Wanita Seribu Luka

Wanita Seribu Luka
Bukan Teman lagi.


__ADS_3

Emine baru memasuki perusahaan. Seorang staf datang menghampirinya.


Dengan wajah gusar ia memberi hormat.


" Ada apa??"


" Maaf Nona, Ada berita mendadak. 1 jam lagi investor kita dari Amerika akan datang.


Kami baru menerima informasinya 5 menit yang lalu."


Seorang Investor besar yang siap bekerja sama dengan perusahaan JQ.


Keuntungan menyentuh angka triliunan tentu tidak akan di biarkan lolos begitu saja.


" Apa??" Terkejut. " Siapkan semuanya!! Berkas-berkas harus sudah siap sebelum investor tiba!!."


Perintah Emine pada staf yang terlihat semakin gugup.


" Masalahnya semua berkas ada pada Nona Fika dan Nona Fika tidak bisa di hubungi."


" Tidak bisa di hubungi??"


" Iya Nona."


Tadi pagi Fika meminta alamat Serin. Kesimpulan Emine Fika pasti pergi ke sana.


" Dimana Tuan Panel??"


" Tuan Panel masih ada tamu penting Nona. Saya sudah memberitahunya dan Tuan meminta untuk diselesaikan oleh Nona."


" Baiklah. Aku harus pergi sebentar. Kau urus yang lain!!"


" Baik Nona."


Kedua wanita itu berbalik, berjalan berlawanan arah. Emine sendiri kembali


keluar dari gedung.


Beberapa kali Emine mencoba menghubungi Fika dan benar serkertarisnya itu tidak bisa dihubungi. Ponselnya mati.


Di lain tempat,


Seorang wanita sudah berdiri di depan sebuah rumah. Sedikit gugup karena takut rencananya tidak akan berhasil.


Tanpa sepengetahuan ataupun bantuan orang lain Fika mencoba mencari bukti tentang


niat busuk Serin.


Sebenarnya jika ini bukan menyangkut Nonanya, Fika enggan mencari masalah atau


ikut campur.


Ting,,,Nong,,,Ting,,,Nong,,,,


_- Siapa lagi ini?? Kenapa datang disaat aku dalam kondisi menyedihkan seperti ini?? Hiks,,, _-


Serin mengusap air mata yang terus mengalir semenjak kepergian Okan 1 jam yang lalu.


Realita setelah mengatakan yang sebenarnya pada Okan ternyata tidak sesuai ekspetasi.


Serin berkaca pada layar ponsel memastikan tidak ada lagi air dimatanya kemudian pergi membukakan pintu.


" Kau?? Untuk apa kau datang kemari??"


Terlihat tidak senang dengan kehadiran Fika.


Fikirnya Fika kemari pastilah bukan untuk


hal yang membuat moodnya


berubah baik.


" Ah Nona Serin kau sangat sensitif di pagi hari. Apa kau sedang menstruasi?"


Basa-basi untuk mendapat suasana yang tepat.


" Cih,,,, Katakan saja apa tujuan mu datang kemari??."


Sudah enggan melihat Fika.


" Nona tidak mempersilakan saya untuk masuk terlebih dahulu??


Tidak baik bicara di luar. Telinga orang-orang itu sangat tajam."


Senyum Fika mengartikan bahwa bahaya jika orang lain mendengar ucapannya.


Belum habis kesedihan yang menimpanya sejam lalu dan sekarang dibuat gusar oleh Fika.


Serin pun mengijinkan Fika masuk untuk


mengantisifasi hal buruk terjadi.


" Masuklah!!!"


Mempersilakan masuk dengan wajah yang tidak iklas terlihat jelas.

__ADS_1


Fika masuk mengikuti tuan rumah yang berjalan di depannya lalu duduk di sofa.


Berhadapan dengan Serin yang sudah


melipat kedua tangannya di atas perut dengan


wajah masam.


" Aku hanya punya air putih."


Malas rasanya membuatkan Fika minuman hangat atau jus. Air putih di atas meja saja sudah lebih


dari cukup untuk tamu yang tak diundang, fikirnya.


" Tidak apa-apa Nona. Air putih baik untuk kesehatan."


Baik untuk kesehatan namun Fika tidak meminumnya karena ini rumah lawan.


Tidak terlalu aman.


Emine saja bisa ia racuni apalagi dirinya.


" Sekarang katakan apa tujuan mu datang kesini?!"


" Wah Nona sangat tidak sabaran. "


Mengambil benda kotak menyerupai ponsel bahkan memang seperti ponsel asli dari dalam tasnya lalu diletakan di atas meja dengan posisi terbalik.


