Wanita Seribu Luka

Wanita Seribu Luka
Melawan Cinta.


__ADS_3

" Dia pasti sedang menjilat kaki Manager baru agar bisa mendapatkan hatinya."


" HAHAHAHHA,,,,, Bahkan aku rasa ludah bosnya pun siap untuk dia jilat."


" Cihhh,,,, Wanita miskin bisa melakukan apa pun agar bisa mengubah drajat hidupnya."


Langkah kaki Fika berhenti di depan lift saat mendengar percakapan yang sepertinya memang di tunjukan padanya. Pintu lift yang sudah terbuka kini tertutup kembali. Fika berbalik, berjalan ke arah meja dimana ada 3 wanita yang saling melempar senyum bahagia dengan aura menghina begitu kuat.


" Brukkk" Fika meletakan kasar kotak spageti pesanan Emine di atas meja hingga membuat senyum 3 wanita bermikeup tebal itu memudar perlahan digantikan dengan mulut yang bungkam. Ini adalah sikap pengecut mereka, berani menyindir orang lain di belakang tapi saat orangnya ada di depan mereka akan tutup mulut rapat-rapat.


" Kenapa diam? Katakan sekali lagi!! Menjilat kaki? Menjilat ludah? Wanita miskin? Ayoo,,,katakan lagi!!! Aku ingin mendengar kemampuan lidah-lidah kotor kalian itu." Ucap Fika terang-terangan menantang 3 karyawan yang sekarang semakin takut untuk berucap.


Tidak ada yang mau mengulang hina'an itu saat Fika menatap mereka tajam. Posisi yang di sandang Fika jauh di atas ketiga wanita ini. Melempar 3 karyawan tidak berguna ini bukanlah masalah besar.


" Jika kalian ingin melihat bagaimana caranya aku menjilat kaki dan ludah atasan ku, kalian bisa datang ke ruangan Manager Utama!! Disana akan di tentukan siapa yang menjilat siapa. Bisa jadi kalianlah yang nantinya akan menjilat kaki ku. Tapi, aku tidak akan pernah membiarkan mulut kotor itu menodai se'ujung kuku ku. Jadi, perbaiki etika kalian!!" Fika balik menyerang menghina mereka lalu segera pergi memuju ruangan Emine.


" Cihhhh,,,Wanita sombong." Dengus salah satu dari mereka ketika Fika sudah menghilang. Fika sengaja bersikap sombong dan angkuh karena hanya dengan sikap itu ia bisa percaya diri untuk berdiri di dunia yang begitu keras ini.


Emine menggeser-geser ponsel tidak jelas apa yang harus di lakukan dengan ponsel itu. Ia ingin sekali menghubungi Okan tapi ia ragu jika nanti pada akhirnya Okan tidak punya waktu untuk menampung kerinduan Emine yang sudah ia tahan.


Suara pintu mengalihkan pandangan Emine. Fika berjalan ke arahnya dengan membawa kotak spageti dan meletakan di atas meja.


Emine hanya menatap spageti itu tanpa menyentuhnya. 20 menit yang lalu spageti begitu meguncang perutnya yang lapar dan sekarang spageti di depannya sama sekali tidak memiliki daya tarik.


" Nona, apa makanannya tidak sesuai?" Tanya Fika kepada Emine.


" Fika, kau bawalah spageti ini!! Aku tidak lapar." Sahut Emine dengan wajah sedikit tidak nafsu melihat makanan di atas meja.


Fika berkerut kening mendengar Emine yang tidak konsisten dengan urusan perutnya.


" Nona,~~" Ucap Fiki terpotong. Tadinya Fika ingin meminta Emine untuk makan sedikit karena dari tadi perutnya kosong.


" Aku mohon bawa pergi makanan ini. Rasanya aku ingin muntah lagi." Ucap Emine sudah menutup mulutnya menunjukan tanda-tanda mual.


" Astaga, baik Nona aku bawa pergi sekarang." Fika secepat kilat menyambar kotak makaknan itu dan membawanya pergi dari pada nanti penyakit muntah-muntah atasannya kambuh lagi.


Emine bernafas lega, ia kembali mengambil ponsel yang sempat idistirahatkan. Sekarang ia tidak tahan lagi dengan hubungannya yang begitu hening. Ia memutuskan untuk menghubungi Okan.


" Aku akan benar-benar marah jika dia mengatakan dirinya sedang sibuk." Keluh Emine sambil menunggu panggilannya dijawab.


" Hallo,,,," Sapa Okan mendahului.


Emine tersenyum tipis ketika suara yang dirindukan kembali ia dengar.


