
6 hari kemudian.....
Di atas ring, seorang wanita menunjukan kebolehannya bermain boxing dengan seorang pelatih. Wanita itu tidak lain adalah Emine yang baru memperoleh kesehatannya kembali.
" Brukkk,,, Aghhhhh." Emine terjatuh saat ia mencoba menendang punch mitt yang diarahkan keatas oleh pelatih. Kaki Emine tidak bisa mencapai punch mitt itu lalu kehilangan keseimbangan.
" Latihan mu terlalu ekstrim Nona. Kau baru saja pulih." Ozgur tiba tepat saat Emine terjatuh dan masih duduk di bawah. Ozgur melipat kedua tangannya di atas tali yang mengelilingi ring.
Pelatih itu mengulurkan tangannya membantu menarik Emine untuk berdiri.
Emine turun dari ring dan melepas semua perlengkapan boxingnya termasuk gamsil yang terpasang di mulut.
" Kenapa kau tau aku disini?" Tanya Emine sembari melepas sarung tinjunya dan melemparnya ke arah box tempat penyimpanan peralatan boxing.
" Kakek yang memberi tahu ku." Ozgur mendekati Emine yang sedang duduk dan membantunya melepas pelindung kaki yang Emine kenakan.
Emine merogoh tas kecilnya untuk mengambil air minum yang sudah di berikan Vitamin beserta obat penambah energi lainnya.
" Hari ini aku ada janji bersama teman-teman ku. Sebaiknya kau jangan ikut!! Urus semua persiapan mu untuk keberangkatan besok ke Belgia" Ucap Emine sebelum meneguk airnya. Serin mengundang Emine untuk bergabung minum Wine bersama Okan, Tiras dan Murat.
" Bodyguard lainnya sudah mengurus semuanya. Tidak ada lagi yang harus dipersiapkan. Tinggal berangkat saja besok." Ucap Ozgur terselip maksud ingin ikut bersama Emine.
Emine tidak merespon, ia langsung berdiri dam beranjak pergi. Ozgur mengikuti Emine dari belakang.
" Tapi siapa teman mu Nona? Aku kira wanita seperti dirimu tidak mempunyai teman." Tanya Ozgur mengekor di belakang Emine tapi Ozgur berhenti ketika Emine membalikan badannya dengan tatapan membunuh.
" Apa kau pikir aku adalah monster? " Emine berjalan perlahan mendekati Ozgur dengan mata disempitkan dan mengintimidasi.
Ozgur tidak bergeming atau melangkah mundur saat wajah Emine dengan wajahnya hanya dibatasi ruang hampa. Bola mta biru Emine membuat Ozgur terhipnotis, wajah cantik Emine benar-benar memikat hati, hembusan nafas hangat Emine yang menghantam wajah Ozgur merangsang sel saraf dan jantung untuk bekerja lebih cepat. Dengan tidak sengaja, Emine telah memancing gairah Ozgur yang terus melonjak seiring dengan hatinya yang berdebar. Gejala cinta sudah di rasakan Ozgur sejak lama untuk Emine, tapi baru sekarang ia menyadari cintanya yang selama ini ia tepis dan mengnganggapnya sebagai rasa kagum semata.
Sikap Ozgur yang saat ini membatu membuat Emine percaya, Ozgur sudah terpojok dan merasa takut akan tatapannya. Emine tidak tau Ozgur sedang menahan nafsunya. Dengan santai dan senyum tipis, Emine membalikan badannya bermaksud menyudahi intimidasi yang ia lakukan pada Ozgur dimana itu hanya di anggap lelucon oleh Emine.
" Happ,,,.Brukkk,,," Ozgur menarik tangan Emine memaksanya untuk berbalik lalu mendorong tubuh Emine ke tembok dengan tangan Emine di tempelkan di tembok dan dikunci.
Mata Emine menegang tak percaya Ozgur menciumnya dengan sangat ganas. Untuk pertama kalinya pria itu berani melakukan ini pada Emine. Emine begitu terkejut mendapat sentuhan dari Ozgur karena selama ini Ozgur tidak pernah berani menyentuh dirinya. Emine ingin melawan ciuman yang berdurasi 5 detik itu tapi suara seseorang menghentikan ciuman Ozgur sendirinya.
