
Hari kembali berlalu begitu saja meninggalkan mereka yang sudah terlupakan. Bulan dan matahari berlomba-lomba untuk saling menggantikan. Bunga-bunga di taman juga ikut berlomba memamerkan keindahan dan keharuman mereka. Lebah-lebah berpetualang mengumpulkan makanan untuk bekal musim kemarau panjang.
Velief dan Emine berjalan-jalan di taman ditemani babysister Mehmet yang mengikuti mereka di belakang. Velief mendorong kursi roda Emine, membawanya mengelilingi taman bunga di samping rumah untuk mencari matahari pagi yang menyemburkan cahayanya yang hangat.
" Kakak. Berhenti disana!! " Emine menunjuk ke arah sekelompok bunga mawar yang sedang memamerkan keindahannya dengan berbagai warna. Velief dengan senang hati mendorong kursi roda menghantarkan Emine ketempat tujuan. Luka bagian luar Emine memang sudah sembuh tapi luka dalam di bagian kakinya belum pulih. Selama 1 bulan Emine terbaring selama itu pula kakinya tidak pernah dilatih, hal itu yang menyebabkan kaki Emine belum mampu menopang tubuhnya. Tapi semuanya akan kembali normal lagi jika Emine sering melatih kakinya untuk berjalan.
Setangkai mawar biru mencuri hati Emine membuat tangannya gatal untuk langsung memetik mawar cantik itu.
" Ini untuk Mehmet, aku memberikannya dengan setulus dan segenap hatiku." Menjulurkan tangan yang membawa bunga mawar biru ke arah Mehmet dengan senyum manisnya. Velief dan babysister melihat tingkah Emine yang konyol lalu mengubris tawa yang tak bisa ditahan.
" Apa kau berencana mengencani anak ku Emine?" Velief menggoda Emine.
Emine menarik kembali tangannya yang terasa pegal karena Mehmet tak kunjung menerima bunga yang ia berikan. Mehmet malah menggeliat dengan tawanya yang terdengar pelan tapi menggemaskan.
" Aissss,,, bunga ini bukan untuk melamar Mehmet tapi ini adalah bentuk lain dari kasih sayangku pada anak nakal ini." Ucapnya kesal lalu menyelipkan bunga mawar itu di telinganya membuat Emine terlihat semakin konyol. Akan terlihat cantik jika ukuran bunganya pas, tapi ukuran bunga mawar itu setengah dari wajahnya membuat wajah Emine sedikit tertutup.
" Nanti jika Mehmet sudah besar, aku akan menyuruhnya untuk menikahimu." Ujar Velief sembari mendorong lagi kursi roda Emine ke arah bangku putih dibawah pohon mangga.
Emine terkekeh mendengar ucapan Velief. Ia langsung mengeparkan jari-jarinya dan menghitung berapa umurnya saat nanti Mehmet besar. Emine menoleh kearah Velief di belakang dengan wajah terlihat kecut, Velief malah tertawa karena berhasil menggoda Emine.
" Aku akan jadi perawan tua jika harus menunggu Mehmet besar." gerutunya sedikit kesal.
" Kalau begitu cepatlah sembuh dan segera cari kekasih pujuaan mu!!"
Ucapan Velief membuat Emine kembali mengingat Okan cinta pertama sekaligus cinta yang tak sampai dan kehidupannya di Turki. Emine merasa sedih, Velief yang melihat raut wajah Emine berubah itu pun menyadari bahwa ucapannya mungkin membuat Emine terluka. " Maafkan aku jika perkataan ku membuat mu sedih. Aku tidak bermaksud seperti itu Emine." Velief merasa bersalah.
Emine kembali tersenyum karena tidak mau membuat Velief kawatir. " Kakak ini jangan terlalu menjadi orang yang perasa!! Itu hanya akan membuatmu mudah merasa sedih dan bersalah." Emine menasehati Velief yang hatinya sangat lembut. Velief mudah merasa bersalah, ia cepat menangis, mudah terbawa emosi, dan mudah terbawa suasana. Karena itu Emine ingin menghapus rasa bersalah Velief yang terus tertanam di hati Velief atas insiden yang pernah menimpa Emine.
