
Pagi ini tidak ada matahari di langit Istanbul.
Yang terlihat hanya butiran-butiran salju melayang di udara perlahan menyatu
dengan kelompoknya di tanah, atap, pekarangan, pohon dan jalan.
Dinginnya cuaca semakin memparah kemalasan semua orang.
Rasanya ingin terus berada di bawah selimut mencari kehangatan
terutama untuk mereka yang sudah menikah
pasti sangat betah mereka di sana.
Untuk yang masih melajang hanya bisa memeluk bantal guling saja sudah bersyukur sekali.
Seperti Okan dan Emine contohnya. Sudah bangun tapi masih menempel di tempat tidur.
Kemalasan menguasai diri mereka.
Apalagi hari ini Okan tidak tugas sedangkan Emine, wanita itu adalah cucu dari CEO perusahaan kakek tua jadi ia bebas entah mau ke kantor nanti siang, nanti sore atau tidak ke kantor sama sekali.
" Okan, tangan mu."
Emine risih dengan tangan Okan yang sudah menyelinap di bawah branya.
Sebenarnya takut nantinya Okan akan meminta jatah karena kemarin malam mereka sudah melakukannya.
Dan Emine sudah lelah.
" Sebentar saja!! Kau pelit sekali."
Sudah menggrayang ke bagian bawah.
" Kendalikan tangan mu itu atau nanti aku potong tangan mu."
Emine menggiringkan tubuhnya menatap Okan tajam.
Ini harus di hentikan sebelum suaminya semakin menjadi-jadi.
" Hmmm..." Takut.
Menarik tangannya pelan.
Menyetabilkan posisi tubuhnya yang miring karena takut melihat
sorot mata Emine yang mengerikan.
Emine tertawa kecil. Pria berpangkat takut dengan istrinya. Sungguh menggemaskan ingin mencubit pipinya.
Cup,,,,!!!
Menarik bahu Okan membuat posisi tubuh pria itu miring kembali lalu mengecup bibirnya lembut.
" Apa yang kau lakukan??"
Setelah di beri kecupan manis Okan malah terlihat tidak senang.
" MorningKiss."
Tersenyum dengan wajah tak berdosa telah
membangunkan gairah suaminya.
" Hanya MorningKiss??."
Berharap mendapat lebih dari sekedar ciuman pagi. Biasanya Gairah Emine di pagi hari itu lebih mendominasi tapi hari ini tidak.
Mungkin Efek tadi malam.
" Iya. Lalu apa??"
Seolah tidak paham.
" Lalu apa kata mu?? Wahhh,,,kau benar-benar menyebalkan."
" Aku memberi mu ciuman apa itu menyebalkan??"
Sekarang mulai berdebat.
" Tentu menyebalkan. Kau istri yang tidak bertanggung jawab setelah membangunkan gairah ku. Setidaknya jangan menciumku jika tidak ingin menuntaskannya sampai selesai.
Aishhh,,,, awas kau lain kali tidak akan aku lepaskan."
Okan menepis selimut membebaskan dirinya.
" Eh, kau mau kemana sayang??"
" Menuntaskannya di kamar mandi."
Sontak Emine terbahak mendengar ucapan Okan.
Tidak di sangka hanya 1 ciuman membuat ular piton pria itu bereaksi cepat.
Difikir lagi dirinya harus berhati-hati mencium Okan jika benda pusaka pria itu sangat sensitif.
Bisa-bisa Emine di terkam habis.
Emine ikut beranjak dari tempat tidur.
Menyiapkan pakaian ganti Okan.
Setelahnya ia duduk di sofa memangku pakaian Okan sembari menunggunya selesai mandi. Namun lama pria itu berada di dalam kamar mandi tidak kunjung keluar.
fikirnya Okan pingsan disana.
Beberapa menit kemudian Okan pun keluar hanya dengan handuk kecil melingkar di pinggang.
Mata Emine nakal melirik ke bagian tersensitif memastikan benda yang ada di balik handuk itu sudah tertidur.
Dan iya Okan berhasil menindurkannya.
