Wanita Seribu Luka

Wanita Seribu Luka
75 % kebenaran terungkap. ( Parat 2 )


__ADS_3

" Apa yang kau bicarakan? Beristirahatlah agar kau cepat pulih!!" Okan berpura-pura tidak paham dengan pernyataan Emine. Ia berdiri kemudian menarik selimut dan meminta Emine untuk segera tidur.


" Okan, Ini adalah kenyataannya. Pencuri malam yang sangat terkenal di luar sana adalah aku." Sambung Emine. Okan duduk kembali, wajahnya terlihat lesu.


" Memangnya kenapa jika kau adalah pencuri? Aku tetap mencintai mu dan akan menikahi mu. Tidak ada alasan aku tidak bisa memiliki mu!!" Tegas Okan dengan sorot mata sendu menatap Emine.


" Tapi, bagaimana jika nanti aku tertangkap dan kau ikut terkena imbasnya?" Emine kawatir jika dunia malamnya akan menghancurkan profisi Okan.


" Karena itu kau harus berhenti!! Berjanjilah untuk meninggalkan dunia mu itu dan mulailah menyesuaikan diri dengan dunia ku!!" Minta Okan. Ia meminta hal ini tidak lain untuk melindungi Emine.


Mata Emine melemah saat mendengar permintaan itu. Terasa berat mulutnya untuk mengiyakan permintaan Okan. Emine berfikir, dunia malam sudah menjadi dunia keduanya. Pistol adalah hartanya bukan setumpuk berkas yang ada di ruangan kerjanya. Preman dengan wajah sangar adalah musuhnya bukan para pengusaha berjas rapi dengan koper yang berisi berkas penting di tangan. Berkelahi adalah keahliannya bukan adu mulut di ruang rapat untuk memenangkan tender proyek.


" Emine," Panggil Okan mengembalikan kesadaran Emine dari kediamannya karena tidak mendapat jawaban.


" Baiklah, aku akan berhenti." Setelah melewati kebimbangan tadi, tidak menyangka Emine akan menyetujui permintaan Okan. Tapi Emine menyetujui permintaan Okan hanya untuk menjaga perasaan kekasihnya. Okan akan terluka jika Emine menolaknya.


" Aku tidak bisa memastikan untuk berhenti dari dunia ku, maafkan aku." Gumam Emine dalam hatinya.


Okan tersenyum lebar. Emine juga ikut tersenyum.


" Sekarang tidak ada masalah lagi. Ayo kita tidur!!" Okan berdiri, ia ingin tidur di samping Emine.


" Masih ada masalah lainnya. Ini belum selesai." Emine menghentikan Okan yang hendak naik ke atas ranjang. Okan menatap Emine dengan tanda tanya besar di wajahnya.


" Ada lagi?" Tanya Okan dengan ekspresi mengeluh dan nada suara sedikit naik.


" Aku sudah bilang padamu kalau kakek tidak akan menyetujui hubungan kita." Ketus Emine tidak suka melihat ekspresi Okan yang sudah mengeluh di tengah perjalanan.


" Bukankah aku sudah mengatakan bahwa aku tidak masalah dengan kenyataan kau adalah pencuri lalu apalagi masalahnya?" Okan salah mengira dirinya adalah kunci permasalahan. Sebenarnya kakek tua adalah kunci permasalahannnya.


" Perannya bukan ada padamu bodoh." Emine jadi kesal sampai-sampai mengatai Okan. " Tapi ada pada kekek ku. Siapa yang perduli kau memiliki masalah atau tidak." Sambung Emine dengan menambahkan gerakan di tangannya.


" Maksud mu?" Okan bingung dengan ucapan Emine.


" Kakek ku tidak menyukai polisi. Dari dulu ia wanti-wanti memintaku untuk tidak berurusan dengan polisi dan sekarang aku malah hamil anak mu. Tentu kakek akan sangat marah jika tahu semua ini." Emine memberi penjelasan agar otak Okan bisa mengerti dengan baik akar permasalahannya.


Okan malah merasa tidak terima atas sikap kakek tua yang membenci kaumnya.


" Apa hak kakek mu membenci polisi?" Tanya Okan seperti sedang memprotes.


" Kenapa kau jadi memarahi ku? Protes saja pada kakek ku!! Aish,,,,, menyebalkan." Dengus Emine kesal. Emine membalikan tubuhnya memunggungi Okan karena moodnya tiba-tiba turun hingga level terendah.


" Kenapa jadi berdebat seperti ini? Dasar polisi menyebalkan." Gerutu Emine dalam hati terus mengoceh.


