Wanita Seribu Luka

Wanita Seribu Luka
75% kebenaran terungkap ( Part 1 )


__ADS_3

Emine dibawa ke ruang ICU untuk mendapat pertolongan pertama. Okan menunggu di luar dengan keadaan gusar dan kacau. Baru pertama kalinya polisi ini terlihat begitu terpuruk. Yang ada di pikiran Okan saat ini hanyalah keselamat Emine. Tentang hubungan antara Emine dan Orsan ia abaikan untuk sementara waktu.


Tim medis sudah berada 1 jam lebih di ruangan Emine tapi tidak kunjung selesai menangani tugasnya. Okan benar-benar kawatir dan terus terucap doa untuk Emine dihatinya. Ia bertanya-tanya apa yang telah terjadi pada kekasihnya. Sekilas ingatan saat menendang Emine terlintas di pikirannya.


" Tidak mungkin karena itu." Ucap Okan menepis duga'an Emine seperti ini hanya karena tendangan kecil di punggungnya.


Okan tidak tau, meski tendangan itu pelan tapi cukup berbahaya untuk kandungan Emine yang sudah kontras sebelum perkelahian dimulai.


Di kursi tunggu Okan menyandarkan tubuhnya. Ia mencoba memproses apa yang sebenarnya terjadi hari ini.


Satu setengah jam lewat, seorang dokter keluar dari ruang ICU.


" Dokter, bagaimana keadaannya?" Tanya Okan langsung ketika seorang berbaju putih keluar. Wajah Okan jelas menunjukan kecemasan.


" Pasien berhasil melewati masa kritisnya. Sekarang keadaannya baik-baik saja tapi masih sangat lemah." Ucap dokter itu memberi sedikit udara segar untuk Okan bernafas. Meski keadaan Emine lemah tapi Okan bersyukur kekasihnya bisa diselamatkan.


" Dan untuk kandungannya juga berhasil kami selamatkan meski sempat mengalami pendarahan yang cukup hebat." Sambung dokter itu.


" Deg,,,," Sebuah kejutan mampir di telinga Okan.


" Kandungan?" Tanya Okan spontan. Ia terkejut akan ucapan dokter ini. Emine tidak pernah memberitahunya bahwa ia sedang hamil. Bagaimana mau memberitahu jika Emine saja juga tidak tau ada bayi di dalam perutnya.


Dokter itu menaikan kedua alisnya. Ia mengira Okan tau tentang kehamilan Emine.


" Iya Tuan. Kandungannya berusia sekitar 1 minggu. Usia itu sangat rentang, jadi anda harus lebih berhati-hati!!!" Saran dokter itu kemudian segera pergi.


" Aghhhhh,,,,,Apa yang sudah aku lakukan?" Okan menjambak rambutnya frustasi mengingat ia sempat membuat anaknya yang belum lahir hampir saja meninggal.


Okan masuk kedalam ruangan melihat kondisi Emine.


Untuk kedua kalinya Emine berbaring tak berdaya seperti ini di tempat tidur berukuran 1x2 meter. Okan duduk menggenggam tangan Emine yang terasa dingin. Mengelus-elus tangan itu penuh cinta berharap Emine segera tersadarkan. Okan Menatap wajah cantik nan polos itu dalan-dalam dengan penuh rasa bersalah begitu besar. Timbul pertanyaan besar kenapa Emine sampai melakukan hal membahayakan ini hanya untuk menyelamatkan Orsan, seorang pembunuh. Terlebih lagi Emine mengangkat senjata pada kekasihnya sendiri.


" Jika aku tau itu adalah kau dan kondisi mu seperti ini, aku akan membiarkan mu menembak ku." Ucap Okan terus memandangi mata Emine yang tidak kunjung terbuka.


" Maafkan ayah sayang!! Ayah tau kau adalah anak yang kuat." Okan menyentuh perut Emine yang masih datar dan mengusapnya lembut.


Malam itu kesedihan yang sempat menguasai Okan kini digantikan oleh kebahagian atas sebuah kenyataan ada darah dagingnya sedang tumbuh dan berkembang di rahim wanita yang sangat ia cintai.


" Cepatlah sadar!! Maafkan aku karena tidak pernah meluangkan waktu untuk mu." Ucap Okan meminta maaf atas kesibukannya menjalani tugas negara sehingga tidak sadar telah mengabaikan Emine.


