Wanita Seribu Luka

Wanita Seribu Luka
Duka yang tak terduga.


__ADS_3

Di waktu pagi menjelang siang ini Okan dan Emine sedang dalam perjalanan menuju rumah Fifan, ibu Emine. Suasana di dalam mobil hening. Masing-masing fokus dengan tatapan dan fikiran mereka sendiri-sendiri.


_- Apa yang sedang Emine fikirkan? Seserius itukah hingga matanya tidak berkedip? Sial,,, pasti dia sedang memikirkan untuk menghukum ku. Baiklah,,, jika dia mulai bicara maka aku hanya perlu berkata maaf. Jangan bicara yang lain!! hanya perlu bilang " maaf " atau dia akan semakin marah. _ - Begitu Gumam pria yang sedang duduk di kursi kemudi.


" Apa kau bermain-main dengan wanita itu??"


Tiba-tiba Emine membuka suara. Jujur pertanyaan ini mengganggunya dari semalam.


" Maaf." Jawab Okan cepat.


Padahal ia belum mencerna penuh pertanyaan Emine.


" Apa???? Jadi kau benar bermain-main dengannya.?? Aku bunuh kau. Brengsek,,, Pria brengsek. Mati kau. Enyahhh dari ku." Emine langsung mengamuk di dalam mobil, ia memukul-mukul Okan hingga mobil yang dikemudikannya oleng.


" Ahhh,,, sakit , sakit. Hentikan!! Jangan teruskan!! Mobil kita bisa menabrak." Okan sedikit meringkukan badannya karena menahan serangan Emine.


Huft,,,,,, Menghela nafas lega saat Emine berhenti memukul.


_- Aishhh,,, dasar bodoh,,,!!!_- Okan mengatai dirinya sendiri.


Hiks,,,Hiks,,,,


Okan spontan menoleh ke sumber suara. Emine menangis. Okan kasihan tapi ingin tertawa. Ia menghentikan mobilnya di tepi jalan.


" Kenapa berhenti?? Hiks,,,Kau tidak ingin menemui ibu ku kan? Kau ingin kabur. Brengsekkk,,, aku tenggelamkan kau ke dasar laut kalau berani berhianat. Hiks,,," Wanita hamil memang sangat sensitif.


Okan malah tersenyum dengan sikap Emine yang menurutnya cukup menghibur meski di katai brengsek.


Okan menarik lembut lengan Emine kemudian memeluknya. Emine tidak membrontak malah merasa nyaman dengan perasaan takut pria ini akan benar-benar meninggalkannya.


" Berhentiah bersikap menggemaskan seperti ini atau aku akan mencubit pipi mu hingga bengkak." Ucap Okan tepat disamping telinga Emine.


Emine langsung mendorong Okan karena merasa kesal. Menggemaskan dari mananya jelas-jelas ia sedang marah. Begitu fikir Emine.


Melihat wajah Emine yang cemberut semakin membuat Okan ingin tertawa. Namun jika dirinya tertawa ia yakin akan langsung di tendang. Jadi ia tahan tawannya lalu beralih meraih pipi Emine dengan kedua tangannya dan mengusap air mata yang terlihat menjengkelkan karena telah memperburuk wajah cantik Emine.


" Aku tidak bermain-main dengan wanita itu sayang. Dia hanya mengambil dompet dan ponsel ku lalu pergi. Percayalah!! Aku bukan pria brengsek." Meyakinkan dengan tatapannya yang memabukan.


" Aku tahu."


" Tahu apa?"


" Aku tahu kau dan wanita itu tidak melakukan hal macam-macam. Seperti katamu dia hanya mengambil dompet dan ponsel mu saja."


" APA???? jadi kau sudah tau tapi tetap menanyakannya?" Okan kesal.


" Kenapa kau bertanya jika sudah tahu?" Terlihat tidak senang karena merasa di kerjai.


" Aku juga tidak mengerti. Aku hanya ingin memukul mu seperti tadi. Rasanya melegakan setelah memukul dan mencaci mu. sepertinya Ini bawa'an bayi." Bela Emine wajahnya nampak lesu takut Okan marah.


" Bawa'an bayi?"


" Iya."


" Hemmm,,,, Kau senang?" Hati Okan melunak saat mendengar bayi.


Wajah kesalnya berubah.


Emine langsung tersenyum cerah. Sepertinya Okan tidak marah padanya. Okan ikut tersenyum karena bisa membuat istrinya bahagia meski hampir tadi ia babak belur. Ia kembali mamacu mobilnya di jalan raya.

__ADS_1


" Kenapa bawa'an bayinya sangat menyebalkn? Seharusnya dia membuat mu haus bermain ranjang dengan ku bukannya malah membuat mu ingin mencaci dan memukuli ku. Lagi pula aku ini ayahnya. Apa anak itu kira aku musuhnya." Protes Okan


" Hahahaha,,, Sepertinya anak ini lebih berpihak pada ibunya bukan ayahnya. Dia tahu ayahnya nakal hanya ingin bermain ranjang." Ledek Emine


" Hemmmm...."


