Wanita Seribu Luka

Wanita Seribu Luka
Me and Bodyguard.


__ADS_3

Emine membuka tirai lalu menggeser jendela kaca besar yang menjadi pembatas antara dirinya dan halaman belakang rumah. Terlihat sebuah pohon rindang sepertinya sedang kesepian, pohon itu terlihat membutuhkan seorang teman. Hanya ada hamparan rumput hijau disekitarnya, tidak ada tanaman lainnya selain pohon besar yang berdiri kokoh di tengah-tengah halaman.


Emine mengambil sebuah gitar lalu berjalan perlahan menuju pohon apel yang tak pernah ia kunjungi selama tinggal dirumah ini.


Bayangan Emine di rumput hijau tidak terlihat. Emine mengangkat kepalanya keatas, ternyata matahari sudah tepat berada di atas kepalanya. Sinar matahari itu seperti racun, seketika pandangan Emine menjadi kabur, kepalanya sedikit pusing dan terasa berat setelah melihat matahari yang bersinar terang itu secara langsung.


Emine berhenti sebentar di bawah teriknya matahari, ia mencoba menghilangkan efek sinar matahari itu dengan menggelang-gelengkan kepalanya kasar dan berulang kali mengedipkan matanya. Setelah terasa membaik, Emine kembali berjalan dengan kaki pincangnya.


Pohon apel nampak senang dengan kedatang Emine, 1 buah apel dijatuhkan dari rantingnya seolah-olah sebagai jamuan penyambutan. Emine mengambil apel hijau itu dengan senang hati.


Apel besar itu begitu menggiurkan di tengah cuaca panas seperti ini. Dengan penuh nafsu Emine membuka mulutnya, menggigit buah apel itu lalu mengunyahnya. Rasa apel itu begitu aneh, tidak manis dan tidak masam, Emine melanjutkan saja mengunyahnya tanpa mencurigai apa pun.


Saat untuk gigitan kedua, betepa mengejutkannya saat satu ekor ulat yang terlihat begitu gemuk muncul dari daging apel menyapa mulut Emine yang sedang mengaga lebar. " SWINGGGG,,,,," Tanpa pikir panjang lagi, apel busuk itu dilempar kesembarang arah.


" Huekkkk,,,,,Huekkkk,,,uhukkkk,,,," Emine merasa mual, ia berusaha memuntahkan apel busuk yang sudah bersarang di lambungnya.


" Apa rasa aneh itu dari ulat? Huekkk,,,,, aku sudah memakan ulat menjijikan itu,,,, Huekkk,,, uhukkk,,,,," Gumam Emine membayangkan dirinya yang telah menelan ulat buah menjijikan menambah sensasi mual yang mampu membuat bulu kuduk merinding.


Tidak terima karena telah tertipu oleh buah apel itu, Emine sekarang berdiri menjengkingkan tanganya menatap pohon apel dengan tatapan tajam dan muka bringisnya.


" YA,,,,,,!!! pohon brengsek,,, kau berani membodohi ku hah? Kua pikir bisa selamat dari ku? Menyebalkan,,,, aku akan menebang pohon brengsek ini." Emine melampyaskan kekesalannya dengan memarahi pohon apel yang hanya diam mematung tidak mengubris sedikit pun perkataannya.


Sekarang Emine membutuhkan sebuah kapak untuk menumbangkan pohon besar ini. Saat ia membalikan badan, Ozgur berdiri di belakangnya dengan tatapan membeku tak berkedip sedikit pun. Mulut Ozgur menganga melihat tingkah Emine seperti orang gila yang mengoceh di depan pohon apel.


Emine mulai kelabakan, ia berulangkali untuk mengatakan sesuatu tapi selalu terbata-bata.


Velief telah memberi mandat kepada Ozgur untuk menjaga Emine baik dari segi kesehatan fisik maupun mental. Karena itu Ozgur saat ini cemas dan takut ada yang tidak beres dari Nona cantik di depannya. Untuk memastikannya, Ozgur berlari kecil ke arah Emine, ia menempelkan dan membolak balikam telapak tangannya di kening Emine untuk memastikan Emine tidak sakit.


" Apa yang kau lakukan?" Ucap Emine sedikit kesal dengan menepis tangan Ozgur karena merasa terganggu oleh sikap aneh Ozgur.


" Nona kau sehat?" Ucap Ozgur tanpa rasa takut.


