
Akhirnya hari pernikahan Emine dan Okan tiba. Acara digelar dari sore hingga selesai di sebuah aula berkelas yang di hendel oleh kakek tua.
Tamu yang datang kebanyakan dari memplai pria sedangkan Emine, dia hanya punya keluarga bibinya.
Beberapa karyawan JQ juga menghadiri acara pernikahan ini.
Okan, Pria berjas putih lain dari pada yang lain kini duduk di bangku pengantin dikelilingi dua sejolinya yang tak henti-hentinya menggoda pria yang akan melepas masa lajangnya itu.
Ketampanan Okan juga meningkat drastis membuat para tamu yang memberi selamat berdecak kagum. Pipi Okan sudah berkali-kali bersembu merah karena terus
di puji-puji. Tak jarang beberapa wanita disana mencuri-curi pandang kepada Okan berharap dialah yang akan menjadi memplai wanitanya.
" Okan, aku punya sesuatu untuk mu. Hadiah, orang menikah harua diberi hadiah bukan."
Ucap Murat dengan senyum tidak bisa di artikan. Ia merogoh saku celananya. Kira-kira hadiah macam apa yang disimpan di saku celana?
" Dimana ya?? Tunggu sebentar!! Ahhh,,, ini dia,,,Taraaa,,,,,,hadiah spesial untuk sahabat ku."
Murat menunjukan sebuah benda kecil semacam obat.
Okan mengambilnya. Membaca tulisan dikemasan benda itu.
" Brengsek,,, Kau ingin menghina ku ya?!!" Okan melempar kesal benda itu tepat diwajah Murat kemudian di ambil Tiras karena penasaran.
" HaHahahahaha,,,, Apa-apa'an ini Murat? Wahhh,,, tapi ini bagus juga untuk mu, Okan."
Tiras tertawa geli melihat hadiah Murat, sebuah pil kuat versi negara Turki.
" Kecilkan suara mu!! Semua orang sedang menatap kita. Dan ini juga, jangan pamerkan benda semacam ini pada semua orang!! Mereka akan menertawai ku bukan menertawai kalian."
Okan merebut benda itu dari tangan Tiras dan menyimpannya di saku celana.
" Harga diri seorang pria itu ada pada seberapa kuatnya si kecil. Jika si kecil mu itu lemah, cuma beberapa menit langsung teler aku yakin Emine akan mengejek mu. Maksud ku ini baik kawan, jadi minumlah obat itu dan rayakan sampai pagi!!! Hahahaha,,,,,,"
Murat si pria bermulut dua terus saja menggoda Okan.
" Siapa bilang si kecil ku lemah? Dia bahkan mampu mengangkat barbel. Aku ini seorang polisi. Latihan fisik saja aku kuat apalagi hal semacam itu. Ck."
Balas Okan.
Murat dan Tiras tertawa mendengarnya. Bagaimana bisa si kecil bisa mengangkat barbel? Yang ada patah tulang si kecil.
" Tapi Okan, seharusnya kau tidak melakukan hal itu sebelum menikah!!"
Tiras ikut menambah topik pembicaraan.
" Memangnya kenapa?"
" Tentu agar menjadi kejutan. Malam pertama kalian akan terasa lebih spesial. Ahhh,,,,sayangnya malam pertama kalian sudah tidak spesial lagi. Bahkan bukan malam pertama namanya, tapi malam kedua.
Hahahhaha,,,, "
Tiras pria yang sedang tertawa lepas itu berusaha bersikap sewajarnya. Ia ikuti saja alur lelucon yang sedang dibuat agar tidak membuat Okan curiga.
Sudah diputuskan, Tiras akan melupakan semua rasa yang ia pendam untuk Emine karena ada banyak alasan untuk hal itu diantaranya:
Emine sebentar lagi akan menjadi milik Okan.
Persahabatan yang mereka jalin akan retak jika sampai Okan mengetahuinya.
Cinta yang bertepuk sebelah tangan hanya akan sia-sia.
Itulah alasan pria dewasa ini bertekat untuk melupakan Emine. Meski sebenarnya tidak ada kenangan diantara mereka yang harus dilupakan, karena memang tidak ada kenangan. Sungguh menyedihkan kisah cinta Tiras.
" Mungkin bagi kalian tidak spesial tapi bagi ku setiap malam bersama Emine adalah malam yang spesial dan terus akan menjadi spesial untuk selamanya."
Entah dari mana Okan mendapat kalimat itu.
" Apa ini? Bulu kuduk ku merinding mendengarnya,,,, Hahahahaha,,,,,"
Di tengah asik dengan lelucon yang mereka buat tiba-tiba seseorang datang.
" Selamat Tuan Okan atas pernikahan mu."
Ozgur, pria itu sudah berdiri di depan Okan memberi selamat dengan tulus namun dianggap menjengkelkan oleh Okan.
