Wanita Seribu Luka

Wanita Seribu Luka
Sembilan pertanyaan berujung penyiksaan.


__ADS_3

Sekarang Emine sudah berada di kantor polisi tepatnya diruangan kusus devisi kasus kriminal. Ia duduk di depan meja Okan menunggu waktunya untuk dimasukan kedalam ruang pengintrogasian.


" Ozgur. Aku sangat lapar. Belikan aku sesuatu!!!" Minta Emine kepada Ozgur yang ikut menemaninya.


Hanya Ozgur yang diperbolehkan masuk kedalam kantor polisi sedangkan bodyguard lainnya menunggu di luar.


" Tunggu sebentar!! Aku akan keluar." Ucapnya segera keluar mencari sesuatu disekitar sana yang bisa di makan.


Hanya dalam 10 menit Ozgur sudah datang membawa mie cup dan sebotol air.


" Hanya ada ini disekitar sini. Tidak apa-apa kan?" Tanya Ozgur memperlihatkan makanan instan yang di bawanya.


Emine menganggukan kepala dengan eksprsi kelaparan semacam tak makan satu bulan. Ozgur segera membuka tutup mie cup lalu melilitkan mie itu di sendok garpu plastik dan meniupnya.


" Fuhhh,,,Fuhhh,,, Fuhhhh,,," Mulut Ozgur maju setengah Cm saat meniup mie dengan kepulan asap tebal.


Tidak tahan lagi dengan perutnya yang sudah keroncongan, Emine menarik tangan Ozgur dan memakan mie yang masih ditiup-tiup dengan lahap.


" Aishhhhh,,,, itu masih panas." Ucap Ozgur kesal kepada Emine yang tidak mampu membalas ucapannya karena sibuk mengunyah mie yang masih panas itu.


Ozgur kembali meniup mienya dan menyuapi Emine yang tidak bisa makan sendiri karena tangannya dikurung dengan borgol.


" Nona, Apa kita minta bantuan saja pada Nyonya Velief? Dia punya banyak koneksi dengan petinggi-petinggi angkatan darat. Mungkin itu bisa membantu." Ucap Ozgur sembari menyuapi bayi besar di depannya.


" Tidak,,tidak,," Menggelengkan kepalanya. " Aku tidak mau membuat kakak Velief kawatir." Emine berbicara dengan mulut penuh membuat suaranya sedikit berubah lucu. Satu buah pulpen dan serobek kertas diambil Emine dari meja Okan dan ditulisnya sebuah alamat di robekan kertas itu.


" Ini. Pergilah ke alamt ini!!" Menyodorkan alamat itu pada Ozgur.


" Alamat siapa ini?" Mengambil kertas itu dan menatapnya bingung.


" Itu alamat kakek ku. Ceritakan semua yang terjadi padaku dari malam penembakan itu sampai keberadaan ku di kantor polisi!! Katakan juga padanya, buatkan aku alibi palsu!! Rekayasa semua cerita!! Buat seolah-olah luka tembak di tubuh ku ini karena penyerangan dari musuh kakek ku karena persaingan bisnis!! Suruh dia memalsukan identitasnya untuk menjadi pengusaha kaya!! Dan ambil catatan medis ku di Belgia!!" Emine merencanakan sesuatu agar bisa bebas tanpa menguak identias pencuri malamnya.


" Serumit ini tidak akan bisa selesai sehari." Mendengar rencana Emine saja sudah pusing tujuh keliling apalagi melaksanakannya, pikir Ozgur.


" Benar. Tapi kakek akan berusaha menyelesaikan ini secepatnya. Serahkan semua padanya!!" Ucap Emine lalu membuka mulutnya tanda ia sudah siap menampung makanan lagi. Ozgur menyuapi Emine kembali.


" Ehemmmm,,,, apa kalian pikir ini adalah Restoran." Tiba-tiba Okan datang bersma Murat menatap Emine dan Ozgur dengan sorot mata dingin tidak suka akan kedekatan mereka berdua.


" Uhukkkk,,,Uhukkkk,,,Airr,,, Air,, Uhukkkk,,,!!!!" Emine tersedak mie yang belum hancur dimulutnya karena terkejut dengan kedatangan Okan.


