Wanita Seribu Luka

Wanita Seribu Luka
Tetanik Season 2


__ADS_3

Deru arus ombak berlomba-lomba mencapai tepian pantai. Suara khas ombak yang menabrak batu karang di dekat dermaga begitu keras. Beberapa omang-omang berlari masuk ke dalam air ketika mereka sadar dengan suara langkah kaki manusia yang kian mendekat. Terlihat beberapa burung camar terbang di atas laut, mengintai ikan untuk siap di sergap. Semakin jauh mata memandang laut semakin indah bayangan yang tertangkap. Permukaan air laut dan langit nampak menyatu membentuk garis horizontal yang lurus di lengkapi dengan kapal yang sedang berlayar mencari harta karun yang bersembunyi di bawah laut. Tak jarang ikan-ikan kecil melompat menampakan diri ke semesta. Mata Emine berbinar memandangi keindahan pemandangan yang didominasi dengan warna biru di depannya.


" Sangat Cantik." Tersenyum bahagia. " Kenapa kita kesini?" Emine melempar pandangannya ke arah pria disampingnya yang kini ikut menatapnya.


" Hanya ingin mengubah suasana." Ucap Okan dengan senyum perlahan berjalan menyusuri pantai meninggalkan Emine yang sedang terlena dengan lautan luas di depan sana.


Emine menyadari dirinya di tinggalkan, dengan cepat ia menyusul Okan menyamakan posisi. Emine tidak tau setan apa yang merasuki pria ini dan hal apa yang membuat Okan membawanya kesini.


Emine berlari kecil di pantai, meninggalkan Okan beberapa langkah. Sikap Emine begitu manis dan lugu dengan berputar-putar di pasir hingga membuatnya kehilangan keseimbangan dan terjatuh. Okan sempat sedikit cemas melihat Emine terjatuh namun dengan sigap Emine berdiri lagi dan membentangkan kedua tangannya sperti yang ada di film Tetanik. Okan tersenyum melihat tingkah konyol wanita misterius ini. Emine memejamkan matanya, tersenyum membiarkan setiap angin yang menerpa wajahnya yang cantik, angin juga meraup rambut Emine kebelakang membuat wajahnya terlihat lebih jelas. Okan terpanah melihat keindahan di depannya, tubuh seksi Emine terlihat begitu sempurna dari kejauhan. Okan terus melangkah mendekati wanita ini hingga sampailah Okan di belakang Emine.


Emine bisa merasakan keberadaan Okan di belakangnya meski tanpa melihat.


" Apa sudah terlihat seperti di film tetanik?" Tanya Emine masih memejamkan matanya.


" Akan lebih mirip jika ada yang memelukmu dari belakang." Ucap Okan.


Emine tidak pernah menganggap serius apa yang di katakan Okan, baginya Okan tidak akan pernah terpikat oleh seseorang seperti dirinya.


" Kalau begitu siapa pun tolong peluk aku!! Siapa tau kita mendapat job film tetanik season 2" ucap Emine hanya sebagai gurauan.


" sssssssttttttt." Suara gesekan baju yang di terpa angin.


Emine mengerjap refleks membuka matanya. Nyata dan mimpi berbeda tipis, Namun pelukan Okan yang semakin di eratkan membuat Emine sadar ini adalah nyata. Jantung Emine benar-benar ingin melompat dari tempatnya, matanya menatap ke arah laut dengan tidak percaya, bisikan-bisikan angin semakin membuat suasana benar-benar hening, dada kekar pria yang memeluk Emine bersatu dengan tubuh Emine, hanya saja di batasi oleh pakaian yang mereka kenakan.


" Sekarang kita akan benar-benar mendapat peran untuk film tetanik Season 2." Bisik Okan lembut menyentuh bulu halus di sekitar leher membuat Emine menahan rasa geli yang terbangun oleh ulah pria ini.


Okan melepas pelukannya membuat Emine bisa mengembangkan paru-parunya yang sempat mengempis. " Bangunlah dari mimpimu!! Tidak ada tetanik Season 2, jika pun ada mereka tidak akan pernah memberi peran untuk kita." Okan berbicara sedikit tertawa lalu pergi meninggalka Emine. Okan duduk di bawah pohon mencari perlindungan dari teriknya matahari siang.


