
Setelah mendengar semua penjelasan Velief, Meli tetap tidak terima jika uang kompensasinya tidak diberikan. Ia terus memelas pada Velief tapi diabaikan begitu saja.
" Nyonya Velief, aku sudah bekerja keras. Aku mengakui telah melakukan kesalahan tapi itu tidak sengaja. Ini benar-benar tidak adil." Ucap Meli mebela dirinya sendiri.
Velief tetap tidak perduli, ia kembali melewati gadis itu dan menuju ke posisinya semula.
Mulai timbul rasa kasihan dari orang-orang disana yang melihat Meli terus berusaha mendapat belas kasih dari Velief.
" Aku akan sangat berterimakasih padamu jika kau mau memberikan uang itu. Aku mohon padamu berikan padaku!!" Mendengar ucapan gadis ini tak mau berhenti dan terus merengek membuat Velief tidak tega. Velief menghentikan langkahnya dan berbalik. Orang-orang semakin penasaran apa yang akan dilakukan Velief kali ini pada gadis menyedihkan di depannya. Mereka semua tidak berani ikut campur dan hanya bisa menjadi penonton dari cuplikan film yang tak dapat chanel.
" Berapa uang yang kau butuhkan?" Para asisten termasuk Emine sudah menduga jika Velief akan bertanya seperti ini. Mereka tahu betul sifat Velief yang begitu murah hati.
Pertanyaan yang dilontarkan Velief memberi sedikit harapan pada Meli. Meski begitu Meli tetap mersa malu karena telah memaksa Velif, ia menundukan kepalanya saat menyebutkan jumlah uang yang dibutuhkan.
" 25 ribu dollar." Suaranya terdengar ragu dan pelan.
Semua mata yang sedari tadi mengarah pada Meli kini tertegun dan menelan ludah mereka untuk membasahi tenggorokan yang seketika terasa kering. 25 ribu dollar untuk seusia gadis ini tidaklah sedikit. Jika dirupiahkan bisa mencapai sekitar 350 juta.
" Apa yang kau lakukan dengan uang sebanyak itu?" Celetuk Bibi putu penasaran. Perlahan mereka semua juga ikut penasaran kenapa gadis ini perlu uang sebanyak itu.
" 25 ribu dollar bukan uang yang jumlahnya sedikit. Uang sebanyak itu bahkan cukup untuk memberi makan anak-anak pantiasuhan." Emine juga ikut ambil alih dan mulai berbicara.
" Yang dikatan dia sangat benar. Sekarang jawablah, untuk apa uang itu? Aku tidak ingin memberikan uang yang nantinya dipersalah gunakan." Tanya Velief serius dengan menatap lekat wajah gadis itu yang nampak mulai memerah.
Mereka semua tidak melepas pandangan matanya dari Meli dan sedang menunggu jawaban dari gadis ini.
Meli mulai gugup, ia tidak tau apa yang harus dikatan. Terlihat jelas jari-jari tangan Meli mulai meremas-remas tangannya sendiri, itu adalah sebuh tanda saat seseorang mulai gugup dan Emine melihatnya.
" Untuk biaya hidupku. Aku adalah salah satu mahasiswi semester 2 dari sebuah universitas terkenal. Aku punya banyak teman yang kaya, hidup mereka sangat mewah dan glamor, aku juga ingin terlihat modis seperti teman-teman ku. Mungkin kalian tidak menyukai apa yang aku katakan, tapi kalian tidak akan pernah mengerti bagaimana rasanya berada di sekitar orang-orang kaya seperti mereka." Meli mengutarakan alasannya tanpa ragu dengan ekspresinya yang memperlihatkan kesedihan. Tapi tetap saja alasan Meli dianggap salah, Meli kembali dianggap gadis sombong yang menghabiskan banyak uang hanya untuk tampil mewah di depan teman-temannya.
" Seharusnya kau bersyukur masih bisa menginjakan kaki di dunia perkuliahan!! Jika kau mau melihat lebih luas lagi, banyak orang yang ingin berkuliah tapi mereka tidak bisa karena masalah biaya. Sikapmu yang seperti ini akan membuat dirimu rugi besar suatu hari nanti." Emine memberi ceramah pada gadis yang usianya hanya berbeda 1 tahun dengan dirinya.
Meli semakin ragu, ia tidak tau harus membalas ucapan Emine dengan kata-kata apa. Meli tau bahwa alasannya tadi adalah rekayasa semata, ia telah berbohong tentang ingin hidup mewah. Sebenarnya ada alasan lain tapi Meli terlalu malu untuk mengatakan alasannya dan membuat dirinya terlihat semakin rendah.
Melihat Meli bungkam tidak membalas ucapan Emine, Velief pun angkat bicara.
