
5 hari menjalani perawatan akhirnya Emine di izinkan untuk pulang.
Hari-hari yang dilalui sebenarnya tidaklah mudah. Emine berusaha mengiklaskan kepergian anaknya yang bahkan belum lahir. Menerima dengan lapang dada kepergian anaknya.
Emine tidak ingin tenggelam dalam kesedihan terlalu lama karena ia tahu tidak akan ada yang berubah dengan itu.
Berfikir masih ada hari esok yang harus ia jalani.
Siapa tahu suatu hari nanti Tuhan mengganti yang hilang dengan sesuatu yang lebih indah.
Tidak jarang bayangannya sewaktu hamil, dimana Okan dan dirinya sangat menantikan bayi itu terlintas di kepala saat fikiran Emine sedang kosong.
Emine hanya tersenyum mengingatnya.
Apalagi sikap Okan yang terlalu memanjakannya dulu.
" SELAMAT DATANG KEMBALI "
Sontak suara serempak di hiasi dengan terompet dan senyum ceria saat Emine masuk ke dalam rumah membuatnya kaget setengah mati.
Bagaimana tidak jika itu sangat tiba-tiba sekali di tengah sepinya rumah sewaktu Emine dan kakek tua memasuki pintu.
Ini semacam kejutan untuk menyambut kedatangan Emine.
" Selamat datang Emine."
Meli yang pertama memeluk hangat Emine kemudian di ikuti yang lainnya termasuk Cansu.
" Aku kira tidak ada orang di rumah. Kalian melakukannya dengan baik. Aku hampir masuk rumah sakit lagi karena serangan jantung."
Ucapnya mendapat gelak tawa kecil dari si pembuat kejutan diselipi dengan senyum bahagia karena sepertinya Emine sudah bisa meninggalkan kesedihannya.
" Bukankah itu terlalu jahat saat Nona pulang tapi tidak ada yang menyambut? Hari ini kita berencana untuk membuat perayaan kecil untuk Nona."
Ucap Fika antusias.
" Baiklah, terserah kalian saja!! Yang penting kalian senang."
" Kau juga harus ikut bersenang-senang!!"
Murat ikut menimpali.
" Emine baru pulang dari rumah sakit. Dia harus banyak beristirahat!!"
Seketika ucapan kakek tua mendapat sorot mata tidak suka dari semua orang.
Merasa kakek tua itu tidak sealur dengan mereka.
" Kakek, Emine sudah beristirahat di rumah sakit selama 5 hari. Aku yakin dia pasti sangat bosan. Hari ini dia butuh hiburan. Ayolah kakek!! "
Meli merajuk. Perayaan ini dibuat untuk Emine tapi tidak akan seru jika Emine malah disuruh tidur di kamar.
" Yang dikatakan Meli benar. Lagi pula perlahan aku harus mulai beraktifitas."
Emine pun setuju dengan ucapan Meli.
Karena tidak ada yang mendukungnya, kakek tua pun mengiyakan saja.
" Eh, tapi dimana kakak?? "
__ADS_1
Baru tersadar Okan tidak ada.
Orang-orang saling melempar pandangan saling bertanya lewat sorot mata mereka namun hanya gelengan dan angkatan bahu yang menjawab.
" Okan bilang pada ku dia harus menyelesaikan masalah di kantor. Selama 5 hari ini dia yang menjaga ku di rumah sakit jadi tugasnya di kantor polisi tertunda."
Semua orang hanya meng-ohkan ucapan Emine. Bagi mereka itu masuk akal. Tapi tidak dengan Murat dan Tiras. Mereka tahu, tidak ada tugas yang tertunda. Semua pekerjaan di kantor polisi sudah di atasai oleh mereka berdua selama Okan menjaga Emine.
Murat dan Tiras saling memandang sekilas. Tahu Okan itu sedang menemui siapa.
Di tempat lain,
Disebuah ruangan khusus tahanan untuk berbincang dengan orang yang mengunjungi mereka, disanalah Okan dan Serin sekarang berada.
1 menit sudah waktu dibuang sia-sia. Mereka tidak berbicara. Serin dengan kondisinya saat ini begitu malu untuk menatap Okan.
