Wanita Seribu Luka

Wanita Seribu Luka
Tipu Daya Kakek Tua.


__ADS_3

Seorang polisi yang bertugas di kantor depan, bisa disebut sebagai FO kepolisian masuk keruangan Okan dengan memberi hormat sebagai tradisi etika bersikap pada polisi yang pangkatnya lebih tinggi.


" Lapor Pak. " Memberi hormat lalu segera kembali sikap istirahat di tempat ketika mendapat kode dari atasannya. " Keluarga Nona Emine dan pengacaranya ingin menghadap."


" Persilakan mereka masuk!!!" Ucap Okan mempersilakan 3 pria masuk kedalam ruangannya.


1 pria tua, 1 pria bersetelan jas rapi dengan koper di tangan dan 1 pria yang terlihat tak asing sudah menduduki kursinya masing-masing menghadap Okan ketua devisi kasus kriminal.


" Saya adalah pengacara Nona Emine dan dia adalah kakeknya." Ucap pria yang sudah berumur tapi masih terlihat tampan.


" Jadi dia adalah kakek Emine." Gumam Okan dalam hati menatap Kakek tua mencoba membaca karakternya lewat wajah tapi wajah itu tidak memperlihatkan sesuatu yang mencurigakan. Hanya wajah seorang pria tua terlihat biasa sama seperti kakek-kakek pada umumnya.


" Katakan apa yang ingin kalian katakan!!! Saya tidak punya banyak waktu." Sambung Okan dengan sikap wibawanya.


" Cihhhhh,,, sombong sekali dia." Gumam Ozgur berdecih kesal dengan sikap Okan yang memang sudah seperti itu dari lahir. Dingin bagaikan tumpukan salju tapi hanya berlaku untuk orang-orang yang belum terlalu ia kenal.


" Kami disini ingin membebaskan Nona Emine." Pengacara itu langsung berbicara to the point.


" Kau adalah seorang pengacara tentu kau tau membebaskan seseorang yang sudah ditetapkan sebagai tersangka itu tidak mudah. Aku berharap kalian datang ke kantor polisi ini tidak hanya membawa mulut kalian saja." Tajam dan pedas. Itulah perkataan Okan yang semakin membuat Ozgur membencinya.


" Tentu pak. Kami membawa sesuatu yang mungkin bisa digunakan untuk bahan pertimbangan." Pengacara itu membuka kopernya. Mengeluarkan sebuah amplop besar berisi catatan medis Emine.


5 lembar kertas A4 dengan tulisan yang hanya mampu dimengerti oleh para dokter dan sejenisnya. 100 kali pun Okan membalik-balikan kertas itu, tetap ia tidak mengerti. Okan meminta bantuan pada polisi yang ahli dalam bidang memeriksa berkas-berkas untuk ikut bergabung diruangannya.


Sembari menunggu hasil dari catatan medis Emine yang masih di priksa keasliannya, pengacara itu kembali mengeluarkan bukti lainnya.


" Ini adalah rekaman CCTV yang berhasil kami dapatkan. rekaman ini berisi bukti penyerangan yang dialami Nona Emine." Pengacara itu tidak tau rekaman yang ia serahkan sudah di palsukan oleh kakek tua. Kakek tua menggunakan wanita lain dengan topeng kulit yang didesain kusus menyerupai wajah Emine untuk menggantikan Emine dalam video itu. Postur tubuh wanita itu pun sangat mirip dengan Emine.


Tepat sebelum Okan memutar videonya, Murat dan Tiras datang. Mereka menyaksikan video palsu itu seksama. 3 personil utama devisi kasus krimanal itu menonton video dari satart sampai finis dengan teliti tidak ingin melewatkan satu pun kejanggalan.


Di bagian bawah video yang sudah di putar itu tertera sebuah waktu, Kamis, 2 April 2020 pukul 09.15 malam. Hari yang sama saat Okan dan Emine bersama terakhir kalinya.


Saat video itu mulai berjalan, 1 menit awal hanya memperlihatkan sebuah tempat yang sepi dengan tanaman liar sebagai backgraund.


" Tempat macam apa ini?" Tanya Murat pelan pada kedua rekannya tapi tak mendapat jawaban. Okan dan Tiras sangat fokus mengamati setiap detik video itu.