Ozgur segera mengambil Botol air dan membukanya lalu menyatukan mulut Emine dengan mulut botol air mineral.


" Ini bukanlah masalah besar. Aku rasa polisi tidak sekejam itu untuk melarang tahanan yang belum tentu bersalah untuk sekedar mengisi perut mereka." Ozgur menatap dan membalas ucapan Okan dengan posisi masih menyangga botol air untuk Emine.


" Uhukkk,,,, Uhukkkk,,,," Tadi tersedak mie dan sekarang tersedak air. Nasib Emine sungguh tidak mujur hari ini.


" Astaga." Ozgur terkejut spontan mengembalikan lagi pandangannya pada Emine yang sekarang menatapnya dengan tatapan mata tajam disempitkan.


" Maaf maaf Nona." Ucap Ozgur ketakutan akan dicakar wajahnya karena telah membuat Emine marah. Ozgur segera mengambil tisu di meja Okan dan mengelap bibir hingga dres bagian depan Emine yang basah.


" Hentikan!!! Ini bukan panggung drama." Okan merasa risih dengan pemandangan di depannya. Okan angkat suara karena sebenarnya ingin menghentikan Ozgur yang akan mengelap bagian dada Emine. Okan merasa benar-benar cemburu.


Mata Emine yang menegang karena kesal dengan Ozgur sekarang meredup. Ia mengarahkan pandangannya pada Okan. Sedangkan Ozgur masih tidak berani menatap Emine dan lebih memilih ikut memandang Okan.


Okan berjalan kearah Emine.


" Aghhhhhh,,,,,," Suara ringis Emine. Okan mungkin belum terbiasa dengan kondisi Emine sekarang ini. Ia tidak bisa membiarkan Emine berada di dekat Ozgur lalu tidak sengaja menarik lengan Emine kasar untuk membawanya ke ruang pengintrogasian hingga Emine terjatuh bersimpuh di lantai.


" Dasar ceroboh." Teriak Ozgur tidak sadar melayangkan sebuah pukulan tepat saat Okan berbalik melihat Emine yang lepas dari pegangannya.


" Pukkkk,,,, Brukkkkk,,," Okan oleng jatuh kebawah karena menerima serangan mendadak.


Emine membelalak terkejut melihat Okan tersungkur di bawah karena pukulan keras dari Ozgur. Ia semakin cemas melihat sudut bibir Okan yang berdarah.


Murat juga terkejut dengan serangan Ozgur yang sangat cepat. Ia segera membantu Okan untuk berdiri.


Sedangkan Ozgur memilih menghampiri Emine dari pada melanjutkan menghajar Okan.


" Nona kau tidak apa-apa? Kita harus kerumah sakit." Ucapnya panik melihat ekspresi Emine menahan rasa sakit dengan ringisan kecil dan Emine mencoba menyentuh kakinya tapi tak bisa karena tangannya diborgol.


" Ahhhhhh,,,,," Ringis Emine keras ketika Ozgur memegang kaki Emine. " Jangan dipegang bodoh!! Ahhhh,,,," Umpat Emine tidak sadar kepada Ozgur yang bermaksud baik padanya.


Ozgur sudah biasa dengan umapatan Emine, ia abaikan saja dan memilih fokus pada kaki Emine.


" Aku akan membawa mu ke rumah sakit." Ozgur memasukan tangannya ke bawah dres merah Emine bersiap memopong tubuh Emine yang sudah tidak bisa berjalan lagi.


" Tuan kau tidak bisa membawanya begitu saja!!!" Celetuk Murat tiba-tiba.


Ozgur tidak jadi mengangkat tubuh Emine karena pandanganya dialihkan pada Murat dengan amarah menggebu-gebu.


" Jangan!!!" Emine menahan tangan Ozgur yang nampaknya ingin menghajar Murat. " Sudahlah aku baik-baik saja." Menatap mata Ozgur mencoba meyakinkan. " Ingat kau harus kerumah kakek ku!!!" Bisik Emine kepada Ozgur yang hampir lupa punya tugas yang sangat penting.


Akhirnya Ozgur memilih merendam kemarahannya dan kembali memopong tubuh Emine menuju ruang pengintrogasian lalu pergi dari kantor polisi untuk menemui kakek tua.


