Wanita Seribu Luka

Wanita Seribu Luka
Don't Touch My Daughter.


__ADS_3

Suara dencitan sofa terdengar sangat berirama. Dicle melepas seluruh anaknya ke dalam rahim wanita yang sudah 6 bulan menjadi kekasih gelapnya.


" Aghhhh,,,,, sedikit lagi,,, aghhhhh,,,," Dicle menghentakan keras pinggulnya. Membiarkaan setiap umpatan kenikmatanya lolos begitu saja.


" Ohhh shittt,,,, ahhhhh,,, Dicle ahhhh,,," Suara rintihan wanita itu menikmati setiap dorongan keras dari Dicle. " Ahhhhh,,,, please one more,,,, aghhhhhh,,,," Mereka berdua mencapai klimaks masing-masing.


Dicle tetap berada di atas tubuh wanita itu dengan nafas memburu dan peluh bercucuran.


" Berat sayang,,,, cepat bangun!!" Wanita itu memukul lengan pria yang menerpa tubuhnya yang seksi.


Dicle terbilang masih muda, umurnya masih 38 tahun sangat jauh berbeda dengam Fifan yang sudah berusia 45 tahun. Karena itu ia masih sangat aktif di bidang ****.


" Ayo satu ronde lagi." Rayu Dicle memperlihatkan senyumnya yang penuh nafsu.


" Apa kau sudah gila? Istrimu bisa datang kapan pun. Cepat bangun!!" Minta wanita itu kawatir jika sampai kepergok oleh Fifan.


" Ayolah sayang. Aku belum puas. Kau lihat dia belum tidur. Kau harus bertanggung jawab!!" Pandangan mereka mengarah ke bagian tengah. Wanita itu hanya bisa menghela nafas dalam-dalam. " Lagi pula Fifan sudah tahu tentang hubungan kita."


Tanpa menunggu jawaban, Dicle mengangkat tubuh kekasihnya ke ranjang. Ronde ke 2 siap di mulai.


" Aghhhhhh Dicle,,,, brengsek kau Dicle,,, Ahhhh aku tidak bisa menolaknya. Ahhhhh,,,," Sekeras apa pun berkata tidak, tapi jika sudah nikmat maka lain alur ceritanya. Wanita itu pasrah ketika Dicle memulai aksinya lagi di atas ranjang.


Fifan dan Cansu terlihat berlari menuju halte bus dengan kondisi basah kuyup setelah nekat menrobos rintik rintik air hujan.


Emine melihat mereka berdua, ibunya dan adiknya. Hatinya bimbang haruskah Emine menghampirinya atau tidak.


" Aku tidak bisa menghampiri mereka." Ucap Emine pelan lalu menatap kembali lampu merah di depan. Hati Emine tidak sekeras batu, ia kembali melihat ke halte bus, dan terlihat Cansu adik kecilnya menggigil dengan wajah yang sudah pucat di pelukan Fifan.


" Aishhhh,,,, " Emine membanting stir, menepikan mobilnya tepat di depan mereka.


Mata Fifan dan cansu mengarah ke mobil merah yang menghalangi pandangan ke depan. Sebelumnya mereka tak perduli dengan mobil itu, hingga akhirnya wanita cantik dengan high heels hitam turun menghampirinya.


" Emine,,,," Suara Fifan lemah, tak menyangka wanita yang kini berdiri di depannya adalah Emine.


" Masuklah!! Aku akan mengantar kalian pulang." Suara Emine terdengar sombong ditambah ia langsung membalikan badannya tanpa melihat atau mendengar respon dari Fifan dan Cansu.


" Ibu,, itu kakak Emine kan?" Tanya cansu yang masih menggigil di pelukan Fifan.


" Iya sayang, dia kakak mu. Emine." Fifan tak bisa menahan air matanya. Fifan merasa tak pantas untuk bicara dengan Emine apalagi untuk memeluk Emine bahkan menatap Emine pun rasanya benar-benar malu.


Emine berhenti saat ia sadar Fifan dan Cansu masih mematung dengan tatapan mereka yang bisa Emine translate. Emine tau lewat tatapan itu, rasa bersalah, kerinduan, kesedihan, rasa tak percaya dan yang lainnya bercampur aduk sama seperti yang Emine rasakan selama ini. Emine membalikan badannya, menghampiri mereka kembali.