" Baiklah, aku akan memberimu 2 kali lipat dari jumlah yang kau butuhkan." Velief mengambil cek dan menulis angka 50.000 dollar di kertas kosong itu. Semua orang tidak menyangka kalau Velief akan menjadi sebaik ini pada gadis yang telah membuat rugi perusahaannya.
Meli juga tidak menyangka dengan tatapannya yang membeku melihat Velief dengan santai menuliskan angka-angka itu kedalam cek. Meli mengira setelah memberi alasan ia akan semakin sulit untuk mendapat uang dari Velief. Bahkan jumlah uang itu melebihi uang kompensasinya.
" Ini untuk mu. Ambilah!!" Menyodokan selembar kertas tepat di hadapan Meli tanpa beban apa pun. Mereka yang melihat kemurahan Velief merasa tidak terima jika cek itu diberikan begitu saja pada Meli.
Meli tidak ingin membuang kesempatan. Tanpa berfikir lagi, tangannya dengan cepat bergerak meraih cek itu lalu SWISSSS,,,,, kertas yang berisikan 5 angka itu ditarik keatas oleh Velief dengan senyum tidak bersalah setelah membuat selembar cek itu lolos dari tangan Meli.
Merasa dipermainkan, Meli mulai kesal tapi rasa kekesalanya ia tahan dan semua itu demi 50 ribu dollar. Para asisten Velief tertawa keras melihat aksi Nyonyanya yang mempermainkan Meli tapi tidak dengan Emine. Entah kenapa ia merasa kasihan kepada Meli, Emine tau ada sesuatu yang disembunyikan Meli.
" Maafkan aku, tapi aku tidak ingin membuatmu menjadi gadis yang mendapat sesuatu dengan begitu mudah tanpa usaha." Sekarang semua orang main tebak-tebakan apa yang kali ini akan dilakukan oleh Velief.
Meli masih dengan raut wajahnya yang menahan rasa kesal, menatap Velief penasaran. Seharusnya Meli sudah tau bahwa Velief tidak akan memberi uang semudah itu.
" Seharusnya aku sadar tidak ada yang geratis dijaman ini." Gumamnya dalam hati ketika Velief memperlihatkan senyumnya yang penuh maksud. " Katakan saja apa yang harus aku lakukan!!"
Velief kembali tersenyum namun kali ini ke arah Emine. Emine yang mendapat senyum dari Velief, tidak mengerti akan maksud senyum itu.
" Ini bukan hal yang sulit." Kembali mengarahkan pandangannya ke Meli. Meli pun semakin penasaran. " Selama 3 hari aku akan dinas keluar kota, tidak akan pulang ke rumah. Aku mau kau menemani Emine selama 3 hari, mengajaknya jalan-jalan, membantu segala aktivitasnya dan menuruti semua yang Emine inginkan."
Meli mengerutkan dahinya, ia tidak tahu siapa itu Emine. Siapa yang membuat Velief mau membayar mahal hanya untuk hal seperti ini.
__ADS_1
Emine yang namanya disebut-sebut kini ikut ambil alih dalam drama ini.
" Kakak,,, tapi disini sudah ada banyank orang yang menemani ku. Aku tidak perlu orang lagi." Emine merasa tidak enak diperlakukan seperti ini.
" No,,,no,,,no,,,. Aku tau kau sangat kesepian, kau butuh teman. 4 hari lagi kau akan pulang ke Turki, aku akan merasa bersalah jika membiarkan mu melewati hari-hari yang membosankan."
" Tapi kakak,,,,,~~" terpotong.
" Hai,,,,,, yang dikatakan Nyonya Velief itu sangat benar. Aku bisa menemani mu kemanapun kau mau. Kita akan pergi jalan-jalan, naik wahana, Rollercoster, naik banana boat, aku bisa mengajari mu bermain sky es, piknik di bukit, dan juga kita akan berkeliling kota. Aku jamin hari-hari mu paaa,,,,,,ssstiiiii akan menyenangkan." Meli menjelaskan dengan begitu semangat dan suaranya terdengar berirama saat menyebutkan aktivitas yang akan dilakukan hingga tak menyadari orang-orang sedang menatapnya tak berkedip.
" Apa? apa aku salah bicara?" Tanyanya ketika menyadari tatapan beku semua orang.
" Meli. kau tidak bisa mengajak Emine naik rollercoster, kau tidak bisa mengajak Emine bermain banana boat, dan kau juga tidak bisa mengajari Emine bermain sky es." Sahut Velief.
" Kenapa? semua itu sangat menyenangkan." tanya Meli penasaran.
Seketika semua orang menjadi sedih, termasuk Velief.
" Emine tidak bisa berjalan normal. Kakinya terluka dan masih berada dalam tahap pemulihan."
Penjelasan Velief membuat Meli jadi tidak enak hati. Dia tidak tau kalau wanita cantik yang duduk di tengah-tengah itu sedang sakit.