_- Heii nak, ini ayah mu. Dengarkan ayah!! Buat ibu mu itu terbakar gairah saat melihat ayah bertelanjang dada di depannya!! Ayolah,,, ini ayah mu, bantu ayah!! Sudah sangat lama ayah tersiksa menahan ini karena ibumu itu selalu mengelak. Kau anak manis pasti mau membantu ayah kan? Oh iya,,, Jangan juga membuat ibu mu itu mengidam yang aneh-aneh!! Kau mengerti??! _- Gumam Okan pada anaknya.


30 menit kemudian mobil sudah memasuki area perumahan. Ini pertama kalinya Okan datang kemari. Ia terlihat mengernyitkan dahinya melihat rumah-rumah disini.


Emine turun dari mobil, Okan mengikutinya.


" Ini rumah mu?" Tanya Okan menatap bangunan yang membuatnya merasa iba.


" Iya, ayo masuk!!" Ajak Emine namun belum melangkah Emine sudah mendengar suara keributan. Okan juga mendengarnya.


Tempyankkkk,,,,,, Suara dari dalam rumah.


Perasaan Emine mulai was-was mendengar suara sesuatu pecah. Ia langsung berlari kedalam rumah mendahului Okan.


" Ayahhh,,,, lepaskan ibu!! Hiks,,, Lepaskan ibu!!" Cansu memeluk kaki Dicle erat tidak mau melepaskannya.


" Berhenti memanggilku ayah!! Aku bukan ayah mu. Pergi sana!!" Dicle menghempaskam kakinya kuat hingga


tubuh kecil Cansu terlempar tepat di depan Emine dan Okan yang berdiri di depan pintu.


" Cansu,,,," Emine langsung merangkul tubuh kecil yang sudah bergemetar hebat itu dengan suara isak tangisnya yang menyayat hati Emine.


Dicle terkejut dengan kedatangan Emine. Ia tidak menduga wanita ini datang kemari. Melihat Okan juga ada bersamanya disini membuat Dicle mulai panik.


" Bajing*n." Kata kasar itu terlontar secara alami lalu Okan langsung berlari ke arah Dicle kemudian,,,,


Pria itu tersungkur di lantai ingin bangkit kembali namun terlambat karena Okan sudah duduk di atas tubuhnya dan menghajarnya habis-habisan.


Emine mendekapkan wajah Cansu di dadanya agar ia tidak melihat adegan kekerasan ini.


Dicle tidak bisa berkutik, Okan terus memukul wajah Dicel hingga mulut dan hidungnya berdarah sedangkan matanya lembam.


Emine sedikit tidak menyangkan Okan kehilangan kendali. Ia mengira Okan hanya akan menghajarnya dengan beberapa pukulan ternyata tidak seperti yang ia fikirkan.


" Okan hentikan!! Kau bisa membunuhnya nanti." Teriak Emine kencang.


Teriakan Emine langsung menyambar di telinga Okan. Ia langsung tersadar kemudian melepas kerah baju Dicle yang ia cengkram dengan kasar. Tubuh Dicle lunglai tak berdaya dengan suara ringisannya.


Kekerasan sudah berakhir, Emine membebaskan wajah Cansu dari dekapanya. ia menatapnya lekat dari ujung kaki sampai ujung rambut.


Tanpa komando air mata Emine menetes. Terlihat di beberapa bagian tubuh Cansu yang tak tertutupi oleh kain ada bercak warna biru di sana. Sedangkan wajah Cansu lecet entah karena apa yang jelas ini perbuatan Dicle.


" kakak, ibu ada di dalam kamar. Selamatkan dia!! Hiks,,," Cansu masih memikirkan ibunya walau tubuhnya menahan sakit karena memar.


Okan yang mendengar permintaan Cansu langsung berlari tanpa intruksi ke dalam kamar.


" Tenang sayang!! Tidak akan terjadi apa-apa pada ibu. Jangan takut!! Maafkan kakak. Maafkan kakak sayang." Emine tetap bersama Cansu karena Okan sudah bergerak menolong ibunya.


Pintu kamarnya di kunci. Okan berusaha mendobraknya beberapa kali hingga berhasil terbuka. Mata Okan langsung tertuju pada wanita yang berbaring di kasur. Namun wajah wanita itu tertutupi oleh bantal.


Perasaan cemas mulai muncul melihat kondisi Fifan seperti ini. Okan berharap apa yang ia fikirkan tidak terjadi. Segera ia mengangat bantal itu. Terlihat Fifan seperti sedang tertidur pulas. Sangat tenang hingga keribuatan di laur tidak menembus telinganya.


Entah kenapa tangan Okan gemetar. Seperti sudah di tuntun ia langsung mendekatkan punggung jari telunjuknya ke hidung calon mertuanya itu. Tidak ada udara yang keluar, itu yang Okan rasakan.

