
" Itu kabar bagus. Aku turut bahagia karena akhirnya kau bisa menemukan pendamping hidup mu. Sekali lagi selamat atas hubungan kalian." Serin berpura-pura bahagia. Senyum antusiasnya dijadikan tameng penutup luka. Okan tidak menduga respon Serin akan seperti ini.
" Emine, kau sangat beruntung memiliki Okan sebagai kekasihmu. Dia sangat baik. Aku dan Okan sudah berteman semenjak kami kecil dan aku sangat mengenalnya. Dia tidak akan pernah menyakiti mu." Sambung Serin kepada Emine. Ketiga pria di ruangan itu tau bahwa Serin sangat terluka atas kebenaran ini.
" Oh ya,,, aku hampir lupa. Aku mempunyai pekerjaan yang sangat penting. Aku harus segera pergi."
Serin keluar dari ruangan itu dengan alasan ada pekerjaan mendadak. Ia tidak tahan berada di ruangan yang terasa pengap membuat dadanya terasa sesak untuk bernafas. Emine sempat curiga karena suasana berubah begitu saja. Okan hanya bisa diam karena merasa bersalah.
• Okan kau tega dengan ku hiks,,, Inikah yang aku dapatkan atas pengorbanan ku? Kau akan menyesal karena telah melepas ku Okan. Emine, dia yang harus membayar semuanya. Aku berjanji akan menghancurkan hubungan kalian. • Serin menangis setelah keluar dari ruangan itu.
Fika berjalan menyusuri lorong, matanya terus melihat ke arah pintu kamar rumah sakit yang berjejer rapi. Ia mencari-cari kamar Emine. Pagi ini kakek tua menugaskan Fika untuk menjaga Emine.
" Brukkkkk,,,,,,," Fika dan Serin bertabrakan hingga tubuh mereka terpental ke belakang arah berlawanan.
" Maaf Nona, Aku tidak sengaja." Fika meminta maaf terlebih dahulu karena memang dirinya berjalan tanpa memperhatikan ke depan. Jadi Fika mengira dirinyalah yang salah.
Serin menyeka air matanya. Hatinya sudah terbakar menjadi tambah panas atas kecerobohan wanita di depannya.
" Maaf? Apa kau punya mata untuk melihat hah? Kau pikir rumah sakit ini milik keluarga mu? Aishhhh,,, Dunia ini sudah dipenuhi oleh manusia-manusia tidak berguna seperti dirimu." Serin menghina Fika dengan ekspresi kebencian ditambah dengan gerakan tangan yang menunjuk ke arah Fika saat mengatakan kalimat terakhirnya.
Wajah Fika memerah setelah menerima penghinaan dari wanita yang tidak ia kenal. Ia mengepalkan tangannya untuk menahan emosinya agar tidak melonjak keluar.
" Sombong sekali wanita ini. Aku sudah meminta maaf tapi dia malah menghina ku." Dengusnya kesal menyilangkan kedua mata dan menaikan salah satu sudut bibirnya sinis.
Kejadian itu berlalu begitu saja. Fika tidak mau ambil pusing dan kembali melanjutkan pencariannya.
Akhirnya Fika berhasil menumukan ruangan Emine yang terletak di lantai paling atas. Tanpa pikir panjang, ia langsung menerobos masuk.
Semua orang menatap Fika yang tiba-tiba membuka pintu dari luar. Fika pun merasa sangat malu karena menjadi pusat perhatian.
" Fika, kenapa kau datang kemari?" Tanya Emine terkejut akan kedatangan serkertarisnya.
" Nona, saya diminta oleh Tuan untuk menjaga Nona." Sahut Fika terlihat canggung. Ia berjalan mendekati Emine dan berdiri berlawanan arah dari 3 pria di depannya.
• Kata tuan panel, Nona Emine tidak ada yang menjaga. Lalu mereka bertiga? Aishhh,,,, sungguh memalukan.• Gumamnya Fika dalam hati mengecutkan wajahnya. Ia mengira tidak ada orang di ruangan ini oleh karena itu langsung menerobos masuk.
" Dia adalah serkertaris ku. Namanya Fika." Emine langsung memperkenalkan Fika saat menyadari ketiga pria itu menatap Fika penasaran.
