
Sebuah taman yang sangat luas dengan lapangan rumput di tengahnya dan beberapa tempat duduk sudah dipenuhi para turis lokal. Banyak sekali aktivitas di tempat ini, ada yang duduk-duduk santai beralaskan karpet di atas padang rumput, ada juga anak-anak kecil berlarian kesana kemari, ada yang mengelilingi taman dengan skuter, ada yang bermain skate, ada yang bermain sepak bola, ada yang sedang bercengkrama dengan keluarganya, ada yang sedang berpacaran, ada yang jomblo, ada pedagang kaki lima sudah memenuhi sisi taman, ada beberapa wahana anak-anak di bagian ujung taman, ada yang sedang joging, ada yang membawa anjing, dan ada yang hanya mematung menatap keramaian di depannya seperti yang Emine lakukan saat ini.
" Bagaimana? Kau suka kan?" Meli membubarkan pandangan Emine yang kosong kesegala arah.
" Meli, tempat ini terlalu ramai." Ekspresi dan ucapan Emine menunjukan bahwa ia tidak nyaman berada di sini.
" Apa kau seorang buronan?"
Seketika pertanyaan Meli membuat Emine terkekeh.
" Kenapa anak ini bertanya seperti ini? Apa dia tau aku adalah buronan polisi di Turki?" Gumam Emine mulai gelisah, ia tidak menyangka akan mendapat pertanyaan mengejutkan.
" Bukan." Sahut Emine tegas dengan wajahnya mulai memerah karena takut Meli mengetahui identitas aslinya. Tapi untungnya wajah Emine tidak bisa di lihat Meli karena Meli ada di belakang Emine mendorong kursi roda menjelajahi jalan paping di sisi taman.
" Jika benar, seharusnya kau tidak takut dengan keramaian!!" Kata Meli santai.
" Sudah ku bilang, aku hanya tidak nyaman." Ucap Emine kesal.
Meli dan Emine menghabiskan 2 jam di taman itu. Mereka berdua terlihat semakin akrab. Emine yang tadinya merasa ini bukan tempat yang mengasikan ternyata salah besar. Tempat ini sangat cocok untuk orang-orang seperti Emine yang selama seminggu hidupnya hanya diam dibawah atap rumah.
Meli yang sepertinya merupakan pengunjung setia taman ini sangat hafal betul setiap jengkal tanah lapang yang berlokasi di tengah-tengah ibu kota negara Belgia. Bahkan Meli tau nama-nama pedagang kaki lima yang berjejer rapi di sisi taman dan ia juga akrab dengan beberapa pedagang disini. Pedagang yang sudah mengenal Meli, mereka semua memanggil Meli saat Meli berjalan di depan kedai kecil mereka. Meli pun mampir karena merasa tak enak hati dan tidak lupa memperkenalkan Emine. Setiap kedai yang disinggahi, mereka semua menyambut Emine dengan ramah. Salah satu keramahan mereka adalah memperkenalkan makanan yang mereka produksi lalu membiarkan Emine mencoba tanpa membayar. Emine dan Meli menikmati makanan-makanan dari setiap kedai yang mereka singgahi, kedai satu dengan yang lainnya memiliki makanan dengan cita rasa yang berbeda-beda. Saking semangatnya, mereka berdua sampai tak mengenal perut penuh. Alhasil Emine dan Meli sekarang terkapar di bawah pohon pinus dengan kondisi tubuh malas karena kekenyangan.
" Meli, coba kau berdiri lalu lihat aku!! tubuhku masih seksi kan?" Emine sadar akan tubuhnya yang terasa berat efek ia makan seperti ****.
" Baiklah." Meli bangkit dengan tenaga yang tinggal 50% dan berdiri dengan kekuatan minumum dengan malas ia melihat tubuh Emine yang terlentang diatas alas kain pantai.
" Lekukan tubuhmu masih terlihat, hanya saja perutmu sedikit menonjol."
" Bagaimana? apa sudah tidak terlihat lagi?" Emine menahan nafasnya membuat perut buncitnya terlihat kempis.
" Ya,, sudah,,,sudah,,, terus tahan Emine!! dalam lima menit mobil ambulan akan datang menjemputmu." Meli kembali terlentang tak berdaya di samping Emine.
Emine menghembuskan nafasnya karena tidak kuat lagi mengurung udara di paru-parunya.
" aaa,,,,,aaa,,, Huaaa,,,, Bagaimana jika aku tidak seksi lagi? Sekarang lelaki yang aku cintai akan ilfel melihat tububku seperti ikan buntal. tidak,,,,tidak,,,tidak,,,, huaaaaaa,,,,,, Ini semua karena mu." Emine merengek menyesali tubuhnya yang terasa seperti ikan buntal.
Meli tidak terima disalahkan, pandangannya kedaun-daun diatas ia lempar ke samping ke arah Emine.