" Bagaimana bisa aku melupakan semua itu? Aku tidak pernah bisa tidur nyenyak saat memikirkan semua yang terjadi padamu. Aku benar-benar berhutang budi padamu Emine." Mata Velief mulai berkaca-kaca, Emine juga ikut sedih melihat Velief yang terus seperti ini. Tidak bisa melupakan kejadian itu dan terus menyalahkan dirinya.
Emine mengambil tangan Velief dan menggenggamnya dengan tatapan sendu. " Lupakan semua kejadian itu!! Anggap saja tidak pernah terjadi apa-apa!! Kakak tidak bisa terus hidup dengan rasa bersalah. Bagaimana kakak akan menjaga Mehmet jika kakak lemah seperti ini? Berjanjilah padaku untuk menjadi wanita yang kuat!!" Ucap Emine dengan senyum meyakinkan.
Ucapan Emine membuat Velief terharu, ia memeluk Emine dan berkata " Kau pernah mati sekali karena ku, Bagaimana bisa aku melupakannya? " Ucap Velief di bahu Emine diselingi suara tangis yang terdengar jelas.
" Aku sudah kembali kakak, jangan menyiksa dirimu sendiri!! Aku tidak bisa melihat kakak hidup dengan rasa bersalah seperti ini." Emine juga ikut terbawa suasana, tidak sadar air matanya menetes meski tidak bersuara seperti Velief.
" Sudahlah!! Aku kesini bukan untuk menangis." Melepas pelukan dan menghapus air matanya. " Aku ingin cepat pulih kembali, aku ingin segera membuang kursi roda ini, sekarang bantu aku untuk berjalan." Emine berdiri dari kursi roda dengan Velief yang sigap memegang kedua tangan Emine.
Hari ini adalah hari pertama ia melatih kakinya untuk berjalan. Emine bisa berdiri dengan satu kaki tapi tidak dengan berjalan. ia menginjakan kakinya yang terluka perlahan menyentuh tanah lalu mencoba memberi sedikit beban. Emine ingin mengetes seberapa kuat kakinya untuk menompang tubuhnya. Velief berdiri di depan Emine dan masih memegang tangan Emine. Perlahan Velief melepas pegengannya membuat Emine kini harus berusaha berjalan tanpa bantuan, tapi baru satu langkah tubuh Emine jatuh ke bawah. Velief segera membantu Emine berdiri lagi, ia kawatir dan cemas melihat Emine tapi Emine malah tersenyum menunjukan bahwa ia baik-baik saja. Velief pun ikut tersenyum haru melihat Emine wanita yang selalu mencoba untuk terlihat kuat dengan senyumnya padalah ia begitu terluka dengan semua ini. Wanita mana yang tidak sedih dengan kondisi kakinya yang tidak normal.
*
Rutinitas yang dijalani Emine tiap hari sangat membosankan. Pagi hari ia akan berlatih berjalan di taman ditemani babysister Mehmet sedangkan Velief belakangan ini sibuk di perusahaannya. Siang harinya Emine akan diam di dalam rumah karena cuaca sangat panas, ia akan menghabiskan waktunya bersama Mehmet, membaca novel, menonton drama atau film, main game, terkadang ia juga akan berlatih berjalan naik turun tangga. Sore harinya Emine kembali lagi ke taman, membantu menyiram bunga dan merawat tanaman lainnya. Malam hari saat Velief sudah pulang dari kantornya, ia akan berbincang-bincang di teras rumah untuk membuang rasa bosannya. Semua aktivitas itu akan terus berputar dan terulang semasih Emine belum bisa berjalan normal.
Pukul 8 malam, semua orang berkumpul di ruang tamu saling menyumbangkan lawakan yang membuat isi rumah itu ramai dengan suara tawa. Semua orang duduk dibawah dengan beralaskan karpet yang lembut dengan bulu-bulu halus. Mereka semua saling memberi kehangatan satu sama lain di tengah cuaca dingin malam hari di Belgia. Satu per satu mendapat giliran untuk menceritakan hal yang lucu. Hari ini tidak ada cerita sedih.