Ucapan Okan yang diselingi suara tawa membuat pristiwa film tetanik season 2 itu hanya sebuah lelucon, tidak nyata, dan tidak serius.


Emine mematung ia tidak tau harus bahagia atau bersedih. Okan tidak menyadari bahwa baru saja ia telah menggores luka baru di hati Emine. Emine menganggap bahwa Okan memeluknya hanya untuk sebuah lelucon, tapi bagi Emine dengan ukuran cinta yang di pendamnya, pelukan itu sangat berarti baginya. Pelukan yang sempat membuat Emine terbang tinggi dan pada akhirnya membuat Emine terjatuh. Sekali lagi Okan membuat Emine sadar bahwa dia adalah orang bodoh yang terlalu berharap akan cinta dari seorang pria milik wanita pemilik piama merah penghuni lemari kaca.


Bekas pelukan Okan yang menempel dibaju Emine bagaikan rantai besi yang melingkar di dada Emine, semakin rantai itu di eratkan, dada Emine semakin terasa sesak.


" Hanya sebuah lelucon? Menyedihkan." Gumam Emine pelan mengasihani diri sendiri. Air mata Emine turun perlahan membasahi beberapa butir pasir yang tak tersentuh oleh air laut.


Okan tersenyum malu mengingat kelakuannya barusan. Bukan hal yang mudah untuk terpikat kembali pada wanita lain setelah mendapat luka dari wanita masa lalu, bukan juga hal yang mudah untuk memeluk wanita lain, tapi Emine wanita yang entah sejak kapan menjajah hidup Okan, ia mampu membuat Okan melakukan hal yang terduga.


" Apa yang sudah aku lakukan? Ini gila." Gumam Okan tersenyum memandangi tubuh Emine yang berdiri di depannya.


" Emine,,,," Teriak Okan memanggil Emine yang masih mematung. " Apa kau sudah memutuskan untuk diam disana? Kemarilah!! Duduk disini!! Cuacanya sangat panas." Untuk mengatasi rasa canggungnya, Okan beruasaha bersikap sewajarnya.


" Jika bisa, aku ingin tetap disini saja." Gumamnya pelan sembari menghapus air matanya. " Iya,,, aku kesana sekarang." Emine menghampiri Okan dan duduk di sebelahnya.


" Kenapa kau berdiri disana?" Tanya Okan.


" Tadi aku melihat sesuatu di sana." Menunjuk ke arah laut. " Aku mengamatinya,ternyata ada seekor lumba-lumba." Hanya sebuah alasan.


Okan tau Emien berbohong tapi ia diam, di pantai ini tidak ada lumba-lumba. Lumba-lumba hanya ada di laut turki bagian timur.


" Kenapa kau banyak berbohong?" Tanyanya dalam hati.


" Dertttt,,, Dertttt,,, Dertttt,,," Suara panggilan.

__ADS_1


" Emine tunggu sebentar." Okan berdiri beranjak pergi beberapa langkah dari Emine.


Emine menatap Okan yang terlihat sangat serius dengan percakapannya di telfon.


" Apa terjadi sesuatu?" Tanya Emine melihat Okan berjalan ke arahnya dengan ekspresi prustasi dan terlihat sangat kesal.


" sidik jari pembunuh itu tidak bisa dideteksi. Ahhhhh,,,,, sekarang apa lagi yang harus di lakukan." Dengus Okan dengan suara yang sudah putus asa.


Emine tidak tega melihat Okan kesulitan seperti itu, Emine berinisatif untuk menawarkan bantuan.


" Aku bisa membantu mu." Ucap Emine membuat Okan kini menatapnya penasaran.


" pembunuh itu dia bilang dia selalu senang saat melihat ku, dia juga bilang ingin mencari tau tentang diriku. Aku yakin untuk beberapa hari ini dia pasti mengawasi ku. Bagaimana kalau kita pancing dia keluar?"


" Maksudmu kau ingin menjadi umpannya?" Tanya Okan mengerutkan dahinya.


" Iya. tidak ada salahnya kita mencoba."


" Tapi ini sangat berbahaya." Okan tidak tau bahwa wanita yang duduk disampingnya juga sangat berbahaya.


" Jangan kawatir!! Dia tidak akan membunuh ku. Aku bukan daftar korbannya." Ucap Emine tersenyum meyakinkan Okan.


