
belum berhenti sampai disana alkohol mempengaruhi ke 3 polisi itu. Sekarang mereka berdandan ala kadar pengemis sungguhan. Wajah yang tampan di olesi bedak tanah hingga terlihat dekil. Pakaian yang masih utuh kini sudah compang camping. Sepasang sepatu yang ujung talinya sudah di ikat menjadi satu di kalungkan ke leher. Kaus kaki yang seharusnya di kaki mereka pakai di tangan. Ke 3 polisi itu mendadak menjadi model treen pakaian pengemis keluaran terbaru.
" Tuan, Nyonya, tolong kebaikan hanti anda. Saya tidak makan sudah hampir setahun. Beruntung saya masih hidup karena saya tampan. Orang tampan di sayang Tuhan. Tuan, Nyonya, kami adalah korban perang israel. Beruntung kami selamat karena kami tampan. Orang tampan di sayang Tuhan."
Ucap Okan sebagai ketua pengemis
Sambil menadahkan tangannya meminta-minta pada setiap mereka yang lalu lalang di depan.
Siapa yang mau memberi uang pada pengemis sombong? Malah mereka yang mendengar Okan merasa terhina.
Fikir mereka, apa hanya orang tampan saja yang di sayang Tuhan?
Ada beberapa orang jahil yang mengambil gambar mereka bertiga kemudian di unggah ke internet dengan caption " Mohon pihak Rumah Sakit Jiwa segera mengambil tindakan!!! pasien anda lepas."
Di lain tempat,
Emine gelisah. Berulang kali ia menghubungi Okan namun tidak ada jawaban.
Tut,,,,Tut,,,,Tut,,,,
" Panggilannya terhubung, tapi tidak ada jawaban. Kemana dia? Hari ini dia libur. Apa dia sudah lupa hari ini harus bertemu ibu ku? Aisshhhhh,,, Akan ku beri pelajaran kau nanti." Emine mengomel sembari menunggu panggilannya terjawab.
" Hallo,,, " Suara perempuan.
Deg,,,,,!!!!!
" Apa-apa'an ini Okan? Kau,,,Kau bersama seorang wanita." Gumam Emine dalam hati. Wajah Emine sudah memerah. Dari telinganya keluar asapa tebal. Kepala bagian atasnya mengelurkan tanduk banteng. Rasanya seluruh tubuh Emine terbakar. Ia langsung memutus panggilannya tanpa bicara dengan wanita itu.
Fika fokus menulis di meja yang sama dengan Emine. Awalnya ia tidak sadar atasannya itu kerangsukan hingga secara tidak sengaja ia melihat tangan Emine meremas kertas yang ia pegang.
" Aihhhh Nona. Kertasnya jangan di rusak. Ini berisi laporan penting." Fika langsung membebaskan kertas itu dari genggaman Emine lalu mengencangkan bagian yang kusut dengan tangannya seperti setrika.
BLAGGGGG,,,,, !!! Emine membanting dokumen ke atas meja.
" Astaga,,," Fika mengerjap terkejut. Jantungnya hampir turun ke lambung. Dilihatnya Emine sudah seperti tomat. Matanya memerah.
" Nona, ada apa? Tenangkan diri Nona!!!" Fika tidak tau masalahnya apa tapi ia tenangkan saja Emine agar tidak mengamuk dan meruntuhkan gedung JQ. Kelihatannya Emine benar-benar marah.
" Berani sekali dia menghianati ku. Pantas saja panggilan ku tidak di jawab, rupanya dia bersama wanita lain." Mengepalkan tangan geram, patah hati dan kecewa. Mata Emine mulai berkaca-kaca.
" Siapa Nona?" Tanya Fika seperti orang bodoh. Kata menghianati ku dan wanita lain sudah sangat jelas merujuk pada Okan kekasih atasannya.
" Okan." Jawab Emine singkat.
" Ohhh,,, Tuan Okan." Fika membulatkan mulutnya santai tidak terkejut.
" Apa??? Tuan Okan menghianati anda???" Akhirnya Fika terkejut meski terlambat.
__ADS_1
Emine tidak menjawab. Ia langsung pergi dengan langkah kakinya yang cepat.
