
" Tik, tok, tik, tok." Suara denting jam dinding.
1 jam sudah berlalu dan Emine belum keluar dari kamar mandi.
Di kamar Mandi.
Tadinya Emine ingin berendam di bathup tapi ia tidak menemukan benda lumbang itu disini. Alternatif yang akhirnya di gunakan Emine yaitu duduk bersila dibawah sower yang terus mengguyur tubuhnya. Emine benar-benar nyaman dengan air yang meluruhkan semua kotoran di kulitnya hingga tidak sadar ia berada sangat lama di dalam kamar mandi. Dengan posisi Semedi, menutup mata, mengosongkan pikiran, melepas semua beban, masuk ke dalam diri sendiri, Emine terlihat seperti petapa yang sedang menebus dosa.
Tiba-tiba Emine membuka mata karena sesuatu terlintas di otaknya.
" Jangan-jangan piama itu milik adiknya. Jika benar, berarti kesedihan ku, kekecewaan ku, ekspetasi ku, dan rasa sakit hati ku selama ini adalah hal yang percuma. Ya Tuhan,,, Apa artinya selama ini aku bersedih untuk hal yang tidak benar. Aku harus memastikannya." Emine bangkit dari semedinya dan memutuskan untuk keluar menemui Okan. Emine akan mengumpat dirinya sendiri jika asumsi Okan mempunyai kekasih tidak benar.
Baru saja Emine membuka pintu kamar mandi sudah dikejutkan dengan Okan yang tiba-tiba berdiri di depan kamar mandi.
" Sedang apa kau disini?" Emine curiga Okan mengintipnya mandi.
" Jangan salah paham padaku!! Aku hanya memastikan kau masih hidup atau sudah mati di dalam kamar mandi." Ucap Okan santai membuat Emine geram mengepalkan tangannya.
" Ini tidak lucu." Jawab Emine kesal lalu pergi melewati pria di depannya.
Okan hanya tersenyum tipis setelah membuat wanita itu marah.
" Berhentilah marah padaku Emine!! Aku hanya bercanda." Okan mengejar Emine yang sudah meninggalkannya.
Emine duduk di meja rias mengeringkan rambutnya yang basah. Sedangkan Okan berbaring di kasurnya memainkan ponsel.
" Apa aku tanyakan saja ya?? Baiklah,,, aku tanyakan saja dari pada terus salah paham." Gumam Emine dalam hati.
" Ada hal yang ingin aku tanyakan padamu."
Okan menurunkan kakinya lalu duduk di sisi ranjang menatap Emine yang menatapnya lewat cermin.
" Menegenai hal apa?" Tanya Okan serius karena Emine juga menatapnya serius.
" Piama wanita di lemari mu itu milik siapa?"
Tanya Emine. Okan mengarahkan pandangannya sekilas ke lemari kaca lalu melempar lagi pandangannya pada Emine.
" Oh, itu milik adik ku. Aku meminjamnya saat sedang menyamar menjalankan tugas." Jawab Okan.
" Jadi benar itu milik adik mu?" Emine tiba-tiba berdiri menghadap Okan dengan suaranya yang tidak slow.
Okan mengernyitkan dahinya bingung akan sikap Emine.
" Iya. Memangnya kenapa?"
Emine berjalan mendekati Okan sembari berkata.
" Piama itu bukankah milik kekasih mu?"
Okan semakin bingung dibuatnya lalu berdiri menghampiri Emine yang berada 3 langkah dari tempatnya duduk.
" Kekasih? Apa maksud mu? Aku tidak punya kekasih." Mata Okan sama sekali tidak menunjukan kebohongan.
" Deg,,,,,"
Emine membalikan badan mengumpat dirinya sendiri dengan seribu sumpah serapah.
" Bodoh,,,Dasar bodoh. Emine kau wanita bodoh. benar-benar bodoh. Ini akibatnya jika tidak lulus SMA." Gumam Emine memunggungi Okan yang semakin tidak mengerti akan dirinya.