" Emine." Suara Okan terdengar lirih tapi sangat jelas. Dibandingkan dengan keterkejutan Emine mendapat perlakuan dari Ozgur, Okan lebih terkejut dengan apa yang ia lihat dengan mata kepala sendiri. Walaupun tidak mempunyai status yang jelas di antara mereka berdua, Tapi Okan benar-benar merasakan sakit hati melebihi sakit hatinya di masa lalu.
Ozgur refleks berbalik ke arah sumber suara. Tubuh Ozgur yang sedikit bergeser membuat Emine bisa melihat dengan jelas siapa pria itu. Emine menatap sorot mata Okan yang penuh kekecewaan itu mencoba menjelaskan bahwa ini bukan seperti yang dilihat. Emine menjelaskan dengan sorot matanya tapi sepertinya Okan tidak mampu untuk mengerti. Okan pergi tanpa mengatakan apa pun karena tahu diri ia tidak punya hak apapum atas Emine meski sebenarnya ada beribu kekecewaan yang ingin pria itu suarakan.
" Brengsek." Umpat Emine begitu marah dengan mendorong tubuh Ozgur yang masih menghalangi tubuhnga untuk pergi.
Emine mengejar Okan yang berjalan cepat di depannya. Bahkan langkah kaki Okan mampu untuk menggambarkan hatinya yang hancur.
" Okan tunggu!!!" Emine menarik lengan Okan. Nafas Emine berhambur keluar tidak beraturan.
" Ada apa lagi Emine? Apa kau meminta ku untuk menjemput mu hanya untuk menonton aksi erotis mu tadi hah?" Tanya Okan begitu marah.
" Ini tidak seperti yang kau pikirkan. Aku dan dia tidak punya hubungan apa pun. Percayalah padaku!!" Emine berusaha meyakinkan Okan dan mendapat senyum miring meremehkan dari pria itu.
" Kau tidak punya hubungan apa pun dengan pria itu, tapi kau bisa bercumbu dengannya? Wah,,,, Emine,,, Aku tidak percaya kau begitu murahan." Okan terlalu tenggelam akan kekecewaannya hingga tidak sadar telah melukai Emine tanpa tau kebenarannya.
" Deg,,,,," Jantung Emine seakan berhenti berdetak.
Niatnya untuk menjelaskan semua kesalahpahaman ini seketika sirna oleh ucapan Okan yang begitu menyakitkan di gantikan dengan kepedihan yang meremas-remas hati Emine.
Emine merasa tidak ada gunanya lagi memperbaiki semua ini jika Okan sendiri mengatakan dirinya adalah perempuan murahan. Emine memilih menjatuhkan harga dirinya.
" Yang kau katakan itu memang benar. Aku adalah wanita murahan. Bahkan sangat murahan." Ucap Emine lirih.
" Aku bisa berciuman dengan siapa pun tanpa adanya sebuah hubungan. Bukankah itu sangat murahan tuan Okan? Bahkan kau pernah merasakan kemurahan ku malam itu yang mencium mu tanpa rasa malu. Seharusnya kau sadar saat itu aku memang wanita murahan. Aku bahkan bisa berhubungan dengan pria manapun yang aku inginkan. Aku bahkan membuka baju ku di depan pria yang tidak aku kenal ( Saat Emine berada di ruang pengintrogasian untuk pertama kalinya bersama Okan). Bodoh sekali kau baru tau aku murahan. Aku tidak sesuci yang kau pikirkan, aku adalah wanita yang penuh dosa." Suara Emine penuh Penekanan, kesedihan, kemarahan, dan kekecewaan bersatu dalam air mata yang ia tahan.
" Bukankah itu yang ingin kau dengar tuan Okan?" Tanya Emine yang matanya sudah berkaca-kaca. Menyadari air matanya tidak bisa di tahan lagi, Emine segera pergi dari hadapan Okan. Ia tidak ingin terlihat lemah meski hatinya sudah hancur.
Okan tidak bisa mengatakan apa pun setelah mendengar ucapan Emine. Ia memandangi punggung Emine yang semakin menjauh darinya. Terlihat dari belakang, Emine mengangkat tangannya menghapus air mata. Okan menyesali semua yang ia katakan.
