
Hening. Tidak ada suara pistol lagi. Tidak ada suara orang yang tertembak oleh timah panas.
Bangku tembak yang berdurasi singkat itu telah usai. Darah dimana-mana. Orang-orang terkapar tak berdaya entah masih hidup atau sudah mati.
Yang jelas mereka semua menutup matanya.
Perang telah berakhir.
Fika masih tertunduk ketakutan.
BRUKKKK,,,,,!!!
Dan suara itu yang paling terakhir terdengar.
Emine jatuh lemas dengan kedua lutut sebagai tumpuan.
Pistolnya ia jatuhkan. Air matanya menetes.
Akhirnya semua ini selesai.
" Emine,,,!!"
Teriak seseorang dari arah pintu. Emine menoleh. Itu Okan dan pasukannya. Pria yang menembak semua orang-orang disini sebelum Emine menarik pelatuknya.
Okan berlari, memeluk istrinya dengan erat. Bahagia dan rasa bersalah ia rasakan.
Tidak bisa menahan air mata lagi, pria itu menangis meski hanya setetes kemudian di hapus cepat.
Seorang polisi menangis rasanya sedikit memalukan.
Meski polisi juga manusia, punya hati dan juga emosi.
" Maafkan aku sayang!! Aku tidak bisa melindungi mu dengan baik. Maafkan aku!!"
Ucapnya memegang kedua sisi pipi Emine
Kemudian mereka berpelukan lagi.
Emine kira ia tidak akan bisa melihat pria ini lagi.
Kakek tua dan yang lainnya memandang haru.
Fika sangat mendengar suara itu, Suara Okan dan suara langkah kaki yang menyebar ke barbagai arah.
Perlahan gadis itu membuka mata, mengangkat kepalanya. Melihat kesekeliling.
Fika tersenyum berderai air mata melihat Emine baik-baik saja. Namun tidak lama setelahnya, pandangan Fika kabur.
Ia tidak bisa melihat dengan jelas lagi.
" Nona, kau baik-baik saja??"
Tiras langsung menyambar tubuh Fika saat melihat gadis itu sepertinya akan kehilangan kesadaran dan sekarang sudah pingsan.
Fika pingsan.
" Nona?? Nona?!!!"
Tiras menepuk pipi Fika.
Okan dan Emine sontak melihat ke arah Fika dan Tiras.
" Ada apa dengannya?? Apa dia baik-baik saja??"
Emine khawatir.
" Sepertinya dia syok karena itu dia pingsan. Ayo cepat bawa dia ke rumah sakit!!"
Ucap Kakek tua yang juga melihatnya.
Tiras dengan sigap membopong tubuh Fika.
Emine dan Okan berdiri.
" Aghhhh,,,,!!!"
Namun belum sempat melangkah, Emine meringis memegang perutnya sedikit merunduk.
Suara ringisan Emine menarik perhatian semua orang termasuk Tiras yang tiba-tiba berhenti untuk menoleh kebelakang.
" Ada apa? Emine, kau kenapa??"
" Ahhhh,,, Perut ku sakit sekali. Ahhhh,,, Okan!! Perut ku. Sakitt!! "
Emine mencengkram keras lengan Okan.
Rasa sakit yang pernah dulu ia rasakan sekarang kembali lagi.
Cengkraman kuat itu bisa membuat Okan merasakan sesakit apa yang menyerang istrinya.
Mendengar itu Okan langsung mengarahkan pandangannya pada tubuh bagian bawah Emine.
Okan tercengang melihat ada darah yeng mengalir ke bawah.
" Aaaaa,,,, Okan sakit sekali!!! "
Ringis Emine berteriak. Peluh dan air matanya bercampuran.
Segera Okan membopong Emine.
" Emine mengalami pendarahan. "
Ucapnya cepat melewati orang-orang dengan ekspresi bertanya.
Apa yang terjadi pada Emine? begitu tatapan cemas mereka saat Okan berlari keluar.
Kakek tua yang mendengrnya langsung ikut berlari menyusul Okan.
Jangan di tanyakan lagi suasana di sana!! Tentu suasananya penuh kecemasan
Tempat mereka menaruh mobil sangat jauh. Emine membutuhkan penanganan cepat. Beruntung helikopter tentara masih berada di sana.
Okan meminta bantuan mereka.
5 orang masuk ke dalam helikopter saat helikopter mendarat.
