Wanita Seribu Luka

Wanita Seribu Luka
Perayaan Kenaikan Pangkat . Part 2


__ADS_3

" Ohhh,,, Meli kau sudah pulang dari Belgia? Senang bertemu dengan mu lagi."


Ucap Serin ketika melempar pandangannya ke arah gadis imut yang berdiri di samping Emine.


_- Haha,,, aku yang tidak senang bertemu dengan mu. _- Gumam Meli.


" Ini perayaan untuk apa? Sepertinya penting." Tanya Serin pada siapa pun yang mau menjawab.


" Ini perayaan kenaikan pangkat kita bertiga Serin. Kami baru saja naik pangkat. " Tiras menjawab.


" Wahhhh,,,,benarkah???" Tanyanya menegaskan.


" Iya."


" Wahhh,,, Selamat Okan. Aku turut senang mendengarnya."


Tanpa menghiraukan situasi tempat ini, Serin main sambar tubuh Okan memeluknya dengan erat di depan semua orang. Okan terkejut namun ia hanya diam tidak mencoba melepas tubuh Serin.


Semua orang juga tahu ini berita bahagia tapi cara Serin mengucapkan selamat pada Okan sungguh berbeda dan berlebihan.


Spontan semua mata mengarah pada Emine memastikan dia baik-baik saja melihat semua ini namun Emine hanya memperlihatkan senyum canggung. Siapa yang tidak cemburu melihat kekasihnya dipeluk wanita lain? Meski Serin adalah teman Okan setidaknya dia tahu batasan.


_- Wanita ini tidak tau malu memeluk Tuan Okan di depan Nona Emine. Sabar ya Nona jika hati sudah menetap pasti tidak akan melompat. _- Batin Fika geram.


" Hemmmm,,,, Kakak Serin. Jangan memeluk kakak ku terlalu lama!! Semua orang memeperhatikan mu. "


Meli gadis itu merasa risih kemudian segera menyadarkan Serin bahwa sikapnya menjadi sorotan.


" Ahhhh,,, Maafkan aku!! Aku terlau bahagia mendengarnya. Maafkan aku!! "


Serin melepas pelukannya cepat meski sebenarnya ia ingin memeluk Okan lebih lama lagi.


Suasana kembali canggung.


" Ohhh iya,,, Fika!! Kemarilah!!" Panggil Emine pada wanita yang berdiri paling belakang masih membawa tas belanja.


" Meli, Serin, perkenalkan dia Fika. Serkertaris ku."


Emine memperkenalkan Fika meski tadi sempat gadis ini terabaikan.


" Salam kenal Fika. Aku Meli."


Meli antusis. Ia meraih tangan Fika langsung untuk berjabat tangan.


" Aku Fika."


Fika mengimbangi wajah ceria Meli dengan senyum manisnya.


Sedangkan Serin diam sebentar memikirkan wajah wanita ini sepertinya tidak asing.


_- Ahhhh,,,Sial!! Dia wanita ceroboh yang aku temui waktu itu. _- Gumam Serin.


" Aku Serin."


" Aku Fika."


Serin dan Fika saling menyebutkan namanya dengan ekspresi datar dan tidak melakukan jabat tangan seperti tadi. Mereka berdua sama-sama enggan untuk melakukan kontak langsung.


Pesta memanggang pun dimulai.


Murat dan Meli mendapat tugas memanggang sedangkan yang lainnya duduk di sebuah balai mengitari meja kecil di atasnya.


Sembari daging sapi matang, gelas berisi cairan bening sudah di putar untuk mengisi suasana. Canda tawa juga memenuhi tempat itu. Tak Jaran Meli yang cerewet ikut menyambar percakapan mereka dari tempatnya memanggang.


" Ayoo Nona Emine, sekarang giliran mu." Tiras memberikan Emine minuman beralkohol itu.


" Ahhh kenapa sedikit sekali?? Ayo tambah lagii!!! "


Ucap Emine menantang.


" Wahhh,,, Baiklah." Tiras pun menuangkan lagi minuman ke dalam gelas.


Saat Emine ingin meminum alkohol itu tiba-tiba Okan menarik gelasnya.

__ADS_1


" Okan apa yang kau lakukan?? Lepaskan!!" Minta Emine. Okan tidak mau melepasnya. Ia memberi kode bahwa mengingatkan Emine sedang hamil jadi tidak boleh minum tapi Emine tidak mengerti.


Saling tarik menarik pun terjadi di antara mereka berdua. Tiras, Serin, dan Fika menatap mereka. Emine jadi malu dan kesal.


Serin meremas geram tangannya sendiri melihat Okan dan Emine bertingkah seperti ini.


" Okan lepaskan!! Aku mau minum." Minta Emine lagi.


" Tidak boleh!!!"


" Lepaskan!! Mereka sedang melihat kita." Sedikit menurunkan nada suaranya.


" Tidak." tolaknya cepat.


" Lepaskan!!!" Perintahnya cepat.