Emine tertawa geli membayangkan apa yang sudah di lakukan pria itu di
dalam kamar mandi.
" Apa yang kau lihat?? Jika ingin melihat ini katakan saja!! Aku akan memperlihatkannya. Jangan mengintip seperti itu."
Hendak melepas handuk.
" Ah tidak Okan. Aku tidak ingin melihatnya. Ini cepat pakai."
Memberikan pakaian lalu pergi dari ruang ganti.
__ADS_1
" Cihhh,,, " Berdecih kesal karena tahu Emine sedang menertawakannya.
Setelah mengganti pakaian Okan turun ke bawah. Bergabung dengan orang-orang yang sudah duduk di meja makan.
Ada Cansu, Emine dan Kakek Tua.
Meli masih berada di kamarnya. Kondisi gadis itu belum seutuhnya pulih.
" Bagaimana tidur mu?? Nyenyak??"
Tanya dari pria tua bersetelan jas rapi yang duduk di bangku paling ujung.
Kakek Tua hanya ingin memastikan apakah Okan nyaman atau tidak berada di sini.
" Ah iya kakek. Kamar Emine sangat luas aku sedikit tidak terbiasa. Tapi nantinya akan terbiasa dengan sendirinya."
Respon Okan.
Emine mengisi piring kosong Okan dengan Sandwich sambil mengedipkan matanya menggoda Okan.
Andai tidak ada siapa-siapa disini habis sudah wanita itu.
" Aku dengar terjadi sesuatu pada adik mu. Apa dia baik-baik saja??"
Kemarin malam sempat Emine menceritakan kondisi Meli pada kakek tua karena kakek tua bertanya kenapa Meli tidak ikut makan malam kemarin.
" Dia baik-baik saja. Hanya perlu beberapa hari untuk istirahat."
" Jika kau butuh dokter katakan saja pada ku!! Akan aku carikan dokter terbaik di sini."
Kakek tua sudah menyelesaikan makanannya.
" Baik kek."
Sebenarnya sudah begitu banyak dokter lebih tepatnya pskiater yang Okan panggilkan untuk Meli namun tidak ada yang berhasil.
Cukup sederhana sebenarnya, Jika tidak ada yang mengingatkan atau mengungkit tentang kematian ibunya,
Meli tidak akan kambuh.
Drettt,,,,Dretttt,,,Drettt,,, !!!
Suara getar ponsel di atas meja.
Emine melihat layar ponselnya.
1 buah pesan masuk dari Fika.
" Nona, bisa aku minta alamat Nona Serin?? Aku ada perlu sebentar dengannya."
Membaca nama Serin membuat Emine mengarahkan pandangannya pada Okan sekilas.
Okan jadi penasaran mencoba bertanya ada apa? dengan gerakan matanya namun Emine hanya menggelang beralih
menatap ponsel kembali, mengetik disana.
Emine mengirimkan alamat Serin tanpa banyak tanya.
Walaupun ia juga penasaran kenapa Fika meminta alamat Serin. Setahunya mereka berdua tidak terlalu akrab.
" Cansu kau sudah selesai?? Ayo kita berangkat sekarang!!"
Ajak Kakek tua.
" kakek ingin mengajak Cansu ke perusahaan??"
" Iya. Lagi pula ini libur."
" Tapi kek, Cansu nanti akan merepotkan kakek di sana. Cansu diam di sini ya!! Nanti kakak ajak main ke taman."
Emine kurang setuju dengan ide Kakek Tua untuk membawa adiknya ke perusahaan. Ia tahu betul anak ini tidak sepolos yang terlihat.
" Tidak mau. Cansu bosan bermain di taman."
Menolak.
" Cansu,,,, Jangan keras kepala!!"
" Sudahlah Emine!! Biarkan saja dia ikut dengan kakek!! Lagi pula ada banyak staf di sana. Kasihan adik mu ini hanya diam di rumah."
Cansu tersenyum senang Kakek Tua membelanya.