Rasa bersalah menyelimuti hati Okan. Ia tidak henti-hentinya mengumpat kasar pada dirinya karena telah melukai Emine. " Dasar lelaki tidak berguna, ceroboh, bodoh." Umpatnya dalam hati lalu menyusul Emine yang sudah dibawa pergi oleh Ozgur.

__ADS_1


Sudah 3 kali Emine masuki ruangan kecil dengan satu meja dua kursi satu kamera di pojok dinding dan sesuatu yang terlihat baru yaitu semacam pengeras suara di samping kamera.


Pandangan Emine ke sekeliling ruangan ini dialihkan pada Okan yang baru saja masuk bersama seorang polisi wanita. Dulu sempat wajah Okan terlihat hangat di mata Emine tepatnya pada saat Emine berada di runagan ini untuk yang kedua kalinya hingga saat ini Emine kembali melihat wajah Okan yang begitu dingin sama seperti saat Emine berada di ruangan ini untuk pertama kalinya. Saat itu Emine tidak masalah dengan sikap dingin Okan karena belum saling mengenal dan belum jatuh cinta pada polisi ini. Tapi cintanya saat ini telah mengubah keadaan, yang dulunya tidak masalah dengan sikap dingin Okan sekarang hatinya terasa begitu perih.


" Hanya untuk inikah aku hidup kembali?" Gumamnya sedih dalam hati dengan mata menatap Okan yang tak kunjung menatap dirinya. Emine menyesal telah bangkit dari kematiannya.


" Buka borgolnya!!!" Perintah Okan kepada polisi wanita yang berdiri di samping Emine. Ucapan dan sikap Okan sangat mirip dengan pertemuannya bersama Emine untuk pertama kalinya.


" Kita mulai saja!!! Mohon kerjasamanya Nona!!!" Ucapnya masih sibuk membaca sesuatu di kertas-kertas.


Emine menahan air matanya, kerinduan dan cintanya selama ini hanya dibalas dengan sikap seolah-olah dirinya adalah orang asing.


Okan menyiapkan jari-jarinya diatas keyboard laptop.


- Pertanyaan pertama.


" Apa hubungan mu dengan pembunuh itu?" Tanya Okan masih fokus pada laptopnya.


Pertanyaan yang sama seperti dulu. Tapi kali ini semua pertanyaan Okan resmi sebagai seorang polisi dan Emine sebagai tersangka.


" Tidak ada." Jawab Emine masih melihat Okan. Ia ingin tau seberapa kuatnya Okan tidak menatap matanya.


- Pertanyaan kedua.


" Jika kau tidak ada hubungan dengan pembunuh itu lalu kenapa saat kau berada di gedung itu, kau tidak dibunuh meski kau sudah melihat semua kejahatannya?" Tanya Okan.


" Karena aku bukan targetnya." Jawab Emine.


- Pertanyaan Ketiga.


" Dari mana kau tau, kau bukanlah targetnya?" Tanya Okan.


" Dia sendiri yang mengatakannya padaku." Jawab Emine.


- Pertanyaan Keempat.


" Apa lagi yang dia katakan?" Tanya Okan.


" Dia bilang, dia hanya membunuh orang yang pantas untuk dibunuh." Jawab Emine.


- Pertanyaan Kelima.


" Apa dia mengatakan spesifikasi targetnya?" Tanya Okan.


" Tidak." Jawab Emine.


" Aku mendengar suara tembakan dari ruangan tempat kau dan pembunuh itu berada. Dari siapa tembakan itu?" Okan sudah tau tembakan itu dari Emine tapi ia terpaksa bertanya lagi karena beberapa pertanyaan sudah ditentukan oleh Jendral Sam sesuai pernyataannya dan kedua rekannya laporkan.


" Dari ku." Jawab Emine jujur.


- Pertanyaan ketujuh.


" Apa yang terjadi saat itu?" Tanya Okan.


" Aku ingin menembak pembunuh itu tapi tembakan ku meleset. Kemudian ia mengambil alih pistol di tangan ku dan membidikannya ke arah ku hanya untuk menakut-nakuti." Jawab Emine.