Okan berdiri, menyambut kedatangan
Ozgur.
__ADS_1
" Oh, kau ternyata datang. Aku kira setelah kejadian itu kau tidak akan datang. Tapi, aku ucapkan trimakasih."
" Kau terlihat tidak senang dengan kedatangan ku Tuan Okan. Aku disini untuk mewakili Nyonya Velief karena dia tidak bisa datang. Walaupun bisa datang tetap aku akan datang kesini karena Nona Emine mengundangku secara pribadi."
Okan geram mendengarnya. Ia mulai memasang wajah tidak suka. Mendengar Emine memgundang Ozgur secara pribadi membuatnya cemburu.
Tiras dan Murat yang berdiri agak belakang mulai berbisik-bisik.
" Siapa dia??" Murat berbisik.
" Kau tidak ingat siapa dia??"
" Tidak. Tapi wajahnya sangat familiar. Siapa ya?? Ahhh,,, aku tidak ingat."
" Dia itu pria yang pernah dekat dengan Nona Emine. Pria yang bersama Nona Emine saat pulang dari Belgia."
" Ohhh Iya aku ingat. Pantas saja Okan kesal melihatnya."
Bisik-bisik Tiras dan Murat.
" Oh benarkah?? Aku sedikit cemburu pada mu. Tapi, sayangnya sekarang Emine adalah milik ku."
Balas Okan berharap Ozgur panas mendengarnya.
" Kalau begitu jangan cemburu Tuan!! Dulu aku memang menyukai Nona Emine tapi sekarang tidak lagi. Dan aku tidak menyesal pernah mencintai Nona Emine."
Balas Ozgur. Ia tidak panas dengan ucapan Okan malah Okan yang semakin panas dengan ucapannya.
Okan semakin geram. Ingin rasanya ia menendang Ozgur. Di dalam hatinya ia sangat kesal kepada Emine karena sudah mengundang Ozgur ke acara pernikahannya.
Tiba-tiba Meli datang sedikit berteriak memanggil nama Ozgur. Ia terkejut Ozgur ada di sini.
" Tuan Ozgur, kau ada disini?? Wahhh,,,, senang bertemu dengan mu."
Meli tidak segan-segan menyambar lengan Ozgur, menggandengnya. Ia terlihat senang.
Okan dan kedua rekannya menatap mereka berkerut kening. Apa dunia se sempit ini?? Begitu batinnya.
Okan tidak suka melihat adiknya kecentilan menggandeng tangan sembarang pria. Ia langsung menarik tangan Meli menjauhkannya dari Ozgur.
" Aihhhh,,, kakak ini kenapa sih?? Dia itu teman ku di Belgia. "
Meli kesal dengan sikap kakaknya.
Tanya Ozgur mendapat anggukan manis dari Meli.
" Kalau begitu aku permisi dulu. Meli, bisakah kau mengantarkan aku ke ruangan Nona Emine? Aku ingin bertemu dengannya."
Ozgur terang-terangan mengatakan ingin bertemu dengan Emine tanpa menghiraukan ada calon suaminya disini sedang menahan emosi yang menggebu-gebu.
" Tentu. Mari aku antar."
Ucap Meli antusias.
" Tunggu!!!" Okan menghentikan dua orang yang akan menaiki tangga menuju ruangan Emine.
Refleks mereka berhenti dan berbalik.
" Kau tidak boleh menemui Emine!!"
Okan menunjukan kecemburuannya sangat.jelas terlihat dari ekspresinya.
" Maaf Tuan. Aku sudah meminta ijin langsung pada Nona Emine dan dia tidak keberatan sama sekali. Malah dia sangat senang mendengar aku sudah ada di sini. Ayo Meli!!!"
Ozgur dan Meli melanjutkan kembali langkahnya.
" Brengsek!!! Sialan!! Awas saja kau Ozgur. Aghhh,,, dia sengaja membuat ku marah. Dan itu, bocah nakal itu malah berada di pihaknya. Awas kau Meli, aku akan mengurangi uang saku. Sial,,sial,,sial,,,"
Okan mengumpat tanpa sadar orang-orang memperhatikannya.
Murat dan Tiras segera menenangkannya.
" Hahhahaha,,, Kakak mu itu pasti sangat cemburu. Aku rasa Nona Emine akan habis dimakannya nanti malam."
Ozgur puas setelah membuat Okan cemburu. Jarang-jarang bisa menggoda polisi itu, fikirnya.
" Tuan ini sepertinya senang sekali berhasil membuat kakak ku cemburu. Hahahaha,,, dia pasti sedang frustasi saat ini. Aku sangat tau kakak ku."
Ternyata Meli juga menyukainya.
