
Devisi bagian kasus kriminal menerima bantuan dari tim kusus yang dikirimkan langsung oleh Jendral Sam untuk menangkap pelaku pembunuhan berantai yang sudah meresahkan warga Turki, Istanbul selama 1 tahun lebih. Kasus ini sekarang berada dibawah kepemimpinan Jendral Sam. Semua informasi yang terkait dengan pembunuhan ini harus dilaporkan kepada Jendral Sam termasuk keberadaan Emine di Belgia sebagai tersangka duga'an keterlibatan atas tindak kasus kriminal.
Rapat mendadak diadakan Okan untuk merundingkan tindakan yang akan diambil selanjutnya. Semua polisi yang terlibat sekarang berada di dalam ruang rapat dengan Okan sebagai ketua duduk di kursi paling ujung.
Ada 8 personil dalam rapat itu dengan 5 personil dari tim kusus, 3 personil utama yaitu Okan, Tiras dan Murat.
" Kita sudah meminta bantuan pada pihak kepolisian Belgia untuk melacak keberadaan Emine. Tempat yang dikunjungi Emine saat itu adalah Taman Brussels. Sekarang polisi Belgia fokus pada daerah itu. Kita akan terus memantau informasi terbaru yang akan dikirimkan langsung pada kita. Kita butuh satu orang yang ahli dalam bidang IT, siapa diantara kalian yang merasa mampu?" Tanya Okan sebagai pemimpin rapat.
5 personil dari tim kusus saling memandang satu sama lain.
" BRAKKKK,,,," Okan memukul meja kaca dengan telapak tangannya membuat semua orang terkejut dan berhenti saling memandang karena semua mata sekarang fokus pada Okan yang menatap mereka tajam. Okan marah dan kesal melihat anak buahnya tidak ada yang sigap. Okan tidak suka bertele-tele, jika tidak ada yang mampu dalam bidang IT maka katakan tidak!!! Jika ada yang mampu maka harus sigap menawarkan dirinya!! Bukannya malah saling tatap membuang-buang waktu.
Aura dingin Okan sudah mulai muncul, Murat dan Tiras sudah terbiasa dengan itu, mereka hanya diam saja melihat sikap Okan.
" Aku tanya sekali lagi, siapa disini yang mampu di bidang IT?" Tanya Okan menyambung dengan suara penuh penekanan dan sorot mata mengintimidasi.
Salah satu anggota rapat angkat bicara.
" Saya pak." Ucapnya tidak terlihat takut setelah menerima gebrakkan. Seorang polisi memang sudah ditanamkan untuk tidak boleh takut dan jika pun takut harus disembunyikan.
" Kau bertanggung jawab untuk memantau keadaan dan menerima informasi yang akan kita terima nanti!!" Okan tidak ingin membuang-buang waktu dengan marah atau memberi ceramah pada salah satu anggota yang tidak sigap. Ia melewatkan saja dan lanjut ke pembicaraan berikutnya.
" Jika Emine berhasil ditemukan, tim polisi Belgia akan memasang pelacak yang akan terhubung pada sistem pemantauan kita. Karena itu posisi Emine akan bisa kita pantau sekaligus pergerakannya. Kemungkinan besar Emine akan kembali ke Turki, aku sudah menaruh intel di setiap bandara. Seandainya Emine kembali ke Turki dan kita berhasil melacak landasan pesawatnya, kita akan langsung bergerak dan menangkapnya." Ucap Okan memberi rancangan rencana.
" Jika dia kembali mencoba untuk kabur, lumpuhkan saja dia!!!" Ucap salah satu peserta rapat.
" TIDAK!!! tidak boleh ada yang melukai Emine!! jangan sekali pun kalian berani menarik pelatuk pistol kalian!! Kita hanya akan menaku-nakutinya!! Ini adalah perintah dari ku!!!" Ucapnya tegas mengancam. Okan tidak bisa membiarkan Emine terluka.
Seketika suasana jadi berubah, semua orang bingung dengan jalan pikir Okan. Sikap Okan begitu aneh, sudah menjadi hal biasa bagi polisi untuk melumpuhkan seorang penjahat yang melawan atau mencoba kabur tapi kali ini penjahatnya tidak boleh dilukai hal ini benar-benar membuat para anggota rapat yang lainnya bingung kecuali Tiras dan Murat. Tiras bisa melihat ada perasaan yang disimpan Okan untuk Emine lewat sikap Okan kali ini yang terang-terangan menjukan kekawatiran dan keperduliannya.
Tiras memainkan pulpen yang ada di tangannya dengan rasa cemas dan takut akan terjebak dalam kisah cinta segitiga. Sedangkan Murat hanya bisa menghela nafas melihat sahabatnya sepertinya telah jatuh kedunia percintaan untuk keduakalinya.