" Jangan sok akrab!! Cepat katakan atau pergi dari sini!!!"


Fika tersenyum karena Serin tidak sadar sedang menggali kuburnya sendiri.


Saat dirinya mulai berbicara sesuai topik, Fika yakin wajah Serin akan tambah memerah.


" Baiklah. Aku mulai saja karena kau sudah tidak sabaran."


Serin mulai membuka telinganya lebar-lebar.


Tidak ingin melewatkan satu kata yang sudah membuat Fika datang kemari.


" Kau adalah mantan kekasih Tuan Okan."


Mulai menyerang meski arah pembicaraan belum jelas.


Serin terkejut. Bagaimana Fika bisa mengetahuinya? Hal yang tidak pernah ia katakan pada siapa pun bahkan pada Emine apalagi pada Fika.


" Dari mana kau tahu? Apa kau memata-matai ku?? Kau tertarik dengan hidup ku?? "


Serin tidak senang urusan pribadinya di usik.


" Haha,,,tidak Nona. Aku tidak punya banyak waktu untuk itu. Aku tidak pernah tertarik pada hidup seorang manusia berwajah dua."


Serin geram. Menatap Rika seperti ingin menjambak rambut gadis itu.


Sedikit cemas dengan maksud manusia berwajah dua. Apa Fika sudah tahu rahasia dirinya? begitu batin Serin bekerja.


" Hati-hati dengan ucapan mu Fika!! Kau tidak tahu siapa aku. "


Mempringati agar Fika tidak sembarangan bicara padahal Fika berbicara sesuai kenyataan.


" Ah maaf Nona. Tapi sayangnya aku sudah tahu siapa anda."


Senyum kemenangan terpapr indah di wajah Fika.


Serin refleks menarik tubuhnya yang tadi bersandar di punggung sofa.


Fika terlihat tidak main-main. Bahaya jika rahasia terbesarnya di ketahui oleh gadis yang menyandang sebagai serkertaris Emine.


" Kau memang memata-matai ku rupanya."


Menuangkan air ke dalam gelas lalu memberikannya pada Fika agar tidak terlalu terlihat cemas.


" Sudah aku katakan aku tidak punya waktu untuk memata-matai anda. Aku hanya sedikit mencari tahu tentang anda."


Tanpa dosa Fika menujukan berapa sedikitnya yang ditunjukan dengan ibu jari dan jari telunjuk di sejarjarkan horisontal.


_- Waniat Sialan. _-


" Seberapa banyak kau tahu tentang diri ku??"


" Mmmmmmm,,,,, " Pura-pura berfikir.


" Kau adalah mantan kekasih Tuan Okan dan kau masih mencintainya. Sayangnya Tuan Okan sudah tidak mencintai mu lagi. Dia mencintai Nona Emine yang jelas jauh lebih baik dari mu. Kau tidak terima, kau iri, kau cemburu kemudian kau ingin merebutnya lagi secara halus. Kau tetap berpura-pura baik di depan Nona Emine, tapi dibelakang kau punya niat yang busuk. Kau mencoba meracuni Nona Emine tapi gagal di hari pernikahannya. Hanya itu yang aku tahu.


Bagaimana? Kau suka dengan cerita singkat ku??"


Cerita singkat yang berhasil membulatkan mata Serin.


" Kau!!!!"


" Kenapa Nona marah?? Ahhh,,, iya kau pasti takut ini bocor ke telinga orang lain kan?"


" Apa mau mu?? Kenapa kau ikut campur urusan ku?? Dengar, jangan pernah berani mengatakannya pada orang lain atau kau akan rasakan akibatnya."


Serin mengancam. Tidak sadar ia mengakui kejahatannyan.

__ADS_1


Hancurlah dirinya jika semua ini sampai ke telinga Okan.


Okan tidak akan pernah memaafkan dirinya lagi.


" Aku tidak mengatakannya pada siapa pun maksud ku belum mengatakannya."


Meralat ucapannya sendiri.


Mengganti 1 kata mengubah seluruh arti.


_- Sekarang aku sudah punya bukti, kau tidak akan bisa mengelak lagi. Maafkan aku sudah ikut campur dengan urusan mu. Tapi Nona Emine adalah wanita baik.


Aku tidak bisa membirkan kau melukainya. _-


Gumam Fika.


" Aku harus kembali ke kantor. Sudah cukup sampai disini. Tenangkanlah dirimu!! Bersiaplah untuk hari esok atau,,, mungkin 1 jam lagi semuanya akan berubah."