1 menit menonton video hampa dan yang ditungu-tunggu akhirnya muncul. Terlihat jelas seorang wanita berlari dari arah berlawanan dengan letak CCTV itu membuat wajah wanita itu terlihat begitu jelas.


" Itu,,,itu dia. stop!!!" Ujar Murat spontan bereaksi.


Jika Murat yang spontan bereaksi adalah mulutnya tapi tidak dengan Okan yang spontan bereaksi adalah jari telunjuknya menekan mose kanan menghentikan sebuah adegan dimana wajah wanita itu tepat tertangkap kamera.


" Benar. Itu adalah Emine." Ucap Tiras melihat yang ada di dalam video itu adalah Emine dengan wajah panik dan ketakutan.


" Coba lebih teliti lagi!! siapa tau ada kejanggalan dalam video ini." Saran Murat pada Okan yang masih tak membuka mulutnya dengan mata masih fokus pada layar laptopnya. Sekitar 10 menit mereka mengamati gambar Emine tapi tidak menemukan sesuatu yang aneh. Dari ujung rambut sampai ujung kaki, wanita itu memang sama persis dengan Emine.


" Ya,,, dia memang Emine." Akhirnya Okan membuka suara setelah lelah mengamati gambar itu mencoba menemukan kejanggalan tapi tidak ada.


" Hehehehe,,,, bahkan polisi saja sangat mudah untuk ditipu. Dasar bodoh." Gumam kakek tua dalam hati menertawakan sekaligus mengejek ke tiga polisi di depannya.


Okan kembali melanjutkan sisa video yang tinggal 10 detik.


" Ceklik." Suara mose yang ditekan. Okan kembali menghentikan sebuah adegan diamana terlihat 4 pria mengnakan penutup wajah muncul setelah Emine menghilang dari sorot kamera CCTV. Kemunculan pria-pria berbadan kekar itu searah dengan arah Emine berlari memberi kesan mereka sedang mengejar Emine.


Ketiga polisi itu kembali menyempitkan mata mereka mencoba mengenali pria-pria itu tapi tidak ada yang bisa diharapkan. Penampilan mereka semua sangat tertutup tidak ada yang bisa dijadikan petunjuk tentang siapa mereka.

__ADS_1


" Dari mana kalian mendapat rekaman ini?" Tanya Okan curiga karena dilihat dari video itu tempat kejadiannya bukan sebuah tempat pemukiman melainkan tempat terbuka yang sekelilingnya dipenuhi semak-semak dan tanaman liar. Tidak mungkin ada CCTV di daerah semacam itu.


Ini adalah bagian kakek tua untuk menjawab.


" CCTV itu adalah CCTV lama yang terpasang disebuah pabrik yang sudah tak beroprasi. Walaupun pabrik itu sudah tak berfungsi lagi, tapi beberapa CCTV masih aktif. Anda bisa mengeceknya langsung!! Tapi sayangnya penyerangan yang dialami oleh cucu ku tidak tertangkap kamera. Penyerangannya jauh dari pabrik itu." Ucap kakek tua. Tentu CCTV itu adalah bagian dari tipu muslihatnya.


Okan memberikan rekaman itu pada Murat untuk nanti deselidiki lebih lanjut lagi.


" Emine mengatakan bahwa kau adalah seorang pengusaha. Bisakah kau menunjukan buktinya padaku?!!"


" Oh tentu pak. Ini dia, ini adalah surat-surat perusahaan saya." Kakek tua mengambil setumpuk dokumen dari dalam koper pengacaranya lalu memberikannya pada Okan.


Saat berkas itu diserahkan, Ozgur mulai cemas. Ia takut jika Okan sampai tau bahwa nama perusahaan yang tertera di surat itu sebenarnya adalah milik Velief yang kemudiam diatas namakan kakek tua. Meski Emine sudah melarang Ozgur untuk memberitahu Velief tentang masalah ini, tapi Ozgur tidak punya pilihan lain karena kakek tua sangat membutuhkan sebuah perusahaan yang bisa diatasnamakan dirinya. Sebenarnya kakek tua bisa membuat berkas-berkas palsu tapi takutnya jika pihak polisi menyelediki lebih lanjut dan mendalam kemungkinan polisi akan tau kebohongan kakek tua.