Fika tersenyum kepada mereka lalu saling berjabat tangan sebagai etika berkenalan yang sopan.
Setelah kepergian Serin, suasana di ruangan itu berubah kaku. Kedatangan Fika malah menambah suasana membeku.
Semua orang saling menatap tidak ada yang mau menjadi pelopor pengubah suasana. Emine hanya menghela nafas, ia mewajarkan saja suasana ini karena mungkin mereka belum terbiasa.
__ADS_1
Perlahan satu persatu dari mereka meminta ijin untuk keluar. Mulai dari Murat yang tiba-tiba merasa lapar kemudian pergi ke kantin RS. Setelah itu di susul Tiras dengan alasan ingin mengecek laporan yang tertinggal di mobil padahal bukan itu alasannya. Tiras pergi karena tidak ingin mengganggu Emine dan Okan. Kemudian Fika juga ikut-ikutan meminta ijin untuk keluar. Ia tidak terlalu akrab dengan Emine apalagi pria yang masih bertahan di ruangan ini. Karena itu ia berfikir akan lebih baik dirinya pergi saja dari pada membuat suasana menjadi canggung.
" Nona, saya ingin ke kamar kecil sebentar." Ucap Fika meminta ijin. Ia akan kembali lagi nanti karena tugasnya hari ini adalah menemani dan menjaga Emine.
" Huft,,,, akhirnya semua orang pergi." Ucap Emine dengan wajah lesu. Tadinya ia mengira suasana akan berubah menyenangkan ternyata semakin parah.
Okan mempunyai inisiatif untuk membuat Emine tidak merasa bosan.
" Mau pergi jalan-jalan? Di belakang rumah sakit ada taman."
Emine langsung tersenyum saat mendengar kata taman. Ia membayangkan ada bunga dengan warna yang berfariasi. Pasti sangat indah di pagi hari, fikir Emine.
" Aku mau!!" Jawab Emine semangat. Okan balik tersenyum melihat wajah Emine yang terkadang terlihat seperti anak kecil. Okan pun segera membantu Emine turun dari ranjang dan menuntunnya berjalan menuju taman.
Di lain tempat.
Fika bingung harus pergi kemana. ia sekarang berada di lantai atas, malas rasanya untuk turun ke bawah. Ia memikirkan sebuah tempat yang bisa memberinya udara segar untuk menyendiri.
Alhasil atap rumah sakit menjadi sasarannya.
Keputusannya untuk pergi ke atap sangatlah tepat. Di tengah cuaca dingin kota istanbul, matahari pagi yang menyembur sempurna di atap rumah sakit begitu menghangatkan tubuh.
" Wahhhh,,,,, Cantik." Ucap fika memejamkan mata, menjulurkan tangannya ke arah matahari sekakan-akan ia ingin menggapai lingkaran menyilaukan itu.
" Oh,, tuan. kau rupanya disini." Fika sedikit terkejut melihat Tiras juga ada di atap. Setahunya, pria yang kini berdiri di sampingnya meminta ijin pergi ke mobil dan mobil itu ada di bawah, di parkiran. Bukan di atap.
" Aku hanya ingin menghangatkan tubuh." Ucap Tiras sedikit canggung melirik sekilas Fika.
" Ya,,,,,Matahari pagi adalah penghangat terbaik di dunia ini." Balas Fika menatap gedung pencakar langit di depannya.
" Shruppppppp........" Suara minuman kotak yang sudah habis. Suara itu menarik perhatian Tiras.
" Pagi-pagi seperti ini kau sudah minum minuman beralkohol?" Tanya Tiras setelah membaca merek minuman itu.
" kadar alkoholnya rendah, hanya 20%. Kau mau?" Fika mengambil minuman baru dari dalam tas dan menawarkannya pada Tiras.
" Apa boleh?" Tanya Tiras kembali sebelum mengambil minuman dengan kemasan kotak itu.
" Tentu. Aku masih punya 3 kotak di dalam tas ku." Fika menyodorkan minuman itu di atas beton pengaman sisi atap yang tingginya setengah badan mereka lalu merogoh kembali tasnya.
" Banyak sekali. Walaupun kadar alkoholnya rendah tapi ini tidak bagus untuk kesehatan tubuh ." Tuturnya menasehati tapi malah di tertawai oleh wanita disampingnya.