" Cansu sudah kedinginan, tubuhnya menggigil. Tidak bisakah kau melihatnya? Ayo masuk ke dalam mobil!! Aku akan mengantar kalian pulang." Emine memegang tangan Cansu dan membawanya masuk ke dalam mobil, Tapi Emine tidak bisa memegang tangan Fifan karena jika ia menggenggam tangan yang dulu melepaskan tangannya, maka hatinya akan terasa sakit dan air mata sakit hatinya tidak akan bisa ia tahan lagi.


Di dalam mobil, Emine tak bersuara sama sekali begitu pula dengan kedua orang yang duduk di bangku penumpang. Cansu terus memandang mata indah kakaknya yang terlihat dari kaca depan, sesekali Emine juga melihat mereka.


" Cansu,," Emine memutuskan untuk berhenti membisu. " Kau bersekolah dengan baik kan?" Tanya Emine hanya sebagai alasan agar suasana tidak terlalu canggung.


" Iya kakak. Cansu mendapat juara 1 di kelas. Cansu belajar dengan giat. Cansu juga mempelajari peta Negara Turki agar kelak nanti Cansu tidak tersesat saat mencari kakak." Jawaban polos dari adik kecilnya sangat menyayat hati Emine. Emine ingin menangis karena merasa sangat buruk sebagai seorang kakak yang tidak pernah mengunjungi adiknya. Emine selalu sibuk dengan dunianya hingga terkadang ia lupa memiliki seorang adik yang sangat merindukannya. Emine mengutuk dirinya sendiri.


" Turki itu sangat luas. Kau tidak akan pernah menemukan kakak. Maafkan kakak karena tidak bisa mengunjungi mu. Kau tidak perlu mencari kakak!! Belajar saja dengan tekun!" Emine benar-benar menahan air matanya. Ia tidak bisa memandang mata kecil sang adik yang sedari tadi tidak berkedip melihat Emine lewat kaca depan. Emine tidak bisa menunjukan matanya yang sudah berkaca-kaca.

__ADS_1


" Dreettttt,,,,Dreetttt,,,Dreettttt,,," Suara getar ponsel.


" Hallo kakek,,,," Sapa Emine mendahului.


" Anak ini,,, aishhhh,,, kau tau hujan?" Suara kakek tua sangat keras hingga membuat Fifan bisa mendengarnya.


Emine menjauhkan ponselnya karena suara kakek tua lebih keras dari gemuruh hujan.


" Tau." Jawab Emine singkat.


" Kau tau petir?"


" Anak kecil juga tau petir."


" Kau tau jalanan licin?"


" Aishhh,,, aku tau."


" Pintar sekali. Kau tau mengemudi di hujan yang sangat deras itu berbahaya?"


" Iya,,, aku tau,,,"


" Pulang!! Cepat pulang!! Jika tidak, kakek akan memblokir semua kartu kredit mu." Kakek tua sangat kawatir, cuaca hari ini benar-benar buruk. Kakek tua kawatir jika terjadi sesuatu pada cucu satu-satunya.


" Aku dalam perjalanan pulang. Kakek jangan kawatir!! Aku tidak akan tersambar petir, aku juga tidak akan terpeleset di jalan. Lagi pula ini hujan air bukan hujan batu apalagi hujan nuklir. Jadi kakek tidak perlu cemas!!" Emine kesal dengan kakek tua yang cemas dengan hal kecil. Tapi ia tidak cemas saat Emine berkutat dengan senjata, mempertaruhkan nyawa saat menjalani misi.


" Dasar anak nakal, tidak pernah mendengar ucapan ku. Bagaimana jika kau,,,,~~" Kakek tua berhenti sejenak. " Hallo Emine,,,hallo,,emine,,,aishhhh,,,, anak ini benar-benar menyebalkan." Gerutu kakek tua kesal karena Emine memutus panggilan sepihak.


" Trimakasih Tuhan telah memberikan Emine kepada seseorang yang sangat menyayanginya. Siapa pun dia, aku sangat berterimakasih." Batin Fifan bahagia setelah mendengar percakapan Emine di telfon. Memikirkan bahwa putrinya sekarang menjalani hidup yang lebih baik membuat Fifan tak bisa menahan air matanya. kebahagian Emine adalah bukti bahwa Fifan adalah ibu yang buruk. Seorang ibu yang telah memberi luka kemudian orang lain yang mengobatinya.