" Lalu bagaimana jika Emine tidak kembali ke Turki?" Tanya salah satu dari anggota tim kusus menanyakan langkah jika terjadi kendala ini.
" Kita yang akan pergi ke Belgia." Jawab Okan sebagai penutup rapat pagi itu.
Semenjak Emine menghilang, pembunuh berantai juga tak pernah menunjukan batang hidungnya dan tidak lagi membunuh korbannya. Hal itu semakin menguatkan duga'an bahwa menghilangnya mereka berdua memiliki hubungan. Kemungkinan Pembunuh itu kabur bersama Emine ke Belgia. Itulah yang ada diotak polisi sekarang ini.
***
Hari ini Emine baru pulang dari rumah sakit setelah melakukan cek up ditemani Ozgur. Di dalam mobil Emine sesekali menatap Ozgur tajam dengan rasa kesal mengingat kejadian di kamarnya. Ozgur hanya bisa menelan ludah penuh ketakutan melihat sorot mata Emine dan Ozgur sudah siap lompat dari dalam mobil jika tiba-tiba Emine menyerangnya.
" Ya,,,!! aku peringatkan pada mu untuk menghapus memori tentang kejadian hari itu!! Jangan pernah mencoba untuk membayangkan apa yang kau lihat!! jika kau berani membayangkan ku hari itu dengan otak kotor mu bersiaplah *SWISSSSS,,,,,, * untuk kembali ke neraka!!" Emine mengancam Ozgur dengan pisau lipat diarahkan ke wajahnya dari samping. Ozgur semakin berkeringat dingin harus menerima ancaman dari kesalahan yang bahkan tidak ia buat.
" Oooo,,,,itu,,itu,,, dia Meli. Kenapa dia? berhenti,, berhenti!!" Ucap Emine kaget melihat Meli disisi jalan yang sepi dikelilingi segrombolan gadis seusia dirinya. Ozgur membanting stir menepi.
Terlihat Meli berusaha menerobos para gadis yang menghalangi jalannya namun para gadis itu malah mendorong Meli keras hingga terjatuh ke bawah. salah satu gadis itu menyiram Meli dengan air tapi Meli tidak melawan. Meli menerima saja perlakuan mereka dan kembali mencoba pergi dari sana namun tidak bisa.
" YAAAAA,,,,,,," Teriak Emine dari sebrang jalan mengalihkan semua pandangan kearahnya.
Para gadis itu menatap kearah Emine yang sedang berjalan pincang dengan tatapan tidak suka. Ozgur dan Emine segera membantu Meli yang sudah basah kuyup untuk berdiri. Meli merasa malu karena Emine melihatnya dalam kondisi memalukan seperti ini.
" Apa yang kalian lakukan padanya?" Tanya Emine marah dengan nada suara yang masih bisa ia kontrol.
" Ini bukan urusan mu." Ucap seorang gadis berambut kriting jagung sepertinya ketua geng dari gadis-gadis ini.
__ADS_1
" Ini urusan ku." Ucap Emine mulai emosi dengan gadis sombong di depannya.
" Aku tidak perduli." Gadis itu menarik tangan Meli kasar.
" Aghhhhhhhh,,,,,," Emine melipat tangan gadis itu ke atas hingga meringis kesakitan lalu mendorongnya sampai terjatuh. Melihat ketuanya diserang, 4 orang gadis lainnya melakukan perlawanan. Hanya 4 cabe-cabe'an, tentu Emine bisa mengalahkan mereka dengan sekali jentikan. Ozgur hanya diam menonton bagaimana para gadis itu akan berakhir dengan benjolan dikepala mereka.
" Bruk,,Bruk,,Bruk,,Bruk,," Emine menyodok perut gadis-gadis itu dengan tongkatnya lalu " Plank,,Plank,,Plank,,Plank,," Memukul kepala mereka secara berurutan tanpa bergerak dari posisinya.
Gadis-gadis itu meringis kesakitan, ada yang memegangi perut mereka, ada yang memegangi kepala ada yang meringkuk menahan sakit. Meski serangan Emine terlihat begitu sederhana tapi bagi Meli itu luar biasa.
" Cepat pergi dari sini!!!" Ucap Emine melayangkan tongkatnya ke udara membuat para remaja itu lari seketika hilang dari pandangan.
" Kau tidak apa-apa?" Emine menatap Meli dengan rasa iba.
" Tidak. Trimakasih telah membantu ku." Ucap Meli tersenyum tapi matanya berkaca-kaca.
Emine menoleh kearah Ozgur di belakangnya lalu berjalan mendekati pria yang sedang berdiri santai dengan melipat tanganya di depan perut. Ozgur masih takut melihat sorot mata Emine apalagi sekarang ia berjalan kearahnya membuat Ozgur spontan menegapkan tubuhnya dengan rasa was-was.