" Berikan padanya!!!" Ucap Okan menyuruh Tiras memberikan berkas itu pada polisi yang sedang duduk di samping Tiras dan terlihat sibuk memeriksa catatan medis Emine.


" Aku punya satu pertanyaan lagi. Emine pernah meninggalkan sebuah pistol padaku. Kemarin Jendral Sam mencurigai Emine karena pistol itu adalah senjata ilegal. Apa anda bisa memberikan sesuatu atau keterangan terkait pistol itu?" Meski Okan terlihat begitu menyulitkan pembebasan Emine tapi ia tidak punya pilihan lain karena saat Okan menemui Jendral Sam, ia diancam akan dikeluarkan jika tidak bersikap tegas dalam kasus ini. Di dalam hatinya, Okan berharap kakek tua bisa memberikan bukti-bukti akurat yang mampu menyatakan Emine tidak bersalah.


" Kemarin Emine sempat menghubungi ku, dia mengatakan dia dipukuli karena hal ini. Aku mengerti Emine tidak bisa mengatakan hal apa pun karena memang tidak tau tentang senjata itu. Dia adalah gadis keras kepala. Aku sering memarahinya karena dia selalu bermain-main dengan senjata berbahaya itu. Aku tidak percaya cucuku harus menerima pukulan karena senjatanya sendiri." Ucap Kakek tua malah curhat sedih dengan sinopsis kebohongannya.


" Jadi benar senjata itu ilegal?" Karena menerima jawaban yang tidak penting, Okan lansung bertanya keintinya.


" Tidak, tidak pak. Saya tidak mungkin menyimpan senjata ilegal. Ini adalah surat ijinnya." Menyodorkan selembar kertas.


Bukan hanya Okan yang merasa bingung dan sedikit terkejut kakek tua mempunyai ijin atas pistol itu tapi Murat dan Tiras juga saling menatap tak percaya. Pasalnya seorang Jendral yaitu Jendral Sam langsung turun tangan menyelidiki pistol Emine tapi pistol itu tidak dibuat dimanapun alias ilegal.


Okan semakin tak percaya setelah melihat kertas itu benar merupakan sebuah surat ijin yang bahkan ada stempel sahnya dari sebuah perusahan persenjataan yang sangat terkenal di dunia. Okan berfikir Jendral Sam tidak mungkin membuat kesalahan.


" Maaf tuan. Pistol itu sudah diselidiki langsung oleh pemimpin kami dan hasilnya pistol itu adalah ilegal. Lalu surat ini,,,~~" Ucap Murat kemudian disambar langsung oleh kakek tua.


" Pemimpin juga manusia yang bisa melakukan kesalahan. Jika tidak percaya dengan surat ijin itu, kalian bisa memastikannya langsung!!" Ucap kakek tua dengan berani menantang mereka karena sudah ada di posisi aman. Dengan bantuan Velief yang mempunyai banyak koneksi dengan orang-orang berpengaruh di setiap penjuru negri, kakek tua berhasil mendapatkan sebuah surat ijin dari pistol rakitannya sendiri.


" Baiklah tuan. Kami akan memproses lebih lanjut bukti-bukti ini. Emine pasti segera dibebaskan jika benar ia tidak bersalah." Ucap Okan sebagai akhir pertemuan.


" Terimakasih pak. Kami nantikan keputusan anda. Kalau begitu kami permisi dulu." Ucap pengacara itu undur diri bersama kakek tua dan Ozgur.


Setelah ketiga tamu itu keluar dari ruangannya, Segera Okan mengumpulkan semua personilnya dan membagi tugas untuk mencari tahu kebenaran bukti-bukti itu. Pengintrogasian yang sudah dijadwalkan pukul 4 sore dibatalkan karena waktu digunakan untuk penyelidikan.


Penyelidikan dimulai dari bukti pertama yaitu catatan medis Emine yang baru saja selesai diselidiki.


" Dretttt,,,, dretttt,,,,dreeett,,," Okan segera menghentikan kerja lapangan di lokasi Emine diserang dan merogoh kantongnya mengambil ponsel ketika ada dering panggilan masuk.


" Lapor pak. Catatan medis Nona Emine adalah asli. saya sudah menghubungi langsung pihak rumah sakit dan ternyata benar Nona Emine pernah dirawat disana dan mengalami koma selama 1 bulan." Ucap salah satu polisi yang sedang berada di kantor memberi laporan kepada Okan yang sedang melakukan penyelidikan di luar.


