Wanita Seribu Luka

Wanita Seribu Luka
Masuk perangkap


__ADS_3

Dalam beberapa hari ini Okan disibukan dengan misi rahasianya yaitu mencari kebenaran tentang Emine.


Lebih tepatnya lagi penyebab istrinya terluka.


Meski bukan luka berat tapi dirahasiakannya semua ini membuat Okan tidak bisa tidur dengan nyenyak.


Bernafas pun ia sulit.


Keselamatan Emine dan anaknya adalah yang utama.


Aktifitas pagi ini berjalan seperti biasa. Meli sudah mulai mau turun untuk sarapan bersama. Sebelumnya ia tidak mau bertemu dengan siapa pun, tidak mau keluar dari kamarnya.


Senyum hangat bermaknakan kebahagian mulai bertebaran di setiap bibir.


Menyambut gadis yang dulu sering tersenyum ceria namun kini hanya duduk di meja dengan senyum yang terbatas.


Usai sarapan pagi orang-orang mulai berpencar. Okan mendahului pergi bahkan sebelum makanannya habis. Katanya ada tugas penting. Ya seperti itulah jika sudah di ikat oleh negara.


Si bungsu Cansu tiba-tiba merengek ingin di ajak bermain ke taman. Semua orang sibuk bekerja. Emine sampai lelah menasehati adiknya itu namun tidak di dengar.


Beruntung Meli mengajukan diri untuk membawa Cansu ke taman.


Emine bahagia, Meli sudah mau keluar rumah. Ia pun sangat antusias mengijinkan Meli dan Cansu keluar.


Sekarang hanya ada dirinya dan kakek tua di meja makan.


Kakek tua merogoh sakunya. Mengelurkan benda yang tidak asing. Menyodorkannya kepada Emine.


" Pakailah!!"


Meminta Emine saat wanita itu menatap gelang yang ada di atas meja dengan tanda tanya.


" Kakek tidak berfikir untuk memberi ku misi lagi kan??"


Menebak. Gelang yang diberikan kakek tua adalah gelang dengan sinyal pelacak dan pengukur energi.


" Aku masih waras." Mengambil tisu kemudian mengelap bibirnya.


" Lalu untuk apa ini??"


Masih penasaran.


" Untuk berjaga-jaga."


Berlandaskan kejadian yang terjadi pada Emine beberapa hari yang lalu.


Tepat sekali. Sepertinya Emine memang membutuhkan benda itu untuk berjaga-jaga. Ia mengambil gelang dengan balutan emas putih lalu memakainya.


" Mau berangkat bersama?? Kakek akan berangkat sekarang."


Sudah siap-siap beranjak dari duduknya.


" Tidak kakek. Aku bawa mobil sendiri."


" Baiklah."


Kakek tua beranjak pergi. Beberapa menit kemudian di ikuti dengan mobil Emine mengekor di belakang.


Sampai di perusahaan JQ.


Penjaga di luar gedung menghampiri dua mobil yang berhenti secara bersamaan.


Membukakan pintu, memberi hormat kemudian mengambil alih kemudi mobil untuk dimasukan ke area parkir.


Dalam perjalanan menuju ruangannya yang terletak di lantai paling atas, Emine dan kakek tua berbincang-bincang seputar bisnis.


Para karyawan yang melihat dua orang besar di perusahaan JQ berjalan beriringan langsung menunduk memberi hormat.


Baru pertama kalinya CEO dan Manager utama itu terlihat bersama.


Walaupun Emine dan Kakek tua adalah keluarga tapi hampir 99% mereka tidak pernah terlihat bersama di perusahaan karena sibuk dengan urusan masing-masing.


Ruangan mereka ada di satu lantai yang sama. Namun ruangan Emine terletak sebelum ruangan kakek tua. Jadi ia lebih dulu sampai di ruangannya.


Emine masuk lalu duduk di kursi kebesarannya.


Ia mulai nyaman dengan dunianya sekarang.


Setumpuk berkas yang memberikan keuntungan berlimpah membuatnya semangat untuk bekerja. Dulu ia harus mempertaruhkan nyawa demi mendapat uang. Saat ini hanya perlu duduk manis.


Walaupun sebenarnya Emine lebih menyukai dunia malam karena itu lebih cocok dengan kepribadiannya. Lebih menantang juga menurutnya. Dan memiliki level yang spesial.


Seharusnya pagi ini dokumen peluncuran prodak baru sudah ada di atas mejanya untuk di priksa namun tidak ada.


