Wanita Seribu Luka

Wanita Seribu Luka
Hurt.


__ADS_3

Jarum jam bergerak begitu cepat tidak mau menunggu Emine yang sedang bersiap-siap dengan perlengkapannya.


" Cepatlah!! Lambat sekali." Celetuk kakek tua dari meja kerjanya yang fokus mengamati dan mencari tau situasi di rumah Kemal lewat CCTV yang di lacak di rumah itu.


" Aku berangkat sekarang." Emine mengambil pistol dari salah satu meja tempat penyimpanan senjata dan keluar dari ruangan rahasia dengan tergesa-gesa melewati lemari-lemari buku yang berjejer rapi di tembok.


Emine berlari menuju garasi, sebuah mobil sudah di siapkan kakek tua. Hari ini ia tidak menjalankan misinya dengan Herby karena Emine harus membawa seorang bayi. Tidak mungkin membawa bayi dengan mengendarai motor, kakek tua tidak mengajari Emine untuk hal itu.


Emine segera masuk ke dalam mobil, menyalakan mesin dan menginjak gas dengan ganas membuat mobil itu melaju sekencang angin. Di tengah perjalanan Emine menyadari sesuatu yang nampak aneh dari kursi samping. Emine menoleh lalu tersenyum melihat persiapan kakek tua yang begitu antusias dalam misi kali ini. Kakek tua mendesain kursi mobil di sampaing memyerupai tempat tidur bayi dengan sabuk pengaman yang dirancang kusus untuk bayi.


" Wahh,,, kakek memang paling top." Ucapnya mengagumi pria tua kebanggaannya.


Emine memarkirkan mobilnya jauh dari rumah Kemal agar tidak ada yang menyadari kedatangannya. Pakain serba hitamnya menyatu dengan gelapnya malam, Emine bersembunyi di balik pohon. Entah pohon apa yang kini menutupi tubuhnya Emine tidak perduli.


Rumah kemal terlihat begitu megah dengan warna putih susu mendominasi bagian depan. Rumah bak istana negara itu benar-benar bersinar di malam hari. Cahaya bulan ikut menerangi rumah dengan ukuran King.


Sudah di duga, rumah mewah pasti pengamanannya juga mewah. Dari balik pohon Emine mengintip 4 penjaga nampak mondar mandir di depan gerbang besar dengan membawa senjata yang amat luar biasa. Mereka membawa senjata drag. Senjata yang dipakai perang oleh para tentara dengan 50 peluru di dalamnya bahkan lebih.


Seberat apapun rintangannya, Emine tidak pernah mengenal takut kecuali jika di ingat-ingat ia pernah merasa takut saat berhadapan dengan Orsan si pembunuh berantai. Kakek tua sudah tau bahwa lawan kali ini bukan lawan yang biasa, ia sudah melengkapi Emine dengan senjata khusus dengan rencana yang sudah matang siap untuk di jalankan.


" 4 penjaga di luar rumah, 3 penjaga di belakang rumah, 5 penjaga di dalam rumah." Ucap kakek tua memberi info kepada Emine.


" aku akan mengatasi mereka ber 4. Kakek urus CCTVnya dengan baik!!" Emine siap memulai pertunjukannya.


Dengan penuh perhitungan, Emine membidik salah satu penjaga yang sedang menyalakan sebatang rokok kemudian akan di lanjutkan dengan membidik penjaga lainnya. Mata Emine menjadi keker dari pistol yang ia arahkan. 1 detik 1 peluru 1 korban, Emine menumbangkan 4 pria di depannya hanya dalam waktu 4 detik. Bukan sulap bukan sihir bukan pula tipu-tipu ke empat pria itu ambruk tanpa suara, pistol Emine pun yang sudah menembakan peluru juga ikut tak bersuara. " Huhhhhhh,,,," Meniup ujung pistol yang seolah-olah mengeluarkan asap setelah di tembakan padahal cuma pencitraan agar terlihat keren seperti yang ada di film action. " Wahhh,,, luar biasa." Emine kagum dengan rakitan pistol kakek tua yang di rancang untuk tidak mengeluarkan suara.