Fika tertawa pelan karena tingkah sok Tiras yang menasehatinya tapi dirinya sendiri juga ikut menikmati dan menyedot minuman itu sampai habis.
__ADS_1
" Apa ada yang salah dengan ucapan ku?" Tanya Tiras merasa tidak nyaman. ia keheranan melihat tingkah Fika.
" Tidak, tidak!! Maafkan aku." Ucap Fika masih dengan mimik wajah masih dihiasi dengan tawa yang perlahan berubah menjadi senyum.
" Ehemmmm,,," Tiras berdehem.
" Tapi, kenapa kau membawa banyak minuman seperti ini?" Tiras penasaran karena pada umumnya wanita lebih suka meminum minuman yang berhubungan dengan kesehatan kulit, kecantikan dan yang lainnya. Fika terlihat berbeda dari wanita lainnya.
Pertanyaan Tiras seketika membuat ekspresi Fika berubah. Fika menatap lekat minuman yang berada di tangannya. Minuman yang selalu membuatnya merasa tenang. Ia tersenyum tipis sebelum menjawab pertanyaan Tiras.
" Dunia ini tidak seindah yang kau lihat. Jika mau menyelam lebih dalam lagi, kau akan melihat bagaimana kejamnya dunia memperlakukan manusia yang derajatnya lebih rendah. Yang kaya di hormati dan yang miskin di ludahi, dicaci maki, dan dibenci. Untuk bisa berjalan di atas bumi ini maka kau harus percaya diri!! Meski terkadang kau mendapat begitu banyak hujatan yang membuat mu jatuh lagi. Dan untuk bangkit kembali, hanya minuman ini yang bisa membantuku. Minuman ini membantu ku untuk melupakan semua kesedihan dan masalah ku. Mungkin ini terdengar sedikit konyol." Ucap Fika menambahkan ekspresi tersenyum di akhir cerita.
Tiras bisa merasakan bahwa Fika adalah wanita yang hidupnya penuh akan kesedihan. Ia merasa iba kepada wanita ini.
" Akan lebih baik kau menghadapi kesedihan dan masalahmu bukannya lari bersembunyi di balik minuman ini." Ucap Tiras. Dari cerita Fika, bisa disimpulkan Fika menggunakan minuman beralkohol ini untuk mendapat ketenangan.
Fika kembali tersenyum. Ia mengerti Tiras bisa berkata seperti itu karena belum pernah merasakan apa yang ia rasakan. Tiras belum.pernah berada di posisi Fika. Selama ini Fika bertahan di tengah hujatan yang menghujani telinganya saat di kantor. Fika tidak pernah menceritakan masalah ini kepada siapa pun dan terus melewatinya sendiri karena kesendirian sudah menjadi temannya sejak kecil. Fika adalah gadis yatim piatu. Ia adalah gadis miskin yang bisa meraih kesuksesan namun rasa iri dari orang sekitarnya selalu mengiringi langkahnya.
" Akan mudah menghadapi jika sumber masalahnya hanya 1 orang. Sayangnya dunia tidak sebaik itu." Ucap Fika menatap Tiras sendu. Tiras pun ikut menatap Fika mencoba membaca sorot mata itu. Mereka saling menatap cukup lama
" Astaga,,, Kenapa aku malah curhat seperti ini." Ucap Fika sedikit tertawa. Sadar akan suasana yang berubah hening, Fika langsung membuka suara membubarkan tatapan mereka masing-masing.
" Anggap saja ucapan ku tadi tidak pernah kau dengar!! Itu sama sekali tidak penting jadi lupakan saja!!!" Saran Fika. Ia mencoba bersikap akrab kepada Tiras agar tidak terlau canggung.
" Tidak apa-apa!!" Respon Tiras membalas dengan senyuman tipis.
Tiras dan Fika mengobrol ringan di atap. Topik pembicaraannya yaitu, tidak ada yang tau selain mereka berdua. Yang pasti mereka mengobrol hanya sekedar mengobrol karena tidak enak rasanya jika diam saja.
*
*
*
Jempolnya ingat dimerahin!!
Kolom komentar jangan dikosongin!!
Votenya jangan dilupain!!
Kalau udah, sini author ciumin!!
Muachhhhh😘😘😘
__ADS_1