Wanita Seribu Luka

Wanita Seribu Luka
Dikerjai.


__ADS_3

Emine menjatuhkan tubuhnya di atas kasur masih dengan gaun pengantinnya.


Hari ini sangat melelahkan. Sekujur tubuhnya terasa pegal.


Melihat Emine terkapar seperti itu seperti melihat ayam goreng yang menggoda siap untuk di santap.


Dalam hitungan detik Okan sudah berada di atas tubuh Emine dengan tangannya sebagai sanggahan.


Merasakan ada pergerakan Emine pun membuka matanya yang tadi sempat di tutup.


Dilihatnya Okan sudah seperti singa kelaparan.


" Sayang, aku sangat lelah. Jangan sekarang!! Besok saja ya!!"


Minta Emine.


Ia memperlihatkan ekspresinya yang dibuat lesu.


" Aku maunya sekarang."


Okan langsung menidih leher Emine.


Emine pun sempat bergeliat geli.


" Okan, sungguh aku lelah. Aku tidak berbohong."


Emine mendorong bahu Okan ke atas.


Memberikan kode dengan sikapnya ini bahwa ia tidak ingin melayani suminya untuk sekarang.


" Kau sungguh tidak mau meski aku meminta? Aku sudah menahannya selama ini. Kau selalu menghindar dari ku dan aku selalu sabar dan sekarang kau masih


sama."


Sepertinya Okan salah paham.


Ia terlihat mulai kesal dan marah.


" Bukan itu maksud ku Okan. Baiklah, baiklah. Lakukan saja apa yang kau inginkan!!."


Emine memasrahkan tubuhnya.


Ia tidak ingin ada keributan nantinya.


" Sudahlah!! Aku tidak ingin lagi. Lupakan saja!! Jika kau memang lelah tidurlah!!"


Okan bangun membebaskan Emine kemudian duduk di sisi ranjang.


Pria ini membuka jasnya dengan perasaan yang kecewa.


Padahal Okan sudah membayangkan malam yang akan ia habiskan tapi penolakan Emine membuat moodnya hancur.


" Maaf maaf sayang. Baiklah ayo kita lakukan sekarang!! Jangan marah seperti itu!! Aku mohon."


Emine merayu Okan. Ia menggelantungi lengan pria itu dengan maja


" Aku ingin mandi. Aku gerah."


Okan melepaskan tangan Emine kemudian pergi meninggalkannya.


_- Aihhhh,,, seperti anak kecil saja. Sekarang aku harus membujuknya agar tidak marah. _-


Emine mengikuti Okan ke kamar mandi namun Okan sudah ada di dalam dan mengunci pintunya. Suara sower pun terdengar keras.


Tok,,,Tok,,,Tok, ,,,!!!


Emine mengetuk pintu kamar mandi.


" Ada apa? Kenapa tidak tidur? katanya lelah??"


Respon Okan dengan nada sinis.


" Sayang, apa kau yakin tidak mau melakukannya malam ini?"


Goda Emine dari luar.


" Kau bilang lelah."


" Itu tadi sekarang sudah vit kembali."


" Pergilah!! Sudah aku bilang tidak ingin lagi."


Okan mengusir Emine membuat wanita itu sedih.


" Kau sungguh mengusir ku di hari pertama pernikahan kita?? Kenapa kau baru menunjukkan wajah aslimu? Hiks,,, Jika aku pulang apa yang harus aku katakan pada kakek? Baiklah,,, aku pergi. "


Perlahan suara Emine tidak terdengar lagi.


" Emine. Emine kau salah paham. Bukan itu yang aku maksud. Maksud ku pergi ke kamar bukan pergi dari rumah ini. Emine,,, Apa kau masih ada di sana?? Emine,,,,"


Panggil Okan tidak mendapat jawaban.


" Aishhh,,,, Sial."


Okan mengambil handuknya cepat lalu keluar.


fikirannya Emine benar-benar pergi.


Okan membuka pintunya, benar saja Emine tidak ada. Ia keluar dari ruang ganti menuju kamarnya namun tidak menemukan Emine.


Ia pun panik dalam penyesalannyan telah membuat Emine menangis tadi.


Segera Okan berlari keluar kamarnya. Tidak perduli jika nanti harus mengejar Emine ke rumah kakek tua hanya dengan handuk kecil menutupi tubuh bagian bawahnya.

__ADS_1


Okan menuruni anak tangga, langkahnya tidak lagi memperhatikan alas yang ia pijaki.


DAAAAARRRRRrrrrr,,,,,,,!!!!!!!