Hari semakin larut dan gelap, Okan tertidur pulas di sisi ranjang. Rasa kantuk yang tak tertahankan karena lembur selama dua hari menangani kasus ini meninggalkan rasa letih dan lelah. Okan tidur dengan punggung tangannya menjadi bantal dan tangan yang satunya lagi menghangatkan jari jemari Emine.


Pukul 10 malam Emine terbangun dari efek.bius yang diberikan dokter. Mata Emine perlahan menyesuaikan dengan cahaya lampu yang berada tepat di atas kepalanya. Sinar putih itu sangat menyilaukan, Emine segera menurunkan pandangannya. Rasa sakit di perut sudah tidak terasa lagi, ia sekarang merasa lega.


Emine merasakan ada benda tajam dan runcing berada di dalam daging tangannya. Ia menoleh dan mendapati jarum infus tertancap disana. Emine sadar dirinya sedang berada di rumah sakit


" Siapa yang membawaku kesini?" Tanyanya penasaran dalam hati.

__ADS_1


Sekarang beralih ke tangan yang satunya lagi yang tak kalah terasa sangat aneh. Tangan itu tidak bisa digerakan seperti ada yang menahannya. Emine menoleh lagi dan mendapati seorang pria tidur tengkurap dengan posisi kepala miring menghadapnya. Pria yang terlihat tidak asing, Emine diam untuk sesaat. Ia memfokuskan matanya untuk memastikan tidak salah lihat hingga akhirnya Emine terkejut akan keberadaan Okan disini, disampingnya.


" Jangan-jangan Okan yang sudah membawakau kesini." Tebak Emine gelisah dan takut Okan sudah tahu wanita yang melawannya adalah dirinya.


Emine hendak melepaskan genggaman erat pria itu tapi ia malah membuat Okan terbangun oleh gerakan tangannya yang di tarik pelan-pelan.


" Emine, kau sudah sadar." Ucap Okan dengan matanya masih sipit. Ia membantu Emine untuk bersandar di kepala ranjang.


Okan senang karena Emine sudah kembali siuman. Ia tidak ingin menanyakan sesuatu yang bisa mempengaruhi atau memperburuk kondisi Emine walaupun ada banyak pertanyaan yang harus Emine jawab dan dijelaskan.


" Siapa yang membawaku kesini?" Itulah kalimat yang pertama keluar dari bibir Emine.


Jawaban dari pertanyaan itu sangat menentukan apakah Okan sudah tau penyamaran Emine atau belum. Jika benar Okan yang membawanya kesini maka 100% bisa dipastikan Okan sudah mengetahui penyamaran dirinya, fikir Emine.


Okan sengaja menghindari pembicaraan itu tapi Emine malah membahasnya.


" Aku yang membawamu kesini." Jawan Okan jujur.


" Jadi kau sudah mengetahui siapa aku." Ucap Emine sendu dengan mata berkaca-kaca. Emine memalingkan pandannya karena terlalu malu untuk menatap Okan. Bagaimana bisa ia masih mempunyai keberanian menatap pria yang sudah ia tentang. Melawan kekasihnya sendiri demi tujuan pribadi dan mengabaikan semuanya bukankah itu sangat egois? Tapi Emine tidak punya pilihan lain. Hanya ini yang bisa ia lakukan untuk kakaknya.


" Emine, kondisi mu masih sangat lemah. Sebaiknya kau beristirahat!!" Saran Okan. Ia mulai merasa tidak nyaman dengan arah pembicaraan ini. Lagi pula tidak tepat membahas masalah ini sekarang.


" Kenapa kau masih perduli dengan ku setelah mengetahui akulah yang sudah menggagalkan mu?" Tanya Emine mengabaikan ucapan Okan.


" Emine, aku tidak ingin membicarakan masalah ini!!" Respon Okan mulai tidak suka mendengar ucapan Emine.


" Emine!!" Ucap Okan memperingati Emine untuk berhenti berbicara.


" Okan, apa kau tidak ingin tau kenapa aku melakukannya?" Emine terus menyambung ucapannya dan terus mengabaikan ucapan Okan yang sudah memasang ekspresi tidak suka.


" Tidak. Aku tidak perduli kenapa kau melakukannya." Balas Okan.


" Karena dia adalah kakak ku." Balas Emine tidak perduli meski Okan sudah mengatakan tidak.


Okan yang tadinya berusaha untuk membuang topik pembicaraan itu, sekarang membulatkan mata karena terkejut. Ia tidak percaya dunia sesempit ini.