" Hmmm yasudah!! Cansu jangan nakal di sana!! Kau mengerti?! Duduk saja yang manis!! Tunggu sampai kakak datang!! Sekarang pergilah!!"
Menatap Cansu memberi pengertian lalu mengizinkannya oergi.
" Baik kak."
Kakek tua dan Cansu berangkat ke kantor.
" Emine kau akan pergi ke kantor??"
Tanya Okan saat hanya ada mereka berdua di meja makan.
" Tadinya aku malas sekali pergi ke kantor. Tapi aku harus memastikan Cansu disana tidak berbuat nakal. Dia itu anak kecil pasti ada saja ulahnya."
Fikir Emine bagaimana kalau nanti Cansu menghilang dari perusahaan seperti kejadian
di pasar malam.
" Oh baiklah. Kalau begitu cepatlah bersiap!! Aku juga akan pergi keluar."
" Kemana??"
Okan diam sebentar. Memikirkan sasaran tempat yang akan ia jadikan sebagai alasan.
" Ke rumah Murat. Ada sesuatu yang harus aku selesaikan."
Okan berbohong. Sebenarnya dia akan pergi ke rumah Serin. Mencari tahu apa benar dialah penyebab di balik kambuhnya depresi Meli.
" Oh. Kalau begitu aku mandi dulu. Selesaikan sarapan mu baru pergi!!"
" Iya. Ini sebentar lagi habis."
Emine kembali ke atas. Bersiap ke perusahaan.
Okan segera menghabiskan sarapannya kemudian pergi mendahului.
Restoran Serin dan rumahnya satu arah.
Saat menuju rumah Serin Okan melewati restorannya terlebih dulu dan restorannya tutup. Jadi Serin pasti ada di rumahnya.
Tidak butuh waktu yang lama untuk sampai di rumah mantan kekasihnya itu.
__ADS_1
Okan sudah berada di depan pintu. Memencet bel 3 kali. Seorang wanita berteriak dari dalam menyuruhnya untuk menunggu sebentar. Selang beberapa detik pintu pun terbuka.
" Okan?? Sepagi ini?? apakah kau sedang merindukan ku??"
Sedikit memasang senyum tanda bergurau meski sebenarnya Serin mengharapkan itu nyata.
Okan merindukannya.
" Aku tidak merindukan mu."
Serin kecewa " Aku kesini hanya untuk memastikan sesuatu."
" Benarkah?? Haha,,, Situasi macam apa ini di pagi hari?? "
Melihat ekspresi Okan yang sepertinya sangat serius membuatnya tidak tenang.
" Ayo masuk!! "
Okan masuk sudah duduk di sofa.
Serin hendak membuatkan minuman hangat namun Okan melarangnya.
Okan bilang tidak ingin basa basi.
" Apa yang ingin kau pastikan?? "
Tanpa ragu bertanya.
" Kemarin kau menelfon ku??"
" Iya."
" Siapa yang mengangkat??"
Deg,,,,,!!!!
Dari sini Serin sudah sadar arah pembicaraanya. Mendadak hatinya gusar.
Wajah Serin berubah pias. Tahu Meli pasti kambuh lagi karena ucapannya.
" Kenapa diam? Serin, aku tahu kau dan Meli sangat tidak cocok. Tapi anak itu tidak ada urusannya dengan masalah kita.
Jangan kau lampiaskan kekesalan mu padanya!! Dia adik ku, tidak akan aku biarkan siapa pun menyakitinya."
Sudah tidak ada kelembutan lagi pada nada suara Okan.
" Okan aku tidak mengatakan apa pun padanya. Sungguh. Aku tidak tahu kenapa Depresi Meli bisa kambuh lagi."
Mencoba meyakinkan takut jika Okan membencinya lagi.
" Aku tidak mengatakan Depresi Meli kambuh. Kenapa kau bisa tahu ?? "
Sekak mat.
Kembali wanita itu terdiam. Mengumpat pada dirinya sendiri kenapa bisa sebodoh ini.
Tidak bisa menjawab, Serin pun sedikit menunduk. Memberi kode dengan diamnya itu bahwa dia menyesal.