Bibi Putu tidak mau kalah, ia menceritakan sebuah cerita lucu yang sempat dikirim oleh suaminya dari Bali lewat WhatsApp. Bibi putu sendiri adalah salah satu asisten rumah tangga Velief yang berasal dari Indonesia, Prov. Bali. Bibi Putu sudah 5 tahun bekerja di rumah ini. Meski berasal dari kampung, tapi Bibi Putu mahir berbahasa inggris dan beberapa bahasa lainnya. Ia mantan pekerja kapal pesiar, ia juga sempat merantau di negri tetangga seperti Singapore, China, Jepang dan terakhir di Belgia.
__ADS_1
Bibi Putu mulai menceritakan cerita yang sebenarnya menggunakan bahsa campuran antara indonesia dan bali dengan mentranslate ke bahasa inggris tapi tidak menghilangkan logat aslinya sebagai warga negara Indonesia + Bali.
# Cerita pesan whatsapp. ( Anggap saja sudah menggunakan bahasa ingris!!)
*TOILET ANEH DI SPBU PANCASARI*
Waktu saya berangkat ke Denpasar, saya kebelet pengen buang air besar (BAB). Ngebutlah cari SPBU terdekat.
Pilihan jatuh ke SPBU di Pancasari. Setelah sampai, saya langsung aja ke arah toilet khusus wanita. Toiletnya banyak berjejer rapi dan bersih. Tanpa pikir panjang, saya memilih toilet yang tengah dan langsung masuk.
Baru saja duduk di WC, dari sebelah ada seseorang yang teriak bertanya seperti ini,,
+ *" Bagaimana kabarnya kakak?"*
- *"Astungkara sehat. "* jawab saya.
+ *" Masih bekerja di tempatnya yang dulu??"*
- *" Masih dik. Ya jalani saja dulu. "* kata saya di dalam hati bertanya-tanya ini siapa, kok kenal saya?
*" anak-anaknya sehat semua kak?"*
- *" Sehat semua dik."* jawab saya sambil tetap penasaran, ini siapa di WC sebelah?
*" Suaminya kakak sehat?"*
Hening beberapa saat ....
Tidak lama kemudian orang di WC sebelah berbicara seperti ini: " Udah dulu nelfonnya ya....!!! Disebelah ada orang gila,,, ikut aja ngomong.*
Anjg,,,,,,,:v
Sontak semua orang yang mendengar cerita Bibi Putu langsung tertawa lepas. Semua orang yang mendengar dengan serius mengira bahwa itu adalah cerita horor tapi bagian akhir cerita sungguh tak terduga.
" Hahahahahha,,,,, Indonesia memang punya banyak cerita yang unik. " Ucap Emine dengan tawa yang masih terselip.
Emine sering membantu Bibi putu memasak. Disela-sela kegiatan memasak, Bibi putu akan menceritakan hal lucu tentang negaranya. Tentang sebutan negara +62 hanga karena nomor ponsel indonesia diawali dengan +62, julukan negara dengan masyarakat santuy, bagaimana hanya di indonesia yang masyarakatnya makan mie pakai nasi, anak-anak di indonesia yang sudah kebal karena sering makan borax, es lilin pakai air sungai, beras dari plastik. Minuman keras di oplos pakai baygon, sampo, sabun, sanlite. Bagaimana aksi konyol anak-anak bahkan orang dewasa yang duduk di pinggir jalan sambil memegang papan yang bertuliskan * Om telolet om*. Bahakan juga menceritakan kisah para gadis mengendarai sepeda motor berbonceng 4 dengan celana pendek yang akhirnya disebut cabe-cabe'an yang sempat tren di indonesia.
Bibi Putu adalah orang yang ceria, pintar ngelucu, orang yang lugu dan gampang dikerja'in oleh asisten lainnya.
Ada satu hal yang paling disukai dari Bibi putu yaitu Bibi putu adalah orang yang kagetan. Tidak jarang asisten lainnya akan dengan sengaja mengejutkan Bibi Putu dan Bibi putu akan refleks memasang kuda-kuda, menaikan satu kakinya dan kedua tangan membentuk ular cobra ditambah ekspresinya yang begitu aneh membuat semua orang ketagihan untuk mengagetkan Bibi putu lagi. Orang-orang yang berada dekat dengan Bibi putu seketika beban mereka akan hilang karena sibuk tertawa dengan lelucon Bibi Putu yang tidak pernah ada habisnya.