" Apa yang sudah kau lakukan Okan??Aghhhhh,,,,, bodoh." Umpat Okan kepada dirinya. Kakinya terasa lemas, Okan menyandarkan punggungnya di tembok, jari-jari tangannya meremas rambutnya kuat menahan kebodohan yang telah ia lakukan.
" Aghhhhh,,,, Sial,,sial,,sial,," Tidak bisa menahan Emosi, Okan sekarang memukul-mukul tembok melampiaskan penyesalannya.
Ozgur yang sedari tadi mengamati pertengkaran Emine dan Okan kini juga ikut merasa bersalah. Dia mengira Emine tidak menyukai pria mana pun di dunia ini karena itu Ozgur berani bertindak sejauh itu. Sekarang terlihat jelas wanita yang ia cintai mencintai pria lain. Ozgur segera berlari menyusul Emine lewat jalan lain untuk mendapatkan maaf dari Emine.
__ADS_1
" Nona,,,," Teriak Ozgur ketika berhasil melihat Emine sudah ada di luar.
Ozgur mengira setelah membuat Emine bertengkar dengan Okan, Emine tidak akan memperdulikan teriakan dan panggilannya lagi. Tapi itu salah. Saat mendengar suara Ozgur, Emine berhenti dan berbalik ke arah pria itu.
" Nona,,, ~~" Terpotong.
" Plakkkkkk,,,,," Emine langsung menampar pipi Ozgur. Mata Emine yang basah dengan air mata itu sekarang terselip sebuah kebencian saat melihat Ozgur.
Tamparan dari Emine begitu keras hingga membuat sudut bibir Ozgur berdarah. Tapi Ozgur merasa tamparan itu tidak akan pernah cukup untuk menebus kesalahannya.
" Tampar aku lagi jika itu bisa membuat mu tenang!!" Ucap Ozgur setelah menegakan kembali kepalanya yang sempat menoleh paksa ke arah kiri.
" Plakkkkkk,,,,," Emine dengan senang hati menuruti perkataan Ozgur.
" Lagi!!" Ucap Ozgur.
" Plakkkkkkk,,,,,"
" Lagi!!!"
" Plakkkkkk,,,,,,"
" Lakukan terus sampai kau puas dan merasa lega!!" Ucap Ozgur menyerahkan wajahnya untuk menjadi pelampiasan Emine.
Air mata yang sempat terhenti kini mengalir lagi. Emine kembali menangis sedih hingga menyayat hati para pendengarnya.
" Bodoh,,,,bodoh,,,bodoh,,,kau pikir tamparan itu bisa merubah semuanya hah??Hiks,,," Emine memukul-mukul dada kekar Ozgur dengan tangannya yang sudah kehilangan tenaga untuk bergerak.
" Hiks,,, Aku membenci mu dasar pria cabul,,,Hiks,,,"
Untuk pertama kalinya Ozgur mendengar suara tangisan Emine dan itu benar-benar mengiris hatinya. Ozgur menangkap kedua tangan Emine yang terus memukul dadanya dan menatap Emine dengan rasa bersalah.
" Katakan Nona. Apa yang bisa aku lakukan untuk menebus semua kesalahan ku? Bagaimana caranya untuk bisa mendapat maaf dari mu?" Ucap Ozgur berharap ada sesuatu yang bisa ia lakukan agar Emine tidak membencinya lagi.
Emine menarik tangannya yang di tahan Ozgur.
" Hanya satu hal yang bisa kau lakukan." Ucap Emine menatap Ozgur penuh maksud.
" Hari ini juga kembalilah ke Belgia!! Aku tidak mau lagi melihat mu disini!! "Ucap Emine lalu meninggalkan Ozgur.
" Mungkin ini adalah hukuman karena berani mencintai dan ingin memiliki intan permata seperti mu Nona." Gumam Ozgur sendu ketika Emine sudah menghilang dari pandangannya.
Sesuai perintah, Ozgur segera kembali ke Belgia hari itu juga. Sebelum meninggalkan Turki, ia menulis sebuah surat permintaan maaf untuk Emine dan diletakan di kamar Emine. Rasanya begitu sulit untuk menerima akhir dari cintanya untuk Emine. Andai Ozgur tau semua ini akan berakhir buruk, ia tidak akan pernah berani mencium Emine.