Sejauh ini Emine berhasil menjawab tujuh pertanyaan. Tapi masih ada deretan pertanyaa lainnya. Pertanyaan ini hanyalah awal sebagai pembuka.


- Pertanyaan Kedelapan.


" kenapa saat kau mengatakan ingin membantu kami untuk menangkap pembunuhnya, kau malah menghilang dengan waktu yang cukup lama? " Ini adalah pertanyaan inti dari masalah.


Emine bersiap menceritakan semuanya dengan beberapa alur yang ia ubah.


" Kakek ku adalah pengusaha kaya. Dia punya banyak musuh. Banyak yang ingin menjatuhkannya. Saat hari terakhir aku bersama mu untuk mendiskusikan pembunuh itu, malam harinya saat aku pulang dari suatu tempat aku dikepung oleh anak buah musuh kakek ku. Sampai akhirnya aku berada di suatu tempat entah tempat apa itu aku tidak tau. Disanalah aku ingin dibunuh. Aku ditembak di bagian kaki, lengan dan terakhir punggung. Aku hampir mati disana, mereka meninggalkan ku begitu saja. Untung kakek bisa menemukan ku. Setelah itu aku dikirim ke belgia karena disini tidak aman. Aku koma selama 1 bulan, aku berjuang untuk hidup, aku terkurung dalam tidur panjang ku, hingga akhirnya aku menyerah, Aku mati. Mungkin ini sangat mustahil tapi ini adalah nyata, aku hidup lagi. Entah untuk apa aku hidup lagi, aku tidak tahu."


Cerita panjang Emine berhasil membuat mata Okan tertuju padanya. Okan tau Emine berbohong tentang kakeknya adalah pengusaha mengingat bahwa kakek tua pernah memalsukan identitasnya saat mengadopsi Emine dan Okan tau itu. Tapi ia tidak ingin mempertanyakan hal itu karena akan menambah kecurigaan pada orang-orang yang ikut melihat pengintrogasian lewat ruang pemantauan termasuk Jendral Sam yang ikut menonton acara ini lewat CCTV yang dihubungkan langsung ke tempatnya. Saat semua orang semakin curiga dengan Emine, mungkin mereka akan menyiksa Emine untuk mendapat jawaban yang mereka inginkan. Okan tidak bisa membiarkan wanita yang dicintainya terluka lebih dalam lagi.


- Pertanyaan kesembilan.


" Aku Jendral Sam akan bertanya pada mu." Semua orang terkejut saat pengeras suara di atas pojok ruangan tiba-tiba bersuara. Sontak semua orang yang mendengar suara itu termasuk Okan berdiri tegap lalu memberi hormat pada Jendral Sam meski hanya suaranya saja yang terdengar sedangkan orangnya tidak terlihat.


" Pistol yang kau tinggalkan pada inspektur Okan, pistol itu ilegal. Jika memang kakekmu adalah pengusaha kaya pasti dia memiliki ijin untuk senjata mu. Tapi senjata itu bukan buatan pihak yang berwenang. Pistol itu pistol rakitan yang dibuat kusus. Aku sudah mencari informasi tentang senjata itu tapi tidak ada pihak persenjataan yang membuat senjata seperti itu. Katakan dari mana kau mendapat pistol itu?" Tanya Jendral Sam panjang lebar.


Okan menutup matanya sekilas cemas karena hal yang ia takutkan akhirnya terjadi. Pertanyaan yang menyudutkan Emine akhirnya muncul. Saat ini ia ingin menghajar Murat karena dialah yang melaporkan senjata ilegal milik Emine kepada Jendral Sam.


Emine tidak menyangka senjata yang ia tinggalkan pada Okan akhirnya memakan dirinya. Emine memutar otaknya keras, ia tidak boleh salah melangkah.


" Jika aku mengatakan senjata itu dari kakek, maka kakek akan terlibat dalam semua ini. Aku tidak biasa membiarkan itu terjadi." Gumam Emine dalam hati lalu memutuskan untuk diam karena tidak bisa menjawab pertanyaan Jendral Sam.


" Kenapa diam? Jawablah!! Aku beri waktu kau 1 menit untuk menjawab." Ucap Jendral Sam.


