Wanita Seribu Luka

Wanita Seribu Luka
Melepaskan diri.


__ADS_3

Okan memasuki gedung perusahaan JQ untuk menemui Emine. Rencana sebenarnya ia ingin menemui Serin terlebih dulu namun wanita itu tidak ada di rumahnya.


Ponselnya pun tidak aktif.


Dicari ke restorannya pun tidak ada.


Bukan sebuah rahasai lagi pria yang sedang berjalan di lobi menuju lift itu adalah suami dari Manager Utama sekaligus menantu dari CEO. Rasa hormat pun ditunjukan oleh para pegawai yang kebetulan melihat Okan.


Okan memasuki lift. Tidak lama kemudian sampailah ke lantai teratas lalu langsung berjalan ke arah ruangan Emine.


" Maaf Tuan. Nona sedang tidak ada."


Staff yang berada di depan ruangan Emine sigap berdiri menghentikan pria yang ingin masuk ke dalam begitu saja.


Okan berbalik lalu mendekat. Staff itu sedikit terkejut melihat siapa dia.


Sedikit menunduk meminta maaf.


" Maaf Tuan. Saya tidak mengenali anda."


Ya, tidak mudah mengenali seseorang dari punggungnya saja.


" Tidak apa. Kemana Emine?? Apa dia sedang ada janji di luar??"


" Saya tidak tahu kemana Nona Emine Tuan. Hari ini Nona juga tidak ada janji dengan siapa pun."


Okan berfikir sebentar, kemana perginya Emine? Biasanya istrinya itu selalu memberi kabar jika melakukan aktivitas di luar pekerjaan.


Apalagi setelah kejadian malam itu Okan selalu menuntut Emine atau mewajibkan istrinya untuk melapor kemana ia akan pergi dan Emine menurutinya tapi tidak dengan hari ini.


" Apa dia pergi bersama serkertarisnya?? "


" Hari ini Nona Fika tidak masuk kerja Tuan. "


" Kau benar-benar tidak tahu kemana Emine pergi??"


Meyakinkan. Siapa tahu staff itu sedikit lupa kalau Emine ada jadwal di luar atau mungkin ada sedikit kekeliruan dalam menyusun skejul.


" Tidak Tuan." Menjawab dengan yakin.


" Tadi pagi Nona Emine sudah kelaur dari ruangannya. Sepertinya Nona sedang tergesa-gesa. Dia setengah berlari meninggalkan kantor."


" Berlari??."


" Iya Tuan."


Menjawab yakin lagi karena bukan ia saja yang melihatnya. Tapi para karyawan lain juga melihat Emine yang keluar setengah berlari.


Firasat Okan mulai buruk.


Segara ia mengambil ponsel menghubungi Emine namun firasatnya itu semakin mengatakan telah terjadi sesuatu pada Emine ketika ponsel wanita itu tidak aktif.


Entah kenapa otaknya secara otomatis menyambungkan semua ini pada Serin.


Serin tidak ada, ponselnya tidak aktif dan Emine pun sama.


" Dimana ruangan Tuan Panel?"


Tanyanya seketika.


" Di sebelah sana Tuan."


Menunjuk sebuah pintu di ujung yang masih terlihat dari tempatnya.


Okan berjalan ke ruangan yang bertuliskan " Ruang CEO " di pintunya dengan langkah kaki yang panjang. Lagi-lagi staf yang ada di depan sana menghentikannya. Tidak perlu berdebat masalah sudah membuat janji atau belum dengan Tuan Panel. Okan hanya perlu memperlihatkan wajahnya untuk mendapatkan akses untuk masuk.


Pintu dibuka Okan.


" Okan?? Ada apa datang kemari??"


Kakek tua menghentikan pekerjaannya setelah melihat siapa yang membuka pintu tanpa mengetuk.


Okan mendatangi Kakek Tua dengan raut wajah yang cemas membuat pria tua itu juga ikut cemas.


" Kakek, Emine tidak ada di kantor. Aku baru saja ingin menemuinya tapi stafnya bilang Emine sudah pergi."


" Kau ini membuatku ikut cemas saja. Duduklah dulu!! Emine pasti sedang ada janji di luar. Mungkin sedang makan siang dengan klien."


Ucapnya ringan.


" Tapi staffnya mengatakan Emine tidak punya janji hari ini. Ponselnya tidak aktif. Dan Emine meninggalkan kantor dengan tergesa-gesa. Aku takut terjadi sesuatu padanya."


" Benarkah?? Tunggu dulu!! Jangan panik. Aku akan mengecek posisinya."


Kakek tua menyiapkan laptopnya. Okan berdiri di belakang kakek tua penasaran apa yang di lakukannya. Ponsel Emine tidak aktif, bagaimana mau melacak??