Fikir Emine kesal karena semakin hari Fika bekerja dengan tidak profisional.

__ADS_1


Gadis itu selalu cekatan dalam mengerjakan apa pun. Belum sampai Emine memanggil pun dia sudah ada di depan matanya.


Tapi kali ini Fika menunjukan dirinya adalah manusia biasa.


Emine menghubungi Fika dengan telepon kantor. Tersambung namun tidak ada yang mengangkat.


" Sudah jam segini apa Fika belum sampai di kantor ya? Ahh,,,, dasar serketaris tidak bertanggung jawab. Pasti dia sedang tidur nyenyak di rumahnya."


Teringat kemarin Fika memposting di story akun instagramnya. Gadis itu berada di klub, minum minum dengan beberapa staf yang dekat dengannya.


Mencoba menelfon Fika lewat ponsel pribadinya. Tersambung namun lebih menyebalkan lagi. Bukan tidak di angkat tapi malah di matikan.


" Awas kau ya. Aku potong gaji mu. Berani sekali mematikan panggilan ku. Aishhh,,,,,"


Emine mendengus. Besok-besok ia berencana akan bersikap lebih tegas lagi dengan serkertarisnya itu.


Tidak ada senyum ramah. Yang ada hanya senyum mengintimidasi dan membunuh. Itu perkiraan rencana Emine.


Salah seorang staf menerima panggilan dari manager utama untuk datang keruangannya sekaligus membawakan dokumen peluncuran prodak baru dari defisi pengembangan.


" Kemarin Fika bersama mu kan??"


Dan kebetulan staf itu adalah rekan minum-minum Fika di club.


" Iya Nona."


" Sekarang dia belum datang ke kantor. Apa dia mabuk? "


Ternyata Emine menghawatirkan serkertarisnya itu setelah tadi berencana akan memperlakukannya dengan tegas.


Wajar Emine cemas. Fika sangat baik padanya.


" Tidak Nona. Kemarin Nona Fika hanya minum sedikit. Dia juga pulang mendahului."


" Baiklah. Kau boleh pergi!!"


Mempersilakan staff itu untuk keluar dari ruangannya.


" Wahhh,,,,, Bocah ini memang harus di beri pelajaran. Dia tidak mabuk tapi tidak mengangkat panggilan ku. "


Kembali mengoceh kesal tanpa mencurigai apa pun.


Emine memeriksa berkas-berkas tanpa Fika di sampingnya. Keahliannya dalam bidang ini sesungguhnya tidak terlalu bisa di andalkan. Biasanya Emine mengandalkan Fika untuk membantunya.


Mengingat Fika lagi hanya menambah kekesalan Emine. Ia harua bekerja sendiri sekarang.


Satu pesan masuk. Emine menoleh kesamping dengan dugaan bahwa itu pasti Fika.


Emine mengambil ponselnya. Membuka layar kunci kemudian mengklik apl pesan, mengklik lagi pesan teratas. Itu pesan terbaru.


Sebuah pesan video dari nomor tak dikenal.


Bukan penasaran tapi Emine malah berdecih kesal.


Dia fikir ini pasti pesan iseng-isengan dari orang yang tidak bertanggung jawab.


Belum sempat mengklik tombol kembali tiba-tiba pesan masuk lagi.


Secara otomatis mata Emine langsung mebaca pesan yang berupa teks itu.


" Jika ingin dia selamat sebaiknya kau datang kemari!! Jangan membawa siapa pun!! datanglah sendiri!! Aku memantaumu. Jika kau membawa orang lain maka akan ada nyawa yang melayang."


Tertera sebuah alamat di bawah teks tersebut.


" Brengsek!!!"


Umpatan itu refleks keluar dari mulutnya. Emina tahu siapa pengirim pesan itu. Segera ia membuka video yang sempat di abaikan tadi dengan kecemasan.


Video hanya berdurasi 5 detik. Diambil dengan filter boomerang membuat gambar yang tertangkap tidak jelas dan hanya sekelebat saja.


Untuk memperjelas Emine menghentikan Video itu. Melihat apa yang ingin ditunjukan dari bayangan maya ini.


Mengejutkan. Seorang wanita pingsan, tubuhnya terikat di kursi dengan mulut di sekap.


Tangan Emine gemetar, mulai panik tidak bisa ia kontrol. Jantunnya berdengup kencang karena khawatir.