" Jawablah Emine!! Cepat jawab!! Jendral bodoh itu akan menyiksamu jika kau tidak menjawab" Okan berusaha berbicara pada Emine lewat sorot mata kecemasannya yang membeku memandang mata Emine yang mulai panik.


Diam adalah pilihan Emine. Hingga 1 menit berlalu begitu cepat.

__ADS_1


" Pukul tangannya!!!" Perintah Jendral Sam kepala polisi wanita disana.


Polisi wanita itu mengambil kayu rotan lalu melentangkan kedepan kedua tangan Emine yang putih mulus diatas meja.


" Ini tidak sakit Emine, hanya kayu kecil tidak akan membunuh mu." Gumamnya meyakinkan diri.


Sekali lagi Okan merasa dirinya adalah satu-satunya pria yang tak berguna di dunia ini. Okan tidak bisa melakukan apa-apa. Ia menatap mata Emine dengan penuh rasa bersalah. Emine membalas tatapan Okan berharap Okan akan membantunya.


" Plakkkk,,,,,Plakkkkk,,,,, Plakkk,,,Plakkkk,,,," Suara kayu yang akhirnya menghantam kulit Emine. Tiras dan Murat yang berada di ruang pemantauan lebih memilih memalingkan matanya karena tidak tega melihat Emine dipukuli.


Emine mengerjap menutup matanya menahan rasa sakit yang ternyata begitu luar biasa. Jika diperbolehkan untuk memilih, Emine lebih memilih ditembak dari pada dipukul tanpa ampun seperti ini. Setiap pukulan yang meninggalkan tanda bekas kemerahan dan sedikit darah di tangan Emine terasa begitu benar-benar perih. Semacam luka yang ditaburi garam.


20 pukulan sudah meningglkan bekas luka di tangan Emine. Emine masih bisa menahan rasa sakitnya tanpa suara rintihan kesakitan.


" Aku beri kesempatan yang terakhir kalinya. Katakan dari mana kau mendapat pistol itu?? Itu bukan senjata yang dimiliki sembarang orang." Ucap Jendral Sam membuat pukulan itu berhenti mendarat di tangan Emine untuk sesaat. Namun Emine kembali memilih diam.


" Pukul dia lagi!!!" Perintahnya menyambung saat Emine tetap memilih tidak bersuara.


Okan meremasa kertas-kertas yang ada di atas meja dengan kemarahan melihat Emine disiksa meski belum ada bukti yang menyatakan ia bersalah.


Polisi wanita itu kembali menjalankan perintah memukul tangan Emine tanpa rasa belas kasih sedikit pun.


" AGHhhh,,,,," Akhirnya rintihan rasa sakit yang Emine tahan meledak tidak mampu Emine tampung lagi.


" HENTIKAN,,,,!!!" Teriak Okan tiba-tiba mengagetkan semua pasang mata yang melihatnya termasuk Emine. Polisi wanita itu ikut menghentikan aksi memukulnya karena kaget.


" Bodoh. Apa yang kau lakukan?" Tanya Jendral Sam marah pada Okan.


" Dooooorrrrrr,,,,!!!!" Okan menembak pengeras suara dan membuat suara Jendral Sam tidak bisa masuk lagi.


Tiras dan Murat tidak percaya Okan berani membangkang. Murat masuk kedalam ruang pingintrogasian.


" Okan apa yang sudah kau lakukan???" Tanya Murat cemas jika Jendral Sam sampai marah besar padanya.


" Ini adalah kasus ku. Aku ketuanya disini. Aku yang memutuskan tindakan apa yang akan dilakukan. Bawa dia ke sel tahanan!! Kita lanjutkan pengintrogasiannya besok!!" Ucap Okan menatap Murat tajam lalu pergi dari ruangan itu.


Sebagai pria jantang, sekarang Okan pergi menemui Jendral Sam dan berani bertanggung jawab atas tindakannya hari ini.


***


Matahari sudah tenggelam digantikan oleh 1 bulan dan beribu bintang di langit gelap.


Serin sudah mendengar tentang Emine yang sekarang ditahan di kantor polisi. Ia sekarang dalam perjalanan menuju kantor polisi untuk menemui Emine.


Di lain tempat.