Emine tak sengaja menoleh ke kaca yang terletak di atas kepalanya, terlihat Fifan sedang menangis tanpa suara. Fifan menyadari bahwa Emine melihatnya, dengan cepat Fifan menghapus air matanya kasar dengan punggung tangan. Meski sudah melihat ibunya menangis, Emine bersikap seolah-olah tidak melihat dengan langsung memalingkan pandangannya ke jalanan.


Mobil sport merah sudah memasuki sebuah komplek perumahan. 80% rumah-rumah disini terlihat sangat sederhana, termasuk bangunan di sebrang jalan yang dulu sempat menjadi tempat Emine tinggal. Emine melepas sabuk pengaman, kepalanya sedikit menoleh ke samping, seperti ada bayangan dari rumah itu, Emine mengarahkan pandangannya ke sebuah objek. Mata Emine menangkap sesosok perempuan keluar dari rumahnya kemudian di susul dengan Dicle di belakang. Wanita itu masuk ke dalam mobil, Dicle tersenyum melambaikan tangannya ke arah wanita itu. Emine melempar pandangannya ke arah Fifan, Sorot mata dan ekspresi Emine menunjukan bahwa Emine ingin meminta penjelasan dari Fifan tentang siapa wanita yang baru saja keluar dari rumahnya. Namun Fifan menghindari sorot mata Emine. Fifan sangat malu untuk menjelaskan kebodohannya karena terlalu percaya dengan Dicle yang kini menghianatinya.


" Trimakasih Emine, Ibu turun sekarang." Ucap Fifan tergesa-gesa membuka sabuk pengaman, membuka pintu lalu turun dari mobil.


Emine melihat selembar kertas jatuh dari saku celana Fifan dan segera mengambilnya.


Dicle tertegun tak percaya melihat Fifan dan Cansu turun dari mobil mewah. Untuk meyakinkan bahwa ia tak salah lihat, Dicle mengucek-ngucek matanya kasar dan ternyata yang ia lihat sama. " Siapa yang mengantar mereka?" Tanyanya sendiri Wahhh,,, mobilnya keren sekali." Dicle kagum melihat mobil mewah masuk ke lingkungan ini dan ia mencoba melihat siapa di balik mobil itu. Namun kaca mobil tidak bisa di tembus oleh mata dari luar.


Emine melihat tingkah Dicle yang sepertinya sangat penasaran, dengan sengaja Emine menurunkan kaca mobil perlahan membiarkan dirinya terlihat sedikit demi sedikit. Untuk membuat Dicle terkejut, Emine menambahkan Ekspresi membunuh, dengan sorot mata tajam penuh kebencian, sorot mata Emine untuk Dicle tidak pernah berubah selalu ada bara api yang berkobar ketika lensa mata Emine menangkap sosok lelaki bejat Dicle.


" E,,,e,,,Emine,,, itu Emine,,,." Dicle sangat terkejut hingga suaranya terbata-bata. Tangannya gemetar saat menunjuk ke arah Emine. Fifan yang kini berjalan ke arah Dicle refleks membalikan badan meski ia sudah tahu itu benar Emine. Saat Fifan membalikan badan, Emine sudah menaikan kaca mobilnya dan melaju kencang di tengah derasnya hujan. Menyibak gendangan air di jalan hingga muncrat ke samping.


Untuk menjawab semua yang tadi ia lihat, Dicle menghentikan Fifan yang ingin masuk ke dalam rumah. " Fifan, itu Emine? Yang ada di dalam mobil itu Emine bukan?" Tanya Dicle sangat penasaran.


Fifan menatap tajam pria di depannya yang mungkin akan mati karena penasaran.


" Cansu kau masuklah dulu ke dalam." Fifan membiarkan Cansu masuk ke dalam.


" Memangnya kenapa jika dia adalah Emine?" Ucap Fifan sinis.

__ADS_1


" Jadi benar itu Emine? Wahhhh,,,, luar biasa,," Seperti memenangkan lotre, Dicle sangat bahagia. Entah untuk apa dia bahagia seperti itu, tidak ada yang tau apa yang sedang di pikirkan pria ini.


Fifan tidak mengerti dengan sikap Dicle, namun ia tahu pria ini tidak pernah punya maksud yang baik. " Kenapa kau sangat bahagia?" Fifan bingung.


" Apa kau tidak lihat? Emine,,,, Wahhh,,,, mobil itu sangat mahal. Itu berarti Emine di adopsi oleh orang yang sangat kaya raya." Dicle benar-benar bahagia. " Fifan," Dicle memegang kedua pundak Fifan dan menatapnya dengan tatapan penuh maksud. " Kita tidak usah bekerja lagi!! Kita manfaatkan Emine, dia bisa mengirimkan kita uang setiap bulan." Pria ini sudah benar-benar kehilangan urat malunya, dengan tidak tahudirinya ia berani berbicara seperti itu di depan Fifan.