" Memangnya kenapa kau bertanya seperti itu?" Tanya Okan ingin menemukan alasan dibalik pertanyaan Emine.
Emine pun berbalik kembali menghadap Okan. Otak Emine sudah menyiapkan jawaban sederhana.
" Aku hanya penasaran." Meski Emine menjawab dengan lancar dan tidak gugup tapi terlihat jelas di matanya bahwa ia sedang berbohong.
Okan tersenyum penuh arti kepada Emine.
" Apa kau cemburu?" Tanya Okan dengan senyum mengejek Emine.
" Kau sudah gila. Untuk apa aku cemburu?" Bantah Emine tidak mau Okan mengetahui dirinya memang cemburu melihat piama itu ada di kamarnya.
" Lalu untuk apa kau bertanya seperti itu?" Tanya Okan mengulang. Okan perlahan berjalan mendekati Emine dengan senyum sedang menggoda wanita itu. Emine perlahan mundur menjaga jarak dengan Okan.
" Sudah ku bilang, aku hanya penasaran." Tatapan Okan semakin membuat Emine gugup. Sekarang terlihat jelas dari raut wajah Emine tidak lagi dari matanya.
" Kau berbohong." Ucap Okan membuat Emine kehilangan akal untuk menepis tuduhannya. Okan semakin menjadi-jadi ingin menggoda sekaligus mengerjai Emine yang pipinya sudah memerah. Dengan tatapan penuh maksud Okan terus memojokan Emine hingga kaki Emine buntu di sisi ranjang membuatnya tidak bisa mundur lagi lalu " Brukkkk,,,," Emine jatuh di atas tempat tidur.
Bukannya menolong, Okan malah ikut menjatuhkan tubuhnya di atas tubuh Emine dengan tangannya diluruskan menjadi tumpuan agar tidak menerpa tubuh Emine.
" Dag,Dug,Dag,Dug," Jantung Emine berdengup tak beraturan. Mata Okan menyirnakan kemarahan Emine yang seharusnya ia pertahankan. Belum lagi senyum menggoda Okan yang terus terpampang di wajahnya dirasa mampu melelehkan es di kutub utara. Wajah tampan dan cool Okan terlihat jelas di mata membuatnya Emine semakin terpanah.
Okan merasa ketampanannya berhasil memikat Emine yang kini tak berkedip menatapnya.
__ADS_1
" Apa kau sedang menghitung bulu mata ku?" Tanya Okan mengejek Emine.
Emine yang sudah tersadarkan oleh suara Okan itu langsung memalingkan wajahnya karena malu. Okan kembali tersenyum menertawakan Emine yang sudah tertangkap basah menatapnya penuh kagum.
" Katakan yang jujur padaku!! Apa kau cemburu dengan piama itu??" Tanya Okan.
" Sudah ku bilang tidak." Jawab Emine.
" Cup." Okan mengecup bibir Emine lembut setelah itu kembali tersenyum tanpa dosa.
Emine terkejut akan aksi pria ini yang begitu tak terduga menciumnya tanpa permisi. Emine ingin marah tapi tidak bisa, ingin bangkit tapi tidak mampu.
" Okan. Apa yang kau lakukan?" Tanya Emine tidak suka dengan prilaku Okan.
" Aku hanya sedang melakukan olahraga pus up." Jawabnya ringan.
" Kalau mau pus up lakukanlah di bawah!!" Protes Emine.
" Tidak mau. Jawab dulu pertanyaan ku dengan jujur!!" Perintah Okan masih terus memaksa Emine sampai ia mendapatkan jawaban yang di inginkan.
" Jawaban ku tetap tidak." Emine tetap tidak mau mengakui kebenarannya.
" Cupp." Kecupan lembut kembali mendarat di bibir Emine yang terus berkata bohong.
" Ini adalah hukuman jika kau terus berbohong." Ucap Okan melanjutkan.