" Okan....~~" Terpotong.


" Emine, aku sangat sibuk. Maaf, matikan dulu telfonnya."

__ADS_1


" Tut,,,,Tut,,,Tut,,," Terputus.


Emine tau menangis untuk hal ini bukanlah tindakan dewasa karena sudah seharusnya Emine mengerti akan pekerjaan kekasihnya. Ia menahan air mata di pelupuk mata yang sudah berkaca-kaca. Sedikit pun Okan tidak pernah punya waktu untuknya. Setiap manusia pasti memiliki titik jenuh tersendiri seperti sama halnya dengan Emine yang sudah merasa muak dengan sikap Okan.


Sepulang dari kantor, Emine langsung menuju rumah Okan. Ia ingin menyuarakan hatinya yang sudah sangat lelah menahan semua ini.


Dari jam 4 sore hingga jam 6 sore, Okan belum juga pulang kerumah. Emine menunggu di depan rumah dengan terus berganti-ganti tempat duduk karena bosan dan sekarang ia bersandar di pintu mobil dengan ponsel sudah menempel di telinga.


" Hallo Okan. Sekarang aku berada di depan rumah mu. Cepatlah pulang!! Ada yang harus kita bicarakan." Ucap Emine langsung ketika panggilannya mendapat jawaban.


" Aku sedang melakukan pengepungan. Kau pulanglah!!!" Jawab Okan terdengar sangat gawat.


" Pengepungan?" Respon Emine spontan. Pikiran Emine tertuju pada sang kakak


" Ya. Markas pembunuh berantai sudah berhasil ditemukan." Jawab Okan memberitahu Emine. Okan tidak sadar memberitahu Emine sama artinya memberi bantuan untuk pembunuh berantai.


" Kakak." Ucap Emine pelan Sendu.


Okan mendengar sekilas ucapan Emine.


" Emine,, apa kau tadi mengatakan sesuatu?" Tanya Okan memastikan tapi panggilan sudah terputus. Okan tidak sempat curiga karena perhatiannya sudah terlebih dulu dialihkan oleh rekannya yang memanggil untuk cepat bergerak.


Emine juga segera bergegas menuju tempat kakaknya. Ia sangat cemas dan gelisah di sepanjang jalan. Satu tangan Emine membongkar laci mobil mencari perlengkapan untuk mengubah ID menjadi penyelamat malam. Satu buah celana panjang dan jaket kulit hitam,topi, dan masker berhasil di keluarkan. Tangan Emine meraba semakin dalam laci itu dan 1 buah pistol berhasil di dapatkan.


Tiba di daerah tujuan, Emine langsung mengganti pakaian. Rambut pirangnya di sembunyikan di balik topi agar tidak ada yang mengenalinya apalagi Okan sangat peka.


Saat turun dari mobil, Emine merasakan ada yang aneh di kaki, ia menunduk.


Matahari sudah terbenam hanya meninggalkan sisa-sisa cahaya kemerahan menerangi tepian danau yang sekarang menjadi satu-satunya jalan yang Emine ingat.


Emine berlari mengikuti tepian danau sampai bertemu dengan batu besar kemudian masuk ke semak-semak lalu jalan terus melewati semak-semak itu. Itulah yang ada di pikiran Emine tentang jalan menuju rumah kakaknya.


Di lain tempat,


Okan dan rekannya sudah mengintai rumah kayu di depan mereka. Tidak ada lampu penerang di luar, itu memudahkan polisi untuk bergerak.


" Engghhhhhh,,,, KONG,,,KONG,,,KONG,,," Anjing yang terikat di bawah pohon mengonggong ke arah semak belukar dimana Okan dan timnya bersembunyi.


" Bungkam anjing itu!!!" Perintah Okan kemudian Murat membidikan peluru bius untuk melumpuhkan peliharaan rumahaan yang bisa membahayakan persembunyiannya.


Anjing itu sengaja di tempatkan oleh Orsan di luar untuk memberi sinyal jika ada orang asing di sekitar markasnya. Orsan menyikap tirai, memberi sedikit celah untuk seukuran matanya melihat keluar. Melihat siapa yang bertamu di hari menjelang malam seperti ini.


Orsan semakin curiga karena anjingnya tiba-tiba tertidur setelah menggong-gong. Ia menyalin arah dimana anjing itu menghadap tidur. Anjing itu menghadap ke semak belukar. Mata Orsan semakin di sempitkan ke semak-semak.


" Sial," Ucapnya kesal dan panik ketika 8 polisi keluar dari semak-semak itu dan mengepung rumahnya.


