
" Ckhiiiiiitttttt,,,,,,," Suara ban mobil dengan aspal bergesekan keras.
10 karyawan berdiri di depan kantor berjejer rapi untuk menyambut kedatangan Manager utama perusahan JQ.
Dari masuknya mobil mewah itu ke pelataran perusahaan sudah memancarkan aura yang sangat kuat, semua karyawan semakin tegang dan gugup.
Emine turun dari mobil. High Heels hitam yang lebih dulu menginjak bumi sudah menampakan kewibawaan. Dres hitam dengan blink-blink menyilaukan perlahan terlihat dari bawah. Belum lagi tas yang bergelayut di tangannya merupakan salah satu produk dari brand terkenal. Benda kecil yang terpasang di telinga juga tidak kalah mewah, sebuah anting-anting kecil yang terbuat dari emas putih dengan kualitas super. Kalung di lehernya hampir tak terlihat karena sangat tipis menyerupai benang dengan liontin dandelion kecil. Pagi ini Emine secara tidak sengaja membuat orang yang miskin merasa tambah miskin di hadapannya. Para pegawai kususnya wanita saling berbisik membicarakan gaya Emine bak artis internasional.
" Tempat apa ini? Kenapa kakek menyuruhku kesini?" Gumamnya bingung menatap Gedung pencakar langit di depannya. Emine masuk kedalam gedung tapi suara serentak dari karyawan yang mengucapkan selamat datang menghentikan langkah kaki Emine di sebuah karpet merah yang tersambung samapi ke dalam. Terlebih lagi mereka semua langsung menundukan kepala menunjukan rasa hormat.
Seorang karyawan cantik mendatangi Emine.
" Selamat datang dan selamat bergabung di perusahaan JQ." Ucapnya lancar dengan senyum manis.
Emine merasa ada yang salah disini.
" Maaf, sepertinya saya salah alamat." Ucapnya sedikit malu kerena mendapat perlakuan istimewa sedangkan Emine sendiri tidak mengerti dengan semua ini.
" Anda Nona Emine kan?" Tanya pegawai itu memastikan dirinya juga tidak salah mengenali wanita di depannya.
" Ya,,, Nama ku Emine"
Karyawan itu kembali tersenyum penuh misteri di dalamnya.
" Nona tidak salah alamat, mari ikut saya!!" Mintanya kemudian Emine mengikutinya. Pegawai itu membawa Emine kesebuah ruangan besar yang terletak di lantai 18.
" Nona, Ini ruangan anda. Sebentar lagi akan ada serkertaris yang akan membantu Nona dalam mempelajari semua tentang perusahaan."
" Apa? kenapa harus aku? Maksudnya, maaf." Emine terlalu terkejut hingga tidak sadar berbicara dengan menaikan nada suara. " Maksud ku, apa hubungan ku dengan perusahaan ini?" Tanyaya mencoba sedikit tenang.
Wanita itu sempat terlihat bingung dengan reaksi Emine, ia mengerutkan dahinya sejenak lalu melempar senyum manis kembali ketika mengerti kondisi Emine yang tidak tau apa pun.
" Nona, Tuan Panel sudah menunjuk anda sebagai Manager utama perusahaan JQ. " Jelasnya.
" Kakek tua? ohh maaf. maksud ku Panel Leo?" Tanya Emine memperjelas kemudian mendapat anggukan dari wanita yang merupakan serkertaris kakek tua.
" Wah wah,,,, Apa lagi yang di lakukan kakek tua? Apa dia habis menipu perusahaan ini dan mengambil alih saham mereka?" Gumamnya dalam hati menerka-nerka
" Nona, saya permisi dulu."
" Tunggu! Bolehkah aku bertanya sesuatu?" Baru pertama kali seorang atasan meminta ijin bawahan hanya untuk sekedar bertanya.
__ADS_1
" Tentu Nona. Hal apa yang ingin Nona tanyakan?" Responnya santai meski sebenarnya tidak enak hati dengan sikap polos Emine.
" Kakek tua~~" Ucapnya terpotong sendiri. Emine segera memperbaiki ucapannya.
" Maksud ku Tuan Panel, dia adalah kakek ku. Setahu ku dia tidak punya perusahaan. Lalu bagaimana bisa dia menjadi pemimpin di perusahaan ini?" Tanya Emine.
