
Setelah mendengar semua cerita kelabu kehidupan sang kakak, Emine semakin larut dalam kesedihan dan rasa bersalah. Berulang kali ia menyeka air mata tapi tidak berguna dikala bayangan derita kakaknya Bruzel terlintas begitu saja. Meski menangis tanpa suara tapi air mata yang terus meluncur sudah bisa menggambarkan hatinya yang terasa pilu.
" Aku adik yang buruk. Aku bahkan tidak bisa mengingatnya." Ucap Emine prustasi karena ia sudah berusaha mengingat masa kecilnya bersama sang kakak tapi tidak ada 1 bayangan yang tersangkut.
" Kau masih sangat kecil. Kau tidak tau apa-apa Emine. Ini semua salah ku. Aku tidak bisa menjaga Bruzel." Ucap Orsan menyalahkan dirinya dengan mata berkaca-kaca menahan air yang ingin keluar dari pelupuk mata.
Emine tidak tahan lagi melihat kesedihan yang dipendam Orsan. Ia berdiri lalu berjalan cepat ke arah kakaknya dan memeluk pria yang masih duduk menundukan kepalanya.
" Maafkan aku kakak. Hiks,,, Maafkan aku karena telah melupakan kalian." Akhirnya Emine membiarkan isak tangisnya lolos.
Orsan membalas pelukan Emine dengan penuh kasih sayang. 19 tahun berpisah dan akhirnya kakak beradik ini dipertemukan walau salah satu dari mereka telah pergi meninggalkan seberkas kerinduan yang tidak akan pernah bisa diluapkan karena terhalang oleh dunia yang sudah berbeda.
" Sudah sudah!! Jangan menangis!! Sifat mu yang cengeng ini tidak pernah berubah." Orsan melepas pelukan erat Emine dan menatap wanita itu dengan senyum mengejek. Orsan menghapus air mata Emine menggunakan kedua ibu jarinya yang tertempel di sisi pipi Emine.
Mata Orsan terlihat seperti mata malaikat. Sangat indah. Tidak ada yang tau ada sebuah kekejaman di balik mata itu. Terlintas satu pertanyaan saat Emine menatap lekat mata Orsan.
" Kakak. Apa pembunuhan itu ada hubungannya dengan kakak Bruzel?" Tanya Emine membuat mata Orsan melemah.
Orsan membalas tatapan Emine dengan sendu dan senyum tipis meyakinkan bahwa yang ia lakukan adalah benar.
" Dengar Emine!! Yang aku bunuh, mereka semua adalah orang jahat. Mereka orang kejam. Mereka monster. Mereka pantas mendapatkannya. Jangan pernah memberikan hati kepada orang-orang seperti itu jika kau hanya mendapat racun sebagai balasannya." Ucap Orsan penuh arti tapi Emine tidak mampu untuk mengerti.
" Memangnya apa yang telah mereka lakukan?" Tanya Emine penasaran hal apa yang telah mereka perbuat sampai Orsan begitu membencinya.
" Membunuh. Mereka membunuh sahabatnya sendiri hanya karena masalah kecil." Terlihat bara api kebencian di mata Orsan. Tanpa Orsan sadari dirinya juga sudah berubah menjadi monster.
" Kakak. Bisakah kau berhenti melakukan hal itu? Aku mohon. Kita mulai hidup yang baru. Aku mohon!!" Minta Emine menggenggam tangan Orsan.
Orsan melepas tangan Emine dengan berat hati.
" Maaf. Aku tidak bisa hidup dengan mu Emine. Kita tidak bisa bersama. Aku akan selalu menjagamu dari kejauhan." Orsan tidak bisa membiarkan Emine masuk ke dalam dunia gelapnya.