Emine tiba-tiba muncul dari bawah tangga mengagetkan Okan hingga pria itu sempat menyebut anak kucing, anak kucing, anak kucing begitu ucapan yang refleks keluar tanpa sadar.


" BUAHAHAHAHAHA,,,,,, Dikejar sama anak kucing? Hahahahha,,,, Pelan-pelan saja larinya sayang!! Nanti handuknya melorot loh.


Lagi pula anak kucing tidak akan menggigit mu sayang."


Ledeknya dengan tawa terpingkal-pingkal hingga memegangi perut yang terkocok seolah-olah anak dalam perut Emine ikut menertawai ayahnya.


" EMINE!!!!!"


Okan langsung menyergap Emine. Menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa terdekat. Ia tidak terima telah di kerjai.


" Berani sekali kau ya. Aku akan menghukum mu. Anak kucingnya tidak menggigit tapi aku yang akan menggigit mu."


Ucap Okan sembari menggelitiki Emine sesekali diselingi dengan ciuman di leher membuat Emine semakin tertawa histeris karena kegelian.


" Hahahhaha,,,, Okan hentikan!! Hentikan!!!" Minta Emine sampai air matanya keluar.


Okan pun menghentikannya.


" Mau lagi??"


" Tidak,tidak!! Sudah cukup!! Aku tidak kuat lagi."


Jawab Emine dengan nafas terengah engah.


Cup,,!!


Okan mengecup kening Emine sekilas.


" Jangan mengerjai ku lagi!! Aku tadi hampir kehilangan nyawa saat kau tidak ada di kamar. Aku kira kau benar-benar pergi."


" Aku tidak akan pergi jika tidak kau minta."


Balas Emine sedikir menyindir.


" Aisshhh,,,tadi maksud ku bukan seperti itu."


" Iya, iya. aku sudah tahu. Aku hanya ingin mengerjai mu. "


" Kau ini memang ingin diberi pelajaran ya ruapanya."


Okan semakin mengeratkan pelukannya, menarik tubuh Emine semakin menempel dengan tubuhnya yang telanjang hanya di tutupi dengan handuk kecil kemudian menciumnya perlahan dengan gaya bibir yang lembut membuat Emine sangat nyaman.


" Ayo kita lanjutkan di kamar!!"


Bercinta di sofa tidak cocok untuk wanita hamil, fikirnya.


" Aku ingin mandi dulu. Di buthup, aku ingin berendam di buthup."


Okan membopong tubuh Emine dengan semangat dan senyum yang bisa di artikan.


Untung saja ia sudah membeli buthup karena dulu Emine sempat memintanya.


" Kita hanya akan mandi disana!! Jangan melakukan hal yang aneh-aneh!! Kamar mandi itu untuk mandi bukan untuk hal-hal yang kau fikirkan."


Melihat senyum Okan sepertinya mengandung niat-nita tersembunyi di dalamnya.


" Hahahahaha,,,,tidak sayang. Kalau aku tidak khilaf ya."


Ucapnya saat menaiki anak tangga.


" Aissss,,,,"


Plakkk,,,,!!!


" Aowwww,,,,"


Okan dan Emine sudah berada di dalam kamar mandi. Okan mengisi bak dengan air hangat dan racikan-racikan lainnya.


Setelahnya Okan lebih dulu masuk kedalam gendangan busa itu.


" Ayo buka gaun mu!! Apa kau akan mandi dengan gaun itu?"


Perintah Okan pada Emine yang masih berdiri di sisi buthup.


" Tutup mata mu!! Jangan melihat ku!!"


" Hahahaha,,,, Lelucon apa yang kau ucapkan itu?? Aku ini suami mu. Kenapa tidak boleh melihat tubuh istri ku sendiri? Lagi pula aku sudah pernah melihatnya dan masih mengingat setiap lekuk tubuh mu itu."


Ucap Okan membuat pipi Emine bersembur merah merekah.


" Ohhh,,,ternyata kau malu. Hahahaha,,,, "


Okan menertawai Emine.


" Aihhhh,,,, Aku tidak malu."


Bantah Emine dengan pipi yang semakin merah.


" Kalau begitu cepat buka gaun mu sebelum air ini berubah dingin!!"


Seru Okan. Ia ingin melihat Emine benar-benar membuka bajunya.


" Baiklah. Akan aku buka."


Jawabnya yakin tanpa ragu meski sebenarnya ia malu.


Emine membuka gaunnya di depan Okan perlahan hingga gaun tanpa lengan itu jatuh ke bawah tidak menutupi tubuh Emine lagi. Hanya celana dalam yang masih tersisa disana.