" Maafkan aku. Aku tidak tau. kau pasti merasa sedih dengan ucapan ku." Menatap Emine dengan rasa bersalah.
" Tidak apa-apa." Tersenyum. " Kau harus membantuku untuk berlatih berjalan. Jika aku sudah sembuh, kita akan bermain sepuasnya. Aku juga akan belajar sky es dengan mu." Ucap Emine dengan semangat membuat suasana sedikit berubah.
" Ya aku janji,,, aku akan membantu mu." Sahut Meli tidak kalah semangat.
Semua orang jadi tersenyum haru melihat dua wanita cantik ini yang nampaknya akan menjadi teman akrab. Velief juga ikut tersenyum, ia sadar pilihannya ini tidak terlalu buruk untuk menemani hari-hari Emine.
" Sekarang cek ini akan aku berikan pada Emine. Nanti saat tugas mu sudah berakhir, Emine yang akan memberikan ceknya padamu." Berjalan ke arah Emine dan memberikan ceknya. " Sekarang kau pulanglah!! aku akan menyuruh sopir untuk mengantarmu pulang."
" Jangan menolak atau aku akan memotong uang mu." Ancam Velief.
" Baiklah Nyonya. kalau begitu aku pulang dulu." Ucap Meli tergesa-gesa dengan membungkukan badannya memberi hormat lalu SWINGGGG,,,,, pergi secepat kilat.
Velief, Emine, dan lainnya jadi tertawa melihat tingkah konyol gadis itu.
Malam semakin larut, bulan sudah mengambil posisi semakin tinggi, burung hantu sudah memberi kode bahwa ini adalah waktu kekuasaannya.
Semua orang di kediaman Velief sudah memasuki kamarnya masing-masing, tidur nyenyak dengan selimut menghangatkan tubuh mereka, mimpi-mimpi yang mulai memasuki tidur mereka. Malam ini adalah malam yanh damai dan tenang, semua orang tertidur lelap hingga tidak terasa fajar telah datang begitu cepat. cahaya matahari yang nakal berusaha masuk melewati celah-celah kecil mencoba membangunkan mereka yang masih nyaman dengan selimut, bantal, dan guling.
" Uwaaaaaahem,,,,,," Mulut Emine menganga lebar membiarkan udara keluar bebas. selimut tebal yang telah memberikan kehangatan ditepis begitu saja setelah tidak dibutuhkan lagi. Emine berulang kali mengedipkan matanya untuk mendapat fokus pada plafon diatas yang terlihat buram.
Setelah seluruh jiwanya terkumpul kembali kedalam tubuh, Emine bangkit tapi masih tetap duduk di atas kasur.
" Astaga." Emine terkejut sontak menarik tubuhnya kebelakang ketika matanya menangkap penampakan seorang gadis yang bersandar santai di pintu dengan bandana kelinci hijau tersenyum memperlihatkan gigi di pagi hari. Gadis itu sepertinya sudah mengamati Emine sedari tadi. " Huhhhh,,,,,, kau mengagetkan ku... Aishhhh,,,,," Menetralkan lagi detak jantungnya yang sempat berhenti.
Meli masuk ke dalam kamar Emine, mengambil kursi roda yang terletak di samping lemari lalu mendorongnya mendekati kasur. " Ayo aku antar kau mandi." Meli terlihat sangat bersemangat.
" Sepagi ini?" Emine mengerutkan dahinya. Ia tidak pernah mandi pagi di bawah jam 8 dan sekarang masih jam 07.15
" Kita akan pergi jalan-jalan menghabiskan waktu sepanjang hari di luar rumah." Ucapnya dengan wajah ceria.
" Baiklah,,,," Emine beranjak dari tempat tidurnya. menurunkan kaki sebelah kiri yang terluka dengan sangat hati-hati. Meli langsung membantu Emine, ia mendekatkan lagi kursi rodanya. " Tidak,,tidak,, ambilkan aku tongkat itu!! hanya ke kamar mandi, tidak perlu kursi roda." Meli mengambil tongkat bantu dan memberikannya pada Emine.
Emine berdiri lalu berjalan dengan tongkat yang terselip di ************ lengannya. Meli mengekor di belakang Emine, ia mengikuti Emine sampai ke kamar mandi.
__ADS_1
" Kau juga mau ikut mandi?" Tanya Emine bingung karena Meli ikut masuk kedalam kamar mandi berukuran Queen.
" Tidak." Jawabnya singkat.
" Lalu?" Emine semakin bingung.
" Kau ini, apa kau lupa? Aku dibayar untuk membantu segela aktivitas mu. Sekarang aku sedang melakukan tugas ku."
Emine terkekeh, tak pernah dalam hidupnya di bantu mandi meski dalam kondisi seperti ini.
" Meli. Yang terluka itu kaki ku bukan tangan ku. Aku masih bisa mandi sendiri." Emine memberi penjelasan.