Emine mengembalikan layar ponsel ke menu utama, mencari apl kontak, kemudian mencari nomor seseorang, ditelfon dan untungnya tersambung.


" Hallo." Langsung menyambar.


" Iya Emine. Ada apa??"


" Meli kau dimana??"


" Di taman. Ada apa Emine?? Apa terjadi sesuatu??"

__ADS_1


Tentu Meli ikut cemas mendengar nada suara Emine.


" Syukurlah. Sekarang cepat kau pulang!! Bawa Cansu pulang!! Jangan keluar rumah!!"


Berangsur lega. Namun belum bisa berfikir dengan tenang.


Siapa wanita yang disekap itu dan siapa pengirimnya. Benarkah itu Serin?


Apakah hanya salah kirim atau memang benar ini ditunjukan untuk dirinya?


" Tapi~~"


" Aku tidak bisa menjelaskannya sekarang. Yang jelas kau harus pulang!! Di luar tidak aman."


" Biklah. Aku pulang sekarang."


Emine mematikan panggilan. Beralih menelfon si pengirim video namun nomornya sudah tidak aktif.


Berusaha bersikap tenang. Memikirkan semua ini dengan kepala jernih.


Meli dan Cansu aman. Fikir Emine dia tidak mempunyai seorang perempuan yang dekat dengannya.


Saudara tidak punya. Sepupu apalagi dan teman??


Sontak fikiran Emine tertuju pada Fika.


Kembali menelfon Fika namun panggilan Emine dimatikan. Ini semakin aneh.


Meminta informasi pada staff di luar katanya Fika belum datang ke kantor.


Fiks, Kecurigaan Emine semakin mendalam.


Serin menculik Fika untuk menarik dirinya ke prangkap.


Kecurigaan itu semakin beralasan setelah Emine melacak ponsel Fika yang masih aktif.


Posisi Fika sekarang sama dengan alamat yang di kirimkan Serin.


" Siall!!!"


Emine sudah tidak memikirkan apa pun lagi selain keselamatan Fika. Ia berlari menuju lift.


Turun ke lantai terbawah kemudian setengah berlari menuju parkiran. Para karyawan yang melihatnya penasaran apa yang sedang terjadi.


Bahkan beberapa karyawan yang belum sempat menghindari Emine, mereka di trobos hingga sedikit terhempaskan.


Jika kau membawa orang lain maka akan ada nyawa yang melayang. Kata-kata itu masih tersimpan jelas di otak Emine.


Serin memantaunya, mungkin wanita itu juga tahu sekarang dirinya sudah menuju alamat yang dikirimkan.


Terpaksa Emine bergerak sendiri. Meski tahu Serin tidak akan sepolos itu untuk tidak menyiapkan perangkap.


Bisa saja saat Emine menginjakan kaki disana tubuhnya langsung di sapa dengan timah panas atau bisa juga ditikam dari belakang.


Sayangnya semua kemungkinan itu ia abaikan. Sekali lagi hanya keselamatan Fika yang ada di dalam kepalanya.


Emine memacu mobilnya dengan kecepatan di luar kepala. 30 menit waktu yang dipergunakan dan ia sudah sampai.


Lagi-lagi serin memilih tempat yang sepi.


Sebuah pabrik tekstil yang terbengkalai tidak di urus.


Dari luar saja bangunan itu sudah terlihat sangat tua. Bangunan yang tidak layak berdiri.


" Fika bertahanlahh!! Aku datang."


Emine masuk ke dalam pabrik dengan sangat hati-hati di setiap langkahnya.


Menebar pandangan kesetiap sudut penuh kewaspadaan.


Ini adalah kandang musuh. Ia tidak tahu dimana letak-letak ranjau yang akan membahayakan nyawanya.


Mungkin saja 5 penembak jitu sedang membidik ke arahnya.


Tapi sudah sejauh ini Emine melangkah tidak menemukan apa pun. Tidak ada serangan dan tidak ada pergerakan.


" Serin,,,,!!! Dimana kau?? Aku sudah datang. Keluarlah!! Jangan sakiti Fika!! "


Akhirnya Emine berteriak.


" Aku disini Emine."


Emine berbalik ke belakang. Ke arah sumber suara.


Plankkkk,,,,,!!!!!

__ADS_1


Pandangan Emine kabur setelah dihantam oleh benda padat. Bahkan ia belum sempat melihat dengan jelas siapa itu dirinya sudah ambruk di lantai.


__ADS_2