" Sebenarnya perusahaan ini adalah milik Nyonya Velief. Kami tidak tau alasannya tapi Nyonya Velief memberikannya pada Tuan Panel dan sekarang 100% saham perusahaan JQ telah berada di tangan Tuan Panel."
Emine memutar otaknya. Alasan masuk akal mulai terpikir. Kemungkinan Velief memberikan perusahaanya ini kepada kakek tua karena tidak ingin bersangkutan lagi dengan negara Turki karena negara ini adalah zona merah bagi Velif mengingat Kemal masih hidup dan bernafas disini.
" Jika tidak ada pertanyaan lagi ijin kembali ke ruangan saya. Ada beberapa hal yang harus saya kerjakan." Wanita itu pamit undur diri keluar dari ruangan Emine.
Emine berjalan ke arah meja lalu duduk di kursi putar yang sangat besar, empuk dan nyaman.
" Apa mereka menjilat meja ini?" Tanyanya sendiri ketika mencolek meja yang bersih tanpa debu secuil pun.
Emine beranjak dari duduknya kemudian berjalan ke arah lemari buku mengambil beberapa buku namun tidak ada yang menarik untuk di baca. Semua buku ini hanya buku tentang bisnis. Emine mulai bosan, ini bukanlah dunianya. Ia mulai melirik ponsel yang diletakan di atas meja berharap ada panggilan masuk dari kekasihnya tapi ponsel Emine bagaikan ponsel yang tidak bertuan. Hampa, sunyi, tidak ada tanda-tanda kehidupan. Sudah 1 minggu lebih komunikasi di antara mereka tidak mendapat sinyal yang baik.
Okan belakangan ini sangat sibuk menangani kasusnya. Emine selalu menyempatkan diri untuk menghubungi Okan tapi panggilannya tidak berlangsung lama. "Emine aku sangat sibuk, nanti aku akan menghubungi mu." Itulah kalimat yang belakangan ini sering ia dengar. Kata nanti aku akan menghubungi mu sampai saat ini tidak kunjung menjadi nyata.
" GDBRUUKKK,,,,"
Emine menoleh ke arah pintu dan mendapati seorang wanita berjongkok mengumpulkan berkas-berkas yang berserakan di lantai. Ia pun segera menghampiri dan membantunya.
" Tidak apa-apa. Ini sangat berat, kau pasti tidak mampu membawanya." Emine langsung mengangkat tumpukan berkas yang sudah terkumpul rapi dan meletakannya di meja.
Fika sangat terkejut ternyata bos barunya tidak sejahat dan segalak dari apa yang orang-orang bicarakan di luar. Fika adalah serkertaris Emine. Dari awal Fika masuk ke dalam perusahaan ini sampai sekarang, dirinya selalu ingin di jatuhkan oleh rekan-rekannya yang lain. Fika dulu adalah tangan kanan Velief namun saat ini Velief memintanya untuk menjadi serkertaris Emine. " Sial, pasti mereka sengaja membodohi dan ingin menakut-nakutiku." Ujarnya kesal dengan wajah memerah menahan amarah.
Emine membalikan ke arah Fika yang masih berdiri di belakangannya.
" Nona. Kau sangat baik. Maaf aku sangat ceroboh." Fika langsung menghampiri Emine dengan wajahnya samar-samar malu dan canggung.
" Siapa nama mu?" Tanya Emine ramah. Ia tertarik pada wanita di depannya. Fika memiliki aura imut, lugu, pemalu, tapi terlihat seperti bukan wanita dengan otak di bawah standar. Fika juga terlihat wanita pekerja keras.
Fika mengecutkan wajahnya saat Emine bertanya namanya. Tidak sopan atasan sampai bertanya seperti itu. Seharusnya dari tadi dirinya memperkenalkan diri.
" Nama saya Fika. Saya adalah serkertaris baru Nona Emine. Maaf karena baru memperkenalkan diri." Fika menundukan kepalanya.
Emine bingung, memangnya apa yang salah jika baru memperkenalkan diri sampai-sampai harus meminta maaf seperti itu. Sungguh dirinya tidak mengerti dengan cara kerja otak orang-orang yang ada disini. Mungkin ini adalah sopan santun dan etika yang di tuntut oleh perusahaan.