Okan memberi kode untuk masuk kedalam markas Orsan. Para anggota siap mendobrak dengan kaki mereka tentu senjata pistol sudah dalam mode on di tangan mereka.

__ADS_1


" BRAKKKKKK,,,," Pintu kayu itu terbuka hanya dengan sekali tendangan. Semua polisi masuk kedalam dengan moncong pistol diarahkan ke berbagai arah. Tapi, pandangan yang disuguhkan hanya ruang kosong yang berantakan.


" Gledah semua ruangan!!!" Perintah Okan.


Okan ingin masuk ke sebuah ruangan tapi matanya tertuju pada jendela yang terbuka dan masih bergerak-gerak pelan. Okan berlari ke arah jendela itu dan melihat pria berbaju putih sudah melarikan diri.


" Dia kabur, Cepat kejar dia!!" Okan melompat dari jendela, mengehar Orsan yang sudah jauh di depan.


Sialnya, matahari sudah menarik penuh cahayanya. Keadaan sangat gelap, Okan tidak hafal daerah ini. Orsan lari begitu gesit. Semak-semak yang tumbuh sangat tinggi semakin menguntungkan Orsan untuk menghilang dari pandangan Okan.


Okan berhenti karena kehilangan jejak si pembunuh.


" Kalian semua berpencar ke segala arah!! Dia pasti ada di sekitar sini!! Utamakan keselamatan!! Kalian mengerti???" Okan mulai membagai timnya untuk menemukan Orsan yang sedang bersembunyi.


" Hari ini aku tidak akan melepaskan mu." Ucap Okan yakin dengan semangat ia berlari kearah terakhir Orsan terlihat.


" Hah,,hah,,hah,," Nafas Orsan terengah-engah. Orsan bersembunyi di balik batu dan bersandar disana. tenaganya sudah tidak bisa di andalkan lagi.


" Aishhhh,,, Malam yang sangat sial. Aku lelah. Aku ingin beristirahat sebentar." Keluhnya memejamkan mata sesaat disana.


Warna merah mampu menembus mata Orsan yang tertutup. Orsan menyadari warna apa yang sedang bermain-main di wajahnya. Ia membuka mata dan melihat Okan dengan senyum kemenangan mengarahkan lampu laser dari pistolnya ke arah pelipis Orsan.


" Menyerahlah!! Kau tidak bisa kabur lagi. Aku tidak akan melumpuhkan mu jika kau menyerahkan diri." Ucap Okan memberi saran.


Orsan tersenyum menertawakan ucapan Okan. Ia tidak menunjukan rasa takut.


" Hai pak polisi, Jika hari itu tidak ada yang menyelamatkan mu maka kau sudah tidak bisa berbicara seperti ini di hadapan ku. Hidup mu hanya belas kasih dari wanita misterius itu. Sebaiknya kau ingat itu!!!" Ucap Orsan menghina Okan atas kekalahannya malam itu. Baik Orsan maupun Okan sama-sama tidak tau wanita malam itu adalah Emine.


"Benar sekali, hidupku memang belas kasih dari wanita itu. Dan sekarang hidupmu juga merupakan belas kasih dari ku." Ucap Okan dengan wajah datar tidak tersinggung atas perkataan Orsan.


Okan membidik kaki Orsan lalu " Dorrrrrr,,,,,,"


" Kakak," Ucap Emine melihat Okan menembak kakaknya.


" Agghhhhhh,,,,," Orsan meringis menahan rasa sakit. Air mata Emine jatuh seakan-akan dirinya juga merasakan rasa sakit itu.


" Okan maafkan aku," Ucap Emine dengan berat hati mengambil pistol di pinggangnya.


" Ceklek." Malam ini Emine akan mengibarkan bendera merah menyatakan perang pada kekasihnya sendiri.


" Dorrrrrr,,,,," Emine menembak pistol Okan hingga terlemper jauh. Okan sangat terkejut, ia berpaling ke arah sumber tembakan dan mendapati seseorang berdiri dengan pistol diarahkan ke arahnya. Jika tempat ini tidak gelap, Okan pasti sudah melihat tangan Emine yang gemetar memegang senjata mematikan itu.


Situasi ini akhirnya terulang kembali, dimana hanya ada mereka bertiga di sebuh tempat sunyi nan gelap. Hanya saja sekarang Emine berada di pihak berbeda. Jika dulu ia melindungi Okan, beda sekarang Emine lebih memilih melindungi Orsan karena Orsan lebih membutuhkannya.


*


*

__ADS_1


*


Jangan lupa like sama komennya ya!!!


__ADS_2