
" Ngiiieeeettttt,,,,, Ngiieeeettttt,,,, Ngieeeetttt,,,," Suara gesekan mesin serut dan kayu di sebuah tempat serkel.
Emine tak melepas pandangannya dari pria yang nampak lelah menghaluskan sebuah lemari kayu yang ia garap. Selang beberapa menit, terlihat seorang wanita yang tak asing menghampiri Dicle membawakan segelas air. Mereka berdua duduk di atas kayu dan sedang membicarakan sesuatu.
" Ceklek." Suara pintu mobil di buka. Emine keluar dan menghampiri mereka.
" Emine." Dicle terkejut dengan kedatangan Emine lalu menghentikan pembicaraan dengan kekasihnya. " Bagaiaman kau bisa tau aku disini?" Tanya Dicle bingung.
" Plakkkk,,,,,," luka di sudut bibir karena tamparan Fifan belum sembuh tapi kini putrinya juga turut ikut serta memperburuk luka di sudut bibir Dicle.
Kekasih Dicle sangat terkejut melihat Dicle di tampar di depannya. Ia merasa tidak terima dan mencoba membalas Emine dengan balik menampar. " Berani sekali kau." wanita itu benar-benar marah, mencoba melayangkan tangannya ke arah pipi Emine.
" Happpp,,,," Namun Emine berhasil menghadang tangan itu.
" Aghhhhh,,, lepaskan!! Aghhhh,,,," Dengan tatapan penuh kemarahan, Emine meremas pergelangan tangan kekasih Dicle hingga kekasih Dicle meringis kesakitan. Dicle yang melihat prilaku Emine yang sangat kasar itu segera melerai mereka berdua.
" Berani sekali kau membuat onar di sini Emine. Kau pikir siapa dirimu bisa bersikap se'enaknya?" Tatapan Dicle memperlihatkan betapa marahnya dia atas sikap Emine kepada kekasihnya.
Emine sama sekali tidak takut dengan tatapan itu, ia menatap balas Dicle dengan tatapan kebencian perlahan melangkahkan kakinya mendekati pria yang dulu telah membuat hidup Emine hancur. Pria yang telah membuatnya kehilangan kasih sayang seorang ibu.
" Aku sama sekali tidak terkejut dengan semua ini karena aku sudah tau sikap persetan mu ini." Emine berbicara santai tapi setiap ucapannya membuat amarah Dicle kian naik drastis. " Kau dan wanita ini,,,," Menatap mereka berdua dengan rasa jijik. " "cihhhh,,,, kalian berdua sama-sama manusia sampah." Dicle mulai mengepalkan tangannya menahan amarah dari setiap hina'an yang terlontar dari mulut anak tirinya.
" kau,,," Emine mengarahkan sorot matanya yang tajam kearah kekasih Dicle. " Apa yang kau harapkan dari lelaki baji**an ini? Lelaki brengsek yang tak lebih dari seekor anjing jalanan yang menjijikan. Lelaki penipu yang telah menghancurkan sebuah keluarga kecil. Lihatlah dia!! Dia pria tak berhati. Kau akan menyesal seumur hidupmu karena telah membuang-buang waktu, harta dan cinta mu hanya untuk pria seperti dia." Emine benar-benar telah menginjak-injak harga Diri Dicle. Tanpa rasa takut, Emine berbicara dengan nada penuh penekanan. Amarah Dicle sudah berada di atas 100 °C hingga termometer pun akan meledak jika digunakan untuk mengukur tingkat kemarahan Dicle. Mata Dicle memerah, sekujur tubuhnya terasa panas, saraf-sarafnya terasa putus, jantungnya memompa darah dengan cepat, tangan Dicle yang sedari tadi sudah mengepal kini terasa gatal. Dicle sudah tidak bisa menahan kemarahannya, dengan sengaja ia melayangkan pukulan ke arah Emine.
" Brukkkkk,,,," Dicle meringsuk ke tumpukan serutan kayu setelah menerima tendangan keras dari seseorang dari arah samping. Kekasih Dicle berteriak histeris melihat Dicle yang di tendang, dengan cepat kekasih Dicle berlari dan membantu Dicle berdiri.
Emine terkejut bukan main saat Okan tiba-tiba muncul entah dari mana. Emine menatap tak percaya ke arah Okan. Okan tersenyum kemenangan lalu berjalan ke arah Emine.