" Kakak." Panggil Emine tidak rela dirinya ditinggalkan lagi. Orsan segera pergi dari rumah itu tanpa ucapan selamat tinggal. Ia hanya menoleh sekali ke arah Emine lalu tersenyum tipis. Emine duduk kembali di sofa, tubuhnya terasa sangat lemas. Emine memutuskan masuk ke dalam kamarnya membawa 2 foto yang ditinggalkan Orsan di atas meja kemudian meletakan foto itu di deretan fotonya yang tertempel di tembok.
Kenyataan hari ini membuat dada Emine terasa sesak. Ia membuka jendela untuk memberi udara segar pada paru-parunya. Hembusan angin yang masuk melalui jendela menerpa wajah Emine yang pucat dengan matanya yang sembab.
Sebuah kertas yang terletak di atas meja jatuh ke bawah karena tertiup angin. Mata Emine mengikuti selembar kertas yang terus bergerak mengikuti arah angin yang bertiup kencang kemudian dengan cepat Emine mengambil kertas itu.
" Siapa yang menaruh kertas disini?" Ucapnya penasaran. Seingatnya di meja itu tidak ada kertas yang ada hanya setumpuk novel yang lupa di kembalikan ke ruang baca. Emine sering membaca novel di malam hari untuk menjadi penghantar tidurnya.
Emine membuka kertas yang hanya dilipat 1 kali lipatan. Deretan huruf ditulis dengan jarak 2 cm dari sisi kanan dan kiri membuat catatan singkat itu terlihat rapi dan menarik perhatian untuk di baca. Emine duduk di sisi ranjang saat melihat nama Ozgur tertera di sudut kertas.
*~* Nona perlu kau tau aku hampir stres menulis surat ini. Otak ku tidak terlalu pintar untuk merangkai kata menjadi susunan kalimat ucapan maaf yang indah agar kiranya kau mau membacanya dengan sepenuh hati. Baiklah,,, Aku mulai saja. Ehem,,,, tolong jangan lempar kertas ini ke tong sampah sebelum kau membacanya sampai akhir!! Pertama-tama aku ingin meminta maaf atas tindakan kurang ajar ku kepada mu. Jika tidak mau memaafkan tidak masalah. Bodyguard yang tampan ini tidak berpengalaman soal cinta, jika berkelahi jangan diragukan lagi!! Mungkin karena tidak ahli dalam cinta, hal itu yang menyebabkan aku tidak bisa mengespresikan cinta ku dengan benar. Ya, hari itu aku menyadari perasaan ku pada mu. Meski kau bersikap seperti nenek sihir padaku, tapi tingkah labil dan polos mu berhasil membuat ku jatuh cinta pada mu. Setiap hari aku berusaha menepis rasa cinta yang kian mendalam karena sebuah alasan status yang aku sadari sangat berbeda. Aku hanya bodyguard yang di pungut di jalanan sedangkan kau, kau adalah malaikat ciptaan Tuhan yang hampir sempurna. Aku tidak menyangka jika cinta bisa menjadi bagian dari deretan daftar kesalahan yang pernah aku buat. Nona, mencintai mu adalah kesalahan terindah yang tidak akan pernah aku sesali seumur hidup ku meski kau menampar ku berulang kali. Maafkan aku karena berani mencintai mu Nona.
Salam Hormat,
Bodyguard Tampan, Ozgur.*~*
Setelah membaca surat Ozgur, Emine menghela nafas tidak menyangka Ozgur jatuh cinta padanya. Emine mengingat prilakunya yang sering menggoda Ozgur tapi itu hanya gurauan. Mungkin hal itu yang menyebabkan timbulnya cinta pada Ozgur untuknya. Emine merasa sangat bersalah kemudian mengambil ponsel dan menghubungi Ozgur lewat videocall.
5 kali sudah Emine menyambungkan kembali panggilannya pada bodyguard tampan itu tapi tidak mendapat balasan.
" Dasar pria sok sibuk." Grutunya kesal. Emine menatap layar ponsel yang tidak kunjung memperlihatkan wajah Ozgur.
Tiba-tiba.