Di tengah canda tawa mereka, tiba-tiba suara rusuh dari luar mengalihkan perhatian semua orang. Velief sebagai tuan rumah mengerutkan dahinya melihat seorang gadis memaksa untuk masuk kedalam rumah. Emine dan lainnya menatap gadis itu dengan tatapan tidak suka karena gadis itu masuk tanpa etika dan juga terlihat sombong dengan raut wajahnya yang tengil.
" Aku ingin bertemu dengan Nyonya Velief." Gadis itu tidak tau bahwa Velief ada di depannya dan berada di antara segrombolan wanita-wanita yang sedang duduk dibawah. Dengan melipat kedua tangannya santai di depan perut semakin meninggalkan kesan buruk di mata semua orang.
Merasa terganggu dengan suasana yang tiba-tibe berubah, Velief berdiri dan berjalan ke arah gadis yang mengenakan celana jaens pendek warna navi, baju swetter pink baby, rambut sebahu di kuncir setengah untuk memperjelas maksud kedatangan gadis ini lalu memberi kode pada bodyguard yang ikut masuk untuk keluar.
__ADS_1
" Saya Velief, ada perlu apa anda mencari saya?" Velief berbicara dengan raut wajah sedikit tidak menyukai tingkah gadis ini meski pandangannya tidak setajam orang-orang yang masih duduk dibawah termasuk Emine. Beberapa asisten mulai berbisik-bisik menanyakan dari mana datangnya gadis sombong pengganggu suasana di kediaman Nyonya Velief.
" Saya ingin menuntut keadilan, perusahaan anda telah mengeluarkan saya padahal kontrak kerja belum berakhir. Saya kesini untuk menagih uang kompensasi yang seharusnya saya terima." Gadis itu menatap Velief tajam dengan ucapannya yang terdengar serius bercampur rasa kesal dari gadis itu sendiri.
Velief terkejut dan bingung dengan pernyataan yang baru ia dengar. Velief sendiri tidak pernah merasa mengeluarkan karyawannya, jika pun ada itu pasti ada alasannya. Velief berbalik dan mengambil ponselnya yang terletak di sofa lalu menghubungi Manager Stave.
" Siapa nama mu?" Tanya Velief sedikit acuh dengan ponsel menempel di telinga sembari menunggu panggilanya tersambung. Jika Manager Stave terbukti melakukan ketidakadilan pada gadis ini, maka tanpa pikir panjang Velief akan langsung memecatnya. Velief tidak suka orang-orang diperlakukan tidak adil karena ia sendiri pernah merasakan ketidakadilan.
" Meli." Jawab gadis itu masih dengan wajah sombongnya.
Meli menyadari semua orang menatapnya tajam, tidak ada yang menunjukan tatapan menyejukan dari sekian banyak orang yang duduk di karpet berwarna biru. Meli mengabaikan saja tatapan itu dengan membalas menyilangkan matanya lalu beralih menatap seisi rumah Velief yang megah bagaikan rumah sultan.
Semua orang yang menerima silangan mata sombong dari Meli semakin geram dan ingin melempari gadis tengik ini dengan botol cacacola yang terletak di tengah-tengah. Tapi hal itu mereka tahan karena Nyonya mereka sedang ada disini. Emine juga merasa jengkel, tapi untuk saat ini ia malas mencari masalah karena kondisi kakinya tidak mendukung.
Sudah 3 kali Velief mencoba untuk menghubungi Manager Stave tapi tidak ada jawaban.
" Apa dia sudah tidur?" Tanyanya dalam hati lalu melirik jam di tangannya, masih pukul 08.17 belum terlalu larut malam.
" Hallo Stave." Suara Velief berhasil menarik pandangan semua orang kearahnya. Velief berjalan maju melewati begitu saja gadis di depannya dan berbicara serius di telfon ketika mendapat jawaban dari Manager Stave.
Penghuni rumah itu hanya bisa mendengar suara Velief sedangkan suara Manager Stave sedikit pun tidak terserap ke telinga mereka karena Velief tidak mengaktifkan speakernya. Hal itu semakin membuat penghuni rumah semakin penasaran dengan perbincangan antara CEO perusahaan dan Manager perusahaan. Sedangkan Meli hanya bersikap santai karena sudah tahu apa yang akan dikatakan Manager Stave pada Velief.
