep yang gak kebagian like jadi ga nangis.


Vote author juga ya seiklasnya!


__ADS_2