" Okan. Aku tidak berbohong." Bantah Emine lagi.
" Cup." Hukuman dari Okan lagi. Emine refleks menutup matanya saat Okan kembali menekuk lengannya menyatukan bibirnya. Emine sekuat tenaga menahan goda'an nafsu dari pria ini.
" Bibir mu bisa membohongi ku tapi tidak dengan mata mu. Aku bisa melihat matamu berkata lain." Ucapan Okan membuat Emine kembali membuka matanya.
" 1000 kali pun kau bertanya jawaban ku tetap TIDAK." Okan mengira Emine akan berkata jujur tapi ternyata wanita ini sangat keras kepala.
" Baguslah. Artinya aku bisa mencium mu 1000 kali." Ucap Okan penuh kepuasan dengan senyum menyeringai.
Okan kembali menekuk sikunya ingin menjatuhkan ciuman pada Emine namun Emine membuang wajah dan menahan dada kekar pria itu hingga aksinya terhenti.
" Ya. aku cemburu."
Akhirnya Emine mau mengakuinya. Emine berfikir lebih baik mengakui kecemburuannya dari pada mendapat 1000 ciuman dari Okan. Lagi pula kecemburuan Emine adalah real. Bukannya Emine tidak menginginkan sentuhan itu, tapi bayangkan 1000 ciuman singgah dibibirnya. Bukankah itu terlalu over. Bisa-bisa bibir Emine bengkak.
Walaupun sudah mendapat jawaban yang di inginkan tapi Okan tidak puas.
Emine menghela nafas panjang bersiap akan mengatakan cintanya pada Okan meski Emine belum tau apakah Okan memendam cinta untuknya.
Emine memutar kepalanya 30° menghadap Okan yang sedang menunggu jawabannya kembali.
" Aku cemburu. Aku memang cemburu." Jawab Emine dengan mata sendu.
" Kau tidak berbohong kan??" Tanya Okan memastikan.
" Apa terlihat di mata ku sebuah kebohongan?" Emine kembali bertanya.
Memang terlihat jelas mata Emine berkata jujur sangat berbeda dengan sorot matanya tadi yang terus berbohong.
" Tidak. Cup." Jawab Okan langsung mengecup bibir Emine.
Kecupan kali ini terasa sangat berbeda dengan kecupan lainnya. Okan mencium Emine dengan sepenuh hati sekaligus rasa bahagia menyelipi sentuhan bibir itu. Tidak perlu penjelasan lagi, Okan sudah bisa mengartikan bahwa Emine selama ini mencintainya karena tidak mungkin cemburu jika tidak cinta. Ciuman Okan yang masih polos itu berlangsung cukup lama.
Okan melepas ciumannya, menatap wanita yang masih memejamkan matanya itu lekat.
" Kenapa kau memendam cinta mu? Kenapa tidak kau ungkapkan? Jika hari ini aku tidak memulainya, maka kau akan tetap diam." Tanya Okan.
" Aku mengira kau sudah mempunyai kekasih." Jawab Emine. Nafas mereka yang hangat beradu.
" Dasar bodoh." Ucap Okan mengatai Emine.
Okan ingin memberi hukuman untuk kebodohan Emine tapi Emine menghentikannya dengan menghentikan ciuman Okan menggunakan satu jari menempel di mulut Okan.
" Jangan hentikan!!" Minta Okan pada Emine. Okan tidak bisa lagi menahan hasratnya untuk memiliki bibir seksi Emine malam ini.
" Jawab dulu satu pertanyaan ku!!" Sekarang giliran Emine yang ingin memecahkan keresahannya.
" Apa kau juga mencintai ku?" Tanya Emine memastikan. Emine tidak ingin melewati malam ini dengan pria yang seandainya tidak mencintainya.
" Jika aku tidak mencintai mu maka aku tidak akan seberani ini." Jawab Okan meyakinkan Emine dengan tatapannya.