" Krebek,,, krebek,,, krebek,,zzzttttxxx,,," Terdengar suara dari ponsel itu perlahan menampakan wajah Ozgur yang terputus-putus karena jaringan tidak stabil. Emine segera berlari ke arah jendela lalu duduk disana untuk mendapatkan sinyal.
" YA,,,,,!!!!kenapa lama sekali mengangkat panggilan ku hah?" Bentak Emine langsung ketika panggilan VCnya berjalan lancar tanpa terbata-bata. Ozgur diam melongo melihat Emine menghubunginya. Ozgur tidak tau yang menghubunginya adalah Emine karena nomor Emine berbeda dengan yang dipakai sekarang.
Emine ingin tertawa melihat ekspresi Ozgur yang sangat lucu kemudian mengabadikannya dengan mengambil screanshoot layar ponsel. Wajah Ozgur yang sepertinya sangat dekat dengan kamera itu membuatnya meninggalkan begitu banyak aib yang terus di abadikan oleh Emine.
" Ozgur. Kenapa kau tidak bicara? Ayo mulailah bicara!! Kau tidak di kutukkan oleh kakak Velief menjadi batu? Atau jangan-jangan kau tidak mau bicara pada ku? Iya kan? Kau marah padaku? Kau enggan melihat wajah ku yang menyebalkan ini? Baiklah aku matikan saja panggilannya. Aku tau kau membenci ku. Bye,,,," Emine mengoceh dengan akhiran sebuah akting sedih agar Ozgur mau bicara. Emine tau Ozgur tidak bisa melihat dirinya bersedih.
" Tidak, tidak. Bukan begitu Nona. Aku hanya terkejut mendapat panggilan dari mu." Respon Ozgur cepat dan cekatan.
Emine menjauhkan ponselnya sebentar lalu tersenyum karena aktingnya berhasil. Setelah mengembalikan wajah sedihnya lagi, ia kembali memperlihatkan wajahnya pada Ozgur.
" Aku sudah membaca surat mu. Surat itu tidak terlalu buruk." Ucap Emine dengan senyum manis.
Ozgur merasa sangat malu. Ia memalingkan wajahnya yang memerah.
" Pasti dia sengaja menghubungi ku setelah membaca surat itu agar bisa mengejak ku." Gumamnya dalam hati mengira Emine sedang mengejeknya padahal Emine tidak bermaksud seperti itu.
__ADS_1
" Ehem,,,, Jika kau menghubungi ku hanya untuk mengatakan hal itu, maka akhiri saja panggilan ini. Aku sangat sibuk." Ujar Ozgur menghindari Emine agar dirinya tidak dijadikan bahan lelucon. Lagi pula Ozgur sangat malu karena Emine sudah tau dirinya memendam cinta untuknya.
Tiba-tiba.
" Hiks,,,Maafkan aku sudah mengganggu mu. Hiks." Emine tertunduk menangis. Ozgur terkejut melihatnya. Emine berusaha menyeka air matanya kasar tapi air mata itu tidak bisa di ajak komfromi.
" Nona. Maafkan aku. Aku tidak bermaksud membuat mu sedih. Aku mohon jangan menangis!!!" Mintanya terlihat panik. Ozgur bingung harus berkata apa untuk menenangkan Emine.
" Hiks,,, Ini bukan salah mu." Ucap Emine meyakinkan Ozgur. Emine menenangkan dirinya kembali saat ingatan tentang kebenaran yang baru tadi ia ketahui lewat begitu saja. Emine selalu tidak bisa menahan emosinya saat mengingat cerita mengerikan tentang kakaknya Bruzel yang dibunuh dan dimutilasi dengan kejam.
" Ceritakan semua masalah mu Nona!! Jangan memendamnya sendiri!! Katakan pada ku!!" Ozgur bisa melihat kesedihan di mata Emine. Ia berusaha meminta Emine untuk melepas beban itu tapi Emine menolak.
" Kalau begitu kataka apa yang bisa aku lakukan untuk membuat mu lebih tenang?" Tanya Ozgur mencari jalan lain untuk mengurangi kesedihan wanita itu.