__ADS_1


Ia menurunkan tangannya meraih pergelangan tanganya mengecek yang biasanya berdenyut disana tapi Okan tidak merasakan apa-apa.


Kembali pria itu keluar menemui Emine tanpa seorang wanita yang seharusnya ia bawa.


Kata-kata yang tepat berusaha ia pilih agar nantinya tidak membuat Emine terlalu syok.


" Okan, Diaman ibu ku?" Tanya Emine.


Namun sayangnya Okan tidak mampu menemukan kata-kata itu. Ia pun terdiam sebentar untuk meyakinkan dirinya mengatakan bahwa Fifan sudah pergi.


" Kenapa diam? Ibu ku ada di dalam kan? Kenapa tidak membawanya keluar??" Kali ini Emine berbicara sedikit menaikan suranya.


" Tabahkan hati mu!! Ibu mu sudah pergi. Iklaskan dia!!" Jawab Okan dengan wajahnya menujukan duka cita yang mendalam atas kepergian ibu Emine.


" Tidak. Tidak mungkin. Itu tidak mungkin." Seakan yang ia dengar itu mustahil Emine menggelang kemudian lari ke dalam kamar.


Sadar dirinya tidak aman, Dicle merangkak ingin kabur namun Okan menendang perutnya hingga kembali teringsut. tangan dan kaki Dicle kemudian diikat setelah itu baru Okan melapor ke rekan lainnya telah terjadi pembunuhan di sini.


1 mobil polisi dan 1 mobil ambulance meluncur ke TKP.


Sedangkan di dalam Emine sudah hilang kendali. ia mengguncang-guncang tubuh ibunya keras berharp ibunya bangun namun sayangnya mati suri hanya terjadi padanya tidak terjadi pada Fifan.


" Ibu,,,bangun!! Ibu aku datang. Ibu,,, aku mohon bangunlah!! Hiks,,,, ibu,,,,Maafkan aku!! Maafkan Emine ibu,,,!!" Entah sudah berapa kali kalimat itu keluar dari mulut Emine.


Cansu ingin mendekat tapi Emine yang menangis histeris membuatnya takut. Ia pun berdiri di balik pintu dengan wajah pucatnya.


Anak kecil itu mencoba mencerna apa yang sedang terjadi di sini. Pertama ibunya tidak mau bangun, kedua kakaknya terus menangis.


Okan membiarkan Emine melampiaskan semua kesedihannya. Ia tahu bagaimana perasaan Emine saat ini. Menangis, berteriak, hanya itu yang bisa membuatnya lebih baik. Okan berdiri di samping Cansu untuk mengantisipasi dikala anak kecil itu bertanya apa yang terjadi.


Dan benar saja Cansu langsung bertanya dengan matanya terlihat sangat polos. Okan sampai tidak tega jika nanti matanya itu ternoda dengan air mata.


" Ibu ku tidak apa-apa kan? Tadi dia menyuruhku untuk kabur saat ayah mengamuk. Dia bilang akan menyusul ku tapi ibu tidak datang-datang."


Okan berjongkok menyetarakan tubuhnya. Pertanyaan itu sudah 2 kali ia dengar. Pertama dari Meli adiknya saat mereka kecil dulu kemudian hari ini Cansu.


" Cansu senang tidak kalau ibu Cansu di sayang Tuhan? " Tanya Okan menggenggam erat adik ipar kecilnya. Cansu kecil mengangguk Okan pun tersenyum.


" Kalau senang Cansu harus iklaskan ibu karena Tuhan sudah mengambilnya. Ibu bahagia di sana bersama Tuhan."


" Kenapa di ambil? Cansu tidak punya ibu lagi." Anak itu mulai mau menangis lagi.


" Karena Tuhan sayang ibu. Katanya tadi Cansu senang ibu di sayang Tuhan. Kalau Cansu menangis nanti Tuhan marah dan tidak akan menyayangi ibu lagi." Okan berusaha membuat anak kecil itu percaya ucapannya.


" Tapi kakak menangis." Menunjuk Emine dengan matanya.


" Kakak mu itu bodoh. Dia tidak tahu Tuhan akan marah jika ia menangis. Ayo,,, sekarang Cansu dekati kakak Emine dan katakan apa yang tadi aku katakan!!" Seru Okan.


Cansu kembali mengangguk. Ia percaya ucapan Okan. Cansu membranikan diri menyentuh Emine dan mengatakan apa yang Okan katakan.


Setelah mendengar ucapan Cansu Emine langsung melirik Okan tau bahwa pria ini adalah sumber dari kata-kata Cansu. Emine tentu tidak mudah ditenangkan dengan kata-kata itu tapi ia sadar bahwa masih ada Cansu yang lebih membutuhkannya. Ia pun menghapus air matanya berhenti menangis kemudian memeluk Cansu erat.


*


*


*


Mohon ditembusin like +100nya ya di ep ini sama ep sebelumnya!!🙏

__ADS_1


__ADS_2