" Lalu kenapa tidak kau ungkapkan." Tanya Emine menyalin kalimat Okan.
" Karena aku mengira kau tidak mencintai ku. Bagaimana aku bisa menyimpulkan kau mencintai ku jika selama ini kau selalu lari dari ku, kabur bahkan menghilang. Dan terakhir kali kau dengan anak buahmu itu,,,, Aishhhh,,, Aku ingin sekali membunuhnya." Gerutu Okan sangat kesal hingga tidak mampu mengucapkan apa yang di telah dilakukan Emine dengan Ozgur.
Emine tersenyum menertawakan Okan yang sedang diburu rasa cemburu dengan wajah terlihat begitu kesal.
__ADS_1
" Kenapa kau tersenyum? Kau senang membuat ku hampir gila kan?" Tanya Okan sinis.
Emine semakin memperlihat senyum mengejeknya.
" Kau itu sama bodohnya dengan ku." Ucap Emine mendapatkan balasan ekspresi tidak setuju dari Okan. " Aku juga punya hukuman atas kebodohan mu itu?" Emine tersenyum penuh arti. Mata Emine mencoba menggoda Okan.
" Hukuman??" Okan tidak bisa mengartikan senyum dan maksud Emine. Ia menatap Emine berkerut kening tapi Emine hanya memperlihatkan senyumnya yang semakin misterius.
Tiba-tiba.
" Sreeeeettt,,,,,Cuppp." Emine menarik kerah baju Okan, mencium Okan lembut tanpa gaya bibir. Otot lengan Okan yang sudah lelah menyangga tubuhnya sendiri kini sedikit terasa lega karena bagian siku hingga kebawah tertempel dengan kasur yang empuk. Bukan tangan Okan saja yang mendapatkan kenyamanan tapi dada kekar pria itu ikut bersorak gembira karena mendapat alas lembut dan menggelundung yaitu dada Emine yang kini menyatu dengan dadanya. Detak jantung dua manusia itu saling beradu kecepatan.
Tidak puas dengan bibir yang hanya menempel polos, kini Okan memberi gerakan pada bibirnya dengan lembut menyapu bibir Emine. Emine menyesuaikan gerakan bibirnya dengan Okan. Mata mereka tertutup lalu membiarkan hati yang menghantarkan sinyal cinta mereka masing-masing. Emine meremas seprai mencoba mengimbangi sensai geli yang begitu ganas menyerang sel saraf.
Tangan Okan yang satunya lagi sekarang membelai lembut rambut wanita yang akhirnya menjadi miliknya.
Okan sangat nakal, ia semakin merangsan*i Emine dengan melu*at leher jenjang Emine.
Emine menggeliat dengan mata masih tertutup. Okan tersenyum melihat wanita ini begitu menikmati sentuhannya.
Terdengar suara lenguhan yang lolos dari mulut Emine semakin memancing gairahnya.
" Eemmmpphh,,,," Lenguhan Emine ketika Okan menyapu lehernya. Puas dengan leher sekarang Okan menaikan lagi mulutnya yang nakal itu sampai berhenti di bibir Emine. Permainan bibir mereka masih dibawah level hot tapi sangat menggairahkan.Tangan Okan turun perlahan mencari kancing kemeja Emine lalu melepasnya satu persatu hingga sampai kancing terakhir. Okan menyibak kemeja Emine kesamping hingga terlihat bra ungu menutupi 2 daging kenyal.
Dari perut, tangan Okan merayap hingga menyelundup dari bawah masuk ke dalam bra itu. Emine merasakan ada perlakuan di bagian sensitifnya refleks melepas ciumannya karena tidak tahan dengan lenguhan yang ia tahan. Emine melepas lagi lenguhannya. Okan semakin tersenyum kemenangan.
Malam itu baik Emine atau Okan sama-sama menikmati cerita yang mereka ciptakan. Polisi dan Pencuri tetaplah manusia ciptaan Tuhan yang bisa tenggelam dalam hubungan tubuh meski belum terikat dalam perkawinan. Melakukan hal itu sebelum menikah sudah biasa hampir di seluruh negri.