Emine meminta Ozgur menyanyikan satu lagu untuknya dan Ozgur menurutinya dengan senang hati. Ozgur memilihkan sebuah lagu yang bisa membuat Emine bangkit dari kesedihannya. Ia pun mulai bernyanyi tanpa di iringi alunan musik. Suaranya tetap terdengar indah. Hati Emine terasa begitu nyaman mendengar arti dari lagu itu. Meski dulu Ozgur sering membuat Emine berteriak kesal tapi ada saatnya pria ini membuat hatinya begitu tenang.
# Sepenggal Arti dari lagu yang dinyanyikan Ozgur.
~ Hapus air mata mu, sayang...
~ Lupakan beribu derita...
~ Jadikan cerita ini istimewa...
~ Dan ingat,
dunia tidak semuanya berakhir bahagia...
~ berjalan, melangkah perlahan...
~ Hari itu pasti tiba...
~ Dimana semesta yang akan menghantar sejuta tawa...
~ Dan iringi setiap langkahmu, Sayang...
*
Di lain tempat.
Polisi-polisi yang sibuk di tempat kejadian dengan sigap memberi hormat ketika ketua mereka memasuki garis polisi. Disana sudah ada tim medis yang menyelidiki kematian wanita itu.
Okan mengernyitkan dahinya ketika mendekati mayat itu. Refleks ia mundur karena bau busuk menyerang hidung.
" Ini pak. Pakailah ini!!" Murat menyodorkan sebuah masker dari arah belakang.
Bukannya berterimakasih, Okan malah ingin menyiku pria itu.
" Aishhh,,, seharusnya kau berikan masker ini dari tadi!!" Dengusnya kesal kemudian mendekati mayat itu kembali.
" Bagaimana aku memberikannya pada mu sedangkan kau menerobos begitu saja." Balasnya pelan tidak kalah kesal. Tiras yang melihatnya hanya bergeleng-geleng kepala karena tingkah mereka tidak pernah hilang. Selalu saja ada hal kecil yang terselip membuat mereka berdua berdebat.
" Kita tidak bisa mengenali wajahnya lagi. Tapi ada 1 hal yang pasti." Ucap Tiras berjongkok bersebrangan dengan Okan. Tiras menyikap baju wanita itu dan memperlihatkan perut yang sudah mengembung.
" Dia adalah korban pembunuhan berantai." Sambungnya menatap Okan memberi jawaban.
" Jadi karena wajah wanita ini sudah hancur, dia tidak bisa menggambar simbol itu di dahi lalu menggambarnya di perut." Ucap Okan menarik kesimpulan setelah melihat gambar yang sudah bosan ia lihat. Tiras mengangguk membenarkan ucapan Okan.
" Apa ada sesuatu yang kalian temukan?" Tanya Okan pada anggota yang sedang berdiri di belakang.
" Tidak pak. Kami tidak menemukan jejak atau bukti dari pembunuh itu."
" Di sekitar sini?"
" Sudah kami telusuri tapi tidak ada apa-apa."
Okan menjengkingkan kedua tangan di sisi pinggang sambil berfikir keras bagaimana bisa pembunuh itu melakukannya dengan sangat rapi. Okan mulai gusar karena pembunuh berantai sudah memulai aksinya lagi.
" Lakukan otopsi pada mayat ini!! Temukan hal apa pun yang bisa menjadi petunjuk!!" Perintahnya pada tim medis kemudian mayat yang sudah berada di dalam kantung mayat itu dibawa pergi untuk diselidiki lebih lanjut lagi.
" Sekarang apa yang harus kita lakukan?" Tanya ketua dari tim kusus sudah terlihat putus asa karena tidak ada petujuk lagi.