" Baiklah, aku dan kedua rekanku akan berusaha melindungimu. Kita pancing dia di mall." Saran Okan mendapat anggukan dari Emine.


" Aku akan menghubungimu tentang kapan kita akan memulai rencana. Aku akan memberitahu mu nanti." Ucap Okan melengkapi.


" Kalau begitu ayo kita pulang!!" Emine berdiri disusul dengan Okan yang juga ikut berdiri.


Sebelum pulang, Emine harus mengantar Okan ke kantor polisi terlebih dahulu karena mobil yang mereka pakai adalah mobil Emine. Di tengah perjalanan Emine nampak memandangi hamparan laut yang masih bisa dilihat dari atas jalan tol dengan tatapan kosong. Pikiran Emine masih tersangkut di tragedi film tetanik season 2. Okan sesekali melirik ke arah Emine dan melihat wanita itu sedang menikmati lamunannya. Okan tidak berani menyadarkan tatapan Kosong Emine, Okan hanya berani mencuri pandang ke arah Emine selagi Emine tidak menyadarinya.


" Dimana pak ketua?" Murat menghampiri Tiras yang sedang menyendiri menikmati es kopi amricano di temani setumpuk berkas.


" Entahlah, Okan tadi pagi sempat datang ke kantor. Katanya dia bersama seoarang wanita cantik." Responnya masih sibuk membolak balikan kertas satu per satu.


" Pantas saja semua polisi wanita disini terlihat kacau ternyata pangeran mereka membawa wanita cantik kesini." Okan bagaikan pangeran es yang begitu dingin, ketampanannya mampu membuat polisi wanita disini terjerat cinta sepihak. Lalu apa yang terjadi jika pangeran es membawa seoarang wanita? Tentu saja mereka semua akan patah hati. Para polisi wanita di sini baru saja di buat patah hati oleh Okan.


Okan dan Emine sudah sampai di depan kantor polisi. Emine dan Okan keluar dari mobil. Emine keluar untuk masuk dari pintu sebalah kiri mengbil alih kursi kemudi.


" Aku pergi sekarang." Ucap Emine dengan senyum yang di paksakan. Emine tersenyum untuk menyembunyikan luka di hatinya.


" Hati-hati!!" balas Okan.


Es kopi di tangan Tiras hampir terjatuh mengenai kertas-kertas di bawahnya. Tiras tertegun tidak percaya melihat Okan bersama Emine. Tiras merasa cemburu dengan kedekatan sahabatnya dan wanita yang di cintainya.


Murat juga melihat Okan dan Emine keluar dari mobil bersama. Refleks murat mengarahkan pandangannya pada Tiras untuk memastikan sahabatnya baik-baik saja. Pasalnya Murat tau bahwa Tiras menyukai Emine dan Murat mengerti apa yang di rasakan Tiras.


" Kau baik-baik saja?" Tanya Murat membubarkan tatapan Kosong Tiras ke arah Okan dan Emine.


" Ya. Aku baik-baik saja?" Jawab Tiras kembali fokus pada berkas yang sedang ia pelajari.


Okan berjalan ke arah Tiras dan Murat dan ikut bergabung bersama mereka.


" Kenapa kau bersamanya?" Tanya murat sinis.

__ADS_1


" Namanya Emine." Jawab Okan sangat terganggu dengan ekspresi Murat.


" Iya iya. Maksudku kenapa kau bersama Emine?" Tanyanya mengulang.


" Untuk membicarakan soal pembunuh itu. Aku meminta keterangan dari Emine. Dia adalah satu-satunya orang yang pernah bertemu langsung dengan pembunuhnya." ucapan Okan memberi angin segar untuk Tiras. "Hanya sebuah hubungan antara polisi dan saksi." Gumam Tiras tersenyum di dalam hatinya.


" Jadi apa ada sesuatu? Apa ada petunjuk?" Tanya murat semangat dan penasaran.


Okan menceritakan dari A sampai Z, tapi tentu ia tidak menceritakan tragedi film tetanik season 2 karena itu hanya akan membuatnya merasa malu. Okan juga menceritakan rencana yang sudah di buat dengan Emine kepada kedua rekannya.


Emine masuk ke dalam rumah dengan mood setengah hancur, matanya mengabsen setiap ruang lantai bawah tapi tidak menemukan kakek tua. Emine pun tidak terlalu menghiraukannya dan langsung naik ke atas menuju kamarnya.