" Aku tidak menggunakan jabatan ku untuk mendapat perlakuan khusus. Aku sama seperti pengunjung lainnya. Memiliki batas waktu. Jadi mari kita pergunakan waktu sebaik-baiknya."
Harus ada yang memulai pembicaraan ini. Okanlah yang memulainya.
" Kenapa kau datang kemari? Apa kau merasa iba pada ku?"
Serin to the point.
" Serin, pernahkan dalam hati mu menyadari kesalahan mu ini? Pernahkah 1 hari yang lalu, 2 hari yang lalu atau 1 menit yang lalu kau menyesalinya??"
Okan tidak menjawab pertanyaan Serin malah ia yang juga ikut melempar pertanyaan karena ekspresi Serin susah di tebak saat ini.
Seperti ada sebuah kesedihan di sana tapi bukan kesedihan penyesalan.
" Apa jika aku menyesal dan berkata maaf kau mau membebaskan ku? "
Benar saja duga'an Okan bahwa Serin sedih bukan karena ia menyesali perbuatannya tapi ia sedih karena akan menghabiskan waktunya di balik jeruji besi.
Okan tertawa kecil.
" Apa jika aku membebaskan mu kau bisa mengembalikan anak ku??"
Serin diam. Tahu itu mustahil. Dan harapannya untuk bebas pun sirna.
" Tidak kan?! Aku tidak pernah mengira kau akan berakhir di tempat ini.
Seandainya akal sehat mu masih ada maka kau tidak akan ada di sini. Tapi lupakan saja dan terima semua ini!! Ini adalah hukuman untuk mu."
" Berhenti berbicara memojokan ku seperti itu Okan!! Katakan apa tujuan mu datang kemari? Jika ingin mengejek ku maka pergi saja!! "
Serin sudah mulai tidak suka.
" Baiklah. Sebenarnya tidak ada tujuan khusus untuk ku datang kemari. Aku hanya ingin melihat apa kau menyesali perbuatan mu atau tidak. Ternyata tidak.
Itu sudah cukup untuk menghapus semua kepedulian ku pada mu saat ini."
Serin tersenyum miring mendengarnya. Keperdulian macam apa yang ingin ditunjukan pria itu? fikirnya tidak percaya Okan masih memiliki rasa perduli.
" Dan oh ya satu lagi. Ini mungkin akan menyakiti mu. Tapi aku tidak ingin menyembunyikan apa pun karena ini adalah pertemuan terakhir kita. Sebenarnya yang menembak mu bukan Emine tapi aku. Berterimaksih lah karena sengaja aku membiarkan mu hidup."
Benar. Ucapan Okan memberi luka khusus di hati Serin. Kenyataan itu seperti belati yang menikam dadanya. Serin meneteskan air mata namun tidak bisa berkata apa-apa.
Fikirnya akan lebih baik yang menembaknya saat itu adalah Emine bukan Okan. Setidaknya hatinya tidak akan sesakit ini.
__ADS_1
Okan yang dulunya tidak tega melihat dirinya kesakitan di gigit semut namun sekarang bahkan menembakan timah panas kepadanya.
" Waktu ku sudah habis. Aku harus pergi. Selamat tinggal Serin. Jalani hidup mu dengan baik di tempat ini!! "
Tidak terasa 10 menit sudah berlalu. Okan pun meninggalkan Serin sendiri.
" Seharusnya kau tembak mati saja aku Okan!! Dengan begitu rasanya tidak akan sesakit ini."
Bergumam setelah kepergian Okan.
Okan kembali ke rumah. Ternyata perayaannya sudah di mulai. Sebuah pesta kecil yang penuh kehangatan dan canda tawa. Senyum bahagia menghiasi ruang tamu. Riuh ricuh orang-orang yang tidak mau kalah berbicara, membuat lelucon, menceritakan kehidupan pribadinya, mulai dari kisah cinta mereka yang memilukan sampai kisah kehidupan yang penuh suka duka terungkap di hari itu.
Cerita Okan yang menyamar manjadi wanita bayaran pun turut di beberkan.
Dimana Okan di dandani layaknya wanita sungguhan dengan menggunakan satu atribut mematikannya yaitu piama merah yang seksi. Ya, piama di lemari kaca itu adalah miliknya bukan milik wanita lain atau kekasihnya. Karena itu juga Emine sempat salah paham.