" Telusuri seluruh daerah ini!! Periksa semua rumah yang ada di sekitar sini. Tanyakan juga pada penduduk apakah ada hal yang mencurigakan!! Tapi jika kalian menemukan hal aneh segera bergerak!! tetaplah mematuhi peraturan!! Jangan salah bertindak!! Kalian mengerti???" Ucap Okan tegas.
__ADS_1
" Siap. Mengerti pak." Jawab serentak dari semua anggota. Setelah memberi hormat, mereka semua langsung bergerak menjalankan perintah. Tapi Murat yang ikut berlari kini berhenti ketika menyadari Okan tidak bergerak.
" Apa yang kau lakukakan disini?" Tanya Murat membalikan badannya.
" Apa maksud mu?"
" Apa maksud ku? Astaga pak ketua. Apa kau hanya senang memberi perintah pada anak buahmu sedangkan kau sendiri diam disini tidak ikut bekerja?"
" Aku punya urusan penting." Okan berjalan ke arah Murat. " Bekerjalah dengan baik!!" Lalu menepuk pundak rekannya memberi semangat.
" Heiiii,,,, Kau mau kemana? Siapa yang akan memimpin pencarian ini? Dasar ketua tidak bertanggung jawab." Teriak Murat kesal ketika Okan lari meninggalkannya sendirian.
" Kau!!!" Balas teriak Okan menunjuk Murat sebagai penggantinya sementara secara tidak resmi dan tidak sah.
Okan menghubungi Emine dan memintanya untuk datang ke rumahnya lagi. Okan menginjak pedal gas keras dan melajukan mobilnya kencang tapi Emine sudah terlebih dahulu berada di rumahnya duduk di sofa menunggunya dengan raut wajah penasaran. Emine sangat penasaran karena tiba-tiba Okan mengubunginya dan meminta untuk datang kesini.
" Okan. Apa ada masalah?" Tanya Emine langsung ketika Okan baru saja duduk di hadapannya. Okan menatap Emine cemas karena takut nantinya Emine malah salah paham dengan apa yang akan ia katakan. Tapi Okan tidak punya pilihan lain.
" Emine. Ada yang ingin aku tanyakan padamu."
" Apa?"
" Tentang pembunuh itu."
Raut wajah Emine seketika berubah.
" Aku mohon jawab yang jujur pada ku!! Apa kau mengetahui sesuatu tentangnya?" Okan menatap Emine lekat agar ia tahu apakah nantinya Emine akan berbohong atau tidak lewat sorot matanya. Okan sangat ahli membaca mata Emine.
" Apa yang kau katakan? Kenapa bertanya padaku?" Jawab Emine dengan ekspresi seolah-olah dirinya tidak mengerti.
Dari ekspresi Emine yang di baut-buat itu sudah memunculkan kecurigaan lagi pada Okan.
" Lokasi di temukannya mayat itu satu daerah dengan lokasi dimana kau pingsan. Aku mohon katakan yang sebenarnya!! Jangan berbohong!! Aku tidak mau nantinya kau terseret dalam kasus ini." Ucap Okan kawatir pada Emine yang sepertinya menyimpan rahasia besar. Okan mencoba memberi pengertian pada kekasihnya itu agar tidak bermain-main di dalam kasus yang ia tangani.
" Lalu apa masalahnya? Hanya karena itu kau tidak bisa menuduhku Okan!! Seorang polisi tidak akan mencurigai seseorang hanya dengan alasan sepele." Emine mencoba membantah. Ia ingin melindungi kakaknya Orsan tanpa Emine sadari telah membahayakan posisi Okan sebagai seorang polisi. Emine tidak tau Okan memiliki sebuah kesepakatan besar antara Jendral Sam mengenai pembunuh berantai yang tidak lain adalah kakak dari Emine.
" Tentu aku curiga. Polisi memang harus selalu curiga dengan hal sekecil apa pun karena jika sampai hal kecil itu terlewatkan, maka nantinya bisa menimbulkan masalah yang besar." Ucap Okan langsung menyambar bantahan Emine dengan cepat. Okan berbicara sedikit keras dan terlihat emosi karena Emine tidak juga mengerti akan kekawatiran Okan padanya.