Ozgur sudah sampai di ruangan Emine. Ia masuk ke dalam sedangkan Meli kembali ke bawah. Di dalam Ozgur menceritakan bagaimana ia membuat Okan cemburu. Emine tertawa mendengarnya, membayangkan wajah Okan yang memerah menahan kesal.
Sedangkan Okan kacau dengan fikirannya memikirkan apa yang sedang dilakukan Emine dan Ozgur.
__ADS_1
Ingin rasanya ia mengintip mereka berdua dari balik pintu.
Di lain tempat,
Serin berada di dapur sedang membuatkan minuman khusus untuk Emine. Sempat tadi ia naik ke atas menemui Emine dan Emine memintanya untuk membawakan minuman dingin karena tenggorokannya terasa sangat kering.
Sebuah serbuk dicampurkan ke dalam minuman berwarna orange itu.
Serin tersenyum menyeringai memikirkan setiap buliran serbuk ini akan merenggut nyawa Emine.
_- Siapa sangka malam berbahagia ini akan berubah menjadi malam yang menyedihkan. Ahhh,,, maafkan aku Emine. _- Batin Serin sembari mengaduk jus jeruk itu.
" Pelayan!!" Panggilnya.
" Tolong antarkan minuman ini pada memplai wanita!! Aku punya urusan mendadak. Jadi tolong bantuannya."
Minta Serin. Ia ingin mengambing hitamkan pelayan ini.
" Baik Nona."
Pelayan itu menerima nampan dari tangan Serin. kemudian berjalan meninggalkan Serin menuju ruangan Emine.
_- Dalam waktu 10 detik, maka berita kematian Emine akan memenuhi tempat ini._- Batin Serin tersenyum kejam.
Pelayan itu sudah menaiki anak tangga beberapa langkah lagi ia akan sampai di tujuan.
" Oh, apa ini minuman untuk Nona Emine??".Tiba-tiba Fika datang menghampiri pelayan itu.
" Ini untuk pengantin wanita Nona."
Balas pelayan itu karena tidak tau nama Emine.
" Oh iya. Biar aku saja yang mengantarnya. Kebetulan aku juga akan menemui memplai wanitanya. Kau kerjakan tugas yang lainnya!!"
Fika mengambil alih nampan itu.
" Baik Nona."
Pelayan itu pergi.
Fika membawa minuman itu tanpa rasa curiga karena memang tidak ada yang mencurigakan dari cairan berwarna orange itu. Ia melanjutkan langkahnya setelah sempat berhenti di beberapa anak tangga.
Dari ujung anak tangga, belok kiri, sekitar 10 meter itu adalah ruangan Emine.
Fika sudah bisa melihat ruangan Emine. Dan, seorang anak kecil baru saja keluar ruangan itu dengan membawa anak kucing kemudian berlari tanpa memperhatikan jalan.
BRUKKKkk,,,,,!!!
TEMPYANKKkkkk,,,,,!!!
Cansu tidak sengaja menubruk Fika hingga minuman terjatuh ke lantai sedangkan anak kucing yang digendong Cansu terlepas. Tidak ada yang mendengar suara gelas pecah itu karena ada suara musik yang mentupinya.
" Kakak, maafkan aku!! Aku tidak sengaja."
Cansu anak itu merasa bersalah. Ia meminta maaf sembari menahan tangisannya karena takut dimarahi.
" Tidak apa-apa Cansu!! Jangan menangis!! Kau tidak apa-apa kan?? Apa ada yang terluka? Sudah,sudah!! Itu hanya minuman."
Fika lebih menghawatirkan Cansu dan mencoba menenangkannya.
" Sudah jangan menangis lagi!! Ayo turunlah!! Dibawah ada banyak teman mu."
Fika meminta Cansu turun kebawah karena disini ada banyak pecahan kaca, tidak aman untuk anak itu.
Cansu mengangguk kemudian pergi dengan mengucek-ngucek matanya. Fika menatap tubuh Cansu memastikan dia sampai dibawah.
" Huffttt,,,," Fika sidikit membuang nafas karena harus membersihkan pecahan gelas ini.
Baru saja ia menoleh kebawah sudah dikejutkan dengan anak kucing yang tergolek di lantai dengan mulut berbusa. Tentu Fika sangat terkejut bahkan sampai menutup mulutnya. Anak kucing itu mati seketika di dekat minuman berwarna orange yang tercecer disana.
*
*
*
Di like ya!! Hiks,,, like akhir²ini gak ada yang tembus 100. Hiks...
Untuk Visualnya banyak yang bilang gak cocok ya,,, wkwkwkwk...
Pemikiran kita tak sama:v
Untuk Visual masih author revisi kembali ya.. Nanti di cek-cek lagi visual barunya!!
__ADS_1
Tapi kalau berhasil juga ya,,,, Soalnya gak jamin naskah yang ada gambarnya bisa terkirim lancar,,,car,,,car,,,car,,,!!