Dari cara berjalan Emine saja sudah membuat Fika khawatir. Akhirnya ia memutuskan untuk mengikuti atasannya.
Saat Emine sudah berada di lobi di tempat paling banyak orang. Mereka semua yang melihat wajah Emine langsung berkedik ngeri. Mereka langsung tau Manager Utama itu sedang marah besar. Tidak lama kemudian setelah Emine keluar kantor, Fike terlihat berlari mengejar Emine. Mereka yang melihat pemandangan berdurasi sekitar 20 detik itu pun penasaran apa yang sedang terjadi.
Fika sudah berada di parkiran namun sayang Emine sudah pergi. Ia pun bergegas mengambil mobilnya lalu ikut tancap gas.
Ponsel Okan berhasil di lacak. Emine terkejut melihat posisi Okan berada di sebuah bar. Seorang pria dan seorang wanita berada di sebuah bar tentu saja fikiran Emine langsung mengarah ke arah negatif.
Tepat di belakang mobil Emine ada mobil Fika yang berusaha tidak kehilangan jejak Emine karena mobil Emine melaju seperti angin. Fika tidak percaya Okan yang terlihat seperti pria terhormat ternyata bisa bersikap hina.
Setelah melewati perjalanan yang cukup menegangkan tadi akhirnya Fika sampai di tempat Emine menghentikan mobilnya. Fika segera keluar dari mobil dan berlari menyusul Emine yang tiba-tiba menghentikan langkahnya di depan bar.
" Nona, aku bersama mu. Aku akan membantu Nona untuk menghajar pria brengsek itu." Ucap Fika semangat namun dengan nafas terengah-engah.
Emine tidak bergeming, tidak bergerak dan juga tidak merespon ucapan Fika. Pandangannya membeku ke suatu arah. Tanpa aba-aba, Fika langsung menyalin sorot mata Emine.
Mulut Fika mengaga lebar. Inikah yang namanya penghianatan? Kenapa versi penghianatan ini sangat aneh dan menjijikan?
" Fika, tolong katakan sekali saja bahwa dia bukan kekasih ku!! Katakan dia adalah orang lain!!" Minta Emine tidak bisa menerima apa yang ia lihat.
" Saya juga berharap seperti itu Nona. Tapi sayangnya harapan tidak sesuai kenyataan. Pergilah hentikan tindakan memalukan kekasih Nona!!" Seru Fika. Jujur saja ia yang bukan siapa-siapa sudah merasa malu melihat ketiga polisi itu apalagi Emine.
" Mariii,,,, kita urus mereka bersama-sama!! Kau harus setia bersama ku di suka maupun duka!! " Emine langsung menarik tangan Fika. Ia tidak ingin malu sendiri jadi ia mengajak Fika.
" Suka apanya?? Kau lebih sering memberi ku duka. Huaaaa,,,," Fika tidak bisa berbuat apa-apa. Terpaksa Ia membantu Emine. Andai ia tahu situasinya memalukan seperti ini maka ia akan memilih tinggal di kantor.
" Heiii calon istri. Kau merindukan ku kan?? Ayo duduk disini!! Kita mengemis bersama-sama!!" Ucap Okan sambil menepuk-nepuk tempat dimana ia meminta Emine duduk.
Detik itu juga harga diri Emine hancur saat Okan memanggilnya calon istri. Ia tidak tahu harus menaruh mukanya dimana. Semua orang memperhatikannya. Emine benar-benar malu.
" Ayo bantu aku membawa mereka ke mobil!!"
Emine langsung membantu Okan berdiri lalu memapahnya membawa pergi sebelum dia semakin mengacau. Sedangkan Fika mengambil alih tubuh Murat.
Sekarang tinggal Tiras, Emine berjalan ke arah Tiras setelah memasukan Okan ke dalam mobil. Emine membantunya berjalan menuju mobil Fika lalu membaringkannya di kursi penumpang.
" Aku menyukai mu. Aku menyukai mu Nona Emine." Tiba-tiba Tiras mengigau dalam matanya yang sudah tertutup.
Deg,,,,,!!! Emine terkejut mendengar ucapan Tiras menyebut namanya.