" Tidak perlu meminta maaf. Tidak ada yang salah dengan itu." Balas Emine sedikit menyindir agar dirinya tidak terlalu diperlakukan seperti ini. Emine merasa tidak nyaman.
__ADS_1
" Untuk apa semua berkas ini?" Tanya Emine duduk di sofa sambil menghitung tumpukan berkas di depannya dengan ukuran kurang lebih satu meter.
" Untuk Nona pelajari."
" Deg,,,," Seketika Emine ingin pingsan ketika mendengar ucapan Fika. Tinggi tumpukan berkas ini lebih tinggi dari buku pelajarannya saat SMA. Bahkan tumpukan novel yang berada di dalam kamarnya yang belum sempat di kembalikan juga tidak setinggi ini.
" Kita mulai dari visi misi perusahan JQ. Ini tidak sulit Nona, hanya tinggal di baca agar nanti bisa di gunakan sebagai pedoman saat menjalankan perusahaan." Fika mengambil stop map berwarna biru kemudian membukanya lalu memberikan pada Emine.
Dengan sangat terpaksa Emine mengambil alih stopmap itu dengan tangan lemasnya.
Emine meletakan stopmapnya di pangkuan dan mulai membaca deretan huruf yang menyatu membentuk kata-kata yang sama sekali tidak penting dan tidak menarik. Hanya sekedar membaca, tidak masuk di kepala dan lewat begitu saja. Emine tidak perduli visi misi konyol perusahaan ini. Yang ada di pikirannya sekarang hanyalah bisa cepat menyelesaikan semua ini dan menghempaskan berkas-berkas di depannya.
Satu per satu isi stopmap habis di pelajari Emine dengan Fika yang memandunya. Dari visi misi perusahan, keuntungan, kerugian, pemasaran, pembagian tenaga kerja yang di tempatkan di bidangnya masing-masing, proyek, perusahan yang menjalin kerjasama baik dalam negri mauapun luar negri sudah ia pelajari tinggal setengah tumpuk tersisa belum mendapat sentuhan dari Emine.
Fika melirik jam di tangannya ternyata waktu menuju istirahat tinggal 20 menit.
" Nona, Kita lanjutkan saja semua ini nanti. Sebentar lagi istirahat." Ucap Fika memberitahu Emine yang sibuk membaca berkas tentang grafik keuntungan yang terus naik setiap tahunnya.
" Kau istirahatlah! Aku akan menyelesaikan ini dulu." Emine mengambil stopmap baru.
" Nona mau saya pesankan makanan?" Tanya Fika sebelum pergi.
" Hueeeekkkk,,,, Huekkkk,,,," Emine melempar stopmap yang baru ia buka kerena mencium aroma tidak enak dari kertas-kertas yang nampaknya baru di cetak. Perut Emine terasa sangat mual. Ia menutupi mulutnya agar isi perut tidak keluar. Bau khas kertas itu sangat menusuk hidung.
Fika yang tiba-tiba melihat Emine mual juga ikut panik. Saking paniknya ia ingin menuntun Emine ke kamar mandi malah menuntunya keluar ruangan. Sedangkan ruangan ini sudah di fasilitasi kamar mandi dalam. Alhasil Fika menarik lagi tubuh Emine masuk ke dalam ruangan dan membawanya ke kamar mandi. Fika terlihat seperti orang bodoh yang kebingungan karena panik dengan kondisi Emine.
Fika ikut masuk dan berdiri di samping Emine yang sedang menunduk di wastafel mengeluarkan isi perutnya. Fika membantu mengurut-ngurut punggung leher Emine agar terasa lebih baik.
" Nona. Sebaiknya kita kerumah sakit." Saran Fika melihat wajah Emine berubah sangat pucat.
" Tidak usah. Aku hanya masuk angin." Jawab Emine tidak menganggap serius kondisinya. Emine sempat tidak mengerti hanya sebuah bau kertas yang baru di cetak berhasil menguras isi perutnya bahkan sampai menguras tenaga hingga Emine sekarang berbaring lemas di sofa.
*
*
*
Maafkan keterlambatan Author yang baru bisa up sekarang🙏
Mohon jangan di hapus dari vaf ya!!
__ADS_1
Komen juga like ya!!
Vote🌹