" Kakek, Tapi ponsel Emine mati."


Mengingatkan.

__ADS_1


" Aku tidak melacak ponselnya. Aku melacak alat pelacak ku yang terpasang pada Emine."


Jawab kakek tua tidak menghentikan jari jemarinya yang lihai memainkan laptop yang hanya di mengerti dirinya seorang.


Okan tidak terkejut lagi. Dia tahu siapa kakek tua. Dalam hatinya ia mengagumi pria tua dengan otaknya yang mengagumkan.


Sebuah kode di masukan dan persekian detik muncul sebuah titik lokasi dan ada sebuah diagram disana.


Okan mengerti dengan warna merah yang berkedip-kedip itu. Itu adalah lokasi Emine. Tapi tidak dengan diagramnya.


" Sial!! Emine dalam bahaya. Energinya di bawah 60%. Dia terluka."


" Emine terluka??"


Sontak Okan terkejut. Jantungnya berdengup kencang. Tercekik akan ucapan kakek tua.


" Iya. Posisnya monoton. Cepat kita harus bergerak!!"


" Ayo!! Aku akan meminta bantuan dari tim khusus."


" Bagus. Tapi harus tetap berhati-hati!! Kita tidak tahu situasi disana."


" Baik."


Okan berangkat sendiri. Murat dan Tiras beserta timnya juga sudah bergerak setelah mendapat perintah dan lokasi Emine. Sedangkan kakek tua pulang kerumahnya terlebih dahulu untuk mengambil alat-alat canggih yang bisa membantunya nanti kemudian menyusul.


Di dalam mobil Okan menjelaskan susunan rencana yang akan dipergunakan untuk menyelamatkan Emine. Tujuannya agar saat sampai disana tidak ada yang bertindak gegabah.


Lewat penghubung suara mereka semua bisa mendengar bagaimana cemasnya pria di ujung sana.


Sebuah helikopter juga dikerahkan khusus dari tentara untuk melihat situasi dari atas.


Sebenarnya sulit untuk mendapat bantuan seperti ini. Tenaga tentara tidak dikerahkan sembarangan. Hanya untuk situasi gawat darurat seperti perang dan lainnya. Tapi karena ada koneksi pribadi akhirnya tentara bersedia membantu meski hanya dari atas.


Mereka tidak ikut turun ke lapangan.


Selain Okan, Kakek tua juga tidak mau kalah. Ia memanggil Gohan untuk membantunya.


Mantan muridnya itu awalnya menolak karena harus menjaga anaknya dengan alasan istrinya sedang ke salon. Yah, Gohan yang dulu adalah pencuri malam seperti Emine sekarang telah menjadi Father siaga 24 jam.Tapi akhirnya pria itu mau membantu setelah kakek tua mengancamnya.


" Lelaki hidung belang."


Hanya dengan kalimat itu kakek tua menang telak.


**


Sebuah batu kecil menggelinding ka arah kaki kursi di ujung sana.


" Aghhh,,, Apa kita sudah mati?"


Pertanyaan itulah yang tertanam dalam di otak Fika.


Rasa sakit dan kaku diwajahnya semakin mendukung bahwa presentase untuk hidup sangat kecil.


" Ahhh,,,, Akhirnya kau bangun juga. " Merasa lega setelah menendang beberapa batu yang dekat dengan kakinya untuk membangunkan Fika.


" Apa kau baik-baik saja??"


Sekarang Fika lebih bersemangat mengangkat kepalanya setelah mendengar suara Emine.


Bayangannya ia masih hidup.


Fika menoleh kesamping, melihat Emine yang menatapnya cemas.


Cihhh,,,,!! Lalu berdecih kesal.


Bagaimana bisa wanita di sampingnya masih bisa bertanya apakah ia baik-baik saja padahal luka wanita itu lebih parah darinya.


Sehebat itukah Emine menahan rasa sakit? Benaknya.


" Nona kua juga terluka. "


Mengingatkan, mungkin rasa sakit Emine lebih darinya.


" Aku tidak apa-apa. Aku tadi pura-pura pingsan agar Serin berhenti memukul ku."


Tersenyum karena berhasil mengelabuhi Serin. Dan Hanya luka memar di wajah Emine bisa menahannya.


Fika kagum dengan Nonanya. Pura-pura pingsan dengan Luka separah itu? Jika itu dirinya mungkin bukan pura-pura pingsan lagi atau pingsan sungguhan melainkan mati.


Fikirnya Emine benar-benar kuat.


" Nona, bagaimana dengan kandungan mu? " Topik yang hampir dilupakan. Fika baru sadar Emine sedang hamil membuatnya menatap cemas.


