
Masih di tempat yang sama, sepasang kekasih duduk di bawah pohon mangga. Terlihat banyak sekali orang-orang berbaju biru dengan infus di tangan. Sama seperti Emine, mereka ingin melepas rasa jenuh dan menghirup udara segar.
" Aku baru tau kau dan Serin adalah teman masa kecil." Celetuk Emine tiba-tiba meninggalkan topik pembicaraan yang sebelumnya dan beralih ke topik baru.
Sebenarnya Okan enggan untuk membicarakan hal ini tapi Emine akan curiga jika Okan menghindari pembicaraan. Melihat Emine sangat menyayangi Serin sebagai sahabatnya, Okan tidak ingin Emine tau tentang hubungan mereka. Okan takut jika Emine malah merasa bersalah dan menanggap dirinya telah menjadi orang ketiga dalam hubungannya dengan Serin.
" Aku dan Serin, kami tumbuh dan besar bersama. Keluarga Serin dan ibuku sangat dekat. " Sahut Okan.
" Spertinya ada kisah menarik di antara kalian." Emine sengaja berbicara seperti itu untuk memancing Okan untuk mau bercerita lebih banyak lagi. Ia masih mengingat kejadian tadi pagi, saat Okan menungkapkan hubungan mereka pada Serin. Tatapan Serin dan Okan tidak biasa, seperti ada sesuatu dan Emine sangat penasaran.
" Tidak ada!! Hanya hubungan biasa. Kami hanya berteman." Okan terlihat tidak tertarik dengan pembicaraan ini. Ekspresinya begitu datar ke arah orang-orang di depannya.
" Seorang lelaki dan seorang perempuan berteman. Bisakah mereka tidak melibatkan perasaan?" Ucap Emine menatap Okan lekat.
" Apa maksud mu? Kau menuduh ku memiliki hubungan dengan Serin?" Okan menjawab ucapan Emine dengan wajah terlihat kesal. Nada suaranya terdengar tidak normal.
Dari reaksi Okan, Emine semakin curiga tapi ia tidak ingin membuat suasana menjadi kacau. Emine tidak ingin nantinya malah menuduh Okan.
" Ahhhh,,,tidak. Aku hanya bercanda. Kau terlalu serius. Jangan dimasukan dalam hati!!" Emine membalas ucapan Okan yang menegang itu dengan senyum seperti sedang membuat sebuah lelucon panas di pagi hari.
Okan merasa sedikit lega. Ia percaya Emine memang sedang bercanda.
" Jangan pernah memikirkan sesuatu yang bisa merusak hubungan kita!!" Minta Okan. Emine membalasnya dengan senyum manis.
" Maafkan aku!!" Ucap Emine dengan menjewer telinganya sendiri ditambah wajahnya yang di imutkan. Seketika Okan merasa luluh dengan wajah itu kemudian tersenyum melihat tingkah kekasihnya. Ia mengacak gemas rambut Emine.
Di balik senyum Emine, jauh di hatinya ia sedang bergumam.
• Semoga kau tidak menyembunyikan apa pun dari ku!! • Emine merasa tidak tenang. Ia tetap merasakan ada sesuatu yang berusaha Okan tutupi darinya.
" Drettttt,,,,Drettttt,,,Drettttt,,," Suara dering ponsel dari saku celana.
Okan mengambil ponselnya yang mendapat sebuah panggilan dari Jendral Sam.
" Tunggu Sebentar!!" Ucap Okan kemudian berdiri dan berjalan menjauh dari Emine.
Sembari menunggu Okan, Emine memperluas pandangannya ke segala arah. Di dekat air mancur, Emine melihat seorang perempuan yang sepertinya tidak asing. Perpempuan itu seperti sedang mencari sesuatu. Karena merasa tidak yakin, Emine mengabaikan saja wanita itu kemudian mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Beberapa menit kemudian, setelah selesai berbicara di telfon, Okan kembali menghampiri Emine.
" Emine aku harus pergi. Atasakan ku menyuruh ku menghadap ke tempatnya." Ucap Okan. Ia tidak iklas meninggalkan Emine tapi perintah dari atasannya tidak bisa di abaikan begitu saja.
Emine mengira Okan akan berada di sisinya untuk waktu yang lama ternyata sama saja, selalu sibuk. Emine sedikit kecewa namun berusaha ia sembunyikan.