Okan menggiringkan tubuh Emine untuk melepas pengait bra. Setelah berhasil memisahkan pengait itu, Okan menarik bra Emine lalu membuangnya ke sembarang arah.
Emine merasa malu, ia menutupi payu*aranya dengan menyilangkan kedua tangan di dadanya.
" Apa kau tidak yakin padaku?" Tanya Okan merasa Emine ragu untuk berhubungan dengannya.
" Ini pertama kalinya untuk ku." Jawab Emine menatap Okan.
Tentu Okan mengerti bahwa Emine malu, dan takut melakukan hubungan dengannya.
" Jika kau malu pejamkan mata mu!!" Saran Okan kemudian Emine menuruti perkataannya. Okan melepas tangan Emine yang masih menutupi dadanya lalu melentangkannya di kasur. Tidak tahan melihat 2 gunung dengan sintil merah muda itu, Okan langsung melahapnya ganas membuat Emine menggeliat hebat
Siapa sangka polisi dingin ini mempunyai ilmu yang luas tentang hal intim.
Sprai yang diremas Emine tidak mampu lagi mengimbangi gairahnya. Emine menarik sprai itu hingga berantakan.
" Aghhhhh,,,,," Ringis Emine karena tiba-tiba Okan menggigit payu*ranya. Emine tidak pretes dengan perlakuan Okan dan hanya memejamkan matanya pasrah.
Perlahan tangan Okan turun kebawah membuka kancing celana Emine lalu menarik resletingnya hingga memudahkan Okan untuk melepas celana Emine dengan sekali tarikan.
Di lihatnya dalaman merah yang menantang untuk dibuka. Dengan senang hati Okan menarik lagi dalaman itu hingga membuat Emine terbaring pasrah dengan tubuh polosnya. Okan memiringkan tubuhnya, matanya menatap Emine sedangkan tangannya bergeleria ke bagian tersensetif Emine.
" Sekarang buka mata mu!!" Perintah Okan. Emine membuka matanya perlahan dan mendapati Okan sudah bertelanjang dada. Emine tidak mau melihat bagian bawah karena malu.
" Apa kau siap?" Tanya Okan meyakinkan Emine.
Emine menganggukan kepalanya lalu menutup lagi matanya sedangkan Okan langsung memposisikan dirinya di atas tubub Emine.
" Ini akan sangat menyakitkan." Ucap Okan sebelum akhirnya menembus selaput dara milik Emine dengan sekali hentakan.
" Ahhhhhhhh,,,,," Emine mendesah keras menahan rasa sakit, perih dan nyeri yang menyerang. Okan merebahkan tubuhnya di atas tubuh Emine sesaat dan membiarkan miliknya diam menyesuaikan diri disana.
" Terimakasih untuk malam ini. Aku berjanji tidak akan menjadi pria brengsek." Ucap Okan lirih disamping telinga Emine.
Emine mendengar uacapan Okan tapi ia tidak bisa membalas karena masih sibuk menahan rasa sakit di vagin*nya.
Okan kembali menhentakan miliknya pelan perlahan semakin ganas. Kata orang saat melakukan hubungan pertama itu akan terasa sakit dan perlahan sakitnya akan hilang tapi itu tidak terjadi pada Emine.
Ia tetap merasakan sakit dan nyeri. Emine mengerjap setiap ada dorongan dari Okan.
" Jangan menahannya!! Kelurkan saja!!" Ucap Okan melihat Emine mengunci desahannya di mulut.
Akhirnya Emine mengelurkan bebas rintihannya yang semakin membuat Okan panas.
*
*
*
Adudu,,,,,🙈
Ehem,,,Ehem,,, Cuma mau bilang jangan lupa like & komen & vote!!
Cuma itu aja sih😂
__ADS_1
Jangan baca malam²ya!!😁