" Bagaimana ini? Aku harus kabur. Aku tidak boleh tertangkap." Emine hendak kabur, namun Okan sudah membaca pikiran wanita ini. Secepat kilat Okan menangkap lengan Emine membuat Emine tak bisa kabur lagi.
" Aku adalah seorang polisi." Memperlihatkan kartu IDnya kepada Dicle yang berjalan mendekat dengan memegang pinggangnya yang terasa patah karena tendangan super dari Okan. Nyali Dicle menciut karena takut di jebloskan ke penjara atas tindak kekerasannya barusan. " Aku pringatkan kepada mu untuk tidak berani menyentuh Emine!! Jika kau berani memukulnya seperti tadi, aku akan dengan senang hati membawamu ke jeruji besi." Okan memberi kartu kuning kepada Dicle dengan tatapan tajam khas polisi.
" Ayo kita pergi!! Urusan kita belum selesai." Okan menarik tangan Emine. Entah berapa kali sudah Okan menarik tangan cantik itu.
" Sepertinya semua ini akan berakhir buruk." Gumam Emine meratapi nasibnya karena tertangkap oleh Okan.
" Lepaskan aku,,,,!! Okan lepaskan aku,,,!!" Emine beruasaha melepaskan diri tapi pegangan pria ini begitu kuat hingga membuat pergelangan tangan Emine terasa perih. Saat sampai di mobil, Okan melepaskan tangan Emine.
" Ahhhhh,,,, sakit sekali." Ringis Emine memegang pergelangan tangannya yang baru terbebas dari Okan. " Apa yang kau lakukan? Kau gila? Okan, Aishhhh,,,, ini keterlaluan." Emine kesal dengan sikap Okan yang kini memborgol kedua tangan Emine.
" ini adalah satu-satunya cara agar kau tidak kabur lagi." Ucap Okan dengan senyum manis tanpa rasa bersalah sedikit pun setelah membuat Emine terlihat seperti tahanan. Okan membuka pintu mobil memaksa Emine masuk tapi Emine menolak keras untuk masuk.
" Aku membawa mobil sendiri." Menunjuk kearah mobil yang terparkir di depan dengan sorot matanya. " Aku tidak bisa meninggalkan mobil ku. Lepaskan aku!!" Emine menjadikan mobilnya sebagai alasan.
" Kalau begitu ayo kita pakai mobilmu saja!!" menarik tangan Emine kembali menuju mobil BMW hitam di depan. Emine menghela nafas karena sepertinya hari ini ia tak kan selamat dari Okan.
Beberapa jam kemudian.
Mereka berdua saling pandang di sebuah ruangan kecil yang juga terlihat tak asing. Emine menatap Okan tajam dan Okan membalas tatapan itu santai sesekali di selipi senyum menertawakan wajah Emine yang nampaknya menahan rasa kesal.
" Kau puas? Sekarang bukankah aku sudah terlihat seperti tahanan? Kau senangkan?" Tanya Emine yang sekarang berada di ruang pengintrogasian.
Okan kembali tersenyum melihat wajah Emine lalu mencondongkan tubuhnya kearah wanita di depannya membuat refleks tubuh Emine mundur ke belakang.
__ADS_1
" Apa yang kau lakukan?" Tanya Emine menghindari wajah Okan yang semakin dekat dengan wajahnya. Okan menatap lekat wajah Emine, setelah puas menatap setiap inci wajah itu ia kembali ke posisi semula.
" Aku hanya mencoba membaca pikiran mu lewat wajah polos mu itu. Wajah itu sudah 2 kali menipu ku. Ahhhhh,,,, rasanya aku benar-benar ingin menutupi wajahmu dengan tisu toilet agar kau tidak bisa lagi menipu orang lain dengan wajah penipu mu itu." Okan membuat Emine semakin kesal ditambah Okan selalu tersenyum saat bicara seakan-akan ia bahagia di atas penderitaan Emine.
" Okan, kau tidak bisa memperlakukan aku seperti ini. Ini sangat kekanak-kanakan. Kau,,, Aishhhhh,,," Tidak bisa lagi menjelaskan kekesalannya dengan kata-kata. " Lepaskan borgol ini dari tangan ku." Emine menyodokan tangannya di atas meja ke arah Okan dan Okan malah menatap Emine masih tetap dengan senyumnya yang seiring hati membuat Emine muak. Tapi tak bisa di pungkiri senyum Okan membuat jantung Emine berdenggup kencang tak beraturan.