" Pergilah!! Jangan kawatirkan aku!!" Ucapnya sambil tersenyum ringan.
__ADS_1
" Maafkan aku!! Aku akan segera kembali." Lagi dan lagi Okan pergi begitu saja meninggalkan Emine sendiri di taman. Emine menatap punggung pria yang semakin jauh darinya berharap pria itu berbalik dan bersikap bertanggung jawab dengan mengantar Emine kembali ke kamar. Tapi sayangnya semua itu tidak sesuai harapan. Okan terus berjalan hingga menghilang dari pandangan.
Okan mengubungi Tiras dan Murat untuk segera datang ke parkiran dan berangkat bersama menghadap Jendral Sam.
Untuk sesaat Emine berfikir bahwa Okan lebih mementingkan tugasnya dari pada wanita yang sedang duduk di bawah pohon, sendirian.
" Tidak apa-apa Emine. Nantinya kau akan terbiasa." Gumam Emine kemudian menyeka air matanya yang tanpa sadar sudah meluncur di pipi.
Emine terpaksa kembali kekamarnya sendiran tanpa ada seseorang yang menjaga setiap langkah kakinya. Emine merasa iri saat melihat seorang nenek yang sakit sedang berjalan-jalan kecil di lantai bawah ditemani seorang kakek yang setia berada di samping nenek itu. Meski sudah tua, mereka terlihat begitu harmonis.
Emine kembali melangkah sampai akhirnya tiba di depan kamar yang terletak di lantai paling atas. Fika tiba tepat saat Emine ingin masuk ke dalam. Nafas Fika ngos-ngosan seperti habis melakukan olahraga naik turun tangga serautus kali. Peluhnya juga terlihat di beberapa daerah di bagian kening dan pelipis.
" Nona, kau kemana saja? Kau tidak ada di kamar. Aku mencarimu keliling rumah sakit ini tapi tidak menemukan mu." Ucap Fika terlihat kelelahan dengan memegangi pinggangnya yang terasa bergeser.
" Jadi wanita di taman itu adalah kamu." Ucap Emine.
" Kenapa Nona tidak memanggil ku? Tahukan Nona aku seperti orang gila yang berlarian kesana kemari mencari mu." Keluh Fika ingin rasanya menangis mendengar respon santai Emine setelah membuatnya kawatir.
" Aku ragu itu kau jadi aku abaikan saja."
" Sudahlah!! Yang penting Nona baik-baik saja."
Mereka berdua masuk ke dalam kamar.
Fika melempar tasnya ke atas sofa lalu berjalan ke arah ranjang dan berbaring tengkurap disana.
Emine yang sakit tapi malah Fika yang berbaring di atas ranjang itu.
" Ini minumlah!!" Emine membukakan sebotol air dan memberikannya pada Fika.
" Terimaksih." Fika bangun dan duduk di sisi ranjang. Dengan tangan begitu ringan ia mengambil botol itu dan meminumnya.
Saat minuman original itu masuk ke dalam tenggorokan turun ke lambung kemudian menerobos ke usus, tiba-tiba Fika tersadarkan oleh sesuatu. Mata Fika membelalak saat mulutnya dan mulut botol itu masih menempel. Ia sadar akan sikapnya yang tidak sopan.
" Maaf Nona, maafkan sikap lancang saya." Fika turun dari ranjang kemudian membungkuk beberapa kali untuk meminta maaf.
Emine tertawa, ia sudah menduga Fika akan bereaksi seperti itu.
" Tidak apa-apa!! Jika masih lelah, tidur saja disana!! Biar aku yang duduk di sofa. Lagi pula aku sedang tidak ingin berbaring."
Fika merasa sangat malu, entah apa yang sedang ia fikirkan hingga tidak sadar telah bersikap se'enaknya. Jika bukan Emine bosnya, mungkin saja ia sudah di pecat.
" Tingkah mu mengingatkan ku pada seseorang. Aku merindukannya." Ucap Emine duduk di sofa menghadap keluar jendela yang terbuka.
" Siapa Nona?" Tanya Fika sambil berjalan kemudian ikut duduk di sofa menghadap Emine.
__ADS_1
" Meli. Dia adalah gadis yang ceria. Terkadang juga bertingkah konyol." Emine tersenyum saat mengingat hari-hari bersama Meli di Belgia.
