
Fika mengangkat perlahan kelopak mata yang masih terasa berat.
Rasa pusing yang bersarang di kepala semakin membuat pandangannya kabur.
Ini semua efek obat bius.
Ingatannya berputar mundur saat ia ingin berangkat ke kantor namun seseorang menyekapnya dari belakang.
Sontak Fika membuka paksa matanya lebar-lebar.
Menyadari dirinya diculik.
" Dimana aku??"
Gadis ini terkejut ketika menyadari tempatnya berada saat ini sangat asing + menakutkan.
Ingin berdiri tapi sadar ketika gerakannya terbatas karena tubuhnya yang terikat.
Fika panik. Pandangan dihamburkan kesegala arah. Mencari siapa pun yang bisa menolongnya. Ada 1 orang namun sayang kondisinya sama seperti dirinya.
Bahkan sepertinya lebih parah. Seorang wanita yang juga terikat, kepalanya tertunduk, rambutnya terurai kedepan sehingga Fika tidak bisa melihat siapa dia.
" Nona, apa kau bisa mendengar ku?? Heii Nona. Bangunlah!! Apa dia pingsan??"
Fika mencoba membangunkannya namun tidak berhasil.
" Ahhhh,,,, bagaimana ini?? Dimana aku? Kenapa bisa sampai di sini? Sial,,,!!
Apa tujuan mereka menculik ku? Bahkan aku bukan orang kaya. "
Mengoceh sembari berusaha melepaskan ikatan tali.
Saat ini hanya diri sendiri yang bisa menyelamatkan diri.
" Dia menculik mu karena aku.
Sebenarnya aku tujuan utamanya."
Sontak Fika menoleh kesamping. Wanita itu berbicara tiba-tiba membuatnya terkejut bahkan jantungnya hampir copot.
Dan dia sekarang masih tertunduk.
" Kau sadar? Jadi kau sadar? Aihhh,,,, kenapa tidak menjawab ucapan ku tadi? Aku kira kau pingsan."
Kesal rasanya karena di situasi seperti ini wanita yang ada di samping pura-pura tidak mendengarnya.
" Tadi aku belum bisa mendengar suara mu dengan jelas."
_- Eh, siapa dia?? Kenapa aku seperti mengenal suaranya?? _-
Brakkkk,,,,,!!!!
Suara pintu yang dibuka keras kembali membuat Fika terkejut refleks mengarahkan pandangannya ke sumber suara.
Tapi tidak dengan wanita yang di sampingnya masih saja tertunduk.
Antara sadar tidak sadar.
" Kau sudah bangun ya rupanya dari tidur panjang mu."
" Kau!!!! Jadi ini ulah mu. Brengsek,,, Mau apa kau dari ku??"
Serin muncul membawa sebuah tongkat pemukul softboll. Menyeretnya di lantai sembari terus mendekat.
Menoleh pada wanita yang sepertinya belum sadar karena masih tertunduk, begitu kesimpulan di otaknya. Sayang sekali sebenarnya Serin lebih tertarik pada wanita itu.
Namun karena Fika terlebih dulu menatapnya jadi ia akan bermain-main dengannya.
" Hahaha,,, Sebenarnya tidak ada yang aku harapkan dari mu. Tapi, mengingat semua kekacauan ini adalah karena ulah mu jadi aku putuskan untuk memberi mu sedikit pelajaran."
Sudah memukul-mukulkan tongkat ke telapak tangannya.
Memberi kesan ingin menakut-nakuti dan ternyata sukses membuat Fika takut.
Serin mendongakan kepala Fika dengan tongkat pemukul softbollnya.
Fika menatap Serin dengan mata penuh akan kebencian.
" Lemahkan mata mu itu!! Berani sekali menatap ku seperti itu.
Lihat dirimu!! Bahkan kau tidak bisa bergerak."
Menunjuk tubuh Fika yang terikat dengan sorot matanya naik turun.
" Mau apa kau dari ku??"
Mempertegas kalimat yang sudah terucap. Berfikir tidak ada untungnya Serin menculik dirinya.
" Mau apa ya?? Aku mau satu pukulan di wajah mu, ah tidak!! 2 pukulan, tidak tidak!! Bagaimana 3 pukulan? 4? 5? 6? 7? 8? Hahaha,,,, Karena kau bertanya maka aku akan menjawab. Aku ingin memukul wajah menyebalkan mu itu."
Wajah Fika langsung berubah pias saat Serin sudah memposisikan tongkatnya disamping pipinya. Tinggal di ayunkan maka tongkat itu akan menghancurkan wajahnya.
" Jangan sakiti dia Serin!! Urusan mu hanya dengan ku."
__ADS_1
Emine mengangkat wajahnya.
Sebenarnya ia masih sangat pusing akibat hantaman keras di kepalanya.
Sontak dua pasang mata yang saling bertatapan itu menoleh ke arah samping.