Tidak seburuk yang dipikirkan Ozgur, ternyata Emine hanya mengambil jas yang ia kenakan lalu menutupi tubuh Meli. Emine mengajak Meli pulang kerumah Velief.
Sesampainya di rumah, Meli mengganti pakaiannya dengan pakaian yang dipinjamkan Emine untuknya. Satu set setelan pakaian santai terlihat kebesaran di tubuh Meli, Emine jadi tertawa melihat Meli yang baru keluar dari ruang ganti.
" Hahaha,,,," Suara tawa Emine membuat Meli tidak percaya diri dan ingin kembali masuk ke ruang ganti. " Tidak apa-apa,,, kau terlihat imut. sumpah kau imut sekali." Ucap Emine masih dengan tawanya mencoba meyakinkan Meli.
" Lalu kenapa kau tertawa? " Meli mulai kesal.
" Maafkan aku!!" Emine beranjak dari tempat tidurnya lalu menarik tangan Meli membawanya duduk di sofa. " Tubuhmu lebih kecil dari ku. Harusnya aku pinjamkan pakaian Bibi putu saja." Ucapnya sambil melipat ujung lengan baju kemeja yang menenggelamkan jari jemari Meli.
" Apa kau sedang meledek ku hah?" Meli semakin kesal, jelas-jelas bibi putu memiliki ukuran tubuh tripel X. Seperti apa jadinya jika Meli memakai pakaian bibi putu? tentu Emine akan berguling-guling sampai terjun dari tangga menertawakan dirinya.
Besok adalah hari Emine pulang ke Turki. Meli ingin menghabiskan waktu bersama Emine dan ingin lebih mengenalnya lagi. Meli pun mengajak Emine kesuatu tempat.
Bibi Putu sibuk mempersiapkan makanan ringan, roti, susu, air, makanan kaleng dan yang lainnya kedalam keranjang piknik. Pagi ini Emine dan Meli mendadak akan melakukan piknik diluar.
" Ini Nona, Bibi sudah masukan semua makanan kesukaan Nona." Ucap bibi putu dengan senyum cerah ketika Emine dan Meli mendatanginya di dapur.
" Trimakasih Bi. aku jadi tidak enak sudah merepotkan bibi." Ucap Emine dengan ekspresi tidak enak hati mengambil alih keranjang makanan itu dari bibi putu lalu diambil alih lagi oleh Meli.
" Aishhhh,,, ini bukan pekerjaan sulit seperti merakit bom, hanya memasukan makanan kedalam keranjang. Lagian Bibi senang kalau nona senang. Jadi bersenang-senanglah di sana agar bibi disini juga ikut senang." Ucap Bibi putu dengan wajah khas cerianya.
Emine jadi berkerut kening mendengar ucapan Bibi putu yang berbelit-belit tapi masih mampu untuk dicerna. Emine jadi tersenyum haru oleh perkataan bibi putu. Semua orang di rumah ini sangat menyayangi Emine.
" Kalau begitu aku pergi dulu Bi,,," Ucap Emine berpamitan. Bibi putu membalas melambaikan tangannya kepada 2 gadis yang melangkah pergi menuju pintu keluar.
Ozgur menjadi sopir dari 2 wanita yang sekarang duduk di kursi penumpang.
" Meli. tempat apa yang kau rekomendasikan ini? Ini bukan tempat piknik." Tanya Ozgur bingung dan penasaran melihat alamat tujuan yang sudah disetel di google maps mobil.
" Memang bukan tempat piknik, tapi tempat itu sangat cantik." Ucap Meli menatap punggung kepala Ozgur.
" Tapi,,,~~~" terpotong.
" YA,,,,!! kenapa kau cerewet sekali? fokus saja ke jalanan! Jika sampai menabrak mobil di depan, aku lempar kau ke lubang buaya." Semenjak kejadian itu, Emine sekarang begitu sensitif kepada Ozgur. Setiap yang dilakukan dan dikatakan Ozgur selalu salah di mata Emine.
" Aku rasa aku tidak berpidato tadi, sssssttt,,,, aku bisa gila jika terus seperti ini." Gumam Ozgur pelan.
__ADS_1
Butuh satu setengah jam untuk sampai ke lokasi piknik. Tempat ini semacan pedesaan kecil yang terletak di Brussels. Bisa dilihat masih ada pemandangan alam disini.
" Ini kebun coklat. apa kita akan piknik disini?" Tanya Emine memandangi kiri kanan hamparan kebun coklat yang luasnya sekitar 5 hektar.
" Bukan. Kita akan melewati kebun coklat ini untuk menuju lokasi. Ayo,,,!!!" Meli langsung saja memandu Emine dan Ozgur.