" Aishhhhhhh,,,,, ini benar-benar tidak lucu." Dengus Emine kesal bersamaan dengan wajahnya yang di buat masam mengiringi langkah kakinya menuju pintu.
" Ceklek, ceklek, ceklek, ceklek, ceklek." Suara pintu yang terkunci di buka paksa.
" Sekarang coba buka pintunya!! Aku ingin melihat bagaimana kau membobol pintu itu dengan borgol di tangan mu." Ucap Okan menatap tubuh Emine yang memblakanginya.
Emine membalikan badan lalu dengan wajah datar dan malas ia kembali duduk di kursinya. Emine tidak mungkin menunjukan keahliannya membobol pintu karena itu akan semakin membuat Okan semakin curiga dan Okan akan semakin mempersulit dirinya. Tidak ada cara lain lagi selain menghadapi pria tampan ini.
" Kenapa? Kau tidak mau menunjukan caranya padaku?" Tanya Okan.
" Cara apa yang harus ak tunjukan?" Tanya Emine dengan tidak semangat.
" Cara membobol pintu."
Emine tersenyum meremehkan.
" Kau pikir aku adalah pencuri yang ahli dalam membuka pintu yang terkunci tanpa kunci?" Tanya Emine seolah-olah dia tidak mengerti dengan masalah membobol pintu.
" Tapi kau bisa keluar dari rumah ku dengan sangat mudah. Bagaimana caranya?" Okan ingin menykak mat Emine tapi Emine selalu punya jalan lain untuk kabur.
" Aku melihatmu memasukan kata sandinya, jadi aku tau." sebuah alasan dari Emine.
" memangnya kenapa jika kata sandi rumit? Kata sandi itu hanyalah sebuah angka yang di masukan satu per satu." Jawaban Emine membuat Okan terkekeh, wanita ini selalu lolos dari setiap pertanyaannya.
" Jika itu memang hanya sebuah angka yang di masukan satu per satu, coba kau katakan sekarang berapa nomor kata sandinya!!" Polisi memang selalu punya cara lain untuk menyudutkan lawannya.
" Aku lupa." jawab singkat dengan ekspresi santai. Untuk membuat Okan tidak curiga, Emine tidak memperlihatkan ekspresi gugup karena tidak tau kata sandi rumah Okan.
" Kalau begitu sebutkan tiga digit angka pertama!!" Perintah Okan.
" Aku juga lupa." jawaban Singkat lagi.
Okan menghela nafas, dia tidak bisa memaksa Emine. Tidak ada yang bisa dilakukan lagi kecuali meninggalkan pembicaraan tentang kata sandi rumah.
" Baiklah,, lupakan saja!! Kita mulai ke inti." Ucap Okan membuat Emine menatapnya gelisah.
Okan membuka laptopnya, bersiap untuk mencatat setiap jawaban dari pertanyaan yang akan di ajukan.
-Pertanyaan pertama.
" Siapa kau sebenarnya dan kenapa berbohong tentang kau kabur dari panti asuhan?" Okan mulai menatap Emine tajam.
" Aku tidak bisa mengatakannya." Jawab Emine tanpa rasa bersalah telah membuat Okan hidup dalam rasa penasaran.
" Baiklah,,, tidak masalah jika tidak mau jawab." Ucap Okan tidak mau ambil pusing. Sekeras apa pun Okan berusaha tetap saja Emine tidak akan pernah membuka mulutnya.
" Aku akan mencari tau sendiri. Siapa dirimu dan kenapa membohongi ku." Gumam Okan dalam hati sembari mengetik pertanyaan berikutnya di laptop.
__ADS_1
-Pertanyaan Kedua.
" Kenapa kau kabur dari ku?"
" Untuk menghindari pertanyaan pertama." Jawaban yang tak terduka namun sangat masuk akal.
" Harusnya aku sudah tau alasannya." Gumam Okan fokus dengan laptopnya.
" Ini bukan pertanyaan. Tapi sejenis permintaan untuk bekerja sama." Okan membuat mata Emine yang tadinya menatap dengan malas kini sedikit hidup. " Kau adalah satu-satunya orang yang bertemu atau berhadapan langsung dengan pembunuh itu. Kau pasti tau hal-hal yang mungkin bisa memberi sedikit petunjuk entah itu dari segi fisik maupun lainnya. Dengan kata lain bisakah kau memberi keterangan mengenai pembunuh itu?" Ucap Okan dengan ekspresi semakin serius.
