Wanita Seribu Luka

Wanita Seribu Luka
Malam ke 2


__ADS_3

Usai berendam, Okan membopong tubuh Emine yang hanya di tutupi handuk itu ke atas kasur.


Membaringkan istrinya dengan lembut sekaligus langsung memposisikan diri di samping Emine.


Kecupan polos yang perlahan berubah menjadi ciuman panas itu mulai menguasai gairah masing-masing. Permainan bibir di hentikan dikala bagian tubuh Emine yang lain juga harus mendapat perlakuan


Emine menggeliat saat Okan menidih lehernya, mengecupnya, sampai menggigit kecil memberi tanda kepemilikan di sana.


Area leher wanita adalah area tersensitif ke dua yang biasanya sering di jadikan tempat pelabuhan pembangun gairah oleh pria.


Hampir semua pria tahu itu, hmmm.


Handuk yang menutupi tubuh Emine sudah di lepaskan oleh Okan tanpa di sadari Emine.


Hingga pijatan lembut di buah dadanya menyadarkan Emine bahwa ia sudah di telanjangi.


" Si kembar semakin besar saja. Apa kau sengaja melakukannya untuk menarik gairah ku??"


Okan menggoda Emine. Hal biasa jika payuda*a perempuan itu membesar saat mereka hamil.


" Okan,,,, Kau ini. Sudah jangan bermain lama di sana!! "


" Tidak mau. Aku belum puas."


Secepat kilat mulut Okan menggantikan tangannya. Ia menyusu di sana dengan lembut. Sedangkan tanggannya merayap kebawah. Bermain lincah disana.


Seprai di cengkram kuat, Eminge mengerang, mendesah keras hingga membuat Okan berhenti menyusu beralih menatap wajah Emine yang terlihat menikmati semua ini dengan senyum.


" Sayang, kau basah. Hahahaha,,,,,"


Okan menertawai Emine.


Emine merasa jangkel sekaligus malu.Ia langsung merapatkan kakinya yang terbuka secara otomatis tadi. Wajahnya di tekuk 90 derajat.


" Memangnya ulah siapa hingga aku basah??"


Dengusnya memalingkan pandangan.


" Oho,,,, jadi istri ku marah??"


" Tidak tahu."


Jawabnya sinis.


" Hmmmm... Biklah maafkan tangan nakal ku ini sayang!! Aihhh dasar tangan nakal."


Cup,,,,,!!!


Okan mengecup pipi Emine sebagai tanda permintaan maafnya.


Kemudian melirik jam, 10.15 malam.


" Jam 11. 30 malam, aku akan menyelesaikannya sampai jam 11. 30 malam."


Dari jam 10. 15 sampai jam 11. 30 malam berarti 1 jam lebih 30 menit. Apakah itu bisa di bilang singkat atau lama??


" Hmmmm,,, terserah kau saja!! "


Pipi Emine memerah, ia memalingkan wajahnya kembali.


" Baiklah. Aku akan melakukannya dengan lembut. Kau rileks saja!! Jangan terlalu tegang!! Kau mengerti?! Jika tidak nyaman langsung katakan pada ku!! "


Meski seperti itu Okan tetap memperhatikan standar keamanan untuk wanita hamil.


Emine mengangguk paham.


Sekarang tubuh Okan sama polosnya dengan Emine, ia sudah berada di atas tubuh seksi wanitanya dengan siku sebagai tumpuan agar tidak menerpa perut Emine dan menyakitinya.


Emine menutup matanya dengan tangan memegang pundak Okan.


" Ini tidak akan terasa sakit. Tenang saja!! Jangan tutup mata mu!! Aku ingin melakukannya dengan melihat bola mata indah mu itu."


Minta Okan kemudian Emine membuka matanya, Okan tersenyum melihat wajah kaku istrinya.


" Bersiaplah!! Aku akan memulainya sekarang."


Emine semakin mengencangkan pegangan tangannya di bahu Okan. Jantungnya berdebar tak beraturan. Ia semakin menggeliat dengan desahannya ketika Okan berusaha memasukan miliknya ke milik Emine.


Lalu dengan sekali hentakan malam indah itu pun akhirnya terulang kembali. Hingga pagi hari menjelang kedua pasangan itu masih terlelap dalam gulatan selimut yang menutupi tubuh mereka sampai ke leher.


Cahaya matahari yang menembus tirai jendela sekaligus membangunkan Emine dari tidurnya. Wajah tampan Okan pertama dilihatnya.


Tidak menyangka sekarang mereka sudah


berstatus suami istri.


" Ahhhh,,,, kau sudah bangun. Dingin sekali."


Okan melihat Emine yang sedang menatap wajahnya kemudian memeluknya kembali dengan erat.


" Sepertinya hari ini turun salju."


Jawab Emine di dekapan Okan.