" Jika Nona merindukannya, aku bisa memanggilnya untuk datang kemari. Tinggal beri tau aku alamatnya!!" Fika ingin memberi sedikit bantuan pada Emine yang sedang merindukan seseorang.
" Dia tinggal di Belgia." Ucap Emine mengarahkan pandangannya pada Fika.
" Belgia? Wahh,,,, Ternyata jauh." Fika menggaruk-garuk atasan pelipisnya. Ia mengira Meli itu tinggal di Istanbul atau kota lainnya di Turki.
Saat nama Meli menjadi topik pembicaraan, Emine semakin merindukan gadis itu. Ia berfikir jika saja Meli ada disini pasti hari-harinya akan sangat menyenangkan dan Emine bisa melupakan kesedihannya untuk sesaat. Waktu kosong yang ia harapkan di isi oleh Okan, setidaknya Meli bisa mengisi waktu itu di saat Okan sibuk dengan tugasnya.
Kuku tangan Emine terlihat tidak terawat. Fika mengambil pemotong kuku dari dalam tasnya kemudian memotong kuku Emine. Ia sangat fokus dan serius karena tidak ingin melukai tangan cantik atasannya. Bahkan mata Fika tidak berkedip takutnya hasil potongannya tidak rapi.
" Fika," Panggil Emine.
" Iya Nona?" Respon Fika tetap fukus pada pekerjaannya.
" Apa kau pernah merasa ragu dalam menjalin sebuah hubungan?"
Fika berhenti memotong kuku Emine kemudian menatap Emine saat mendengar pertanyaan itu
" Apa yang Nona maksudkan itu hubungan antara sepasang kekasih?" Tanyanya memastikan lalu mendapat anggukan canggung dari Emine.
" Dulu aku tidak pernah meragukan cinta. Aku percaya cinta itu ada. Tapi itu dulu. Cinta dalam kata tidak menjamin kebahagian di kehidupan nyata." Fika membongkar memori masa lalunya dimana ia pernah menjalin hubungan dengan seseorang tanpa meragukan cinta pasangannya tapi pria itu pergi bersama wanita lain. Kejadian itu membuat Fika tidak percaya lagi akan cinta.
" Jika Nona merasa ragu akan hubungan itu, maka tanyakan pada hati kecil Nona!! Haruskah Nona berhenti atau melanjutkannya? Hanya hati kecil Nona yang bisa menjawabnya. Aku tidak ingin mengatakan hal yang bisa mempengaruhi Nona. Karena masalah cinta setiap orang itu beda-beda." Jawab Fika.
" Kau tidak percaya dengan cinta?" Tanya Emine lagi.
" Soal itu, Aku tidak percaya ada cinta di dunia ini. Tapi itu menurutku." Fika menegaskan bahwa itu hanyalah dari sudut pandangnya. Setiap orang punya keyakinan tentang cinta.
" Apa Nona punya masalah? Jika ada, bisa ceritakan pada ku mungkin aku bisa membantu." Saran Fika. Ia melihat Emine sedang menghadapi delima hati.
Emine ragu apakah ia harus menceritakan masalah cintanya dan akhirnya ia putuskan untuk mengatakannya karena mungkin Fika bisa memberinya sebuah pengertian.
" Terkadang aku merasakan bahwa pria yang aku cintai tidak benar-benar mencintai ku." Ucapnya masih menatap Fika.
" Atas dasar apa Nona berkata seperti itu?" Tanyanya santai. Fika berfikir setiap prasangka pasti ada alasannya.
" Dia selalu sibuk dengan pekerjaannya, terkadang lupa aku ada untuk menunggu kabarnya. Meski saat ini kondisi ku seperti ini, tetap saja tidak merubah apa pun, dia tetap memilih meninggalkan ku dan lebih mementingkan pekerjaannya." Tutur Emine terlihat begitu sedih.
Fika langsung tau pria yang bertahan di ruangan ini disaat semua orang pergi keluar adalah kekasih Emine.
Fika meraih kembali tangan Emine yang sempat terlepas lalu tersenyum.
" Nona, aku mengerti kenapa kau berfikir seperti itu. Kau boleh meragukan cintanya tapi jangan sampai keraguan Nona yang belum jelas kebenarannya itu sampai membuat hubungan kalian retak kemudian hancur!!"
__ADS_1
Emine bingung, Fika tidak percaya akan adanya cintai tapi ucapannya sendiri lebih mengarahi Emine untuk percaya akan hubungannya.