" Kandungan ku baik-baik saja. Serin hanya memukuli wajah ku. Anak ku aman."


Mungkin seperti Fika, Serin juga lupa kalau Emine sedang hamil. Jika tidak lupa mungkin wanita itu sudah mengincar perut Emine.


" Syukurlah."

__ADS_1


Wajah Fika berangsur tenang.


" Sekarang apa yang harus kita lakukan? Kita tidak akan mati konyol disini kan?"


" Tidak. Lihat itu!!" Menunjuk sebuah lubang besar di atas tembok.


" Kita akan kabur dari sini."


" Caranya??"


Emine menarik kedua sudut bibirnya.


Sebuah cara sudah ia fikirkan seblum serkertarisnya itu bangun. Dan sekarang ia sedang menjelaskan rencananya.


" Bagaimana kalau Serin tahu kita kabur??"


Fika masih cemas.


" Karena itu kita tidak boleh ketahuan.


Meskipun ketahuan kita tidak boleh tertangkap."


Terdengar seperti sebuah keharusan dengan tingkat keberhasilan yang rendah.


Emine dan Fika menggeser-geser kursi mereka masing-masing dengan suara sekecil mungkin agar Serin tidak mendengarnya. Sampailah kursi dan tubuh mereka saling memunggungi.


Emine meraih ikatan tali tangan Fika lewat lubang kecil di kursinya.


Beruntung ia pernah belajar dulu bagaimana caranya menemukan celah tali terikat yang tidak bisa kita lihat. Seperti situasi mereka saat ini contohnya.


Hanya butuh beberapa menit Emine sudah bisa menguraikan tali itu. Fika terbebas berganti melepas ikatan tali Emine.


Setelah tubuh mereka benar-benar terbebas, Emine berjalan ke arah pintu.


Memastikan kondisi disana.


Jika hanya ada Serin diluar maka Emine tidak perlu kabur dengan memanjat tembok


Tentu hanya menghadapi Serin seorang bukan perkara besar.


Tapi sial. Sepertinya Serin benar-benar tidak ingin melepaskannya. Ada 10 penjaga di luar.


" Bagaimana Nona??"


Tanya Fika setelah Emine usai mengintip.


Dilihat dari wajahnya sudah terlihat jawaban yang akan Emine berikan.


" Kita tidak biasa lewat depan."


Terpaksa Emine dan Fika harus memanjat tembok. Dengan bantuan sebuah kursi mereka mencoba mengurangi ketinggian tembok.


Fika memanjat terlebih dulu. Emine memastikan dari bawah dan membantu gadis yang nampak kesusahan memanjat itu meski sudah menggunakan kursi untuk sampai di atas.


Untuk dirinya sendiri, tidak usah di khawatirkan. Emine bahkan bisa memanjat tanpa bantuan apa pun.


Fika berhasil sampai di atas. Sebelum meloncat keluar, ia memastikan keadaan di luar. Aman.


Sekarang giliran Emine. Agar mempercepat proses melarikan diri, Fika membantu meraih tangan Emine dan membantu menariknya.


Dan sedikit lagi Emine menyamai posisi Fika.


DORrrrr,,, !!!


" Aaaaaaaa,,,,," Fika berteriak histeris ketika ada suara pistol disusul dengan pegangan tangan Emine yang terlepas.


Emine tertembak tepat di lengannya. Dan wanita yang nampak geram di ujung pintu adalah pelakunya.


Entah Serin ingin menembak kepala Emine tapi meleset karena kemampuan menembaknya tidak mumpuni atau memang sengaja menembak lengan Emine.


" Fika cepat kabur!! Ayo cepat!!"


Teriak Emine memerintah Fika yang masih bertengger di tembok dengan berlinang air mata melihatnya.


Gadis itu pasti syok dan takut mendengar suara tembakan, terlebih lagi melihat Emine.


Luput dari pandangan mata ternyata Serin sedang membidik Fika.


" Tapi bagaimana dengan Nona??"


Tidak iklas meninggalkan Emine.


" Bodoh!!! Tidak ada yang akan hidup jika kita berdua ada di sini. Kabur dan carilah bantuan!! Jangan khawatirkan aku!!"


Fika sadar ucapan Emine itu benar. Ia langsung melompat ke bawah.


Ia berlari sekuat tenaga. Meski tidak tahu arah ia tetap menerobos hutan.


Mencari secercah keberuntungan jika Tuhan menghendakinya.

__ADS_1


Serin yang terlambat menembak Fika itu mengumpat kesal. Kemudian berteriak pada anak buahnya untuk mengejar Fika.


__ADS_2