" Baiklah, terimakasih atas kerjasamanaya." Jawab Okan pada anggota polisi yang bukan termasuk anggota di devisinya.


Setelah menerima panggilan, Okan kembali bergabung bersama rekan lainnya melanjutkan penyelidikan. Penyelidikan di lokasi ini dimulai dari pabrik yang sudah terbengkalai. CCTV yang terletak di luar pabrik menjadi sasaran utamanya. Okan memanjat untuk bisa melihat langsung kamera yang terletak di atas tembok. Kamera CCTV itu penuh debu, terlihat kusam, dan bagian pelindung luarnya sudah berkarat hal itu membuktikan bahwa kamera itu sudah berada disana sejak lama. Untuk mengefisiensi waktu, Okan memerintahkan Tiras untuk mengecek pusat server CCTV itu dan memastikan kebenarannya. Kemudian ia melanjutkan ke lokasi Emine ditembak. Dari lokasi yang diberikan oleh kakek tua, tempat penembakan Emine adalah sebuah lapangan yang sangat luas. Okan tidak tau dan tidak mencurigai tempat itu adalah landasan pesawat pribadi milik Velief yang memang benar Emine tertembak disana.


Seperti anjing pelacak, Okan, Murat dan salah satu tim kusus mencari-cari sesuatu disekitar sana. Sesuatu apa pun itu yang bersangkutan dengan Emine.


" Lapor Pak. Saya menemukan ada noda darah yang sudah mengering." Lapor seorang anggota pada Okan. Okan pun segera berlari menuju titik penemuan itu.


Meski sudah 1 bulan, darah itu masih terlihat jelas.


" Kita tidak tau apakah darah ini bisa di tes atau tidak karena darah ini sudah sangat lama. Tapi kita coba saja!!" Ucap Okan kepada anggotanya yang sudah mencongkel sedikit alas beton lapangan itu yang ada darahnya.

__ADS_1


Setelah selesai dengan penyelidikannya di lokasi penembakan Emine, Okan segera kembali ke kantor polisi.


Tidak terasa waktu sudah menunjukan pukul 5 sore. Perjalanan dari kantor polisi ke lokasi penembakan kemudian dari lokasi penembakan kembali lagi ke kantor polisi memakan waktu yang banyak karena jarak antara dua tempat ini sangat jauh.


Lelah dan letih sudah pasti, tapi itu sudah biasa. Saat tiba di kantor polisi, jangan harap bisa beristirahat karena laporan dari bukti-bukti sudah keluar. Okan dan anggota lainnya kembali berkumpul diruangan mereka.


" Lapor pak. Rekaman CCTV itu asli. Saya sudah menyelidikinya dengan teliti." Ucap Tiras yang baru tiba di kantor polisi. Tiras harus berbicara formal kepada Okan karena ada anggota polisi lainnya di dalam ruangan itu. Lain ceritanya jika hanya ada Murat.


" Lapor pak. Berkas-berkas perusahaan itu juga asli. nama kepemilikannya juga benar atas nama Panel Leo ( kakek tua). Dan juga surat ijin kepemilikan senjata itu juga resmi dan sah." Bukti yang sudah selesai di selidiki langsung di laporkan.


" Jadi kesimpulannya adalah Nona Emine tidak bersalah. Yang kita lakukan ini hanya sia-sia?" Ucap salah satu anggota tim kusus yang ucapannya terdengar seperti keluhan.


" Apa menurut mu ini sia-sia?" Tanya Okan dengan tatapan tajam memberi kesan ia tidak suka dengan ucapan salah satu anggotanya tadi.


" Tentu. Menurut saya ini membuang-buang waktu." Jawab anggota itu yakin.


" Bukankah tugas polisi juga harus menegakan keadilan?" Tanya Okan ingin menyudutkan lawan bicaranya.


" Tentu." Jawabnya singkat tapi tidak mengerti arah ucapan Okan.