Kakek tua tidak tinggal diam. Saat Emine melancarkan serangan, kakek tua mematikan CCTV yang memantau keadaan di bagian depan agar tidak ada yang tau ada serangan yang masuk. Setelah semua dirasa aman, kakek tua memberi kode Emine untuk masuk kedalam. Seperti monyet liar, Emine memanjat pagar besi yang sangat tinggi itu dengan lincah dan gesit. Kakek tua memerintahkan Emine untuk masuk lewat pintu belakang karena saat ini Kemal dan istrinya sedang makan malam di ruang tengah. Sesuai perintah bos tua, Emine mengendap-ngendap menuju belakang rumah dengan sangat hati-hati karena kemungkinan penjaga di sini lebih banyak dari yang di perkirakan. Tembok besar yang dingin di jadikan tameng oleh Emine, dari tembok itu Emine mengintai penjaga yang berkeliaran.


" Bukan 3 tapi 4." Ucap Emine membenahi ucapan kakek tua tentang jumlah penjaga yang ada di belakang rumah.


" Tadi ada 3, mungkin yang satunya lagi ke toilet." Ujar kakek tua sembari mengamati lagi CCTV belakang rumah.


" Kakek ini bagaimana." Ucap Emine kesal. " Satu kesalahan saja bisa membunuh ku. Priksa lagi lebih baik!!" Yang di katakan Emine sangat benar, 1 saja kesalahan kecil bisa membuat nyawa Emine kembali ke neraka karena Emine tidak mungkin masuk surga dengan deret daftar kejahatannya yang sudah melukai banyak orang. Meski itu semua ada alasannya tapi tidak ada yang membenarkan pekerjaan Emine bahkan juga hukum di negaranya.


" ya ya,,, kau bereskan saja 4 orang itu!!" Perintah kakek tua siap di jalankan.


Di lain tempat, seorang oprator di ruang pengawasan nampak bingung dengan CCTV di bagian depan belakang rumah yang tiba-tiba mati. " Ada apa ini? Kenapa tidak bisa di hidupkan? Ini juga tidak berfungsi." Operator itu panik saat CCTV nya tidak bisa di kendalikan. Semua CCTV hidup dan mati di luar kendalinya. Oprator yang menyadari kejanggalan itu langsung tau ada yang sudah membajak server mereka. " Cepat priksa bagian depan dan belakang rumah!!" Perintah operator kepada penjaga lainnya lewat penghubung suara yang mereka kenakan di telinga.


" Gawat, gawat, gawat." suara kakek tua juga ikut panik. Sontak Emine merespon langsung kakek tua.

__ADS_1


" Ada apa Kakek?" Tanya Emine penasaran dan was-was.


" Mereka semua sudah tau ada yang tidak beres. Berhati-hatilah karena kemungkinan penjagaanya akan di perketat!! "


" Baiklah." Ucap Emine mengerti.


Seorang anak buah berlari ke arah Kemal dan istrinya dengan ekspresi gawat darurat. Kemal yang sedang lahap menyantap makanan pun mengehentikan tangannya setelah menerima hormat dari anak buahnya. Wajah gusar anak buahnya membuat kemal menatapnya penasaran.


" Gawat tuan. Ada penyusup masuk, seluruh penjaga keamanan diluar di tembak." Kemal dan istrinya sangat terkejut. Kemal mengepal kuat garpu di tangannya lalu melemparnya ke arah piring di depan membuat suara nyaring dan keras.


" Dasar tidak berguna." Teriak Kemal keras penuh kemarahan. " Cepat perintahkan seluruh anak buah untuk memperketat keamanan!! Cari penyusup itu dan bunuh dia!!" perketat juga ruangan Mehmet!!" Suara lantang Kemal bergema di ruang tengah. Anak buahnya yang baru saja menerima bentakan dari bosnya langsung dengan sigap menjalankan perintah.


" Sayang apa yang terjadi?" Tanya istri Kemal penuh kecemasan dan ketakutan perlahan mendekati suaminya yang sedang di buru Emosi dan rasa kesal.


" Ini semua pasti ulah Velief. Dia ingin mengambil Mehmet." Mendengar Ucapan Kemal dengan pandangan tajam kedepan membuat istrinya semakin gelisah. " Sayang." Menatap istrinya. " Kau masuklah ke dalam!! Jaga Mehmet!! Aku akan mengurus ini dulu." Ucap Kemal lalu beranjak pergi meninggalkan istrinya.


20 penjaga keamanan tersebar di setiap sudut rumah ini. Para penghuni rumah kususnya para perempuan entah itu pembantu dan lainnya berkumpul di ruang tamu. Anak buah kemal berpatroli mengelilingi rumah baik bagian dalam maupun luar. Senjata mereka sudah dalam mode on siap menembak penyusup yang masuk. Setiap ruangan di gledah, tidak ada yang terlewatkan. Kemal pun ikut turun tangan dengan membawa pistol menyusuri setiap jengkal rumahnya.