" Tidak."


" Lepaskan!!"


" Tidak"


Perebutan gelas pun terjadi sangat sengit. Mata semua orang bergerak ke kiri dan ke kanan mengikuti irama suara mereka.


" Lepaskan!!"


" Tidak."


" Okan lepaskan!! Kau sudah gila ya??" Emine kesal tidak sadar menaikan nada suaranya.


" Kau sedang hamil apa kau lupa hah??" Okan ikut menaikan nada suaranya hingga menyusup ke telinga semua orang.


Krikkkk,,,,Krikkkk,,,,, !!


Krikkkk,,,,Krikkkk,,,, !!!


Suasana langsung membeku. Okan dan Emine menyadarinya lalu berhenti berebut gelas memperbaiki posisi masing-masing.


_- Katakan ini adalah mimpi!! Ini pasti mimpi. Iya kan? Ini mimpi. _- Batin Serin tidak percaya dengan sekelebat kalimat barusan.


" Hmmm,,,,,," Okan berdehem sebelum menjelaskan. Meski tidak ada yang membuka suara mungkin karena terkejut tapi dari sorot mata mereka semua jelas meminta penjelasan.


" Sebenarnya aku dan Emine akan menikah 3 hari lagi. Aku berencana memberitahu kalian besok. Maafkan aku karena ini sangat mendadak dan mengejutkan." Ucap Okan tidak enak hati.


" Karena itu aku pulang." Ketus Meli menyahut.


" Wahhh,,, Nona selamat ya. Pantas saja waktu itu Nona mual-mual ternyata ini penyebabnya. Ahhh,,, harusnya aku menyadarinya sejak itu." Fika turut bahagia.


" Fika, Hentikan!!" Minta Emine karena malu membahasnya.


Lain dengan Fika, Serin dan Tiras masih membisu. Terlihat jelas dari raut wajah Serin ia sakit hati. Matanya berkaca-kaca namun berusaha ia bendung. Sedangkan Tiras tidak terlalu menonjol karena masih bisa mengendalikan perasaanya.


Murat menatap kasihan pada dua manusia yang hatinya pasti sangat hancur saat ini.


" Selamat atas pernikahan kalian sekaligus kehamilan mu Emine, aku tidak menyangka kau akan melangkahi ku. Hahaha,,, Aku kira aku akan menikah lebih dulu dari mu ternyata tidak."


Ucap Serin berpura-pura bahagia dengan senyumannya.


" Terimakasih Serin. Aku juga tidak menyangka akan menikah secepat ini." Emine merespon dengan tawa kecil namun Okan diam karena tau Serin hanya berpura-pura.


" Selamat juga kawan. Aku tidak menyangka kau merahasiakannya dari kami. Wahhh,,, apa kau fikir kami akan merusak pernikahan mu itu hah??"


Murat juga ikut meramaikan suasana.


" Hahaha,,, bukan begitu maksud kita Tuan Murat. Rencana pernikahan ini juga sangat mendadak. Jangan kesal!! Maafkan aku!!" Emine menjawab ucapan yang ditunjukan pada Okan dengan menambahkan sedikit tawa agar tidak menegang.


Tiras menyadari hanya dirinyalah yang belum mengucapkan selamat itu akan terlihat mencurigakan.


" Selamat Okan dan Nona Emine. Wahhh,,, sungguh aku terkejut hingga hampir lupa memberi kalian ucapan selamat."


Tiras sama seperti Serin, sedang berakting bahagia dengan semyumnya.


" Terimakasih Tuan Tiras."

__ADS_1


Entah kenapa Emine merasa ucapan Tiras tidak seirama dengan perasaanya.


" Aku ingin mencari angin segar sebentar. Maaf aku tinggalkan dulu."


Serin tidak bisa menangis disini, ia segera pergi. Okan menatap punggung yang perlahan semakin menjauh.


_- Hahhaha,,,, Pergi sana!! Kakak Serin sudah tidak memiliki tempat lagi di hati kakak Okan. Siapa suruh menghianati kakak ku!! _- Gumam Meli menertawai.


Serin terus berjalan kiranya hingga ia menemukan tempat dimana tidak satu pun ada orang yang melihat keberadaannya.


Sebuah pohon kelapa sepertinya cukup menyembunyikan tubuhnya, Serin duduk di bawah pohon kelapa itu. Ia menangis terisak disana. Membiarkan semua sakit hatinya keluar melalui suara tangis itu.


_- Ini tidak adil hiks. Semua ini sungguh tidak adil. Apa yang aku dapatkan setelah berkorban demi cita-cita pria bodoh itu?? Hiks,,, tidak bisakah Okan melihat pengorbanan yang aku lakukan? Apa dia hanya bisa melihat kesalahan ku? Aku yang bodoh disini, hiks,,,. Seharunya aku memberitahu kebenarannya dengan begitu Okan tidak akan menghapus ku dari hatinya. Sekarang sudah terlambat,,hiks,, apa yang harus aku lakukan? Hiks,,, aku membenci diriku sendiri. Hiks,,,, _- Batin Serin dalam isak tangisnya.


