
Hampir 90% yang menyaksikan persidangan siang itu adalah keluarga korban pembunuhan berantai. Wajah mereka semua tiada yang menunjukan kedamaian. Hanya rasa geram dan amarah terpancar jelas di raut wajah mereka. Semua orang berlomba-lomba mendoa'kan Orsan dijatuhi hukuman seberat-beratnya atas perbuatan yang telah dilakukan.
" Menurut bukti sudah jelas saudara Orsan telah melakukan pembunuhan berencana." Seorang jaksa mulai memerankan perannya sebagai penuntut tersangka.
" Saudara Orsan apa anda mengakuinya?" Tanya Hakim pendamping.
" Ya saya mengakuinya." Dengan ringan Orsan mengakui perbuatannya. Ia menatap hakim tanpa sorot mata bersalah. Emine menutup matanya sekejap mencoba menerima kepasrahan Orsan yang tidak melakukan pembelaan diri.
Waktu dikembalikan pada jaksa untuk menyelesaikan tuntutannya.
" Saudara Orsan telah mengakui kejahatannya dan sudah di saksikan banyak orang disini. Mengingat kejahatan yang dilakukan saudara Orsan bukanlah kejahatan ringan tapi merupakan kejahatan berat berupa pembantaian maka dengan penuh pertimbangan saya mengajukan tuntutan hukuman penjara seumur hidup pada saudara Orsan." Ucap jaksa kemudian kembali duduk.
Senyum kepuasan menyeringai pada seluruh keluarga korban. Bagi mereka hukuman penjara seumur hidup lebih mengerikan dari hukuman mati. Lain dengan Emine, ia semakin menitikan air matanya dan tidak bisa berbuat apa-apa. Fika menggengam tangan Emine untuk menenangkannya, tangan yang sudah bergemetar hebat.
Pengacara yang terlibat juga mulai ambil alih dalam pembelaannya. Ia sudah memegang beberapa bukti yang dapat meringankan hukuman Orsan. Mustahil untuk membebaskan Orsan tapi untuk mendapat keringanan masih ada harapan. Perlu di ketahui pengacara itu di sewa oleh Okan untuk Orsan kakak kekasihnya.
" Keberatan yang mulia." Pengacara itu berdiri.
" Disini saya ingin memberikan bukti untuk yang mulia pertimbangkan." Pengacara memberikan bukti pada pendamping hakim kemudian diberikan kepada ketua hakim.
Bukti yang berada dalam kantung plastik transparan itu dibuka, ada 1 CD, 10 foto, 1 dokumem tebal, 3 pisau, 1 ikat pinggang dan bukti lainnya. Ketua hakim tertarik pada CD dan 10 foto kemudian dokumen diberikan pada hakim pendamping untuk di periksa.
Dari 10 foto itu memperlihatkan aksi pembunuhan yang dilakukan dengan berbagai cara. Mulai dari di gantung, di tusuk, di tenggelamkan dll.
" Putar CDnya!!" Ketua hakim menyuruh petugas untuk memutar CD itu di sebuah layar besar.
CD berdurasi 10 menit itu mulai berjalan. Pihak keluarga korban mulai merasa tidak enak akan bukti yang sedang di tayangkan. Semua mata tidak berkedip menyaksikan video yang sudah di jadikan satu oleh pengacara.
Betapa terkejutnya semua orang saat video itu memperlihatkan aksi kejam para perempuan membunuh perempuan lain yang tidak lain merupakan sahabat mereka sendiri. Keluarga korban pembunuhan berantai refleks menutup mulutnya sendiri saat putri mereka ada di video itu sebagai pembunuh.
" Tolong jelaskan maksud dari video yang anda berikan saudara pengacara!!" Seru ketua hakim.
Pengacara kembali berdiri. Ia bersiap memulai cerita panjangnya.