Okan, Emine, Kakek tua, Fika dan Tiras.
Sedangkan yang lain mengurus orang-orang di dalam sana.
__ADS_1
Termasuk Murat yang ditunjuk sebagai penanggung jawab.
Tak lama kemudian Helikopter naik perlahan lalu terbang menuju rumah sakit.
Sayangnya Emine sudah tidak sadarkan diri saat berada di tengah perjalanan.
Sebelumnya Okan sudah menelfon pihak rumah sakit untuk bersiap-siap karena akan ada 2 pasien yang datang.
Karena itu saat ia tiba di Rumah sakit sudah ada perawat dan dokter di luar.
Kedatangan sebuah helikopter tentara ke tempat ini tentu membuat geger seisi rumah sakit.
Perawat dan dokter itu sigap berlari ke arah helikopter membawa 2 Brankar dorong.
Setelahnya Emine dan Fika di pindahkan ke sana.
Brankar di dorong cepat menuju dua ruangan yang berbeda.
Okan ikut mendorng Branker Emine sedangkan Kakek tua mengurus administrasi.
Ia bisa melihat Emine mengalami pendarahan yang hebat.
Sampai Emine dimasukan ke sebuah ruangan dan Okan tidak diperbolehkan masuk.
Rasanya Okan benar-benar hancur. Ia mendudukan dirinya di kursi agar tidak roboh.
Mengingat Emine kesakitan seperti itu membuatnya merasa telah menjadi suami yang tak berguna.
Okan menjambak rambutnya sendiri.
Tidak akan pernah memaafkan dir sendiri jika terjadi sesuatu pada Emine.
10 menit kemudian Tiras datang setelah tadi mengantar Fika sampai ke ruangannya.
Tiras melihat Okan yang begitu rapuh, ia menunduk seperti tak bernyawa.
" Semuanya akan baik-baik saja! Kuatkan diri mu Okan!! Emine adalah wanita yang kuat.
Seandainya tidak, maka kaulah yang harus menguatkannya!! "
Ucap Tiras sudah duduk di sebelah Okan namun Okan tidak mengubris sedikit pun kedatangannya. Okan terus tertunduk merenungi kesalahannya.
Tiras hanya bisa memeluk pundak sahabatnya. Meminta bersikap tegar lewat pelukannya itu.
Hingga suara berbunyi di susul oleh dokter yang keluar. Dokter itu bertanya siapa keluarga Emine, Okan langsung menyerahkan dirinya.
" Bagaimana dengan keadaan Emine dok?"
Okan sebisa mungkin bersikap tenang tapi rasa khawatirnya tidak bisa disembunyikan di wajah.
" Pasien berhasil kami selamatkan. Dia baik-baik saja meski kondisinya sangat lemah. Dia hanya butuh istirahat. Tapi kandungannya tidak berhasil kami selamatkan."
Deg,,,,,!!
Baru saja mendapat udara untuk bernafas saat mendengar Emine baik-baik saja namun kini tercekik lagi.
Tidak tahu harus bahagia atau bersedih.
Okan memang memproriataskan keselamatam Emine tapi ia juga berharap untuk keselamatan anaknya.
Tapi sepertinya Tuhan belum mengijinkan adanya kehadiran seorang anak di antara mereka.
Melihat Okan tidak bisa menjawab ucapan dokter, Tiras pun ambil alih.
Tiras tahu Okan sangat terkejut. Mungkin belum bisa menerima kepergian anaknya.
" Tunggu sampai pasien pindah ruangan ya Tuan!! Kalau begitu saya permisi dulu."
Dokter itu pun pergi setelah merasa tugasnya sudah selesai.
" Okan?! Kau baik-baik saja??"
Sudah jelas pria itu tidak dalam kondisi baik-baik saja. Namun tidak ada salahnya bertanya.
" Hubungi aku jika Emine sudah sadar!!"
Hanya itu kalimat yang keluar dari mulut pria yang kini berjalan meninggalkan Tiras.
Tiras tidak menghalangi Okan. Ia membiarkan saja pria itu pergi. Mungkin dia butuh menyendiri untuk menerima kenyataan pahit ini. Terlihat di setiap langkahnya, Okan begitu terpukul.
Meski Okan menahan tangisnya, tapi siapa pun bisa melihat kesedihan di wajah itu.
Dengan pakaian yang berlumuran darah Okan melewati orang-orang yang menatapnya iba.