" Harus aku artikan apa kebisuan mu itu??"
" Maaf."
Mulutnya berkata maaf namun hatinya sudah mengumpati Meli karena dianggap sebagai penyeban marahnya Okan padanya.
Okan menyandarkan punggungnya di sofa.
Menarik nafas menahan emosi. Tidak menyangka juga Serin bisa melakukan ini pada adiknya.
" Maaf? Hari ini kau meminta maaf dan besok kau akan membuat masalah lagi lalu meminta maaf lagi dan seterusnya akan seperti itu. Hanya karena aku selalu memafkaan mu bukan berarti kau bisa melakukan semua yang engkau mau!!"
" Aku sudah meminta maaf lalu kau mau apa lagi?? Kenapa kau terus marah pada ku? "
Serin kesal mulai menaikan nada
suaranya.
Okan tersenyum miring melihat sikap Serin seperti ini membuatnya sadar bahwa kata maaf dari wanita ini tidak tulus.
Kata maaf yang hanya digunakan untuk mencari aman.
" Kau bertanya apa mau ku?? Aku mau kau menjauh dari hidup ku!! Dari semua orang yang ada di sekitar ku!! Sampai kau menyadari kesalahan mu dan bisa menerima bahwa kau dan aku tidak lagi seperti yang dulu."
Hancur hati wanita itu mendengar permintaan pria yang ia cintai.
" Okan kau menyakiti ku lagi."
Menatap Okan nanar dengan berusaha membendung air matanya.
" Bukan aku yang menyakiti mu tapi kaulah yang memilih sakit sendiri Serin. Seseorang harus sakit terlebih dahulu untuk bisa menyadari kesalahannya.
Sama seperti rasa sakit yang aku rasakan saat kau menghinati ku. Dari sana aku sadar kesalahan terbesar ku adalah pernah mencintai mu dengan tulus."
Hati yang sudah hancur di tusuk kembali dengan sebuah kata yang menyerupai bambu runcing.
Serin memalingkan wajahnya sebentar untuk menghapus air mata yang sudah berhasil menerobos pertahanannya lalu
kembali menatap Okan dengan senyum kecewa.
" Jadi mencintai ku kau anggap sebuah kesalahan?? Bodoh sekali aku karena begitu mencintai mu, berkorban untuk mu dan membiarkan diri ku sendiri dibenci oleh mu. "
" Cinta apa yang kau maksud? Kau menghianati ku lalu cinta yang mana yang sedang kau bicarakan??"
Berbicara meremehkan.
Serin kembali tersenyum.
" Aku tidak pernah menghianati mu Okan."
Tersenyum lagi namun penuh misteri.
" Yang hanya aku lakukan adalah berkorban. Mempertaruhkan sebuah hubungan hanya untuk masa depan mu. Menjadi seorang polisi agar bisa memberi keadilan pada setiap orang adalah impian mu. Dan kau gagal meraihnya. Kau gagal menjadi seorang polisi dan kau mulai hancur. Aku tidak bisa melihat mu terpuruk saat itu. Dan saat itu juga aku putuskan menjual harga diri ku pada orang lain untuk membantu mu menggapai semua yang kau inginkan. Aku tidak berselingkuh dengan Gaotam. Aku hanya membuat kesepakatan padanya. "
Gaotam adalah anak dari seorang polisi berpangkat tinggi. Ayahnya memiliki kekuasaan di kalangannya.
Serin dan Gaotam memiliki kesepakatan. Jika Serin mau tidur dengan pria itu maka Gaotam akan meminta ayahnya untuk meloloskan Okan menjadi seorang polisi.
Malangnya Okan melihat Serin tidur bersama Gaotam. Dia marah saat itu tanpa mendengar penjelasan Serin lalu pergi menjauh dari Serin.
Lebih bodohnya lagi Serin baru mengatakannya sekarang. Di saat semua sudah berubah.
Dan iya, saat ini Okan bisa memakai seragam berwibawa itu adalah karena Serin.
*
__ADS_1
*
Bersambung,,,,,,