Fika memberi kode kehancuran Serin akan datang dalam waktu yang sangat dekat.


" Hahahaha,,, Kau fikir aku sebodoh itu?? "


Serin merebut benda yang dimana


itu adalah alat perekam suara di atas meja saat Fika hendak mengambilnya. " Aku tahu kau merekam semua percakapan kita. Setidaknya sembunyikan benda ini di dalam tas mu bukannya malah kau pamerkan di hadapan ku. Kau ini bodoh sekali.


Hahahha,,,,,"


" Kembalikan itu pada ku Serin!!"


Sekarang situasi terbalik.


Fika yang kini cemas karena perekam suaranya ada di tangan Serin.


Serin sudah beranjak dari duduknya. Berjalan ke arah aquarium di ujung sana.


Percuma Fika merebutnya karena sekali langkahnya rekaman itu akan di jatuhkan ke dalam aquarium.


" Benda ini akan menjadi mainan ikan-ikan ku. Kau ikhlaskan saja ya!! "


Tersenyum menyeringai lalu,,,


Plung,,,,,,!!!!!


Satu-satunya bukti sudah hilang. Apa yang harus dilakukan lagi? Tidak ada.


Sia-sia semuanya. Sekarang


Fika harus mulai dari nol lagi untuk membuktikan Serin bukanlah wanita yang baik.


Sayangnya itu tidak akan mudah karena Serin sudah tahu Fika mengetahui rahasiaya.


Serin pasti akan lebih berhati-hati lagi.


" Sekarang katakanlah pada Emine!! Katakan semuanya!! Katakan aku ini mantan Okan!! Apa yang bisa dia lakukan? Tentu dia akan merasa bersalah karena merebut Okan dari sahabatnya sendiri. Katakan juga aku ingin membunuhnya!! Kau fikir dia akan percaya? Kau hanya orang baru. Aku hanya perlu pura-pura menangis saat kau menuduh ku dan kau pasti di tendang."


Yang dikatakan Serin benar. Wanita itu sekarang berbesar kepala karena unggul di depan. Fika hanya bisa berdiri mematung memikirkan perkataan Serin.


Prok,,,,Prok,,,,Prok,,,,!!!!


" Wah Serin kau mengagumkan. Ternyata ini dirimu yang sebenarnya. Pantas saja semenjak aku dan Okan bersama, aku merasakan sesuatu yang aneh pada mu.


Wahh,,,, kau memakai topeng mu dengan sangat baik. Tapi tidak untuk hari ini."


Emine datang tepat saat Serin mengatakan kejahatannya sendiri. Sontak mata wanita itu membelalak ke arah pintu masuk.


Wajahnya kembali memerah. Tidak percaya Emine tiba-tiba datang seperti ini.


Sedangkan Fika merasa ini adalah hari baiknya. Seakan hari yang diberkati Tuhan.


" Emine ini semua tidak seperti yang kau dengar. Jangan salah paham!!"


Masih tidak tahu malu mengatakan ini salah paham.


" Sudahlah Serin. Aku benar-benar kecewa pada mu. Kau bahkan ingin membunuh ku. Aku tidak menyangka kau berubah. Seharusnya kau katakan pada ku tentang hubungan mu dengan Okan!! Katakan kau masih mencintainya, maka dengan suka rela aku mundur. Aku tidak akan sejahat itu dengan sahabat ku sendiri.


Tapi, mendengar kau ingin membunuh ku membuat hati ku kebal. Semuanya sudah terlambat. Aku membenci mu. Sekarang kita bukan teman lagi."


Kekecewaan Emine begitu dalam. Hatinya terluka mengetahui siapa Serin yang sebenarnya. Begitu kejam dunia selama ini mempermainkan hatinya yang tulus menganggap Serin adalah sahabatnya.


Ingin menangis tapi air matanya ia tahan agar tidak terlihat lemah.


Kecewa juga pada orang-orang yang selama ini membohonginya. Termasuk Okan yang telah menyembunyikan rahasia besar ini.


" Emine aku mohon jangan seperti itu!! Aku salah. Maafkan aku! Emine,,,"


Serin tidak benar-benar sedang menyadari kesalahannya. Meminta maaf bukan dari hati tapi dia hanya takut nantinya Emine akan memberi tahu Okan.


Yang dia fikirkan hanya dirinya sendiri.


" Cih,,,, "


Emine bisa melihatnya


" Fika ayo kita pergi."

__ADS_1


" Baik Nona."


Fika memberi senyum miring pada Serin. Mengejek wanita itu atas kekalahannya.


__ADS_2