" Emine,,,,,".Teriak kakek tua dari bawah membuat Emine refleks menengok ke sumber suara.


" Aishhhh,,,, apa lagi sekarang?" Melihat ekspresi kakek tua yang sepertinya akan mengomel membuat Emine mendengus kesal. Emine kembali turun menghampiri kakek tua yang tiba-tiba muncul memperburuk mood Emine.


" kemana saja kau dari pagi? Kakek mencarimu dari ujung timur samapi ke ujung barat, dari ujung selatan ke ujung utara, tapi kau tidak ada." Omel kakek tua selalu melebih-lebihkan dengan menujuk arah timur-barat, selatan-utara. Emine menatap kakek tua dengan malas.


" Sini ayo duduk!! Ada hal penting yang harus kita bicarakan." Kakek tua menarik tangan Emine dengan semangat menuju sofa.


Kakek tua membuka laptopnya, membuka folder Mission, memperlihatkan sebuah foto wanita cantik. " dia target baru?" Tanya Emine langsung tanpa mendengar penjelasan.


" Bukan. Dia adalah orang yang menyewa kita. Dia adalah seorang konglomerat yang siap membayar kita dengan harga fantastis." Kakek tua semakin semangat namun tidak dengan Emine.


" Wanita ini," Kakek tua mulai bercerita.


" Dia diceriakan oleh suaminya melahirkan. Nama suaminya adalah Kemal. Suaminya hanya menginginkan anaknya. Setelah mendapat seorang anak, suaminya kemudian menikah dengan wanita lain. Nama wanita ini adalah Velief, walaupun dia seoarang wanita krier yang sukses dan masuk dalam salah satu daftar orang terkaya di turki, tapi suaminya itu lebih kaya dari Velief. Velief kalah saat persidangan hak asuh anaknya. Saat ini dia berusaha untuk mendapatkan anaknya. Jika berhasil, Velief berencana untuk kabur dari Turki, dia akan pergi sejauh-jauhnya."


" Jahat sekali." Ucap Emine mengasihani wanita yang ada di laptop kakek tua. Di foto, Velief terlihat sangat cantik dengan senyumnya yang lebar. Cantik dan sukses, Velief sepertinya juga wanita yang baik, Entah apa yang ada di pikiran Kemal hingga menyia-nyiakan wanita seperti Velief


" Ya seperti itulah dunia. Terkadang ada beberapa manusia yang memiliki sifat binatang. Termasuk mantan suami Velief, dia benar-benar kejam." Kakek tua menghela nafas setelah menceritakan kisah pilu Velief.


" Sekarang apa misi kita?" Tanya Emine penasaran.


" Misi kita adalah mengambil bayi yang sekarang ada di tangan Kemal." Kakek tua menunjukan foto Kemal. " Lalu mengembalikannya pada ibunya!!" Sekarang Emine pun juga menjadi seorang pencuri bayi, sungguh ia tidak menyangka akan mendapat misi seperti ini.


Misi kali ini sangat berbeda dengan misi-misi sebelumnya. walapun demikian, misi kali ini berhasil membangunkan semangat Emine. Untuk sesaat ia melupakan kesedihannya. Emine memutuskan untuk fokus pada misinya. Ia sadar masih banyak orang di luar sana yang terluka lebih dari dirinya, masalah cintanya bukanlah apa-apa di bandingkan dengan luka yang di pikul Velief yang sekarang menjadi klien Emine.


" kapan misinya di jalankan?" Emine tidak sabar lagi untuk kembali ke dunia malamnya.


" Malam ini. Tapi misi hari ini akan di mulai dari pukul 7 malam. Kau harus menyelesaikannya sebelum pukul 10!! Pesawat pribadi Velief akan cek out pukul 10. Jika sebelum itu kau tidak membawa bayinya pada Velief, maka rencana kita akan gagal." Ucap kakek tua memperjelas dan mempringati Emine.


" Oke,,, akan ku selesaikan semuanya." Menatap kakek tua dengan semangat. Kakek tua pun tersenyum melihat Emine yang sedari tadi nampak kehilangan hidupnya kini berbicara dengan semangat juang pahlawan.


Mereka berdua muali membicarakan rencana yang akan di jalankan nanti malam.


*


*


*


Jangan lupa tinggalkan jejak like+komen dll.

__ADS_1


__ADS_2