Sekarang tatapan tajam Emine telah beralih kepada Ozgur, ia merasa kesal dengan pertanyaan Ozgur yang lebih mengarah sedang meledek dirinya.


" Ohooo,,,, aku hanya bercanda Nona. Jangan diambil hati!!!" Sadar Emine tidak suka dengan pertanyaannya, Ozgur mengamankan dirinya agar tidak kena omelan seperti pohon apel malang itu. " Tapi apa yang sedang kau lakukan tadi Nona?" Tanya Ozgur penasaran.


" Pohon brengsek ini telah menipu ku, dia sengaja menjatuhkan buah apel busuk. Buahnya terlihat segar dari luar, aku langsung saja memakannya. bahkan aku sudah menghabiskan satu gigitan. Apa kau tau?? Ulat yang menjijikan keluar dari dalam apel, Hueeeekkkkkk,,,, itu membuat perutku terasa mual lagi." Emine terlihat sangat kesal, ia menjelaskan ceritanya dengan ekspresi yang mendalam dan dengan gerakan-gerakan kecil dari tangannya mengimbangi kekesalannya.


Ozgur jadi tertawa terbahak-bahak menertawakan nasib sial Emine. Tanpa sadar ia telah membuat Emine semakin kesal. Emine menginjak ujung sepatu Ozgur membuat suara tawanya berubah menjadi suara ringis kesakitan. Ozgur mengangkat dan memegangi kakinya yang di injak refleks berputar-putar menahan rasa sakit.


Emine mengambil gitar yang diletakan di bawah lalu berjalan menuju pohon apel. Emine duduk bersandar di batang pohon, meluruskan satu kakinya yang cedra sedangakan satu kakinya lagi di tekuk. Gitarnya diselipkan di antara paha dan perutnya.


Tidak ada yang tahu Emine mahir memainkan alat musik seperti Drum, piano, biola termasuk gitar. Dari SMP sampai SMA, Emine mengikuti ekstra kurikuler musik. Alat musik sampai menyanyi pun pernah ia pelajari. Bahkan Emine sempat bergabung di salah satu band SMAnya dan tampil di acara penyambutan kedatangan mentri pendidikan ke sekolahnya.


Jari jemari cantik Emine bermain-main di atas senar gitar. Jari-jari kirinya kuat menekan setiap Sener di ujung gitar sedangkan jari kanannya terlihat begitu lihai memetik senar gitar. Setiap melodi yang keluar, terbang bebas bersama hembusan angin.


Melodi yang dimainkan Emine terdengar begitu familiar, Ozgur tau lagu dari nada-nada itu. Seperti ditarik untuk ikut bergabung di bawah pohon bersama Emine, Ozgur kini ikut menyandarkan tubuhnya di samping Emine. Pose Ozgur juga sama dengan Emine, satu kaki diluruskan ke depan sedangkan satu kaki ditekuk.


Saat suara gitar Emine telah mencapai start lagu, Ozgur tanpa ragu menyumbangkan suaranya melengkapi nada-nada yang terdengar begitu hampa. Emine melirik Ozgur dengan senyum penuh kagum saat mendengar suara Ozgur begitu merdu. Ozgur membalas lirikan Emine sekilas tanpa menjeda lagunya.


Lagu yang dimainkan kedua lawan jenis itu berjudul * Mercy_Shawn Mandes *


Suara berat Ozgur yang merdu berpadu dengan suara indah gitar Emine menciptakan irama yang sempurna. Emine dan Ozgur memainkan bagian mereka masing-masing dengan semangat seakan-akan mereka sedang bersaing menunjukan talenta tersembunyi. Lirikan sekilas diselipi senyum mengiringi persaingan sehat diantara kedua belah pihak.


Burung-burung kicau ikut bernyanyi, pohon apel semakin semangat memproduksi angin untuk menghantarkan melodi itu sejauh mungkin. Hingga akhirnya tibalah klimaks dari lagu itu dengan suara Ozgur menjadi penutup.


Ozgur dan Emine saling memandang lalu tertawa kecil.


" Wah,,,wahh,,,wah,,, Suara mu begitu merdu. Ozgur, apa tidak terlintas dipikiran mu untuk menjadi seorang penyanyi saja?" Tanya Emine kagum.


" Aku tidak tertarik. Menyanyi hanya hobi ku. Aku tidak berniat untuk menjadikannya sebagai sebuah profisi." Ucap Ozgur terlihat serius.


" Kenapa?" Tanya Emine ingin tau.