Emine yang tadinya duduk dengan muka datar karena kesal kini tersenyum simpul.
" Kenapa kau tidak mengatakannya dari kemarin?" Ujar Emine dengan senyum diwajah tanpa dosa.
Okan berdecih kesal. Ingin rasanya Okan memasukan Emine ke jeruji besi, mengingat dia selalu kabur darinya. Dan sekarang ia berkata seperti itu tanpa menunjukan rasa bersalah setelah membuat Okan kesulitan.
" Buka dulu borgolnya!! Aku akan memberikan keterangan." Emine kembali menyodokan tangannya di atas meja.
Untuk mempersingkat waktu dan membuatnya menjadi tidak sulit lagi, Okan membuka borgol Emine.
" Ahhhh,,,," Ringis Emine mengamati sekilas tangannya yang sudah memerah.
Okan tertegun melihat tangan Emine memar, ia tidak percaya telah membuat tangan wanita ini terluka.
" Ada apa dengan tangan mu? Kenapa memar seperti ini." Tanya Okan penuh kecemasan dan rasa bersalah. Okan meraup langsung tangan cantik itu dan menatapnya lekat.
Emine tersenyum melihat Okan menghawatirkannya. Tapi senyum itu kembali di sembunyikan saat Okan melempar pandangan ke arahnya.
" Tidak apa-apa" Menarik tangannya kembali, Emine takut Okan bisa merasakan detak jantung Emine yang bedetak tak karuan lewat tangannya yang di pegang Okan. " ini tidak parah. Hanya memar biasa, akan ku obati nanti." Ujar Emine meyakinkan Okan agar tidak terlalu cemas.
" Kau yakin tidak apa-apa?" Tanya Okan meyakinkan.
Emine menganggukan kepalanya.
" Baiklah kita mulai saja." Okan kembali menyiapkan jari-jarinya di atas keyboard.
Emine mulai memutur ingatannya ke dimensi dimana ia bertemu dengan pembunuh itu. Emine memberi keterangan dari segi ciri-ciri tubuhnya.
" Kau bilang dia pernah berbicara pada mu. Apa kau mengingat suaranya?" Tanya Okan membuat Emine berfikir sejenak.
" Itu dia. Di memiliki sebuah kelebihan, Pembunuh itu bisa memanipulasi suaranya. Suara pertamanya berbeda dengan suara kedua." Ujar Emine sangat yakin.
" Benarkah? Apa kau yakin dia pembunuh yang sama? Maksudku bagaimana jika dia adalah orang yang berbeda. Orang yang kau temui pada hari A dan hari B apa kau yakin dia adalah orang yang sama?"
" Aku yakin," Sambar Emine langsung. " Aku sangat mengingat matanya, mata yang sangat indah. Walaupun suaranya berbeda tapi mata itu sama sekali tidak berubah." Okan menyimak Emine dengan sangat serius. Emine pun bercerita tidak kalah seriusnya dengan Okan. " Sebenarnya aku bertemu dengannya untuk pertama kali itu di dalam bus. Dia menabarak ku, kami terjatuh di bawah. Dia tepat berada di atas tubuh ku, matanya bisa aku lihat dengan jelas. Matanya sangat indah, siapa pun yang melihatnya tidak akan pernah bisa melupakan mata itu." Entah kenapa ekpresi serius Emine berubah menjadi ekspresi yang sedang terlena, mengagumi dan menyukai mata pembunuh itu. Entah kenapa juga tiba-tiba rasa panas menjalar dari ujung kaki hingga ujung rambut Okan. Okan tidak menyukai sikap Emine yang mengagumi pria lain. Dengan ekspresi kesalnya Okan menghentikan pembicaraan Emine yang masih terpaku dengan ingatan tentang mata Orsan yang indah. Emine menatap Okan tidak mengerti dengan sikap Okan yang tiba-tiba berkelebat berubah. Okan menutup laptopnya kasar menghentikan acara yang sedang berlangsung lalu menarik salah satu tangan Emine yang tidak terluka menuju ke luar ruang pengintrogasian.
*
*
*
Jangan lupa like+komen.
__ADS_1