Tiba-tiba Okan ikut naik di atas ranjang yang sempit itu hingga tubuh mereka tertempel begitu rapat. Emine merasa risih karena Okan terus bergerak-gerak dan hampir membuat Emine terguing jatuh ke bawah tapi untungnya pria itu segera memeluk Emine erat.


Emine tau Okan sengaja mengambil kesempatan dalam kesempitan. Ia pun tetap di posisi memunggungi kekasihnya itu.


" Tempat tidurnya sangat sempit, kau tidurlah di sofa!!" Minta Emine sengaja terang-terangan mengusir Okan untuk menunjukan kekesalannya.


Emine sedang kesal, bukannya meminta maaf Okan malah berniat untuk menggoda Emine. Ia tersenyum licik setelah mendapat ide untuk menggoda Emine. Tangan Okan yang memeluk perut Emine tiba-tiba merayap kebawah. Emine membelalak tidak percaya di situasi seperti ini Okan malah melakukan hal di luar duga'an. Dengan cepat Emine menangkap tangan nakal itu sebelum tangan itu benar-benar berulah di mahkotanya.


" Aghhhhh,,,,,," Okan menarik tangannya setelah mendapat cubitan semut yang sangat menyakitkan.

__ADS_1


" Kenapa kau mencubitku?" Tanya Okan mengusap-ngusap tangannya yang diserang Emine.


" Itu akibatnya jika kau berani masuk kedalam rumahku tanpa ijin." Ucap Emine dengan wajah kepuasan telah memberi pelajaran pada tangan nakal itu.


Okan menarik nafas dalam-dalam. Sekarang ia tidak berani menggoda wanitanya lagi.


" Aku akan menghadapi kakek mu. Jika perlu aku akan bertekuk lutut padanya agar ia merestui hubungan kita. Aku tidak akan pernah menyerah meski kakek mu membunuh ku." Ucap Okan terdengar serius.


Emine berbalik setelah mendengar ucapan Okan. Ia senang mendengar ucapan itu.


" Seharusnya dari tadi kau berkata seperti ini!! Bukannya malah mengeluh dan protes padaku!!" Ucap Emine dengan wajah cerahnya terpapang rapi.


" Lihatlah ibu mu ini!! Terlihat sangat bahagia setelah mencubit tangan ayah." Ujarnya mencurhatkan keluhannya pada sang anak.


Okan memasukan tangannya ke dalam baju Emine dan mengelus-elus perut itu lembut


" Okan hentikan!!! Kau membuat ku geli." Emine menggeliat-geliat seperti kucing yang sedang di gelitiki di perutnya.


" Benarkah??" Jari jemari Okan semakin lincah menari-nari disana.


" Okan hentikan, nanti aku bisa jatuh." Ucap Emine diselingi suara tawa menahan rasa geli. Mata Emine sampai berkaca-kaca.


Okan menghentikan kejailannya.


" Mau lagi?" Tanyanya.


" Tidak, tidak." Emine menolak keras. nafasnya memburu karena ulah pria disampingnya.


" Baiklah, sudah cukup bermainnya!! Sekarang waktunya tidur." Okan memeluk kembali tubuh calon istrinya.


Emine merasa begitu nyaman dengan pelukan itu. Sangat hangat. Ia menenggelamkan wajahnya di dada kekar Okan mencari posisi ternyaman.


" Mimpi yang indah sayang." Ucap Okan sebelum masuk ke dunia tidur. Ia mengecup kening Emine dengan mata sudah tertutup.


Ke'esokan paginya.


Emine menerima kabar bahwa kakek tua tidak berada di istanbul dan sedang dalam perjalanan bisnis ke kota Konya karena itu tidak datang menjenguk dirinya. Jujur saja Emine merasa lega kakek tua tidak tidak bisa datang karena ia belum tau apa yang harus di katakannya nanti.


" Kakek mu ternyata sangat sibuk." Ucap Okan sembari menyuapi Emine bubur.


" Semenjak menjadi CEO di perusahan JQ, ia jarang di rumah. Kemarin di kantor aku juga tidak bertemu dengannya." Sahut Emine setelah menelan buburnya.


" Untuk apa kau kekantor?" Okan berfikir Emine bukanlah wanita yang menyukai tempat seperti itu.


" Aku Manager Utama disana." Ucap Emine santai tanpa rasa bangga karena memang ia tidak bangga.


" Apa? Manager utama?" Okan terkejut dengan ekspresi tidak percaya.


Emine sudah menduga Okan tidak percaya. Ia menarik nafas panjang untuk melegakan jiwa raganya setelah mendengar respon Okan yang tidak mengenakan.


" Jangan terlalu meremehkan ku!! Aku akan belajar dan membuktikan padamu bahwa aku adalah wanita hebat." Emine berbicara dengan percaya diri.