" Terimakasih atas waktu yang sudah diberikan. Selama ini orang-orang hanya mengenal dan membenci pelaku pembunuhan berantai tanpa mereka sadari masih ada banyak pembunuh yang lebih kejam. Seperti yang ditayangkan oleh video tadi adalah buktinya. Para keluarga korban pembunuhan berantai pasti sudah tau siapa mereka. Para pembunuh dalam video itu tidak lain adalah putri-putri dari tuan dan nyonya yang sekarang duduk disini menuntut keadilan untuk mereka. Jika dirangkum, para korban pembunuhan berantai, mereka semua juga adalah seorang pembunuh. Mereka membunuh sahabatnya sendiri tapi mirisnya tidak ada yang mengetahui hal ini. Untuk alasan mengapa mereka membunuh bisa di periksa pada dokumen yang sudah saya sertakan." Jelas pengacara itu.
__ADS_1
Para keluarga korban pembunuhan berantai mulai gusar.
" Saudara Orsan memiliki seorang adik perempuan yang nasibnya juga sama seperti mereka, dibunuh oleh sahabatnya sendiri. Hal itu pasti meninggalkan duka yang mendalam pada saudara Orsan. Ini adalah alasan kenapa saudara Orsan melakukan pembunuhan pada putri nyonya dan tuan. Karena ia ingin menegakan keadilan pada mereka yang meninggal secara tidak adil. Saudara Orsan memiliki obsesi untuk membunuh mereka yang telah membunuh sahabatnya sendiri. Kiranya yang mulia bisa mempertimbangkan hukuman yang akan diberikan!! Para korban saudara Orsan, mereka semua juga seorang pembunuh. Saudara Orsan tidak membunuh tanpa alasan yang jelas. Ada alasan dibalik pembunuhan yang dilakukan." Setelah mencecerkan pembelaannya di telinga semua orang, pengacara itu hendak duduk tapi jaksa langsung menyambar dari arah berlawanan.
" Keberatan yang mulia." Langsung berdiri tanpa intruksi. Hakim tidak menegur jaksa itu artinya hakim mempersilakan jaksa untuk melawan.
" Di negara kita ada hukum yang siap memberi keadilan untuk mereka yang membutuhkan. Seharusnya saudara Orsan menyerahkan kasus itu kepada pihak yang berwenang bukannya malah main hakim sendiri dengan melakukan kehendaknya seorang. Cara saudara Orsan dalam menegakan keadilan itu sangat salah. Kejahatan tidak bisa di balas dengan kejahatan." Ucap Jaksa itu tegas.
" Bagaimana? Apa saudara pengacara ingin melakukan pembelaan?" Tanya ketua hakim ke arah pengacara.
Pengacara yang di sewa Okan bukan pengacara kelas remehan. Tentu saja pengacara itu tidak menyerah semudah itu.
Pengacara berdiri kemudian keluar dari meja dan berjalan kedepan.
" Yang mulia saya akan membawa anda masuk ke lorong waktu dimana 4 tahun yang lalu tepat di ruangan ini juga berlangsung persidangan kasus pembunuhan adik saudara Orsan yaitu almarhum Bruzel Zarzat. Saat itu kebetulan saya hadir menyaksikan persidangan itu. Saya tau dan semua pihak pengadilan juga tau bahwa telah terjadi ketidak adilan terhadap keputusan perkara dimana seluruh bukti sudah menyatakan bahwa pelaku pembunuh Bruzel Zarzat mengarah padanya. Tapi apa yang terjadi? apa almarhum saudari Bruzel benar-benar mendapat keadilan? jawabannya adalah tidak. Bahkan hakim yang saat itu menangani kasus Bruzel malah menyatakan tersangka melakukan pembunuhan secara tidak sengaja sedangkan bukti sudah jelas menyatakan tersangka melakukan pembunuhan berencana dan yang lebih menyedihkan adalah tersangka hanya diberikan hukuman 2 bulan penjara. Saat itu tidak ada yang berani menyatakan keberatan atas keputusan pengadilan karena ketua hakim saat itu adalah kakek dari tersangka. Saya rasa yang mulia juga tau ketidak adilan yang telah dialami Bruzel Zarzat." Ucapan pengacara itu seketika membuat para hakim termasuk ketua hakim tertunduk. Mereka merasa malu karena kaumnya tidak mampu menegakan keadilan dengan benar.