" Kau bisa membenci ku Okan!! Aku adalah wanita egois. Aku,,,hiks,,, aku tidak pantas bersama mu." Emine menangis terisak.


" Apa yang kau katakan?" Okan dengan cepat merangkul Emine dan menenangkannya " Jangan pernah mengatakan hal itu lagi!!" sambungnya ketika Emine sudah mulai tenang meski masih terdengar suara tangis di bibirnya.


" Jika aku mengatakan kakaknya sudah tertangkap maka kondisi Emine akan semakin memburuk. Aku tidak ingin ada sesutu terjadi lagi padanya." Gumam Okan dalam hati.


" Okan, maafkan aku!!" Tiba-tiba Emine berucap maaf dengan air masih menggenang di mata. Okan melepas dekapannya dan melempar senyum tipis pada Emine.


" Aku sudah memafkan mu." Ucapnya sambil mengelap lembut dengan tisu wajah Emine yang basah. Sikap Okan yang begitu manis membuat Emine semakin merasa bersalah.


" Cepatlah sembuh!! Apa kau tidak kasihan pada jagoan kecil kita?" Ucap Okan memberi kesan penuh misteri pada Emine.

__ADS_1


" Jagoan? Apa maksud mu?" Emine mengernyitkan dahinya bingung dengan ucapan Okan. Ia segera menyeka air matanya dan menatap Okan serius.


Okan sudah menduga Emine juga tidak tau tentang kehamilannya.


" Kau tidak tau, apa,,, pura-pura tidak tau?" Okan sengaja menggoda kekasihnya.


" Okan,,,, Aku tidak mengerti." Ucap Emine semakin bingung.


Okan memindahkan tangannya ke atas perut Emine.


" Disini ada jagoan kecil yang sangat kuat." Ucapnya membanggakan darah dagingnya.


" Aku hamil?" Spontan Emine terkejut. Wajahnya yang memerah membuat Okan merasa tidak nyaman dengan respon Emine.


" Kenapa? Kau tidak senang?" Ucap Okan menatap Emine serius.


Emine menundukan kepalanya karena ia tahu hubungan mereka tidak akan berjalan mudah.


" Apa yang harus aku katakan pada kakek?" Ucap Emine terlihat sedih dan murung.


" Kau tidak usah pikirkan itu!! Aku yang akan mengatakan semua ini pada kakek mu dan meminta ijin untuk menikahi cucunya." Ucap Okan ringan.


" Kakek tidak akan pernah merestui hubungan kita Okan." Emine menatap Okan dengan sorot mata menyimpan sebuah alasan di dalamnya.


" kenapa? Kau hamil anak ku dan aku ingin bertanggung jawab. Bukankah itu adalah hal yang bagus?" Ucap Okan menurut sudut pandangnya.


Emine tau Okan belum tau banyak hal tentang dirinya. Tentang dirinya adalah seorang pencuri. Emine ingin menjelaskan kenapa kakek tua tidak akan merestui hubungan mereka.


" Okan, " Panggil Emine sendu menatap Okan.


" Okan, Kau tau siapa aku?" Tanya Emine terselip aura misteri di dalamnya.


Suasana mulai berubah, angin berhembus masuk melalui jendela kamar yang lupa di tutup. Okan terdiam menunggu pertanyaan itu di jawab oleh Emine sendiri.


" Dunia kita sangat berbeda, kau dan aku juga sangat berbeda. Kau adalah polisi dan aku,,," Emine tertunduk sebelum melanjutkan ucapannya. " aku adalah seorang buronan polisi. Aku adalah seorang pencuri." Akhirnya Emine mengungkap IDnya yang selama ini ia berusaha sembunyikan. Air matanya menetes kembali mengingat hubungan mereka bagaikan air dan api. Bersatu hanya akan melenyapkan salah satu di antara mereka.


Okan terkejut dalam kebisuannya dan tubuhnya yang terasa membatu. Pengakuan Emine adalah seorang buronan polisi seketika membuatnya tidak bisa berkata-kata. Tapi itu bukanlah masalah baginya. Ia bisa menyembunyikan kebenaran itu meski telah melanggar sumpah seorang polisi.


*


*


*


Ingat Like👍 sama komennya💬 ya!


Trimakasih telah menyempatkan waktu untuk membaca🙏

__ADS_1


Semoga selalu dalam lindunganNya🙏


__ADS_2