Pukul 5 sore, Serin, Okan, Murat dan Tiras sudah berkumpul di sebuah ruangan VIP di Restoran Serin. Hanya Emine yang belum datang.
" Mungkin Emine tidak akan datang." Celetuk Murat kepada Serin yang sedang berdiri menunggu panggilannya dijawab oleh Emine.
" Dia sudah janji akan datang. Kita tunggu sebentar lagi!!" Ucap Serin kembali duduk di sofanya.
" Dia tidak akan datang." Tiba-tiba Okan membuka suara dengan yakin. Okan menuangkan Wine ke atas gelas dan meminumnya.
" Kenapa kau begitu yakin?" Tanya Serin sangat penasaran. Melihat ekspresi Okan dan sikapnya yang sedari tadi hanya terdiam tapi tiba-tiba membuka suara ketika mendengar nama Emine membuat Serin yakin telah terjdi sesuatu di antara mereka berdua.
Bukan hanya Serin yang penasaran tapi Murat dan Tiras juga ikut menatap Okan menunggu jawaban dari pertanyaan Serin.
" Karena...~~"
" Ceklek,,,," Suara pintu terbuka. Semua pasang mata mengarah pada pintu yang perlahan memperlihatkan sosok wanita.
" Emine,,,," Serin langsung berdiri lalu memeluk tubuh Emine.
" Emine,,.aku sangat merindukan mu." Ucap Serin semakin mepererat pelukannya. Semua yang di lakukan Serin hanya sebuah drama.
" Aku juga merindukan mu." Ucap Emine sepenuh hati membalas pelukan Serin.
Sore itu Emine benar-benar terlihat cantik. Aura segar terpacar jelas di wajahnya dengan senyum menyapa orang-orang di dalam ruangan termasuk Okan.
Okan merasa bingung dengan sikap Emine yang tidak menunjukan apa pun setelah kejadian itu. Bahkan Emine terlihat begitu tenang dan santai duduk di sofa tunggal dengan menyilangkan kakinya.
" Jangan menatap ku seperti itu!! Kalian membuat ku malu." Ucap Emine sadar dirinya sedang diperhatikan.
__ADS_1
" Nona, Kau sungguh cantik hari ini." Ucap Murat terang-terangan memuji Emine membuat pipi Emine bersembur merah.
Emine hanya membalas dengan senyum karena tidak bisa berkata apa pun untuk pujian yang ia dapatkan. Emine sengaja berdandan cantik agar kesedihan di wajahnya tertutupi.
" Tersenyumlah Emine!! Aku tidak akan membiarkan mu menggoda Okan dengan senyum mu itu lebih lama lagi. Maafkan aku karena tidak bisa menjadi teman sejati. Semoga di kelahiran kita selanjutnya, kita tidak saling bertemu lagi." Gumam Serin menatap Emine yang terlihat bahagia dengan senyumnya.
Okan semakin sakit hati karena di abaikan oleh Emine. Sedari tadi Emine hanya berbincang dengan Serin, Murat dan Tiras. Mereka ber'empat begitu asik dengan percakapan yang mampu memancing suara tawa terutama tawa Emine yang sangat lepas. Tidak dengan Okan yang sedari tadi tidak bergeming mendengarkan percakapan mereka. Okan kembali dengan sikap dinginnya. Emine bisa merasakan itu tapi ia abaikan saja. Emine sama sekali tidak melirik Okan.
"Emine, Kau banyak sekali minum. Kau bisa mabuk nanti." Ucap Serin mempringati Emine yang terus meneguk Wine di sela percakapan mereka.
" Aku ingin melupakan semuanya,,, Wine ini sangat membantu ku. Jangan halangi aku untuk minum banyak hari ini!!" Ucap Emine dengan suara yang sudah menunjukan tanda-tanda sudah berada di bawah pengaruh alkohol.
Emine terus menuangkan Wine ke dalam gelasnya. Ia tidak perduli dengan suara orang-orang yang mempringatinya untuk berhenti minum. Emine mulai berbicara tidak karuan. Matanya sudah tak terkontrol lagi. Sekejap tertutup dan sekejap terbuka. Tapi tangan Emine masih mampu untuk mengangkat botol Wine untuk ia minum.
" Aku ingin bertanya pada kalian. Tolong jawab dengan jujur!!." Ucap Emine dengan kesadaran sudah menipis.