Ketika mendengar nama Bruzel, hati Orsan terasa terbakar akan kesedihan dan kemarahan. Ia mengingat ketidak adilan yang terjadi pada adiknya dan sampai sekarang Orsan belum bisa melupakannya. Sedangkan di bangku belakang, lagi dan lagi Emine menjatuhkan buliran bening dari matanya. Sejak kecil kakaknya yaitu Bruzel sudah begitu menderita bahkan di usia muda Bruzel meregang nyawa dengan begitu mengenaskan. Seakan belum cukup penderitaan sang kakak, saat sudah mati pun ia masih tidak mendapat keadilan. Hati Emine terasa di remas-remas oleh kenyataan memilukan kakaknya yang baru ia ketahui. Kenyataan Bruzel tidak mendapat keadilan.
" Bertumpu dari kasus adiknya, lalu bagaimana bisa saudara Orsan mempercayai hukum di negara kita? Itulah yang menyebabkan saudara Orsan tidak menyerahkan kejahatan itu kepada pihak berwenang dan lebih memilih menegakan keadilan menurut caranya sendiri. Sekali lagi tanpa kita sadari akar kekacauan ini berawal dari kita pihak hukum yang tidak becus menjalankan tugas. Sekian dari saya, waktu saya kembalikan." Pengacara duduk kembali. Jaksa mulai kehabisan ide untuk melawan. Okan mengaplus kerja keras pengacaranya, di dalam hatinya ia begitu kagum dengan pria berjas rapi itu.
" Yang mulia, apa pun yang dikatakan pihak pembela baik itu benar maupun salah, tetap saja tindakan saudara Orsan salah di mata hukum. Saya tetap mengajukan tuntutan hukuman seumur hidup terhadap saudara Orsan. Saya harap yang mulia bisa lebih memikirkan keputusan dengan teliti dan tetap berpedoman pada hukum yang berlaku di negara kita!!"
Mendengar kata hukum membuat Emine semakin terpaut dalam kecemasan. Secara hukum, Orsan memang bersalah. Sebagai seorang polisi yang tau betul tentang hukum, Okan pun mulai tidak tenang.
" Saya berikan kesempatan terakhir untuk saudara pengacara menyampaikan penutup pembelaannya." Ucap Ketua hakim.
" Terimakasih yang mulia. Saya tidak memungkiri saudara Orsan tidak berslah. Tapi tuntutan yang di berikan oleh saudara Jaksa itu terlalu berat. Tolong yang mulia fikirkan lagi!! Fikirakan dari segi posisi saudara Orsan saat itu!! Hanya itu yang ingin saya sampaikan. Termikasih." Pengacara kembali ke posisi semula.
" Saudara tersangka Orsan, apa ada yang ingin saudara sampaikan?" Ketua Hakim memberi waktu dan kesempatan untuk Orsan mengungkapkan isi hatinya entah itu dalam bentuk permohonan, penyesalan, pesan dan lainnya.
Orsan mengangkat kepalanya menetap kedepan dengan pandangan kosong.
" Nyawa di bayar dengan nyawa. Uang, cinta, kekuasaan, jabatan, harta tidak bisa membayarnya karena tubuh yang sudah menjadi abu tidak akan pernah bisa kembali seperti semula. Kalian yang sekarang menuntutku atas nama keadilan putri kalian, Cihhhh,,,, keadilan apa yang kalian harapkan untuk monster menjijikan? Mereka pantas untuk mati." Ucap Orsan menghina dengan decihan dan senyum miring meremehkan.
Mereka yang merasa terhina hanya bisa diam dengan tangan yang sudah mengepal.