" Plakkkkkkk,,,,,,,," Untuk pertama kalinya Dicle menerima tamparan yang sangat keras dari istrinya.


" Kau,,," Fifan mengarahkan jari telunjuknya tepat di depan mata suaminya. " Jangan pernah sekali-kali berfikir untuk mengganggu Emine!! Jangan dekati dia!! Jangan berani menyentuhnya!! Bahkan jangan pernah mencoba untuk melihatnya!! Aku masih bisa menerima penghianatan mu padaku, Tapi aku tidak akan pernah membiarkan mu melukai putri ku lagi." Fifan mempringati Dicle dengan emosi yang sudah mendidih setelah mendengar ucapan Dicle. " Aku tidak akan mengulang kesalahan yang sama hanya untuk pria baji**an seperti dirimu. Dan satu lagi, jika kau ingin bersenang-senang bersama wanitamu itu, lakukan lah di luar!! Ini rumah ku. Bukan rumah mu." Fifan pergi begitu saja setelah membuat sudut bibir suaminya berdarah.


" Kau berani dengan ku Fifan. Lihat saja apa yang akan aku lakukan." Niat busuk sudah ada di pikiran Dicle. Ia merencanakan sesuatu untuk membalas Fifan dengan menggunakan kelemahannya yaitu kedua putrinya. " Ahhhhhhh,,,, Sial,," Ringis Dicle memegang rahangnya yang hampir lepas.


Emine masih di bayangi dengan rasa penasaran tentang skandal apa yang terjadi di rumah itu. Jika duga'annya benar tentang Dicle yang berselingkuh lalu kenapa ibunya tidak beraksi apa pun. Seperti Fifan sudah terbiasa dengan pemandangan tadi.


" Aku harus mencari tahu kebenarannya." Emine sangat penasaran dengan apa yang telah terjadi di keluarganya. "Jika benar dia berselingkuh, takan ku biarkan ibu dan Cansu berada di dekatnya. Pria itu bisa melakukan apa pun yang ia mau." Gumam Emine sendiri. Emine meski ia masih sakit hati kepada ibunya, tapi Emine tidak bisa membiarkan semua ini terjadi pada ibunya. Ibu tetaplah ibu, sekeras apa pun Emine membenci ibunya, semua itu tidak akan pernah merubah kenyataan bahwa Emine lahir dari rahim Fifan.


" Emine,,," Panggil kakek tua dari ruang tamu. Emine berjalan menghampiri kakek tua yang sedang menikmati secankir teh hangat dan duduk berhadapan.


" Emine. Kenapa kau berjalan dengan pandangan kosong seperti itu? Apa yang sedang kau pikirkan? Apa ada masalah? Ceritakan pada kakek!!" Kakek tua melihat Emine berjalan dengan pikiran yang melayang entah kemana.


" Kakek. Aku ingin minta bantuan mu." Untuk pertama kali Emine meminta bantuan kepada kakek tua.


" Bantuan? Untuk apa?" Kakek tua sedikit bingung.


Emine mengeluarkan selembar foto dari dalam tasnya dan menunjukannya pada kakek tua.


" Siapa dia?" Tanya kakek tua bingung dengan maksud Emine menunjukan foto seorang pria.


" Dicle. Suami ibuku. Tolong cari informasi dimana dia bekerja!!"


Kakek tua mengambil foto itu dan menatapnya lekat. " Pria yang kau ceritakan itu ternyata dia. Wajahnya di bawah standar, masih jauh lebih tampan kakek saat dulu." Ucapnya dengan ekspresi begitu yakin akan ketampanannya dulu.


Emine ingin muntah tapi ia tahan.


" Baiklah akan kakek cari informasinya." Meletakan foto itu kembali di atas meja. " Tapi kenapa kau menyimpan fotonya?" Tanyanya penasaran


" Aku tidak menyimpannya. Tapi ibu menjatuhkannya di dalam mobil."


" tunggu!! Kau bertemu ibumu hari ini?"


" Ya. Aku mengantarnya pulang." Emine pergi meninggalkan kakek tua begitu saja di ruang tamu.


*


*


*


Jangan lupa like+komennya!!


Trms.

__ADS_1


__ADS_2