" TUAN HELIK,,,!!! AKU PINJAM JALAN." Teriak Meli kepada lelaki tua yang sedang sibuk menggali tanah di bawah pohon coklat.
" Ya,,Ya,,Ya,,!! Meli aku sudah menaruh makanan ikan di tempat biasa." Balas Helik berteriak tanpa menyempatkan melihat Meli dan terus menggali tanah.
" Oke." Meli berlari ke salah satu pohon dan mengambil kantong plastik yang tergantung disana.
Emine dan Ozgur menyimpulkan bahwa Meli sudah sering kesini karena pemilik kebun bisa mengetahui Meli yang memanggilnya hanya dengan suaranya tanpa melihat Meli.
Mereka kembali melanjutkan perjalanan. Tanah di kebun ini lembab dan sedikit licin, Emine harus berhati-hati melangkah.
" SWINGG,,,Ahhhh,,,," Emine terpleset di sebuah gundukan tanah yang sangat licin. Meli yang berjalan di depan sontak menoleh kebelakang dengan rasa cemas. Sepertinya menoleh ke belakang bukanlah hal yang tepat dilakukan oleh Meli. Pasalnya dia melihat Emine dan Ozgur saling terjebak dalam pandangan romantis mereka. Tubuh Emine yang hampir terjatuh di sangga oleh tangan Ozgur dan tatapan mereka membeku seperti sebuah adegan yang ada di drama-drama korea.
" Ehemmmm,,,, Ehemmmm,,, " Meli berdehem sengaja membubarkan pose mereka.
Emine dan Ozgur kelabakan tingkat dewa dengan rasa malu menjalar keseluruh sel saraf.
" Tanahnya licin sekali. Aku hampir terjatuh." Jelas Emine kepada Meli dengan senyum gugup.
Meli melihat pipi Emine berubah bersembur merah merona karena malu.
".Ya ya... aku tau kau hampir terpleset." Ucap Meli dengan senyum menertawakan pipi merah Emine. Meli berjalan mendekati Emine lalu berbisik " Jaga langkahmu!! Jangan terpleset lagi!! atau pipimu akan semakin merah seperti udang goreng." Meli sengaja menggoda Emine, ia puas melihat Emine diam mematung setelah mendengar ucapannya.
" TUAN BODYGUARD TAMPAN, TOLONG JAGA NONA EMINE!! TANGKAP TUBUHNYA JIKA TERPLESET LAGI ATAU ORANG LAIN YANG AKAN MENANGKAPNYA" Teriak Meli terus berjalan meninggalkan mereka berdua.
Emine mengepal tangannya kesal, lalu berbalik ke arah Ozgur dengan mata melotot.
" YA,,,,,!!!! Kenapa kau menangkap ku? Apa kau sengaja mengambil kesempatan dalam kesempitan hah? Kau ingin aku laporkan pada kakak Velief karena telah melakukan pelecehan seksual pada ku hah,,,?" Teriakan Emine begitu nyaring hingga memecah gendang telinga.
Ozgur tidak tahan lagi dengan sikap labil wanita kesayangan Nyonyanya.
" Kapan aku melakukan pelecehan seksual? seharusnya kau berterimakasih padaku karena telah menolong mu!!" Ucap Ozgur juga ikut kesal sampai tidak sadar berbicara nonformal kepada Emine.
" Pertama, kemarin kau sudah melihat tubuhku. Kedua, tadi kau menyentuh tubuh ku. Bagiku itu adalah pelecehan seksual secara tidak langsung. Berhati-hatilah!! jangan sampai membuat ku kesal lagi!! Jika tidak,,,,,, ( ----- ) " Emine mengancam Ozgur lagi dengan meletakan jari telunjuk di leher lalu menariknya memberi kesan membunuh dengan menggorok leher. Emine pergi begitu saja karena wajah Ozgur hanya akan menambah presentase kesalnya.
Kali ini Ozgur tidak takut dengan ancaman Emine, ia hanya menyilangkan matanya menatap Emine malas. Sikap Emine sangat kekanak-kanakan tidak cocok dengan wajahnya yang terlihat dewasa sekaligus aksinya yang bar-bar saat menjalankan misi.
" Katakan saja kau takut jika nanti ketampanan ku ini membuatmu jantuh cinta padaku Nona.!!" Teriak Ozgur kepada Emine yang tubuhnya hampir hilang ditelan gundukan tanah.
" SWISSSSS,,,,, GEDEBRUKKK,,," Satu buah batu besar sebagai balasan dari Emine. Batu itu melayang di udara lalu jatuh di tanah hampir mengenai kepala Ozgur. Untung saja Ozgur sudah tau isi kepala Emine yang akan melemparinya.
*
*
*
*
Ingt Guys sumbangkan jejak kalian biar author tambah semangat nulis next ep!!
__ADS_1
Trms.