" Lapor tuan. tidak ada siapa pun di atas. (lantai dua)" 1 laporan masuk.


" Lapor tuan. kami tidak menemukam siapa pun di atap." 1 Laporan masuk.


" Lapor Tuan. Kami sudah mencari ke seluruh ruangan ini tapi penyusupnya tidak bisa di temukan. ( lantai satu.)" 1 Laporan masuk.


Ke 4 laporan yang masuk secara berurutan itu semakin membuat panas telinga kemal.


Dengan emosi yang menggebu-gebu, Kemal mengarahkan pistolnya ke arah ketua anak buahnya membuat anak buah lainnya ketakutan setengah mati. " Tidak becus." Bentak Kemal lagi dengan keras. " Cepat cari lagi sampai ketemu!! Bawa kepalanya kesini!! Kalau tidak, kepalamu yang jadi gantinya." Ancam Kemal dengan bola mata yang sudah memerah siap meloncat dari wadahnya.


Tidak ada yang tau Emine bersembunyi di balik tumpukan beras di sebuah gudang tempat penyimpanan bahan makanan. Ia sempat kawatir karena anak buah kemal datang kesini dan menggeledah gudang dengan sangat ganas. Tapi kini Emine merasa lega karena ternyata anak buah kemal bodoh-bodoh. Emine yang sebesar itu tidak bisa mereka temukan. Benar-benar bodoh.


Emine tidak bisa menunggu lama lagi, dia juga tidak mungkin terus bersembunyi mengingat waktu terus berjalan. Dengan panduan dari kakek tua, Emine keluar dari gudang. Ia berhasil menghindari penjaga keamanan yang lalu lalang dengan bersembunyi di pot bunga besar, di bawah tangga, di pilar besar hingga akhirnya ia sampai di tempat tujuan.


2 orang penjaga berdiri sigap di depan kamar tentu dengan senjata di tangan mereka. Lemari hias yang berada di sekitar sana menjadi tempat Emine untuk mengintai dan bersembunyi. Emine melirik jam di tangannya, sudah pukul 08.45 Emine tidak bisa lagi tarik ulur dengan waktu. Terlihat juga begitu banyak anak buah Kemal berkeliaran di bawah, jika Emine menyerang 2 anak buah di depan kamar itu, tidak menutup kemungkinan akan terjadi adu tembak. Dan semua anak buah yang ada di bawah akan mengetahui keberadaan Emine, tentu kosekuensinya akan sangat besar. Semua itu sudah di perhitungkan Emine dengan sangat teliti tapi tidak ada lagi jalan keluar. Hidup dan mati kita lihat saja nanti!! Yang penting sekarang Emine harus bertindak.


Emine membidik penjaga yang lebih dekat dengannya, dalam hitungan mundur di dalam hati, Emine siap menarik pelatuk dan saat 1 peluru itu meluncur dari sanalah takdir hidup dan mati Emine di tentukan.


" 3,,,,2,,,,1,,,," Pelatuk di tarik, 1 musuh tumbang dengan tembakan mematikan menembus pelipisnya. Penjaga yang satunya lagi terkejut melihat rekannya tiba-tiba ambruk dengan darah keluar dari kepalanya. Serangan Emine benar-benar senyap tidak meninggalkan suara. Karena tidak bisa menemukan pelaku penembakan, penjaga itu menembak membabi buta kesegala arah.


" Dor, dor, dor, dor, dor, dor,dor,dor." Suara tembakan tanpa spasi. Emine tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, dengan sekali bidikan ia menembakkan lagi pistolnya.

__ADS_1


Sekarang kamar dengan gantungan tedy bear di pintunya tidak memiliki pelindung lagi. Emine berlari secepat kuda lalu memasuki ruangan tujuannya.


Kemal dan anak buahnya segera menuju ke atas setelah mendengar suara tembakan. 2 anak buahnya yang ditugaskan untuk menjaga kamar Mehmet terkapar tak bernyawa. Melihat semua ini membuat Kemal di penuhi kecemasan bercampur kemarahan. Dengan suara lantang Kemal memerintah anak buahnya untuk masuk ke dalam. Tapi pintu kamar itu sudah di kunci Emine dari dalam.