" Lalu keadilan macam apa yang telah kita berikan pada wanita yang sudah menerima 40 pukulan di tangannya atas kesalahan yang bahkan tidak ia lakukan?" pertanyaan Okan membuat semua anggota tertunduk dengan rasa bersalah termasuk Murat yang selama ini selalu memojokan Emine. " Jika kita tidak melakukan penyelidikan ini, maka Emine akan terus ditetapkan sebagai tersangka. Dan kita para polisi hanya bisa menjadi boneka bodoh yang terus patuh akan perintah para atasannya. Aku tidak tau apa yang sedang kalian pikirkan. Tapi, aku sendiri sebagai seorang polisi sangat malu akan kecerobohan ku ini. Aku harap kalian juga sama malunya seperti diriku!! Semoga kedepannya tidak ada lagi seseorang yang bernasib malang seperti Emine." Ucap Okan sebagai sindiran, kemarahan dan rasa bersalah menjadi satu di dalam penyesalan karena selama ini Emine yang terbaring di rumah sakit berjuang untuk hidup tapi Okan disini malah ikut terhasut oleh duga'an duga'an bodoh dan akhirnya ikut mencurigai Emine.


" Jadikan semua bukti itu menjadi satu!! Akan ku lempar semua bukti ini di depan Jendral Sam. Aku ingin melihat bagaimana reaksinya." Okan sangat membenci Jendral Sam karena telah menyiksa Emine.


Semua polisi yang sudah bekerja keras hari ini diperbolehkan untuk pulang dan beristirahat. Tapi Okan tidak akan pernah bisa beristirahat jika belum menemui Jendral Sam. Akhirnya ia memutuskan untuk datang ke kantor polisi pusat menemui atasannya.


" Brukkkkk,,,," Tanpa mengetuk pintu dan tanpa hormat, Okan langsung melempar berkas-berkas beserta rekaman yang membuktikan Emine tidak bersalah ke atas meja Jendral Sam.


Jendral Sam yang sedang sibuk menulis jadi terkejut bahkan tidak sengaja bukti-bukti yang dilempar oleh Okan mengenai tangan Jendral Sam sehingga buku yang sedang ia tulisi tercoret. Jendral Sam tidak marah atas tindakan Okan yang tak beretika, ia hanya menatap Okan tajam tapi penuh tanda tanya.


" Itu adalah bukti-bukti yang menyatakan Emine tidak bersalah. Apa anda puas sekarang?" Tanya Okan sangat tidak sopan karena sudah terlalu tenggelam dalam kemarahan.


Jendral Sam membuka amplop yang berisi bukti-bukti itu lalau membaca bukti yang beruapa berkas tanpa ekspresi.


" Baguslah jika kau bisa membebaskan orang yang tidak bersalah." Ucap Jendral Sam santai tidak menunjukan rasa bersalah kepada Emine.


" Sekarang keluarlah!! Masih banyak hal penting yang harus aku selesaikan." Bahkan Jendral Sam terang-terangan mengusir Okan.


Okan mengepalkan tangannya, menahan emosi pada pria tua berpangkat tinggi di depannya. Ingin rasanya Okan melayangkan pukulan untuk membalas tindakan Jendral Sam terhadap Emine tapi ia sadar kekerasan tidak akan membuatnya menjadi tinggi dan akan malah menjatuhkannya.


Tanpa penghormatan, Okan meninggalkan ruangan itu.


Pukul 8 malam, Okan kembali lagi ke kantor polisi untuk melihat Emine meski ia sangat malu bertemu Emine karena kejadian kissing di dalam jeruji besi.


Okan bisa menemui Emine tanpa Ijin dari siapa pun karena ini adalah daerah kekuasaannya.


" Kau sudah tidur? lelap sekali." Ucap Okan melihat Emine tidur meringkuk dengan jaket yang ia berikan sebagai penghangat diatas lantai keramik yang begitu dingin.


" Apa aku ada di mimpi mu? Jika tidak, biarkan aku masuk dan menjadi penghantar tidurmu Emine. Entah sejak kapan aku mencintai wanita misterius seperti mu. Tapi perlu kau tau, Kau adalah satu-satunya wanita yang aku inginkan untuk menjadi teman hidup ku untuk selamanya." Ucap Okan pelan berharap Emine yang sedang tidur bisa mendengarnya.


" Apa aku sudah gila?" Tanya Okan dengan senyum mengejek dirinya sendiri.


*


*

__ADS_1


*


Jangan lupa like+komen+vote!!!


__ADS_2