Sekarang ia menuju atap. Dimana di tempat itu dipercaya bisa membuatnya sedikit tenang. Bisa memberi sedikit udara untuk bernafas.
Okan membiarkan dirinya dikelilingi udara dingin dengan butiran salju yang mendarat di atas kepalanya.
Hanya tangannya yang dimasukan ke dalam saku celana.
Menatap Kota Istanbul, kota indah namun kehidupan di kota ini sangat keras.
Okan bisa melihat mall besar dari sana.
Fikirnya, mungkin jika ia tidak membawa nasib buruk untuk Emine bisa saja hari ini ia dan Emine sedang berada di mall itu.
Membeli perlengkapan bayi di jauh-jauh hari seperti orang tua lainnya yang terlalu bersemangat menanti kelahiran buah hati mereka.
Ya, Okan sangat menyelahkan dirinya untuk kejadian hari ini.
Karena masa lalunya dengan Serin, Emine sampai menjadi koraban.
Tepatnya anaknya.
Langkah kaki terdengar dari belakang dan semakin mendekat. Okan mendengarnya namun tidak menoleh.
" Hmmmm,,,, Kau ini bukannya menemani istrimu malah asik menikmati pemandangan di sini."
Sindir Kakek Tua. Bermaksud bercanda sedikit.
" Apa aku terlihat seperti orang yang sedang menikmati pemandangan??"
Balas Okan. Tatapannya kosong ke gedung-gedung pencakar langit itu.
" Aku sudah mendengar semuanya dari Tiras.
Okan, aku tahu apa yang sedang kau rasakan.
Ahhhh,,,, pasti sangat sulit. Aku tahu itu.
__ADS_1
Ya, aku tahu bagaimana rasanya kehilangan."
Okan melirik sekilas pria tua di sampingnya. Melihat keseriusan pria itu.
Sepertinya benar, kakek tua pernah merasa kehilangannya juga, fikirnya.
" Aku adalah ayah dan suami yang buruk. Aku tidak tahu apa yang harus aku katakan pada Emine. Aku tidak sanggup melihatnya."
Tanpa sadar Okan memberi jawaban kenapa dirinya ada di sini.
" Hei,,, Kau ini adalah suami dan ayah terhebat."
Okan mendengar pujian kakek tua menganggapnya hanya sebuah obat untuk menenangkan.
" Aku yakin, anak mu itu pasti sangat ingin berada di antara ayah dan ibu sehebat kalian. Tapi waktunya belum tepat."
Lanjut kakek tua.
Okan tidak merespon. Ia tidak terpengaruh oleh ucapan kakek tua.
" Hmmm. Baiklah, aku akan mulai serius.
Okan,"
Dan iya kakek tua menatap Okan dengan lekat kemudian melempar pandangannya ke depan.
Seperti sedang mengenang sebuah cerita sedih.
" Semua orang pernah kehilangan. Baik dari hal kecil sampai hal paling berharga.
Memang sulit untuk menerimanya, tapi apa yang terjadi jika kita tidak bisa menerima kenyataan ini dan terus terpuruk? Apa semua akan berubah? Apa yang pergi bisa kembali?"
Pertanyaan itu tidak bisa di jawab Okan.
Karena benar, ucapan kakek tua benar.
Tapi bukan masalah tidak bisa menerima, Okan hanya butuh waktu untuk itu.
" Aku bukanlah pria tua tanpa keluarga. Dulu aku punya seorang istri dan seorang putri. Mereka adalah dunia ku, Oksigen ku untuk bernafas, alasan untuk ku bisa tersenyum dan tertawa, arahku untuk melangkah, mereka adalah segalanya. Namun istri ku pergi dari dunia ini. Saat itu aku sama seperti mu, hancur. Kemudian aku melihat putri ku menangis di sudut ruangan, dari sana aku sadar. Masih ada putri ku disini. Dia membutuhkan ku. Dia butuh pegangan untuk.berdiri. Aku pun memutuskan untuk bangkit.
Bertahun-tahun aku menjadi ayah dan ibu untuknya. Aku melupakan semua kesedihan saat melihat senyumnya. Hingga putri ku menginjak remaja. Dia tumbuh menjadi gadis yang cantik, manis dan ceria."
Kakek tua tersenyum dikala mengingat putrinya.
" Lalu dimana putri mu?"