" Nona Emine?? Itu kau? "
Mata Fika tebelalak melihat siapa wanita yang berada di sampingnya.
Bodoh sekali Fika tidak mengenali suara Emine.
" Wah pas sekali. Kau sadar di waktu yang tepat."
Serin bergeser mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh Emine.
Tersenyum senang karena Emine telah menegakan kepalanya. Tentu Serin senang karena ia ingin menyiksanya. Tidak bisa memberi rasa sakit di hatinya maka Serin akan memberi rasa sakit di tubuh Emine.
" Apa yang akan kau dapatkan dari semua ini Serin?? Kau tidak akan mendapatkan apa-apa
Okan sakali pun. Dia hanya akan membenci mu."
Tersenyum mengasihani.
Menunjukan betapa menyedihkan hidup wanita di depannya.
" Hahahaha,,,,,"
Serin tidak terpancing sama sekali malah ia tertawa mendengarnya.
" Aku tahu itu aku tahu Emine. Cepat lambat Okan akan mengetahui semua ini.
Dia akan membenci ku. Seandainya dia tidak membenci ku tetap saja dia tidak akan kembali pada ku."
" Lalu kenapa kau masih melakukan perbuatan semacam ini??"
" Karena jika aku tidak bisa memiliki Okan maka kau pun sama. Kau tidak boleh egois Emine!! Kita itu sahabatkan? Sahabat memang harus seperti itu kan?? "
Mencengkram pipi Emine keras lalu
menghempaskannya kasar.
Emine berdecih. Sahabat apanya sahabat, fikirnya.
" Baiklah Serin. Seperti katamu, di antara kita tidak akan ada yang bisa memiliki Okan. Maka karena itu mari kita mati bersama!!
Akhiri semua ini!! Aku tahu kau juga lelah kan? Tapi jangan sakiti dia!! " Menunjuk Fika yang sudah menggeleng-gelangkan kepalanya. Tidak!! Jangan mengorbankan diri mu Nona!! begitu artinya.
Serin mengangkat alisnya disusul dengan suara tawa. Sebaik itukah wanita di depannya hingga rela berkorban untuk orang lain?
Ucap Fika cepat sadar situasi yang buruk ini berlarian ke arah Nonanya.
" Jangan!! Kau membenci ku kan? Untuk apa menyakitinya??"
Kembali Emine menatap Serin cemas.
Takut Serin akan melukai Fika.
" Semua ini karena ku kan katamu? Jadi lampiaskan saja semua pada ku!! Aku yang menggagalkan rencana mu. Aku juga yang membuat Nona Emine tahu tentang semua ini. "
Fika tengah berusaha mempengaruhi Serin bahwa dirinya yang salah. Padahal baik Fika maupun Emine sama-sama tidak bersalah.
" Jangan dengarkan dia Serin!! Akulah yang merebut Okan dari mu. Semua ini tidak akan terjadi jika aku tidak masuk ke dalam
kehidupan kalian."
Emine tidak mau kalah.
Mereka berdua saling melindungi.
" Hahahaha,,,,,"
Serin tertawa gembira karena 2 wanita yang terikat itu memelas-melas untuk diambil nyawanya. Serin merasa dirnya sudah seperti dewi pencabut nyawa.
" Baimana dengan dia terlebih dulu?"
Menunjuk Fika dengan tongkatnya. Serin tahu cara menyakiti Emine dengat tepat. Menyakiti Fika adalah salah satu caranya.
" Tidak Serin!! Jangan lakukan itu padanya!!"
" Kau jangan khawatir Emine!! Setelah aku menyakitinya aku pasti akan menyakiti mu juga. Aku hanya ingin kau melihat orang-orang terdekat mu hancur terlebih dulu."
Karena Emine akan hancur dari dalam melihat ada orang yang terluka oleh dirinya.
Serin sudah memposisikan tongkatnya di samping wajah Fika. Bersiap untuk memukulnya. Fika memejamkan matanya pasrah tidak mencoba menghentikan.
Sedangkan Emine sudah panik di dalam keterbatasannya untuk bergerak.
Tidak bisa melakukan apa pun selain meminta dan berteriak.
" Aku mohon Serin jangan lakukan itu!! Aku mohon!! Serin,,,,!!!"
Plankkk,,,,,!!
__ADS_1
Fika tertunduk lemas. Wajahnya sudah memar-memar. Keluar darah dari sudut bibirnya. Emine menangis melihat kondisi serkertarisnya itu. Rasa bersalah yang tak termaafkan jika sampai terjadi sesuatu pada Fika mulai menenggelamkannya.
Fikirnya Fika pasti sangat terkejut dan kesakitan. Hingga tidak bisa lagi menegakan kepalanya.
" Dia lemah sekali. Baru beberapa pukulan sudah tergulai. Ahh,,, tidak cocok sekali dengan mulut besarnya waktu dirumah ku."