__ADS_1


Tubuh Emine masih terlihat sama tapi hanya saja di bagian perut ada perubahan sedikit meski tidak terlalu menonjol.


Okan senang melihat perut Emine rasanya ia ingin mengelus-ngelus perut itu.


" Kemarilah!!! Cepat, cepat!!!"


Panggil Okan tidak sabaran.


Emine pun segera ikut masuk ke dalam buthup berhadapan dengan Okan.


" Apa yang kau lakukan disana??"


Tanya Okan tidak suka. Ia sudah membentangkan tangannya disisi buthup dan melebarkan kakinya untuk memberi ruang pada Emine untuk duduk di sana.


" Tentu saja berendam. Memangnya apa lagi??"


Respon Emine bingung.


" Aihhhh,,,, kau ini."


Okan menarik tangan Emine menempelkan punggung istrinya dengan dadanya.


Kedua tangannya sudah melingkar di perut Emine dan bermain lembut di sana.


" Aku tidak akan macam-macam di sini. Macam-macamnya setelah ini di ranjang. Jangan khawatir!!"


Okan mengelus-ngelus perut Emine penuh cinta.


Emine merasa nyaman dengan sentuhan itu. Sepertinya Okan sangat menantikan kehadiran anaknya.


" Aku hanya ingin membelai jagoan ku ini. Ahhh,,,,tidak terasa perut mu sudah semakin besar. Anak ayah cepatlah keluar dari perut ibu mu!!"


" Kandungan ku baru 1 bulan, masih sangat lama sayang. Tapi kenapa kau memanggilnya jagoan? Apa kau menginginkan anak laki-laki??"


Tanya Emine penasaran.


" Iya. Aku ingin anak pertama kita laki-laki."


Okan punya alasan kenapa ia ingin anak pertamanya laki-laki.


" Bagaimana kalau perempuan? Apa kau tidak suka?? Apa kau tidak akan menyayanginya??"


Raut wajah Emine berubah sedih setelah bertanya.


" Apa yang kau katakan ini? Tentu aku akan menyayanginya bahkan sangat menyanginya melebihi anak laki-laki kita nanti."


Okan membuat Emine semakin bingung akan maksud ucapannya.


" Kenapa? Kau bilang ingin anak laki-laki?"


" Aku ingin anak pertama kita laki-laki dan anak kedua kita itu perempuan."


Jelas Okan masih membuat Emine bingung.


" Kenapa?"


Tanyanya lagi.


" Karena aku ingin nantinya anak laki-laki kita bisa melindungi saudari perempuannya dan juga melindungi mu di saat nanti aku sudah tidak bisa melindungi kalian lagi."


Tangan Okan terhenti mengelus-elus perut Emine beralih memeluk tubuh itu erat.


" Apa ini? Kenapa kau berkata seperti itu? Aku tidak suka mendengarnya."


Emine memasang wajah masam.


Okan semakin mengeratkan pelukannya. Ia tersenyum melihat wajah menggemaskan istrinya.


" Pasti akan ada saatnya aku tidak bisa melindungi kalian, dan saat itu tiba anak laki-laki ku yang harus melindungi ibunya dan adiknya. "


Bagi Okan, wanita adalah makhluk lemah yang harus dilindungi. Sama halnya dengan ibu dan adiknya. Meski Okan gagal melindungi ibunya saat ia kecil dulu.


Ada cerita menyedihkan di balik meninggalkannya ibu Okan dan cerita menyedihkan tentang adiknya Meli yang hanya diketahui oleh dirinya dan Serin.


" Okan hentikan!! Omong kosong apa yang kau katakan ini? Kau menghancurkan mood ku."


Dengus Emine tidak terima Okan berbicara seolah-olah dia akan pergi jauh meninggalkannya.


" Baiklah, baiklah,,,, sayang. Jangan memasang wajah masam itu lagi!! Kau terlihat sangat jelak."


Ledek Okan.


" Hmmmm,,,, biar saja aku jelek yang jelas aku ini istri mu."


Ucapnya terlihat bangga.


" Tentu. Kau adalah istri ku tersayang meski jelek tidak apa-apa."


" Okan!!!!!"


Sekarang Emine tidak terima. Ia nampak kesal kembali. Wajahnya di buat masam lagi.


" Maaf, maaf. Aku hanya bercanda sayang. Istri ku paling cantik di dunia ini. Sungguh aku berani bersumpah. Bahkan lebih cantik dari matahari pagi yang bersembunyi malu-malu di balik gunung."


Okan mengeluarkan rayuan mautnya hingga membuat istrinya tersenyum salah tingkah.


*


*


*


Like + komen ya beb.

__ADS_1


Muachhhh😘


__ADS_2