" Karena aku lebih tertarik ke dunia action."


" Aku akan berkata jujur sejujur jujurnya. Ozgur, apa kau tau??" Emine menatap Ozgur lekat membuat Ozgur jadi penasaran. " Pertama aku melihat mu, aku kira kau adalah adik dari kakak Velief. Tidak terlintas sedikit pun dikepala ku bahwa kau adalah seorang bodyguard. Kau tau kenapa?" Emine semakin serius dengan tatapannya. Ozgur merespon Emine menggelang-gelangkan kepalanya.


" Karena wajah mu terlalu tampan untuk kualifikasi seorang bodyguard. Wajahmu tidak ada sangar-sangarnya, tidak menakutkan. Kau lebih pantas menyanyi di atas panggung dengan sorakan dan tepuk tangan dari penonton wanita yang akan berteriak * OZGUR,,,,I LOVE YOU,,,,,* " Saat mengucapkan kata i love you, mulut Emine terlihat seperti bebek.


" Wah Nona Emine,,,, Aku bingung harus merasa bangga atau marah. aku tidak tau kau sedang memujiku atau sedang menghina ku. Tapi trimakasih karena kau sempat menyinggung ketampanan ku ini." Ucap Ozgur dengan percaya diri.


Emine tersenyum miring melihat Ozgur begitu bangga dengan ketampanannya. Ozgur pun tertawa melihat respon Emine yang sudah ia duga.


" Aku penasaran, kenapa di halaman seluas ini hanya ada satu pohon?" Tanya Emine memandangi hamparan kosong di depannya.

__ADS_1


Ozgur juga ikut mengarahkan pandangannya ke hamparan rumput hijau yang terpapr teriknya sinar matahari.


" Pohon yang kita sandari saat ini adalah pohon kesayangan Nyonya Velief. Ada cerita di balik pohon ini. Aku sendiri tidak tau persis kisah pohon ini seperti apa. Yang aku tau, saat Nyonya Velief melihat ke arah halaman belakang rumah dari jendela kamarnya, pandangannya tidak mau terbagi. Dia ingin fukus dengan pohon apel ini, tidak boleh ada pohon lain yang menarik perhatiannya. Karena itu hanya ada 1 pohon disini."


" Wahhh,,,, Hampir saja aku melakukan kesalahan besar." Ucap Emine dengan tatapan kosong.


" Kesalahan? kesalahan apa?" Ozgur penasaran, sekarang ia menatap Emine.


" Aku hampir menebang pohon brengsek ini." Ucap Emine membalas tatapan Ozgur dengan sorot mata tanpa bersalah.


Mendengar ucapan Emine yang masih terdengar menyimpan rasa kekesalan, Ozgur tertawa karena mengingat lagi tingkah konyol Emine yang mengomeli sebatang pohon apel. Ia tidak habis fikir, seorang wanita yang senang bermain dengan kekerasan bahkan tidak segan membunuh musuhnya bisa bersikap begitu memalukan.


Lagi-lagi Emine di buat kesal karena di tertawakan untuk kedua kalinya oleh Ozgur bodyguard handal Velief. Emine mendorong tubuh Ozgur hingga terjatuh miring di rumput tapi bukannya berhenti tertawa, Ozgur malah semakin menjadi-jadi menertawakan Emine sampai berguling-guling di bawah.


" Teruslah tertawa,,,,!! Rasakan ini,,, ini hukuman karena telah berani menertawakan ku." Emine mengambil tongkatnya lalu memukul Ozgur tanpa ampun.


" Maaf, maaf Nona. Aghhhh,,, hentikan!! aku minta maaf. Aghhh,,,, kau bisa mematahkan tulangku." Ozgur menggeliat-gelit keras menghindari pukulan Emine.


Puas memukuli Ozgur, Emine akhirnya berhenti. Rasanya pukulan dari tongkat besinya sudah cukup untuk melampiaskan kekesalan Emine.


" Aghhh,,,, tega sekali kau Nona. Ahhhh,,, punggung ku,,," Ozgur meringis kesakitan lalu kembali duduk menyandarkan punggunnya.


" Sudah ku bilang kau tidak cocok menjadi bodyguard. Hanya dengan pukulan kecil kau sudah mengeluh. Aishhhh,,,, dasar lelaki payah." Ucap Emine meledek Ozgur.


Tentu Ozgur tidak terima dikatakan lelaki payah.


