
Keributan terdengar dari luar. Gaotam yang sedang bercinta dengan kekasihnya itu merasa terusik. Terpaksa menghentikan
aksinya beralih mengangkat telfon yang berdering.
" Tuan, ada seorang pria yang memaksa ingin masuk."
" Siapa??"
" Tidak tahu Tuan. Dia ingin bertemu dengn Tuan."
" Biarkan dia masuk!! Suruh dia menunggu di bawah!!"
" Baik Tuan."
Mematikan telfon lalu melemparnya ke atas kasur dengan raut wajah tidak senang.
" Sayang ada apa? Siapa yang datang??"
Tanya seorang wanita yang nampak sudah lelah di bawah selimut yang membungkus tubuhnya.
" Aku juga tidak tahu. Aku turun dulu melihatnya. Kau beristirahatlah!!"
Gaotam memakai busananya lalu segera turun ke bawah. Melihat siapa yang berani mengganggu kesenangannya.
Kejutan di siang hari.
Seorang teman, sebenarnya bukan teman tapi seseorang yang pernah satu sekolah dengannya datang kemari.
Entah apa yang membut pria yang sedang menatapnya tajam itu datang kerumahnya. Gaotam tidak tahu.
" Oh Okan. Perlu apa kau kemari?? Senang bisa melihat mu kembali. Kau masih sangat tampan rupanya."
Menyambut ramah dengan senyum seolah-olah tidak terjadi apa-apa selama ini.
" ********!!!"
Pak,,,,Brukkkk,,,,,!!!!
Okan tiba-tiba menyerang. Tidak tahan lagi menahan kepalan tangannya.
Gaotam kehilangan keseimbangan hampir tersungkur. Wajahnya menerima hantaman keras tak turdaga dari Okan.
" Ahhhh,,,, Apa-apa'an ini Okan?? Aku menyambutmu dengan baik tapi kau malah memukul ku. Kau itu seorang polisi tidak baik bersikap seperti seorang preman."
Mengusap sudut bibir yang berdarah.
Memberi Okan pengertian seperti dirinya sudah paling benar.
" Preman?? Ya, hari ini aku adalah preman."
Pak,,,Brukkkk,,,,!!!!
Okan memukul lagi. Sekarang Gaotam benar-benar tersungkur. Tanpa sempat bangkit Okan sudah mengunci tubuh Gaotam di bawah tubuhnya lalu memukili pria itu tanpa ampun.
Seperti tidak ada rasa kasihan lagi pada pria yang selalu dimanjakan dengan harta oleh ayahnya.
Penjaga di luar mendengar suara keributan langsung masuk ke dalam. Kekasih Gaotam juga mendengarnya bergegas memungut pakaian yang berserakan di lantai kemudian keluar.
" Gaotam!!! Cepat lerai mereka berdua!!" Teriak wanita itu panik menuruni anak tangga.
Anak buah Gaotam berhasil menarik tubuh Okan. Memegang lengan pria itu agar tidak bisa menyerang lagi. Sedangkan Gaotam bangkit di bantu oleh kekasihnya.
" Lepaskan aku!! "
Okan membrontak minta dilepaskan. Rasanya tidak puas hanya memukuli wajah Gaotam. Ia seperti ingin membunuhnya.
" Lepaskan dia!! Dia seorang polisi. Bahaya jika memperlakukannya seperti ini."
Gaotam seperti sedang menghina Okan. Senyumnya seperti mengatakan, Dia seroang polisi yang bisa lolos karena bantuan ku.
Anak buah Gaotam melepaskan Okan. Jaket kulit hitam pria itu berantakan lalu dibenahi sembarang. Okan masih dengan kepalan tangannya menatap Gaotam geram.
" Apa yang sudah kau lakukan pada Serin?? "
Mendengar pertanyaan Okan membuat Gaotam sadar bahwa pria ini sudah tahu kisah yang sebenarnya.
" Haha,,,Okan kau lucu sekali. Itu sudah lama berlalu tapi kau baru datang kemari bertanya apa yang sudah aku lakukan pada Serin?? Kemana saja kau selama ini?? Bukankah kau sudah tidak perduli dengan wanita malang itu??"
Tidak di pungkiri perkataan Gaotam berhasil meremas hati Okan. Disaat Serin memeluk kakinya, meminta agar tidak di tinggalkan, meminta untuk dimaafkan, meminta untuk di dengarkan tapi yang dilakukan Okan saat itu adalah menghempaskan kakinya hingga
Serin terlempar berderai air mata saat dirinya memilih melangkah pergi meninggalkan wanita itu di bawah lebatnya hujan.