" Jadi kau mencurigai ku? Kau mencurigai ku Okan? Seharusnya aku sadar kau memang sudah mencurigai ku dari dulu." Ucap Emine penuh kekecewaan. Okan menghela nafas karena akhirnya Emine salah paham dengannya. Maksudnya yang baik malah disalah artikan oleh Emine.
" Emine. Bukan itu maksud ku. Sekali lagi aku katakan pada mu, aku tidak ingin kau terlibat dalam kasus ini. Bisakah kau menanggapi maksud ku dengan dewasa? Aku mohon jangan seperti anak kecil!!!" Minta Okan dengan sabar menghadapi Emine.
" Anak kecil? Kau menyamakan aku dengan anak kecil? Kau yang seharusnya bersikap dewasa!! Tidak seharusnya kau mencurigai wanita yang kau cintai!!" Emine berbicara dengan menaikan nada suaranya.
Suasana diantara sepasang kekasih itu sudah mulai menegang.
" Cukup Emine!!" Bentak Okan keras hingga membuat jantung Emine berhenti sejenak. Emine sangat terkejut mendapat gertakan dari Okan. " Ini semua tidak ada urusannya dengan cinta. Apa kau tau, sudah 15 orang yang meregang nyawa karena ulah pembunuh itu." Sambung Okan emosi. Ia teringat akan dirinya yang hampir mati di tangan Orsan namun beruntung seorang wanita menyelamatkannya. Sampai sekarang Okan tidak tau Eminelah yang telah menyelamatkannya.
Emine merasa sakit hati dengan ucapan Okan.
" Jadi cinta ku sama sekali tidak penting bagimu?" Ucap Emine sedih. Okan kembali menarik nafas panjang tanpa suara ketika ucapannya kembali salah di mata Emine. Ia meraup wajahnya prustasi karena belum ada 1 hari hubungannya bersama Emine dan sekarang semakin kacau.
Emine berdiri bersiap untuk pergi agar perdebatan ini tidak berlanjut. Ia begitu marah, kesal dan kecewa.
" Emine aku mohon." Okan menghentikan Emine namun tangannya ditepis kasar. Emine tidak memperdulikan usaha Okan yang ingin mencegatnya dan terus melangkahkan kaki menuju pintu keluar.
Tidak ada cara lain lagi untuk menghentikan Emine. Okan pun dengan cepat memeluk tubuh kekasihnya dari belakang. Okan tidak bisa membiarkan Emine pergi dengan kondisi salah paham seperti ini.
" Okan lepaskan aku!! Lepaskan!! Okan!! Lepaskan aku!!!" Emine membrontak ingin melepaskan diri dengan memukul-mukul tangan kekar Okan yang melingkar di perutnya. Okan tidak mau melepas Emine hingga akhirnya tenaga Emine habis dan ia menghentikan pembrontakannya.
Karena Emine sudah mulai tenang dalam pelukan pria itu, Okan pun melepas perlahan tangannya dari tubuh Emine dan membalikan tubuh Emine menghadapnya. Emine tertunduk, Okan mengangkat dagu wanita itu dan melihat mata Emine sudah berkaca-kaca. Okan merasa bersalah, hatinya tidak tega melihat Emine hampir menangis. Ia pun langsung mendekap tubuh Emine yang sudah lemas seperti kehilangan tenaga. Emine hanya diam tidak membalas pelukan Okan.
" Maafkan aku sayang. Aku tidak bermaksud mengecewakan mu. Maafkan aku." Ucap Okan sambil membelai rambut pirang Emine.
" Harusnya aku yang meminta maaf karena telah membohongi mu. Maafkan aku, tapi aku tidak punya pilihan." Gumamnya dalam hati menyadari siapa yang seharusnya meminta maaf.
*
*
*
Cuma ngingetin like sama komen itu gratis loh.
__ADS_1
Trms atas kunjungannya.