" Benarkah?? Ahhh,,,, hari ini aku pasti mendapat tugas tambahan."


Okan melepas pelukannya beralih mengacak rambutnya frustasi. Ia tidak ingin bangkit dari tempat tidurnya dan masih ingin menghabiskan hari ini bersama Emine.


" Tugas tambahan apa??"

__ADS_1


Emine menatap Okan penasaran.


" Hari turunnya salju adalah hari yang paling menyibukan untuk polisi. Semua polisi diturunkan ke lapangan untuk memantau situasi terutama di jalan raya karena salju sangat membahayakan."


Jelas Okan. Meski sudah naik pangkat Okan belum menjadi bos yang hanya memerintah pausukannya dari kursi kebesaran seperti contohnya jendral Sam.


" Ohhh,,, pergilah!! Kau harus bekerja!!"


Seru Emine santai.


" Apa?? Aihhh,,, kau itu sama saja menjengkelkan."


Okan kesal ternyata Emine sangat melerakan dirinya untuk pergi bekerja.


" Aihhh kenapa marah?? Aku ini hanya ingin kau bersikap profisional dalam pekerjaan. Kau baru naik pangkat jangan sampai turun pangkat!!! "


" Apa kau menikah karena pangkat ku??"


Okan melempar tatapan curiga pada Emine.


" Tentu."


Emine tersenyum, ia sengaja membuat Okan semakin kesal.


" Kau ini!!!!"


Okan menggulati Emine hingga wanita itu meronta-ronta ingin dilepaskan karena Okan sesekali menggelitikinya.


Emine berteriak-teriak dan tertawa keras.


GDBRAKKKKkkkk,,,,,,!!!!


Pintu tiba-tiba terbuka.


Emine dan Okan terkejut refleks berhenti kemudian menatap ke arah pintu.


" ASTAGA!!! Maaf kak aku lupa. Maafkan aku!! Cansu ayo kita keluar dulu!! Kau tidak boleh melihat ini."


Entah apa yang difikirkan Meli hingga main menerobos masuk ke kamar pengantin baru.


Meli dan Cansu segera keluar dan menutup pintunya.


" Ya Tuhan. Cansu baru saja melihat sesuatu yang seharusnya tidak dia lihat."


Emine takut karena Cansu masih berada di bawah umur.


" Kau ini berlebihan sekali. Memangnya apa yang di lihat Cansu? Kita hanya bermain gelitik-gelitikan."


Okan menepis selimutnya lalu beranjak dari tempat tidur ingin ke kamar mandi membersihkan diri.


" Ehhh,,, Kau mau kemana??"


" Tentu mau mandi. Kau menyuruhku berangkat berkerja."


Jawabnya sedikit terheran.


" Dasar pria tidak bertanggung jawab. Setelah mendapat apa yang diinginkan malah main pergi begitu saja. "


Dengus Emine kesal. Ia menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang dengan kedua tangan di lipat di atas perut.


" Sekarang apa lagi kesalahan ku sayang??


Jangan di tekuk begitu wajah mu!! Bagaimana nanti anak kita lahirnya jelek seperti dirimu??"


Okan mengejek Emine. Ia sekarang duduk di sisi ranjang.


" Okan!!! "


PLAKkkkk,,,,,!!!


" Aowww,,,,.Aihhhh sakit sekali. Kau ini kejam sekali dengan suami sendiri."


Okan meringis kesakitan karena lengannya di pukul keras oleh Emine.


" Beruntung aku hanya memukul bersyukurlah karena aku tidak memenggal kepala mu itu."


" Lihat ibu mu itu!! Sikapnya sudah mirip seperti penyihir kejam."


" Kauuu!!!!"


Emine hendak memukul Okan lagi namun pria itu berhasil menghindar.


" Sudah berhenti memukul ku!! Aku laporkan kau nanti ke kantor polisi karena sudah melakukan kekerasan dalam rumah tangga."


Okan mengancam, hanya bercanda.


" Laporkan saja!! Aku ditangkap kau yang rugi. " Jika Emine di tangkap siapa yang akan menemani Okan tidur di malam hari?? Itu adalah kerugian besar.


" Tidak, Tidak!! Tapi berhentilah marah!! Katakan apa yang kau inginkan??"


" Gendong!!!!"


Emine menjulurkan kedua tangannya dengan manja.


Astaga hanya minta di gendong sudah kebanyakan drama seperti ini, Begitu dengus Okan dalam hati. Ia pun segera membopong tubuh Emine sesekali mencium bibirnya dalam perjalanan menuju ruang ganti.


Sedangkan di lantai bawah,


Meli terlihat sangat gusar, ia terus membayangkan apa yang ia lihat tadi. Cansu sampai pusing melihat Meli mondar mandir di depannya.

__ADS_1


Anak kecil itu saja masih bisa bersikap tenang tapi Meli yang sudah dewasa malah seperti anak-anak seakan-akan kejadian tadi sudah merenggut kesucian matanya.