__ADS_1
Setelah melewati tahap inti akhirnya sampailah pada tahap akhir. Ketiga hakim yang memegang peran sebagai penegak keadilan mulai berunding. Terlihat mimik wajah mereka begitu serius. Para penonton semakin tegang dengan doa-doa mereka yang berharap di kabulkan. Terlihat beberapa orang mengatupkan tangannya penuh harapan. Tidak luput dari wanita berambut pirang di belakang juga ikut berdoa dalam hatinya agar Orsan mendapat hukuman yang tidak terlalu berat.
Inilah waktu yang di tunggu-tunggu, momen yang sangat menegangkan bagi kedua belah pihak. Dimana akan di putuskan hukuman Orsan berdasarkan bukti dan perdebatan antara jaksa dan pengacara. Hukum memang berlaku di negeri ini tapi hukum yang sempurna adalah hukum yang diimbangi dengan logika, hati, dan perasaan yang sudah melekat pada manusia.
Ketiga hakim kembali menghadap bangku penonton setelah tadi berembug. Semua orang menatap hakim dengan seksama.
" Kami sudah memutuskan hukuman untuk Saudara Orsan dengan penuh pertimbangan." Ucap Ketua hakim tegas penuh kharisma yang berhasil membuat semua orang semakin tegang.
" Dengan ini Saudara Orsan tetap dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman 30 tahun penjara dengan masa percobaan 5 tahun beserta denda yang harus dibayar sejumlah 450 juta lira." Setelah mengungkapkan keputusannya, Ketua hakim mengambil senjata sakralnya lalu,,,
" TOK,,,TOK,,,TOK,,," Mengesahkan keputusannya hanya dengan sebuah palu kayu dan keputusan itu sudah tidak bisa di ganggu gugat.
Orsan tidak menunjukan reaksi apa pun. Ia sudah pasrah dan menerima bayaran dari perbuatannya. Okan menghela nafas sedikit kecewa karena keputusan hakim menjatuhi Orsan hukuman 30 tahun penjara sama saja seperti hukuman penjara seumur hidup. 30 tahun Orsan akan menyia-nyiakan hidupnya di jeruji besi.
Persidangan telah usai. Orang-orang mulai beranjak dari duduknya lalu keluar ruangan dengan tertib. Hakim keluar lewat pintu khusus yang telah disediakan. Pengacara berjalan kearah Okan kemudian meminta maaf karena tidak bisa membuat perubahan yang signifikan. Okan menepuk pundak pengacaranya dan mengatakan bahwa kerjanya sangat bagus dan sudah berusaha yang terbaik.
Disaat semua orang sibuk meninggalkan rungan ini, Emine masih mematung dengan bola matanya yang belum bisa menerima kenyataan ini. Hingga akhirnya ia mulai merasakan pusing, kepalanya berdenyut hebat. Ia refleks memegangi pelipisnya lalu memijatnya pelan.
Fika dan Cansu yang melihat Emine mulai kawatir.
Orsan dijemput oleh 2 orang polisi. Ia tersenyum ke arah Okan mencoba berterimakasih atas bantuan yang telah di berikan. Okan membalasnya dengan tatapan penuh iba dan rasa sedikit bersalah karena hasil persidangan tidak memuaskan.
Orsan kembali melangkah tanpa beban di setiap pijakannya menginjak bumi namun pijakan itu seketika terasa berat saat melihat Emine sedang menatapnya dengan air mata kesedihan di bangku belakang.
Okan yang masih memperhatikan Orsan ia melihat tatapan Orsan berubah ke suatu arah. Ia menyalin arah sorot mata itu dan betapa mengejutkannya saat Emine yang sudah berlinang air mata memenuhi lensa matanya.
*
*
*
Nah loh penasaran kan😁
Biar up nya gak lama, buruan kasih likenya!!
__ADS_1
Komen juga karena novel tanpa komen itu bagaikan taman tak berbunga😦