" Lelaki payah??? Nona, kau belum tau siapa aku." Menatap Emine tajam dengan aura misteriusnya. "Aku pernah menyelamatkan se'ekor kucing yang terjebak di atas pohon." Ucap Ozgur menyombongkan diri atas aksi heroiknya yang telah berjasa besar terhadap kaum Meao,,,,,,


Sekarang giliran Emine mengubris tawanya sesaat. Ozgur tersenyum karena berhasil memancing tawa Emine.


Ozgur sengaja tidak menceritakan kisahnya karena sadar kisahnya tidak seberapa dibandingkan kisah Emine yang begitu terkenal dengan julukan Wanita Penyelamat Malam atau Pencuri Malam.


" Coba kau buktikan!! ambilkan aku satu buah apel itu!!" Emine menunjuk buah apel yang berada sangat tinggi.


Ozgur menyalin arah jari telunjuk Emine, ia menelan ludah saat melihat buah apel itu.Ozgur hanya bergurau saat mengatakan dirinya menyelamatkan seekor kucing yang terjebak di atas pohon. Tapi karena sudah terlanjur berbohong, hasilnya ia harus menunjukan kemampuan memanjatnya agar tidak dikatai lelaki payah lagi.


" Baiklah. Akan ku tunjukan." Ozgur berdiri dengan percaya diri kemudian membuka jasnya. Emine juga ikut berdiri.


" Dari mana aku memulainya??" Gumam Ozgur bingung mencari celah untuk memanjat.


Emine tau Ozgur tidak bisa memanjat, hal itu bisa dilihat dari gerak gerik Ozgur yang nampak ragu.


" Oke,,,.lihatlah aku!!!"


Ozgur mulai bergerak. Kedua tangannya memeluk erat batang besar pohon apel, kaki-kakinya mencari celah untuk berpijak. Saat tangannya berhasil meraih salah satu carang, Ozgur sekuat tenaga menarik tubuhnya keatas dengan carang itu sebagai pegangan.


" Nona. Kau lihatkan aku berhasil naik." Ucap Ozgur dari atas pohon menoleh kebawah dengan rasa bangga dan sombong.


" Jangan sombong!!! Kau harus memanjat lebih tinggi lagi untuk mendapatkan buah apelnya!!!" Ucap Emine sedikit berteriak.


Ozgur mulai merangkak pada salah satu cabang pohon yang terhubung dengan buah apel pilihan Emine. Cabang itu cukup kecil, Ozgur harus berhati-hati dan menjaga keseimbangannya agar tidak terjatuh.


Emine yang sempat meragukan Ozgur kini menatap Ozgur tidak percaya. Sedikit demi sedikit Ozgur mampu mencapai puncak pohon.


" Ozgur,,, berhati-hatilah!! Awas itu kaki mu!!" Teriak Emine kawatir saat Ozgur hampir menginjak ranting pohon yang nampak sudah kering.


Buah apel itu berada di ujung ranting. Ozgur mencoba meraih daun ranting yang lebih dekat dengannya lalu manarik daun itu perlahan, saat daun itu tertarik, otomatis rantingnya semakin dekat dengan tangan Ozgur. Diraihlah ranting itu saat sudah berhasil, Ozgur menarik ranting pohon itu hingga tangannya yang satu lagi berhasil menggapai buah apel.


Emine begitu gembira ketika buah apel besar itu berada di tangan Ozgur.


" Ayo cepat turun!!!!" Teriak Emine semangat.


Berhasil membuktikan dirinya bukan pria payah, Ozgur tersenyum bangga. Sekarang waktunya untuk turun dan menyerahkan apel itu dengan rasa bangga kepada diri sendiri. Saat mencari celah untuk turun, tentu Ozgur harus melihat situasi di bawah. Dan saat matanya mengarah kebawah, Ozgur terkejut bukan main. Seketika kepalanya terasa pusing melihat ketinggian, kakinya gemetar, apel yang ada di tangannya terjatuh.


" PLUGGG,,,," Tanpa aba-aba, Emine berlari mengambil apel yang jatuh tepat di depannya. Emine terlihat begitu senang akhirnya mendapat 1 buah apel yang sangat besar dipetik langsung dari pohonnya.


" Kenapa diam disana? 1 saja sudah cukup. Ayo cepat turun!!" Teriak Emine saat menyadari Ozgur masih ada di tempat yang sama.