" Siapa yang meremehkan mu? Lagi pula bagus jika kau punya kesibukan lain." Okan berfikir jika Emine sibuk dengan pekerjaan barunya maka ia akan lupa dan perlahan akan meninggalkan dunia hitamnya.

__ADS_1


Di tengah percakapan mereka tiba-tiba ada 3 tamu datang. Mereka berdua yang sedang sibuk mengobrol sekarang berpaling pandangan ke arah pintu.


" Emine, kenapa kau bisa seperti ini?" Serin langsung berjalan kearah Emine dan merebut posisi Okan membuat pria itu mundur ikut bergabung bersama Murat dan Tiras. Okan sudah mengontrol kedua temannya untuk tidak mengatakan bahwa Orsan sudah tertangkap.


" Aku hanya kelelahan." Emine melempar senyum agar Serin tidak kawatir.


" Kelelahan? Cihhh,,, kenapa tidak mati saja!! jadi aku tidak perlu menyingkarkan mu dengan tangan ku." Gumam Serin berdecih kesal.


" Aku sungguh tidak bisa tidur memikirkan mu kemarin malam. Aku sangat menghawatirkan mu." Serin memeluk Emine. Ia sungguh pandai bersandiwara. Okan merasa nyaman melihat kedekatan mereka berdua, mantan pacar dan pacar.


" Tapi kenapa bisa Okan yang membawamu kesini?" Sambung Serin ingin tau kisah dibalik cerita ini. Tiras dan Murat hanya diam menunggu jawaban Emine. Mereka berdua sudah tau Emine adalah adik dari Orsan dan malam itu ia ingin menyelamatkan kakaknya. Menurut cerita Okan kepada mereka, Emine kalah dan terluka saat bertarung dengan Okan. Mereka tidak tau Okan sudah menipunya.


Emine tidak tau apa yang harus dikatakan. Ia menatap Okan , memberi kode agar pertanyaan itu ia jawab. Okan pun langsung berfikir keras untuk menjawab pertanyaan Serin.


" Apa ini adalah waktu yang tepat untuk mengatakan hubungan ku dengan Emine. Cepat lambat Serin pasti akan tahu dan ia harus bisa menerima hubungan ini." Batin Okan. Okan tau kenyataan ini akan menyakiti Serin tapi akan lebih menyakitkan lagi jika Serin terus hidup dengan harapan yang tidak akan pernah bisa Okan wujudkan menjadi nyata, fikir Okan. Harapan Serin untuk bisa kembali di sisi Okan.


" Ceritanya sangat panjang. Aku tidak bisa memberitahu mu." Ucap Okan dengan ekspresi ragu dengan kelanjutan yang akan ia ungkapkan.


" Serin," Okan masih terlihat ragu. Serin jadi penasaran dengan apa yang akan Okan katakan. Begitu pula dengan kedua rekannya.


" Sebenarnya, Aku dan Emine, Kami~~"


Serin mulai merasakan hal yang tidak mengenakan. Ia tidak sadar meremas tali tas selempang yang ia kenakan.


" Kau dan Emine? Katakan saja!!!" Ucap Serin sudah gemetar.


Emine merasakan suasana tempat ini tiba-tiba berubah. Tatapan Okan dan Serin memiliki aura tersendiri yang tidak Emine mengerti. Terselip sebuah kisah diantara mereka yang Emine tidak tahu.


" Kami berpacaran." Okan menatap mata Serin dengan rasa bersalah. Meski Okan memang tidak salah tapi hatinya tetap merasa bersalah.


Bukan batu lagi, tapi sebuah baja besar menghantam kepala wanita itu. Serin terdiam untuk waktu sekitar 30 detik. Dalam waktu sesingkat itu ia sedang menguatkan hatinya. Akhirnya hal yang paling ia takutkan sudah terjadi. Mata Serin sudah berkaca-kaca tapi air mata berusaha ia tahan. Serin tidak ingin menunjukan kesedihannya karena itu sama sekali tidak akan mengubah apa pun.


Selain Serin, Okan tidak menyadari ada hati lain yang juga ikut patah diwaktu yang bersamanaan. Tiras yang luput dari pandangan Okan juga ikut tertegun dengan kenyataan ini. Pandangan Emine dan Okan tertuju pada Serin sedangkan pandangan Murat tertuju pada Tiras. Murat merasa iba dan kasihan akan nasib cinta sahabatnya.


*


*


*


Ajarin author caranya ngemis like biar hati nurani kalian tersentuh:(


Ihhhhh ngemis like.


Masa bodoh😊


Ga peduli.


i dont care.


* Selamat membaca *


Maaf jika ada typo. Jari jemari author pegel semua terasa mao patah😑

__ADS_1


__ADS_2