Tangan Emine digengam erat oleh Tiras.
" Dia sedang mabuk. Tidak mungkin yang dia katakan itu benar." Gumam Emine menepis ucapan Tiras. Ia segera melepas genggaman itu kemudian menutup pintu mobil dengan perasaanya yang resah.
" Fika, kau bawa mereka berdua!! Aku akan membawa kekasih ku. Antar mereka pulang!!" Perintah Emine.
__ADS_1
" Kenapa harus aku? Nona saja yang menghantar mereka pulang!!" Fika tidak mau ambil bagian.
" Aishhh,,,, Aku tambah nanti gaji mu. Antarkan mereka pulang!!"
" Mau antar kemana? Aku tidak tau rumah mereka."
" Antar saja ke kantor polisi!! Kantor polisi adalah rumah kedua mereka." Saran Emine.
" Bagaimana aku bisa membawanya ke kantor polisi dengan keadaan seperti ini? Yang ada mereka akan kena masalah." Balas Fika cepat.
" Kalau begitu bawa saja ke rumah mu!!" Ucap Emine kemudian langsung masuk ke dalam mobil meninggalkan Fika.
" Aihhhh Nona,,,, Kenapa jadi aku yang repot... Aaaaaaa,,,, sial,,,sial,,,sial,,," Fika menghentak-hentakan kakinya kesal. Dengan sangat terpaksa ia membawa ke dua lelaki itu pulang kerumah. Persetan dengan apa kata tetangga nanti melihat dirinya membawa dua orang pria mabuk ke dalam rumah.
Sampainya di rumah, Emine membawa Okan ke dalam kamar mandi, mengguyur pria mabuk itu di bawah sower dingin lalu menguncinya beberapa saat.
" Sayang,,, dingin sekali,,, tolong buka pintunya!! Sayang,,,, maafkan aku!! Aku bisa mati kedinginan disini." Minta Okan bibirnya mulai pucat tubuhnya menggigil. Ia sudah mendapatkan kesadarannya kembali.
Emine kembali ke kamar membawa teh lemon hangat yang baru ia buat. Didengarnya ketukan pintu bersamaan suara Okan yang meminta untuk di bukakan pintu.
Sudah 20 menit ia menghukum pria itu. Rasa kasihan mulai timbul. Emine pun membuka pintunya. Membawakan Okan pakaian ganti lalu membawanya keluar.
Okan duduk di sisi ranjang dengan kepala menunduk. Sialnya Okan ingat apa yang telah ia lakukan di bar. Dirinya pun merasa benar-benar malu.
" Masih pusing?" Tanya Emine sambil mengeringkan rambut Okan dengan lembut.
" Sedikit." Jawab Okan singkat.
" Minumlah tehnya!! Itu akan membantu mu." Perintah Emine kemudian dituruti Okan.
Sampai saat ini Emine masih menahan amarahnya. Melihat wajah Okan yang lesu seperti orang kehilangan nyawa membuat Emine tak tega memarahi bayi besar ini.
" Dimana ponsel mu?" Tanya Emine.
" Di rampok." Masih menundukan kepala sembari meremas jarinya takut akan dimarahi.
" Bagus. Bagus sekali." Puji Emine. " Besok lakukanlah lagi!! Sekalian mengemislah di pasar malam!! Akan lebih banyak yang mengasihani mu. " Saran Emine.
" Maaf." Jawab Singkat lagi.
Huftttt,,,,,, Emine menghela nafas panjang.
" Tidurlah!! Besok akan terasa lebih baik. Kita harus pergi menemui ibuku besok." Ucap Emine sudah mengambil gelas teh untuk dibawa ke dapur.
" Kau tidak marah?" Okan mengira Emine akan memarahinya.
" Marah? Tentu sayang. Itu pasti. Tidak perlu ditanyakan lagi!!!" Ucap Emine dengan senyum manis namun mengerikan di mata Okan.
__ADS_1
Okan menelan ludah, senyum Emine seperti penghantar menuju neraka. Dengan cepat ia membaringkan tubuh di kasur, menarik selimut, menenggelamkan tubuhnya hingga tak seujung kaki tak seujung rambut terlihat.
Selamat Membaca