" Ini tinggi sekali. Bagaimana aku turun? Nona,,, tolong ambilkan aku kasur empuk dan letakan di bawah!!" Ucap Ozgur terlihat gemetar.


" Apa maksudmu? Naik bisa turun tidak bisa." Emine malah meledek Ozgur.


" Ini sangat tinggi Nona."


" Karena itu tinggi kau harus cepat turun agar tidak terjatuh!! Bukannya merengek tidak berguna seperti itu...!! Aissshhh,,,, payah sekali." Emine mulai kesal karena tubuh kekar Ozgur tidak cocok dengan mentalnya yang menciut.

__ADS_1


" Baik,,,baik. Aku turun sekarang." Ozgur membranikan diri untuk turun. Perlahan kakinya meraba-raba pijakan dibawah. Tangannya mencari-cari pegangan.


Emine tidak melepas pandangannya dari Ozgur. Ia memantau setiap langkah Ozgur agar tidak terpleset dan terjatuh.


" Jangan sentuh itu,,,,!!!" Teriak Emine lantang saat Ozgur menyentuh sarang semut yang sangat besar.


" Astaga." Ucap Emine pelan ketika sarang semut itu sudah terlanjur mendarat di tubuh Ozgur.


Ozgur bisa merasakan ada sesuatu jatuh di punggunnya. Sekitar 10 detik tidak terjadi apa-apa, hingga akhirnya para semut itu mengeksplor kedalam baju Ozgur dan menancapkan taring-taring mereka di tubuh Ozgur.


Sakit, perih, dan kulit rasanya seperti terbakar itulah yang dirasakan Ozgur saat ini.


Ozgur mulai panik di atas pohon, ia menepuk-nepuk dan menepis-nepis setiap daerah tubuhnya yang diserang semut. Ringisan kesakitan keluar dari mulutnya. Ozgur mulai oleng, ia kehilangan keseimbangan dan terjatuh dari atas pohon apel.


" Tidak, tidak, tidak!!!!" Mata Emine membelalak saat Ozgur sepertinya akan menimpa dirinya. Emine segera menghindar tapi sudah tidak berguna lagi.


" BRUKKKKK,,,, AGHHHHHH,,,," Ozgur terjatuh diatas tubuh Emine.


Rasa sakit seketika hilang saat mata mereka beradu pandang. Wajah diantara mereka berdua berjarak sekitar 1 Cm. Deru nafas mereka saling bertabrakan. Detak jantung mereka beradu karena dada mereka menempel. Baru kali ini Ozgur melihat wajah Emine sedekat ini. Mata biru Emine seakan-akan menghipnotis Ozgur untuk tetap pada posisinya sekarang. Emine masih terjebak pada tatapan Ozgur. Tapi, semut-semut di tubuh Ozgur tidak bisa diajak bekerja sama. Ozgur dikagetkan dengan gigitan semut hingga tubuhnya terlepas dari Emine dan Ozgur sekarang berguling-guling di bawah.


Emine segera ikut mengembalikan kesadarannya, ia membantu Ozgur menyingkirkan semut-semut itu dengan melepas kemeja Ozgur lalu mengibas-ngibaskannya. Tidak ada waktu untuk menyadari bahwa sekarang Ozgur sedang telanjang dada, Ozgur tidak perduli, ia masih sibuk menepis-nepis tubuhnya kasar.


Melihat Ozgur masih kesakitan, Emine melempar kemeja Ozgur dan beralih membantu mencabuti semut-semut yang menempel dengan taring mereka terkunci di kulit Ozgur.


5 menit kemudian,,,,,,,,,,


Mereka berdua masih berdiri saling menatap dengan rasa canggung. Tubuh Ozgur dipenuhi bintik-bintik merah dan berulangkali Ozgur menggaruk-garuk tubuhnya.


" Pasti sangat sakit. Maafkan aku." Emine merasa bersalah karena dirinya Ozgur jadi seperti ini.


" Sudahlah Nona. Ini adalah kecerobohanku. Jangan menyalahkan diri sendiri." Ozgur mencoba meyakinkan Emine yang terlihat sedikit murung. " Oh ya,,, soal tadi aku minta maaf. Apa kau terluka?" Tanya Ozgur menyambung dengan rasa tidak enak hati.


Emine menggelengkan kepalanya.


" Itu pasti karma ku. Aku tidak menyiapkan mu kasur jadi aku yang jadi kasurnya." Ucap Emine tersenyum agar kejadian tadi tidak membuat Ozgur salah paham. Karena dengan tidak sengaja tadi Emine juga diam tidak merespon atau mencoba menolak tubuh Ozgur yang menempel dengan tubuhnya.