Kisah pertemuan Emine dan kakek tua juga tidak luput dari pembicaraan.
Kakek tua menceritakan bagaimana soknya dan percaya dirinya Emine saat itu berkelahi dengan dirinya namun Emine kalah telak.
Tidak hanya itu, Tiras pria yang cool dengan sikapnya yang pendiam tidak banyak bicara seperti Murat tiba-tiba mengatakan telah jatuh cinta pada seorang wanita namun masih takut untuk mengatakannya. Dia takut di tolak. Tentu saja semua orang jadi tercengang. Mereka penasaran siapa wanita yang sudah meluluhkan hati pria ini. Saat Tiras diminta untuk menyebut nama wanita itu ia langsung malu, pipinya bersembur merah, di saat itu juga ia malah menatap Fika. Sontak Fika yang melihat tatapan penuh maksud Tiras itu jadi salah tingkah.
Di saat hampir semua orang menceritakan cerita yang mengandung humor tapi tidak dengan Meli. Ia menceritakan bagaimana kehidupannya di Belgia. Dimana ada sekelompok mahasiswa yang sering mengganggunya. Itu kenapa Meli sering memelas pada Okan untuk memindahkannya.
Meli juga menjelaskan kenapa ia memaksa Velief untuk memberikan uang kompensasinya karena ia harus mengganti kamera milik orang yang sering mengganggunya yang tidak sengaja ia rusak.
Karena uangnya tidak cukup, Meli pun meminjam uang dari renternir namun tidak bisa mengembalikan.
Setelah mendengar cerita sedih adiknya yang sering di tindas, Okan pun memutuskan untuk melanjutkan sekolahnya du Turki.
Singkat cerita.
Semua orang yang berada di ruang tamu itu hidup dengan bahagia.
Mereka memiliki cerita masing-masing.
Cerita panjang yang akan menghabiskan banyak lemabaran kertas jika dituangkan ke dalam tulisan.
1 Tahun kemudian, Emine dikaruniai anak kembar laki-laki. Sebuah anugrah yang luar biasa. Seakan Tuhan benar-benar mengganti semua kesedihannya dulu dengan kebahagiaan yang berlipat ganda.
Emine yakin salah satu putranya adalah reingkarnasi dari anaknya yang dulu. 2 bayi imut yang wajahnya sangat mirip dengan Okan itu di beri nama Hasan dan Husein.Hasan memiliki arti suka memberi, sementara Husein bisa diartikan sebagai sifat baik yang suka menolong sesama.
2 bayi lucu, imut, menggemaskan itu ternyata tidak luput dari kenakalan mereka.
Emine dan Okan sampai pusing tujuh keliling di buatnya.
Entah kenapa tapi bayi kembar itu sudah memiliki sebuah ikatan khusus tersendiri.
Saat Husein menangis, Hasan pun ikut menangis begitu pula sebaliknya. Tapi anehnya mereka seperti sengaja membuat kedua orang tuanya kerepotan. Saat mereka di letekan di tempat tidur, mereka akan mulai menangis lagi hingga Okan dan Emine harus menggendong padahal tangan sudah sangat pegal. Mereka akan berhenti menangis jika Emine dan Okan sudah mengangkat bendera putih tanda menyerah.
Emine menyalahkan Okan untuk ini. Karena Emine yakin kenakalan kedua anaknya ini pasti di dapat dari sifat ayahnya dulu. Emine juga yakin bahwa dulu Okan itu nakal meski ia menyangkal.
Saat malam hari, Hasan tidak suka di tidurkan di kasur atau tempat bayi. Anak itu akan tertidur lelap jika di tidurkan dengan posisi tengkurap di dada Okan. Sejak dari itu Okan tidur seperti patung. Tidak berani bergerak sedikit pun karena takut anaknya akan jatuh.
Untuk Husein akan tidur dengan nyaman jika berada di antara kedua orang tuanya.
Sungguh 2 bayi yang manis.
Kehidupan Emine dan Okan berjalan begitu harmonis. Tidak ada lagi cerita sedih yang bermain-main di dalam kehidupan mereka.
__ADS_1
Dalam setiap langkah mereka selalu di iringi senyum bahagia dan rasa bersyukur.
Hingga 1 bayi perempuan hadir melengkapi keluarga kecil mereka.