" Lihat aku!!! Apa aku terlihat swperti wanita murahan??? " Emine sudah tidak sadar lagi dengan yang ia katakan. Sontak semua orang terkejut dan bingung dengan pertanyaan itu. Okan tidak menyangka ucapannya akan begitu berdampak pada Emine.
" Nona apa yang kau katakan?? Kau sepertinya sudah mabuk berat." Ucap Murat kawatir melihat Emine.
" Ya, benar sekali Emine. Kau memang wanita murahan." Jawab Serin dalam hati untuk pertanyaan Emine.
" No, No, No, Bukan jawaban itu yang ingin aku dengar." Ucap Emine menggoyangkan jari telunjuknya ke arah Murat.
Mata Emine yang sudah sendu itu kini di lempar ke arah Okan. Emine tersenyum kemudian berdiri dan berjalan ke arah Okan dengan tubuhnya yang sudah sempoyongan.
" Brrukkkkk,,,,," Emine jatuh tepat di pelukan Okan.
Serin meremas bantal sofa yang ada di pangkuannya menahan rasa cemburu melihat Emine yang nampak sengaja menjatuhkan tubuhnya kepada Okan. Sedangkan Tiras hanya bisa terdiam.
" Kenapa? Kenapa kau melukai ku??" Ucap Emine lirih di dada kekar Okan. " Aku bukan wanita murahan." Sambungnya kembali. Emine menjalnkan jari-jari tangannya di dada kekar pria itu dengan seksi. Emine menggoda Okan dengan jari-jari tangannya yang liar.
Semua orang semakin terkejut melihat tingkah Emine di luar duga'an terutama Serin yang ingin rasanya menarik rambut Emine dan menjauhkannya dari Okan
Okan merasa tidak nyaman dengan sikap Emine yang kehilangan kendali. Sebelum Emine semakin menjadi-jadi, Okan menghentikan tangan Emine dan menariknya keluar runagan.
" Lepaskan aku!!!!" Emine menghentakan keras tangannya.
" Apa kau sadar dengan apa yang tadi kau lakukan Emine???" Tanya Okan tidak suka dengan sikap Emine.
Emine tersenyum miring mendengar ucapan Okan.
" Kenapa kau marah? Aku hanya bersikap layaknya seperti wanita murahan yang kau katakan. Apa itu salah??"
" Cukup Emine!!! Kau sudah gila." Bentak Okan dengan keras hingga membuat Emine mengerjap terkejut.
" Sekarang ikut aku!!!!" Okan kembali menarik tangan Emine kasar.
" Lepaskan Okan!!! Kau menyakitiku." Emine kembali menghentakan tangannya yang terasa perih.
" Kau sama sekali tidak berhak memperlakukan aku seperti ini!! Aku akan pulang sendiri." Emine meninggalkan Okan begitu saja.
Okan tidak bisa mengejar Emine karena yang di katakan Emine benar. Ia tidak berhak atas Emine. Okan kembali menghela nafas panjang.
Emine berhasil keluar dari restoran itu meski tadi ia sempat menjadi pusat perhatian para pengunjung yang ia lewati karena Emine berjalan sedikit terhuyung-huyung.
Suara bising kendaraan dan bayang-bayangan mobil yang lalu lalang semakin membuat Emine merasa pusing. Emine berjalan perlahan menuju mobilnya denga kaki yang sudah terasa sangat lemas. Sebelum Emine bisa menggapai pintu mobilnya, kepalanya terlebih dahulu terasa berputar-putar dan pandangan Emine mulai kabar. Emine mencoba mengimbangi tubuhnya yang terhuyung-huyung itu. Ia berusaha memperoleh kesadarannya dengan menggelang-gelangkan kepala kasar. Tapi semua itu percuma karena Emine tidak bisa lagi melawan pengaruh alkohol.
" Brukkkkk,,,," Emine terjatuh tidak sadarkan diri.
Seorang pria datang menghampiri Emine dan memopong tubuh Emine lalu memasukannya ke dalam taxi. Pria itu membawa Emine pergi entah kemana.
*
*
*
Kasih author penyemangat ya denga jompol merah kalian!!
Komen juga biar author tau para readers Author yang tak terlihat.
__ADS_1
Jangan lupa Votenya!!