" Sekarang cepatlah mandi!! Setelah itu minta bibi putu mengoleskan obat di tubuh mu agar sakitnya cepat hilang!!" Ucap Emine memberi perintah.


" Baiklah Nona. Aku pergi dulu." Ucap Ozgur tersenyum mencoba untuk bersikap sewajarnya lalu pergi meninggalkan Emine.


Emine menatap kepergian Ozgur dengan mengumpat dirinya sendiri.


" Aishhh,,, dasar bodoh. Emine,,,, kau memalukan. Sangat memalukan." Umpat Emine dengan wajah kecutnya.


Di dalam kamar mandi, Ozgur merendam tubuhnya di bathup selama hampir 1 jam. Emine mengijinkan Ozgur untuk menggunakan kamar mandinya beserta fasilitas mewah di dalamnya. Ozgur bersantai menyandarkan leher kepalanya di atas bathup dengan menutup kedua matanya. Kedua tangannya diletakan di sisi atas bathup. Dalam hidupnya, baru pertama kali Ozgur memakai sabun busa seharga 10.000 dollar dengan minyak wangi terapi seharga 5.000 dollar berbaur menjadi satu di dalam air yang menenggelamkan tubuh Ozgur saat ini.


Cuaca hari ini benar-benar panas, sepertinya bumi akan segera meledak. Bibi putu baru saja datang ke kamar Emine membawakan segelas jus apel segar yang Emine petik tadi di halaman belakang bersama Ozgur. Emine meminum jus itu berharap bisa mengurangi rasa gerah di tubuhnya tapi sepertinya tidak mempan.


" Panas sekali." Keluhnya sambil mengibas-ngibaskan tangan ke depan wajah.


Otak Emine sudah sedikit tergeser, mungkin karena ia pernah koma selama 1 bulan. Karena itu ia sekarang menjadi pelupa. Emine lupa saat ini ada seorang pria di dalam kamarnya tepatnya di dalam kamar mandi. Tidak tahan lagi dengan gerah bodynya, Emine membuka baju kaos yang menutupi tubuh. Sekarang hanya Tengtop merah yang menutupi tubuh bagian atasnya. Bukan hanya itu, Emine mengganti celananya dengan celana pendek mirip seperti celana pop. Rambut pirangnya dikerucut keongkan.


" Ahhhhh,,, lega sekali." Ucapnya dengan senyum merekah terlentang di atas kasur.


Emine mengambil majalah dari meja disamping kasurnya. Membaca majalah itu dengan gaya tidur tengkurap di atas kasur, tidak lupa kakinya digayung-gayungkan santai naik turun. Emine membalik-balikan satu persatu halaman majalah dewasa itu.


" OMG." Refleks menutup matanya dengan tangan saat melihat seorang model celana dalam pria. Mata Emine mulai nakal, ia merenggangkan jari-jari yang menutupi matanya mencoba mengintip burung model pria tampan itu.


" Hihihi,,,, besar sekali." Ucapnya lalu membalikan lagi ke halaman selanjutnya.


Ozgur menatap dirinya di cermin.


" Wah,,, aku tampan sekali." Ucapnya melihat wajahnya begitu berseri setelah memakai sabun wajah milik Emine. Segera ia memakai piama mandi dan keluar dari sana.


" Kreeeeeggggggg,,,,," Suara pintu geser yang dibuka Ozgur. Mata Ozgur membulat melihat tubuh seksi Emine yang bisa dikatakan hampir terlanjang. Ia menelan ludahnya yang terus keluar dari mulut. Ozgur tidak berani berkutik, ia takut akan dibunuh Emine karena sudah melihat apa yang tidak boleh dilihat.


" DEG." Emine berhenti membaca majalah lalu segera berbalik melihat siapa yang membuka pintu kamar mandi.


" Aaaaaa,,,,, Pria mesum,,,, kenapa kau melihatku seperti itu hah? KELUAR SEKARANG!!!" Teriaknya keras dengan melempar bantal-bantal kearah Ozgur yang menatap dirinya dengan tatapan seorang lelaki normal.


Ozgur segera berlari secepat laju motor GP menghindari amukan Emine.


*


*

__ADS_1


*


Para reader yang tak terlihat tlng tunjukan jejak klean ya!!!


__ADS_2