Emine meringkuk merangkul kedua kakinya di dalam jeruji besi untuk yang kedua kalinya.


" teng,,,klonteng,,,klonteng,,," Suara gembok sel yang dibuka.


Emine terpaksa mengangkat kepalanya yang terasa berat. Ia terkejut Okan sekarang ikut masuk kedalam sel.


Yang lebih mengejutkan lagi sekarang Okan mengambil tangan Emine tanpa izin dan mengolesi obat salep di setiap luka.


" Apa yang kau lakukan?" Tanya Emine menarik tangannya karena sentuhan Okan hanya akan menambah luka dihatinya.


Okan tidak merespon Emine dan mengambil lagi tangan Emine melanjutkan pengobatannya.


" Berhenti bersikap perduli seperti ini padaku!!" Ucap Emine marah lalu menarik lagi tangannya tapi Okan kembali merebut tangan penuh luka itu.


Tatapan kesedihan memenuhi mata Emine yang berkaca-kaca menatap Okan yang terus mengobati tangannya tanpa sadar telah menambah luka dihati Emine.


" Kenapa kau mengobati luka ku setelah bersikap begitu dinginnya pada ku? Kenapa kau terus membuat aku semakin mencintaimu jika akhirnya kau bukanlah milik ku?" Tanya Emine dalam hati menahan air mata dan pasrah membiarkan Okan terus mengoleskan salep di lukanya dengan sikap yang masih dingin.


Emine membiarkan Okan melakukan semua yang ia inginkan. Bahkan saat ini Okan membuka jaket kulitnya dan menutupi tubuh Emine yang terbuka itu karena cuaca hari ini sangat dingin.


" Besok pengintrogasiannya akan dilakukan pukul 4 sore. Sebaiknya kau katakan semua kebenaran tentang dirimu!!!" Ucap Okan lalu beranjak dari duduknya ingin pergi meninggalkan Emine begitu saja.


Emine tidak tahan lagi dengan sikap Okan yang melakukan sesuatu menuruti keinginannya seorang. Sekarang giliran Emine yang akan menunjukan keinginanya pada Okan. Mungkin ini sangat memalukan tapi inilah yang Emine inginkan. Emine menahan tangan Okan yang ingin pergi, saat Okan menoleh kearah Emine saat itu Emine dengan tidak tau malunya mencium Okan dan ******* ganas bibir Okan yang sekarang membeku karena menerima serangan tak terduga.


Okan belum bisa mengimbangi ciuman ganas Emine, ia masih terjebak dalam keterkejutannya sekaligus mencoba mengontrol jantungnya yang berdebar kencang.


Menyadari ciumannya tidak direspon, Emine berhenti kemudian menatap mata Okan sendu. " Aku sudah membiarkan mu melakukan semua yang kau inginkan. Aku mohon, untuk hari ini saja biarkan aku melepas semua yang ku pendam." Ucap Emine menyatukan kening dan hidungnya dengan Okan.


Okan hanya lelaki normal biasa yang tak bisa menahan hasrat pada wanita yang dicintainya. Sadar akan lampu hijau yang diberikan Emine, Okan mulai memimpin aksi malam ini di jeruji besi.


Tanpa ragu, diangkatnya tubuh Emine dan didudukan diatas selangkang*an pahanya. Emine melingkarkan tangannya di leher Okan. Mereka berdua beradu keganasan bibir dan lidah. Okan menepis jaket yang baru ia kenakan pada Emine agar bisa merasakan punggung Emine yang seksi. Tidak ada debaran jantung karena sudah tenggelam dalam kenikmatan.


Malam itu adalah awal sejarah dari dua insang yang saling mencintai namun masih ragu mengatakan perasaan mereka masing-masing. Ciuman panas dilakukan mereka berdua dalam waktu yang panjang.


Serin terkejut akan pemandangan yang ia lihat di depannya. Percintaan di dalam jeruji besi antara pria yang dicintainya dan wanita yang menjadi sahabatnya. Serin perlahan mundur tanpa suara lalu berlari pergi dengan rasa kecewa dan sakit hati diselipi air mata kebencian.


*


*

__ADS_1


*


Like sama komennya mana hayo??


__ADS_2