Padahal Okan dan Emine tidak melakukan apa pun. Mereka hanya sedang bercanda.


" Kakak, Duduklah dulu!! Nanti kau tersandung.."


BRUKKKkkkk,,,,!!! Aghhhh,,,,!!!!


Baru saja diperingati Meli sudah tersandung dan terjatuh.


" Aishhhh,,,, Sialan!!! "


Dengus Meli kesal dengan kaki meja yang membuatnya tersandung.


Cansu membantu Meli berdiri dan duduk kemudian memberikannnya segelas air.


" Kakak, ini minumlah dulu!! "


Cansu melihat Meli sedikit tidak mengerti akan sikapnya, entah apa yang sedang difikirkan wanita dewasa depannya ini.


Meli menerima gelas dari Cansu lalu meminum airnya dalam sekali tegukan.


" Cansu, sebaiknya kita pulang saja ya!! Besok kita kembali lagi kesini!!!"


Saran Meli.


" Tidak. Aku mau bertemu kakak sekarang."


Tolak Cansu.


_- Aishhh,,, anak ini kenapa tidak mengerti sih?? Ini bukan waktu yang tepat. Kakak Okan dan Emine sedang menikmati hari mereka. Ahhh,,, aku bisa di bunuh oleh kak Okan karena sudah mengganggunya. _-


Batin Meli.


Tap,,,tap,,,tap,,,!!


Suara langkah kaki menuruni anak tangga.


Meli melihat siapa itu. Ternyata Okan dan Emine sudah turun. Okan melihat Meli tajam seperti ingin membakarnya hidup-hidup.


_- Ahhh,,,Sial. _-


Cansu langsung berlari menghampiri Emine. Sedangkan Okan terus berjalan ke arah Meli.


" Haii kak,,,, Hehehehehe,,, Maaf."


Ucapnya nyengir kuda terlihat sangat imut.


Keimutan Meli tidak mempan pada Okan malah Okan semakin kesal dengan wajah adiknya itu.


" Aowwww,,,, Kakak maaf sakit!! Ampun. Aku tidak tahu, sumpah. Lupa kak lupa."


Okan menjewer telinga Meli hingga gadis itu meringis kesakitan dengan tubuhnya yang diciutkan.


Emine dan Cansu tertawa melihatnya. Kakak dan adik ini sama-sama kekanak-kanakannya.


" Sudah-sudah Okan!! Kasihan Meli. Lagi pula kau harus berangkat ke kantor!! Nanti terlambat."


Emine menghentikan Okan sebelum telinga gadis itu putus. Okan pun melepaskan Meli.


" Aihhhhh sakit sekali. Bagaimana kalau telinga ku ini sampai lebar seperti gajah?? Kakak mau bertanggung jawab?? Sejak kecil kakak selalu saja menjewer ku."


Dengus Meli memegangi telinganya yang merah.


" Kau sendiri yang minta di jewer. Lain kali ketuk pintu dulu sebelum masuk ke kamar orang lain!! Begini jadinya kalau sudah terbiasa main masuk."


" Hisss,,, sudah aku bilang aku lupa, aku tidak tahu. Kalau ingin ehem,,,ehem kunci dulu pintunya!!!"


Balas Meli.


" Itu kamar ku. Terserah aku ingin menguncinya atau tidak. Kau yang biasakan mengetuk pintu sebelum masuk!! Itu adalah etika. "


" Ahhh,,,, Emine, tolong kondisikan mulut kakak Okan!! Telingaku sudah sakit jadi tambah sakit. "


Sekarang Meli mengarahkan pandangannya pada wanita yang sedari tadi hanya menyimak pertengkaran diantara saudara ini.


" Heiii,,, Emine adalah kakak ipar mu, usianya lebih tua dari mu, panggil dia kakak!! Sungguh sepertinya aku harus mengajari mu beretika."


Sambar Okan.


" Ihhhh,,, aku tidak berbicara dengan kakak jadi kakak dima!!"


kakak dan adik sama-sama keras kepala. Tidak ada yang mau mengalah. Emine sampai pusing di buatnya. Jika tidak dipisahkan peperangan mulut ini akan berlanjut hingga tahun depan.


" Okan, sudahlah!! Kau cepat pergi ke kantor!! Ini sudah jam 9. "


Perintah Emine sebenarnya ia juga tidak tahan mendengar pertengkaran ini.


Okan pun akhirnya pergi.


".Hush.... Pergilah pergilah!!! Dasar kakak gila.


" Meli mengatai Okan setelah Okan hilang dari pandangan.


" Huft,,,,,"


Emine menghela nafas panjang melihat tingkah suami dan adik iparnya.


Entah apa yang terjadi jika dua manusia ini di kurung di rungan yang sama.

__ADS_1


__ADS_2