" Aku tau. Tapi sekarang kau adalah tanggung jawabku. Bagaimana jika kau terpeleset,,, Hahhhh,,,," Berepreksi ketika membayangi Emine terjatuh. " Tidak,, tidak,, aku tidak mau mengambil resiko. Aku tidak rela jika gajiku dipotong." Mengira bahwa Meli menghawatirkannya ternyata gadis ini malah menghawatirkan gajinya.
" Aishhhh,,,,," Emine mendengus kesal lalu berbalik meninggalkan Meli.
Sekarang kedua wanita lajang itu berada di dalam kamar mandi. Emine menatap Meli yang terus melihat kerahnya. " Balikan badan mu!!" Perintah Emine tidak mau Meli melihat tubuhnya yang seksi.
" Kenapa? Kau malu ya,,,,," Meli malah meledek Emine. " Kita itu sama-sama perempuan, aku punya apa yang kau punya jadi tidak usah malu seperti itu."
" Aku tidak malu, hanya saja aku takut kau iri dengan tubuhku yang seksi." Balas Emine berbalik ke arah cermin seukuran setengah tubuhnya lalu membuka bajunya santai.
" Waooooo,,,,,,, tubuh mu benar-benar Seksi." Meli tak menyangka jika Emine akan melakukannya. Punggung Emine yang terlihat putih dengan lekukan aduhai di pinggannya benar-benar terlihat sempurna dengan rambut di kerucutkan memperlihatkan leher jenjangnya. Emine telah melakukan oprasi di punggung, lengan ,dan kakinya untuk menghilangkan bekas jahitan pada lukanya. " Untung saja aku bukan laki-laki." Ucap Meli menyambung.
" Jika kau laki-laki, aku mungkin sudah mengirim mu ke neraka." Ucapnya lagi sembari terus membuka satu per satu kain yang menutupi tubuhnhya.
Meli berjalan kearah Emine yang sudah duduk di depan cermin. Emine tidak bisa berdiri terlalu lama dengan satu kaki.
" Kau ingin keramas?" Tanya Meli mengambil sower dan membasahi tubuh Emine dari bagian pundak.
" Apa kau tidak lihat rambutku sudah dikrucut." Pertanyaan Meli terdengar bodoh.
" Hehehhehe,,,, aku lupa." Meli tidak keberatan membantu Emine mandi, ia malah terlihat senang karena dengan apa yang ia lakukan.
" Oh ya,,, Kau orang Turki?" Tanyanya sembari mengusapkan halus sabun di tubuh Emine.
" Iya,,, aku asli orang Turki dan 3 hari lagi aku akan pulang ke Negaraku." Jawab Emine memandangi Meli dari kaca yang nampak serius menggosok kulit mati di bagian pundak.
" Aku juga orang Turki. Aku bersekolah disini karena mendapat beasiswa."
" Kau orang Turki?" Emine tidak pernah mengira jika Meli adalah orang Turki pasalnya wajah Meli lebih mirip kearah Asia kususnya China.
Meli mengangkat sedikit kepalanya dan tersenyum di depan kaca. " Banyak yang bilang aku orang China tapi aku sama sekali tidak memiliki darah China. Aku punya seorang kakak laki-laki, aku dan dia sangat berbeda. Tapi kami tetap sepasang saudara yang tampan dan cantik." Meli dengan yakin memeji dirinya sendiri. Emine hanya tersenyum karena memang benar Meli adalah gadis yang cantik.
" Aku sangat ingin pulang ke Turki, tapi kakak tidak pernah mengijinkan ku pulang sebelum aku menyelesaikan pendidikan." Raut wajah Meli yang ceria seketika berubah, kesedihan mulai terlihat. Emine melihat Meli yang sepertinya tidak ingin memperlihatkan wajahnya, meli tertunduk dan terus sibuk memberi minyak wangi di punggung Emine.
" Memangnya kenapa kau ingin pulang? Yang di katakan kakak mu benar. Kau harus menyelesaikan pendidikan mu."
" Aku bisa melanjutkan pendidikan ku di Turki. Tidak mudah hidup di negri orang." Ucapan Meli berekspresi bahwa kehidupan yang ia jalani di sini seakan-akan di dipenuhi dengan kesedihan. Emine semakin penasaran dengan apa yang sedang di sembunyikan Meli darinya dan dari semua orang.
Emine merasakan ada sebulir air yang menetes di punggunya. Sower masih ada di tempatnya, Emine mencoba melihat Meli dari cermin yang wajahnya tertutupi oleh tubuh Emine ternyata air itu dari mata Meli. Meli dengan cepat menghapus air matanya kasar dengan punggung tangan tapi ia tidak tahu bahwa Emine sudah melihatnya menangis.
*
*
*
__ADS_1
Like & komen!!