Saat itu kemarahan dan kekecewaan menutup mata, telinga dan hatinya.
" Aku perjelas lagi pada mu. Aku tidak pernah memintanya, dia sendiri yang datang padaku.
__ADS_1
Memohon agar aku membantu mu lolos menjadi polisi. Aku menyetujuinya.
Tapi di dunia ini tidak ada yang gratis. Aku hanya meminta sedikit imbalan darinya."
Meminta 1 malam yang akhirnya menghancurkan hubungan Serin dan Okan.
Saat itu Gaotam tidak merasa bersalah.
Ia pergi begitu saja saat mendapat apa yang ia inginkan.
" ********!! Kau memang sudah mengincar Serin kan?"
" Siapa yang tidak mau dengan wanita cantik? Bodoh jika aku melewatkan kesempatan itu."
Berbicara begitu jujur tidak perduli di samping ada kekasihnya.
" Brengsek kau!!"
Okan hendak melakukan penyerangan lagi. Amarahnya sudah berada di ubun-ubun.
Namun dua anak buah Gaotam memeganginya.
" Bawa dia keluar!! "
Perintah Gaotam. Fikirnya Okan sangat berbahaya jika marah seperti ini.
" Baik Tuan."
Mulai membawa paksa Okan yang terus membrontak hingga sampai di luar kemudian di lempar kasar.
Pintu di tutup. Tidak mudah menerobos masuk ketika dua penjaga yang masih ada di luar membawa senjata api di pinggangnya.
Okan akhirnya pergi dengan hati
yang kacau, perasaan bersalah, tidak tahu harus berbuat apa.
Hingga malam tiba Okan tidak kunjung pulang. Kendaraan di jalan raya sudah mulai berkurang, jalanan sepi. Kota Istanbul perlahan mulai terlelap setelah tadi bekerja begitu keras.
Tidak ada satu pun pesan masuk. Layar ponsel tetap gelap seperti langit malam ini. Setidaknya sekedar memberi kabar dirinya akan terlambat pulang atau tidak pulang sama sekali. Dengan begitu wanita yang sekarang berdiri di balkon tidak perlu menahan kantuk untuk menunggunya.
Lebih tepatnya menunggu sebuah penjelasan dari suaminya.
Mengapa dan kenapa? Semua ini dirahasiakan darinya??
Bosan menunggu Emine pun memutuskan masuk ke kamar karena wajahnya sudah membeku terkena dinginnya hembusan udara malam bersalju. Naik ke atas ranjang, menyelimuti dirinya, mencoba menutup mata namun tidak bisa.
30 menit kemudian seseorang datang. Ikut naik ke atas ranjang lalu memeluknya. Refleks Emine membuka matanya yang hanya di tutup dengan kesadaran masih penuh.
Dari hembusan nafasnya saja Emine sudah tahu siapa itu.
" Kenapa belum tidur? Ini sudah malam. Tidak sehat untukmu jika tidur terlalu larut."
Okan masih memeluk perut istrinya yang sudah menggelundung.
Hari ini ia butuh sesuatu yang bisa menghangatkan hatinya, membuatnya merasa tenang setelah
tadi berkelana di jalan tanpa tujuan dan arah yang jelas.
" Aku tidak bisa tidur."
Menepis tangan Okan. Memberi kesan dirinya tidak mau dipeluk.
Okan merasa ada yang aneh dari istrinya hari ini. Wajahnya terlihat tidak bersemangat.
Pandangannya tidak bernyawa tapi seperti ada beban di sana.
" Kau marah pada ku karena aku pulang malam? Iya?? "
Tidak di jawab.
" Aku minta maaf sayang. "
Memeluk kembali.
" Okan aku pengap. Jangan memeluk ku!! "
Menepis kembali lalu berbalik memunggungi. Rasanya pelukan Okan terasa mengurung tubuhnya.
" Emine kau kenapa ? Tidak biasanya kau seperti ini."
Di saat Okan butuh seseorang untuk ia peluk tapi Emine malah bersikap seperti ini membuatnya sedikit kesal.
Tidak tahu Emine juga sedang menahan kecewa padanya.
Emine berbalik. Menatap mata pria yang telah menyembunyikan rahasia besar darinya.
__ADS_1
Mencoba menerka dari mata itu sampai kapan Okan membohonginya seperti orang bodoh. Adakah kepercayaan di dalam hubungan ini? Rahasia apa lagi yang disembunyikannya?? Atau jangan-jangan pria yang tidur dengannya sekarang masih mencintai mantan kekasihnya, batin Emine.