Istri Kemal menangis ketakutan dengan kedatangan Emine yang menodongkan pistol ke arahnya. Mehmet yang di gendongnya hampir terjatuh karena istri kemal sekarang gemetar ketakutan.


" Letakan bayi itu!!" Perintah Emine dengan suara santai tapi tetap saja membuat istri Kemal takut.


" Jangan tembak aku!!" Ucapnya dengan peluh matah yang mulai bercucuran setelah meletakan mehmet di atas kasur.


Emine mendekati istri Kemal, istri kemal pun melangkah mundur perlahan tapi langkahnya berhenti ketika tembok di belakang menempel dengan punggungnya. Istri kemal semakin ketakutan dengan suara tangisnya yang semakin menjadi-jadi. Emine dengan cepat mengambil alih tubuh seksi istri Kemal lalu mengikat tangan dan kakinya di tambah Emine menutup mulut wanita itu dengan plaster hitam.


Di rasa sudah cukup, Emine mengeluarkan tali dari jaket kuiltnya, mengikat tali panjang itu di balkon lalu mengambil Mehmet dan segera turun ke bawah menggunakan tali yang sudah di persiapkan. Emine berhasil meluncur kebawah dengan sempurna meski hanya menggunakan satu tangan sedangkan tangan yang satunya di gunakan untuk menggendong Mehmet dengan sangat hati-hati.


Kemal dan anak buahnya berhasil menobrak pintu tapi semua sudah terlambat. Kemarahan Kemal semkin memuncak, ia berlari ke arah balkon dan mendapti tali terikat menjulur samapai ke bawah. Tapi ada sedikit harapan di senyum Kemal ketika melihat Emine berlari menjauhi rumah.


" Tembak dia!!" Perintah Kemal kepada anak buahnya dengan senyum membunuh terpancar cerah.


Emine tidak sadar ada yang mengintainya dari atas. ia fokus untuk lari secepat mungkin kabur dari rumah ini. Di saat ia hampir menggapai gerbang dan membukanya, suara tembakan mengiringi tubuh Emine yang terjatuh karena peluru menembus tulang kakinya membuat kaki Emine seketika lemas tak bisa lagi menompang tubuhnya. Mehmet menangis karena ikut terjatuh walaupun tidak jatuh ketanah, itu semua karena Emine menggendong erat Mehmet di pelukannya.


Kemal terus menembak ke arah Emine tanpa ampun. Senjata drag itu seperti tidak akan pernah puas menyemburkan pelurunya sebelum musuh tewas.


Emine menahan rasa sakit dari peluru yang bersarang di kakinya, sekuat tenaga ia mencoba bangkit tapi lagi-lagi 1 peluru mampir di lengan kiri Emine.


" Ahhhhhh,,,," Ringisnya sedikit keras menahan peluru ke 2 di lengannya. " Aku tidak boleh mati sebelum menyerahkan anak ini pada ibunya." Emine menatap Mehmed, tangisan Mehmed semakin memberikan semangat pada Emine untuk bangkit dari lukanya. " Jangan menangis sayang!! aku akan membawamu kepada ibumu. Jangan menangis lagi!!" Gumam Emine sembari menahan rasa sakit di kaki dan lengannya.


Emine berusaha kembali untuk kabur, Diseretnya kaki yang penuh darah. Darah dari kaki Emine menjadi jejak pelariannya menuju mobil. Sedangkan luka di lengannya juga semakin parah karena tangan itu harus menompang berat bayi yang sedang di gendong Emine meski berat bayi itu tak seberapa. Darah yang terus mengalir dari lengan perlahan juga memberi warna merah pada perlak putih Mehmet.


Kemal yang sempat tersenyum kini mengubris kesal melihat Emine kambali kabur. Kemal memerintahkan anak buahnya untuk mengejar Emine yang terluka parah.


Kakek tua juga ikut panik, cemas dan kawatir melihat energi Emine semakin berkurang. Kakek tua bisa memantau Energi emine dari sebuah alat yang tertempel di tubuhnya. jika tubuh Emine kelelahan, terluka atau sekarat kakek tua bisa tau. sekarang tergantung kemampuan Emine apakah Emine mampu bertahan atau tidak di tengah kondisinya yang terus turun drastis. Emine kehilangan banyak darah hingga membuat Energinya semakin berkurang.


*


*


*


Jangan lupa like dan komennya!! Fav kan biar gak ketinggalan up!!

__ADS_1


__ADS_2