Okan penasaran. Selama ini kakek tua tidak pernah memperkenalkan putrinya.
" Dia sudah menyusul ibunya. Dia sudah bahagia disana. "
Bisa dibandingkan kesedihan Okan saat ini tidak ada artinya dengan kesedihan Kakek Tua saat itu.
" Aku hanya ingin mengatakan sekali lagi bahwa di dunia ini tidak hanya kau saja yang pernah kehilangan. Kau harus kuat!! Jalan mu masih panjang!! Kau masih punya Emine yang sangat membutuhkan mu!! Pergilah!! Temani istri mu!! Dia akan terluka saat membuka matanya tapi kau tidak ada.
Jangan sampai tidak ada yang menghapus air matanya saat ia tahu anaknya sudah tiada!! Pergilah!! "
Hati Okan tersadarkan oleh ucapan kakek tua. Tanpa aba-aba ia langsung berlari menuju ruangan Emine.
Berharap wanita itu belum tersadar saat ia sampai di sana.
Sialnya tidak sesuai yang di harapkan.
Emine sudah bebas dari pengaruh obat bius.
Okan kesal karena Tiras tidak terlihat disini apalagi memberitahunya bahwa Emine sudah sadar.
Sebenarnya dari tadi Tiras bolak balik karena harus memastikan kondisi 2 wanita yang jarak ruangannya cukup jauh. Mungkin saja Emine sadar saat dirinya pergi mengecek kondisi Fika.
Kini Emine menatap keluar jendela.
Sorot matanya hampa. Tahu ada sesuatu yang hilang dari tubuhnya.
" Kau sudah bangun sayang."
Ucap Okan tersenyum mencoba menyembunyikan kesedihannya.
Cupp!!! Lalu mengecup kening Emine penuh cinta.
Emine tidak menoleh pria yang menciumnya. Malah kini ia menangis namun tanpa suara. Hanya air mata yang menetes membasahi bantal yang mewakili perasaannya.
" Hei,,, Kenapa menangis? Jangan menangis sayang!! Nanti kau terlihat jelek. Ayo berhenti menangis!!"
Okan menghapus air mata Emine.
" Kenapa kau masih bersikap seperti ini? Kenapa tidak marah pada ku? Aku sudah tahu dari perawat. Aku adalah penyebabnya Okan.
Anak kita pergi karena ku, hiks!!"
Emine menyalahkan dirinya. Sekarang ia mengeluarkan isaknya. Tidak sanggup menahan ganjalan di hati.
Rasanya dadanya hampir remuk. Anak yang dinanti-nantikan telah pergi.
Okan mendekap istrinya.
" Jangan menyalahkan diri mu Emine!! Tidak ada yang pergi. Anak kita tidak pergi. Dia hanya pergi sesaat untuk kembali menjadi anak yang lebih kuat lagi. Percayalah, dia akan kembali dan lahir dari rahim mu. Jangan menangis!! Aku mohon!! "
Ucapan Okan berhasil menghentikan tangisan Emine. Okan melepas dekapannya beralih menatap Emine.
" Benarkah?? Apa dia akan kembali lagi??"
Sekarang Emine sama polosnya seperti Cansu dulu. Saat Okan meyakinkan Cansu dengan kata-katanya ketika kepergian Fifan.
" Tentu sayang. Kita yang akan membuatnya kembali. Dia akan terlahir di dunia ini!! Karena itu kau tidak boleh menangis!! Kondisi mu nantinya akan memburuk. Kau harus cepat pulih. Setelah kau keluar dari rumah sakit, kita akan membuat anak yang banyak.
Agar nanti kau mendapat banyak ciuam dan pelukan seperti ini."
Okan menghujani wajah Emine dengan ciuman.
Meski ada kata-kata Okan yang mengganjal dihatinya tentang membuat banyak anak tapi Emin tetap merasa hangat dengan ciuman-ciuman itu.
" Jangan menangis lagi!! Jangan bersedih lagi!! Setelah ini kita akan hidup dengan bahagia. Tidak akan ada lagi luka. Aku berjanji pada mu."
Okan menghapus sisa-sisa air di sana.
Meski Emine masih merasa sedih tapi ia bahagia memiliki Okan di sampingnya.
Keberadaan pria itu mengurangi sedikit rasa kehilangannya.
Mereka berpelukan lagi saling menguatkan.
__ADS_1