" Ada apa? Katakan pada ku!! Apa aku telah melakukan kesalahan? Jangan menatap ku seperti itu!! Hari ini Aku tidak ahli membaca mata mu."
Karena aku sedang kacau, lanjutnya dalam hati.
" Kenapa? Kenapa kau menyembunyikannya dari ku??"
Menatap nanar.
" Menyembunyikan apa?? Apa maksud mu??"
" Kau tahu sendiri apa yang sedang kau sembunyikan dari ku."
Dari sini Okan sudah merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi. Tatapan Emine berhiaskan kekecewaan bisa ia lihat.
Satu hal yang Okan sembunyikan sekaligus bisa membuat Emine kecewa adalah hubungannya dan Serin yang ia sembunyikan.
Otaknya langsung mengarah ke hal itu.
Takutnya Emine sudah tahu.
" Aku tidak menyembunyikan apa pun dari
mu."
Masih berusaha mengelak. Namun sayangnya Okan tidak pandai berbohong.
Wajahnya memerah saat mengatakan itu.
" Berhenti membodohiku Okan!! Kau gugup sayang. "
Tersenyum mengejek.
" Baiklah. Apa yang sudah kau ketahui??"
Okan menyerah. Setelah ketahuan berbohong tidak mungkin ia berbohong lagi.
Takutnya nanti hanya akan membuatnya terlihat seperti orang bodoh.
" Hubungan mu dengan Serin. Hari ini aku tahu kau dan Serin pernah saling mencintai. Kenapa kau menyembunyikannya dari ku??"
Sudah di duga itulah yang akan diucapkan Emine. Okan sudah mempersiapkan dirinya karena itu tidak terlalu terkejut. Hanya saja ia takut kalau hal ini akan
berakhir buruk.
Nafas di tarik dalam-dalam lalu di hembuskan agar mendapat sedikit ketenangan untuk memulai ucapan.
" Apa Serin yang mengatakannya pada mu??"
" Itu tidak penting. Aku tanya kenapa kau menyembunyikannya dari ku??"
Menegaskan kembali.
Okan diam sebentar. Berusaha menyusun kata menjadikannya sebuah alasan yang bisa di terima dan dimengerti oleh istrinya. Tujuannya agar malam ini tidak berubah menjadi malam yang kelabu.
" Maafkan aku!! "
Meminta maaf terlebih dahulu adalah langkah yang paling tepat. " Itu kisah masa lalu. Aku hanya ingin melupakannya karena aku sudah punya wanita yang sangat aku cintai saat ini.
Jadi aku berfikir untuk tidak mengungkitnya lagi."
" Tapi Serin masih mencintaimu bukan?? Kenapa kau membuatku terlihat seperti orang egois yang merebut orang yang dicintai sahabatku sendiri?"
Meski Emine tidak tahu Serin mencintai Okan. Tapi dalam fikirnya Serin pasti menganggap dirinya telah merebut Okan.
Karena itu Serin berubah. Karena dia marah dan kecewa. Salahnya juga ikut merahasiakan ini. Tapi pada akhirnya Emine yang disalahkan, dibenci bahkan ingin dimusnahkan.
" Ya. Serin masih mencintai ku. Tapi aku tidak mencintainya. " Bahkan saat kebenaran terungkap Okan tetap tidak mencintai Serin lagi. Saat ini ia hanya sedang terkurung dalam rasa bersalah.
" Seharusnya kau mengatakan semua itu pada ku!!"
" Jika aku mengatakannya pada mu apa yang akan kau lakukan? "
Tentu saja Emine akan menjauh. namun pertanyaan Okan tidak bisa ia jawab. Emine diam.
" Aku tidak mau kehilangan mu. Aku mencintai mu, sangat mencintai mu. Karena itu aku tidak mengatakannya. Kau akan mengorbankan diri mu sendiri untuk Serin kan?? Melupakan ku, mengabaiakan perasaan mu sendiri demi orang lain lalu menghilang lagi dari ku."
Dalam hati Emine membenarkan ucapan Okan.
Seketika air matanya menetes. Betapa besarnya cinta Okan padanya. Namun tidak bisa dilupakan Serin bukan orang lain. Dia adalah sahabat Emine.
Ada yang terluka dalam hubungan ini.
" Jangan menangis sayang!! Maafkan aku!! Maaf karena sudah membuat mu menangis."
__ADS_1
Okan menghapus air mata Emine. mengecup keningnya. Membenamkan wajah wanita itu di dadanya. Memeluknya sangat erat hingga Emine akhirnya tertidur lelap.