" Aku yakin dia bahkan tidak perduli jika aku mati menangis disini,,,Hiks,,,, "


Kali ini Serin menucapkan kalimatnya.


Dalam pandangannya yang kabur karena air mata, Serin melihat ada pria yang berjongkok dihadapannya, memegang pundaknya lalu berkata


" Aku masih perduli pada mu."


Suara itu sangat hangat ditelinga. Serin mengangkat wajahnya melihat siapa dia.


" Okan??" Ucapnya sendu berlinang air mata.


Serin spontan memeluk Okan seperti tidak merelakan pria itu meninggalkannya. Okan kali ini membalas pelukan Serin. Bukan karena cinta tapi karena rasa kasihan dan janji yang pernah ia ucapkan pada ayah Serin untuk tidak membuat Serin menangis.


" Kenapa kau melakukan itu Okan? Kenapa kau tega dengan ku? Hiks,,," Tanyanya dalam pelukan Okan.


" Maaf Serin. Tapi waktu sudah mengubah cerita kita. Aku mohon berhentilah mencintai ku!! Itu hanya akan menyakiti mu."


Okan bermaksud menenangkan Serin tapi malah semakin membuat Serin sakit hati. Ia pun melepas pelukannya.


" Kalau begitu cintai aku Okan, Hiks!! Bukankah dulu kita saling mencintai? Kita bisa mengulangnya dari awal. Aku mohon, hiks,,, Aku tidak mau kehilangan mu. Aku mencintai mu. Aku mohon jangan menghukum ku seperti ini Okan!! Aku tidak sanggup. Hiks."


Serin sudah hilang kendali. Ia memaksakan apa yang dirinya inginkan.


" Itu tidak bisa dan tidak mungkin~~" Terpotong. Serin langsung menyambar dengan nada sedikit tinggi.


" Kenapa tidak mungkin?? Jika masalahnya tidak ada cinta dari mu untuk ku maka biarlah hanya aku yang mencintai mu. Jika masalahnya adalah anak yang dikandung Emine maka kita bisa merawat anak itu bersama. Aku bisa menjadi ibu yang baik untuk anak mu Okan,, Hiks... Kita mulai semuanya dengan cerita baru!! Hiks,,,"


Okan mengerti Serin tidak bisa menerima kenyataan ini karena itu dia berbicara seperti orang yang tak berhati. Dulu Serin tidak seperti ini, tapi itu dulu. Memaksakan cintanya sendiri bahkan ingin memisahkan anak dari ibunya.


" Tenangkan dirimu!! Cobalah memikirkan semua ini denga hati kecil mu!! Tidak akan ada yang bahagia dalam hubungan yang dipaksakan. Baik kau maupun aku. Orang tua kita adalah contohnya. Tidak bisakah kau melihat betapa buruknya hubungan yang dipaksakan? Ibu ku mati karena hal itu dan ibu mu pergi meninggalkan mu dan ayah mu karena apa? Karena tidak ada cinta pada hubangan mereka. Aku masih perduli padamu Serin, karena itu aku datang kesini. Aku tau kau terpuruk tapi jika kau mau melepas maka rasa sakit ini tidak akan bertahan lama. Carilah takdir mu!! Yang jelas itu bukan aku, Serin."


" Mudah untuk mu Okan tapi tidak dengan ku. Aku tidak perduli pada kisah orang tua kita. Aku hanya inginkan dirimu, Hiks. Aku hanya akan bahagia jika bersama mu. Aku mohon jangan tinggalkan aku!!!"


Setelah memberi penjelasan panjang rupanya Serin masih tidak mengerti. Serin masih bersikap keras kepala.


Okan tau sangat susah mengalahkan ego Serin. Itu sudah menjadi sifat Serin sejak kecil, keras kepala dan egois.


" Sekali lagi maafkan aku!! Aku tidak bisa memenuhi permintaan mu. Bukan cinta yang ada dalam hatimu tapi obsesi untuk memiliki. Aku pergi sekarang. Semua orang sedang menunggu. Aku tidak ingin membuat mereka kawatir dan menunggu."


Okan pergi meninggalkan Serin.


Tubuh Okan yang semakin menjauh membuat Serin semakin lemas hingga akhirnya wanita itu terjatuh di pasir bersamaan dengan hilangnya Okan dari pandangan.


_- Jika aku tidak bisa memiliki mu maka Emine pun tidak bisa memiliki mu Okan. Aku akan merebut mu, aku akan membuat mu mencintai ku lagi. Hanya aku yang boleh berada di samping mu. _-


*


*


*


Jangan lupa like, komen, votenya ya,,!!


Author mau promo bentar.


Author punya novel baru judulnya


" Beauty Inside."

__ADS_1


Yang berkenan silakan klik langsung profil author ya!! Novel ini bergenre romantis and komedi.


Terimakasih.


__ADS_2