Ucapnya mengejek sembari menyanggakan tongkat di bahu.
Sekarang sudah berjalan mendekati Emine.
Emine menatap Serin penuh kebencian. Tangannya mengepal ingin menghajar Serin habis-habisan tidak perduli dia seorang perempuan.
Sudah tidak bisa lagi Emine mengatur nafasnya yang memburu.
Bola matanya pun melototi Serin dengan bara api disana.
" Ada apa? Kau ingin memukul ku seperti kau memukul semua anak buah ku? Apa kau ingin menembak ku?? Hahaha,,, Ayo lakukanlah!!"
Mengejek tahu Emine tidak bisa melakukan apa-apa.
Emine mulai menyesal. Kenapa waktu itu dirinya melepaskan Serin? Seharuanya ia menembak wanita ini.
Maka selesai sudah. Tidak akan ada situasi seperti ini.
Sekalipun dirinya masuk penjara, fikir Emine
itu lebih baik.
" Kau tidak bisa bicara lagi ya?? Hahaha,,, Baiklah. Sudah cukup basa basinya. Sekarang giliran mu Emine. Bersiaplah!!! Kau lebih kuat dari Fika jadi aku akan memukulmu lebih dari gadis itu."
Hanya sebuah pukulan dari tongkat kayu. Tidak akan membunuh ku kan? Lagi pula aku dulu sudah terbiasa terluka secara fisik. Kali ini lagi.
Bertahanlah Emine!! Semua ini pasti berlalu.
Maafkan ibu sayang!! Jika kau sudah tidak kuat lagi berada dalam rahim ku maka pergilah!! Kau boleh pergi!! Lahirlah dari rahim wanita yang kehidupannya tidak sekaras Ibu!! Tapi jika tidak mau maka kuatkan diri mu!! Kita akan melewati semua ini bersama.
Kau mendengar ibu?? Batin Emine tidak sadar menitikan air mata.
Merasa dirinya adalah wanita, istri sekaligus ibu yang buruk.
Serin dengan senyum menyeringainya mengayunkan tongkat ke arah Emine.
Tanpa jiwa kemanusian ia memukuli Emine.
Seperti mendapat kebahagian yang sempurna dengan melakukan hal kejam ini.
*
Okan baru keluar dari ruang pengintrogasian. Hari ini ia tidak bisa melakukan tugasnya dengan benar. Semua keterangan dari tersangka tidak bisa ia cerna. Entah kenapa ia tiba-tiba seperti ini. Tidak bisa fokus. Seperti ada yang mengganjal hatinya.
Tiras yang melihat Okan seperti itu langsung menghentikan jalannya pengintrogasian karena ini hanya akan sia-sia.
Tiras meminta Okan beristirahat sebentar karena mengira sahabatnya itu pasti kelelahan.
" Lapor pak. Kami berhasil menemukan sedikit petunjuk tentang istri anda."
Niat Okan yang ingin kembali ke ruangan untuk beristirahat terhenti oleh sebuah laporan dari bawahannya yang ia minta secara pribadi untuk menyelidiki Emine.
" Cepat tunjukan pada ku!!"
Okan berlari mengikuti langkah anak buahnya itu.
" Ini pak. Mobil istri anda terekam memasuki kawasan ini. Ini jalan menuju sebuah pabrik yang sudah tidak beroprasi."
Menunjukan sebuah video.
" Pabrik? Untuk apa dia kesini?? Apa ada lagi??"
" Ada pak. Sebelum istri anda memasuki kawasan ini, ada 2 mobil yang lebih dulu datang kesini. Selisih waktunya hanya 20 menit."
Menunjukan lagi 2 mobil yang dimaksud.
Okan menajamkan matanya ke arah mobil yang ada di depan.
" Itu mobil Serin. Perbesar nomor plat mobil yang di depan!!"
Perintah Okan.
Dan benar itu mobil Serin. Cukup mengejutkan bagi Okan. Orang yang ditemui Emine sebelum ia terluka ternyata adalah Serin. Mulai timbul dugaan-dugaan.
Benarkah terlukanya Emine ada hubungannya dengan Serin?? benak Okan cemas.
" Mobil yang dibelakang, slidiki pemilik mobil itu!! "
Beralih pada mobil yang dibelakang.
" Sudah pak. Mobil itu pemilik sekelompok preman. Dan saya baru menyelidiki preman-preman itu sekarang berada di rumah sakit karena terkena tembakan."
" Apa?!!"
Terkejut. Serin datang bersama preman. Kemudian Emine juga datang kesana. Setelahnya Emine pulang dalam keadaan terluka. Dan preman-preman itu sekarang berada di rumah sakit karena ditembak.
Sepertinya Okan sudah mulai mengerti apa yang terjadi disana.
__ADS_1
" Serin. Ternyata ini ulah mu. Kau mencoba menyingkirkan Emine. "
Okan dengan kepalan tanggannya menahan rasa geram.