Mata Meli mengarah pada keranjang bayi yang terbuat dari anyaman berhiasakan motif flora di luarnya. Meli menjijitkan kakinya, kepalanya clingak-clinguk mencoba melihat isi dari keranjang bayi itu. Terlihat Mehmet yang masih terjaga dengan dot di bibir munggilnya.
" Halloo,,, baby,,," Melambaikan tangannya kerah Mehmet lalu menyapa dengn suara terdengar seperti sedang berbisik-bisik diselipi raut wajah mencoba menghibur Mehmet. Mehmet yang sedang serius dengan dotnya tiba-tiba tertawa gemas melihat Meli dan membuat dot itu terlepas. Mehmet terlihat begitu senang, dia menendang-nendangkan kaki munggilnya membuat Meli semakin menjadi-jadi dengan wajah yang dibuat lucu agar Mehmet semakin terhibur.
Semua orang mengaga tak percaya akan tingkah konyol Meli namun terlihat menggemaskan dan begitu lucu. Hawa sombong Meli seketika hilang dan yang terlihat saat ini hanya hawa gadis imut yang mencoba menghibur seorang bayi.
Setelah melihat tingkah Meli, Emine jadi berfikir bahwa gadis di depannya ini tidak terlalu buruk. Meli terlihat lebih baik dengan wajah imutnya ketimbang wajah sombongnya.
" Ehemmmmm,,,,,,,," Hingga pada akhirnya suara deheman Velief yang berjalan kearah Meli membuat Meli sedikit kaget dan kehilangan keseimbangan kakiknya yang sedang dijinjit lalu terjatuh. Dan semua orang menertawakan Meli tapi tidak dengan Emine yang ingin membantu Meli tapi tak bisa. Meli pun bangkit lagi dengan wajah kecutnya karena ditertawakan banyak orang.
Meli membalikan badan menghadap Velief di belakannya. Velief tersenyum miring kepada Meli setelah mendengar penjelasan Manager Stave di telfon.
" Nona Meli. aku sudah mendengar semua penjelasan dari Stave dan itu adalah keputusan yang benar untuk mengeluarkan mu dari perusahaan." Semua orang semakin penasaran dan Velief pun menceritakan kronologi kenapa Meli sampai bisa di hempaskan dari perusahaan.
Meli adalah salah satu karyawan yang bisa langsung lulus hanya dengan sekali intervew. Tidak mudah untuk masuk di perusahaan Velief, mereka yang ingin menjadi bagian dari perusahaan terkenal di belgia itu harus melewati berlapis-lapis tes. Setelah diterima di perusahaan Velief, Meli bekerja dengan sangat baik. Ia juga berhasil menyumbangkan ide-idenya di bidang pemasaran membuat perusahaan Velief semakin terkenal. Perusahaan pun memberi bayaran untuk jasa Meli. Tapi belakangkan ini, entah apa penyebabnya, Meli bekerja sangat buruk. Manager Stave mengetahui kinerja Meli yang terus menurun. Manager Stave bahkan memberikan kesempatan kepada Meli karena mungkin ada beberapa faktor atau masalah yang sedang di hadapi Meli. Tapi hari demi hari bukannya membaik, pekerjaan Meli malah semakin menurun hingga membuat kesalahan besar dan mengakibatkan perusahaan rugi sampai 15%. Hal itu tidak bisa lagi toleran dan akhirnya Meli di keluarkan dari perusahaan. Untuk uang kompensasi Meli itu digunakan untuk menutup rugi peruasahaan karena itu Meli tidak mendapat uang kompensasi.
Meski sudah menggunakan uang kompensasi Meli tapi uang itu tidak seberapa dibandingkan dengan rugi perusahaan. Velief sudah mendengar berita itu dan segera menutupi kerugian dengan uangnya. Velief punya banyak perusahaan di beberapa negara, pemasukan pun terus mengalir. Kerugian perusahaanya di Belgia ini tidak seberapa dengan harta kekayaannya karena itu Velif tidak mempermasalahkan kerugian ini. Tapi untuk menjaga kinerja karyawan yang lainnya termasuk menjaga perusahaan, Velief pun juga ikut setuju dengan keputusan Manager Stave untuk mengeluarkan Meli.
*
*
*
*
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak!!!