" Jangan berlebihan seperti itu!!! Tubuhmu masih seksi, masih mempan untuk menarik lelaki hidung belang di luar sana. Nanti kalau sudah tiba waktunya untuk p*p, perutmu itu akan kembali normal." Balas Meli memberi penjelasan atas sikap Emine yang terlalu over dengan masalah tubuhnya. " Sudah habis 10 piring baru menyesal. Kenapa tidak tadi saja hentikan makannya!!" Gerutu Meli membalikan badan memunggungi Emine.
" Lelaki yang aku cintai bukan lelaki hidung belang. Dia hanya sudah dimiliki wanita lain." Emine merasa kesal pria yang dicintainya di ejek oleh Meli.
" Meli,,,," panggil Emine tidak mendapat respon. " Meli,,," Panggilnya sekali lagi dengan menggoyang-goyangkan tubuh Meli tapi Meli tidak bergeming sedikit pun.
" Apa dia mati karena kekenyangan?" Emine mulai cemas, ia mengangkat sedikit kepalanya agar bisa melihat wajah Meli yang membelakanginya. " Meli,,," Panggilnya lagi dan Emine mulai kawatir.
Tidak lama kemudian suara dengkuran terdengar keras membuat Emine mengumpat kesal. " Aishhhh,,,, gadis ini tidur seperti orang mati. Dia tidak akan sadar jika ada yang melemparnya dari atas balkon." Dengusnya kesal karena memghawatirkan seseorang yang sedang tidur nyenyak.
Emine memutuskan untuk ikut tidur setidaknya sampai perutnya yang terasa kaku terasa lebih baik.
__ADS_1
2 jam di taman ini dibagi 2 ronde, ronde pertama dengan waktu 1 jam 30 menit untuk menikmati surganya makanan sedangkan ronde ke 2 dengan waktu 30 menit digunakan untuk tidur di taman membuat mereka berdua terlihat seperti gembel yang tak punya tempat tinggal.
Emine dan Meli sudah memutuskan untuk memotong urat malunya. Tidur di tempat umum, membiarkan dirinya menjadi pusat perhatian dari setiap orang yang lalu lalang.
30 menit kemudian, saat Emine dan Meli nyaman dengan mimpi indah mereka tiba-tiba ada seseorang yang datang.
" Nona Emine,,,.Nona,,, bangun,,!! Nona,,," Ozgur mencoba membangunkan Emine yang terlihat seperti seorang anak terlantar tapi tangan Ozgur ditepis dan Emine malah membalikan badannya.
" Nona Meli,,,, bangunlah!!! Nona,,,," Ozgur mencoba pada Meli tapi tetap sama. Meli malah tak bergerak sedikitpun meski tubuhnya digoyang-goyangkan keras.
Matahari sudah menyungsung semakin tinggi. Bumi juga semakin panas. Para pengunjung mulai berkurang. Lapangan rumput hijau di tengah-tengah taman terlihat mengkilau oleh sinar surya. Tapi dua wanita lajang ini terlihat begitu lelap tidurnya di tengah hawa panas bumi. Ozgur yang hanya terkena paparan cahaya matahari sedikit saat datang kemari kini peluhnya sudah mengucur membasahi dahi dan pelipisnya.
" Bagaimana caranya aku membangunkan mereka berdua?" Ozgur mulai bingung, ia menggaruk-garuk kepala yang tak gatal itu.Entah mimpi apa yang bermain-main di tidur mereka hingga begitu susah untuk dibangunkan.
Sebuah cara terlintas di otak Ozgur yang tak seberapa pintar dibandingkan dengan otak Albert Einstein. Diambilnya sebuah bunga padang lalu diputar-putar di dekat hidung Emine. Wajah Emine sudah mulai menunjukan tanda-tanda bersin, Ozgur segera menjauh lalu " HAAA,,,,,CIIIIMMMMM,,,," Beberapa bulir mineral terjun bebas dari mulut dan hidung Emine. Untungnya Ozgur sudah menghindar jika tidak mungkin saja wajahnya yang jadi tempat mendarat cairan-cairan menjijikan itu.
Merasa gatal di hidungnya, Emine mengucek-ngucek hidungnya lalu bangkit. " Ahhhhh,,,, perutku masih terasa kaku." mengelus-elus perutnya kasar. Emine membuka matanya lebar-lebar yang terasa berat, menoleh ke samping kiri ada Meli yang masih tertidur, menoleh ke samping kanan ada Ozgur yang sedang berdiri dengan senyumnya yang tidak terlalu manis.
Emine mengabaikan saja Ozgur tapi pandangannya kembali di lempar ke arah Ozgur ketika ia sadar seharusnya bodyguar yang satu ini tidak ada disini.
" Ozgur?? apa yang kau lakukan disini?" Emine terkejut dan bingung, seharusnya Ozgur ikut Velief ke luar kota.
" Saya ditugaskan untuk menjaga Nona oleh Nyonya Velief."
" Oohhhhhh,,,,,," Otak Emine belum mampu menyeimbangi ucapan Ozgur, ia masih fokus mengumpulkan jiwa-jiwanya yang sedang berkelana entah kemana. Diliriknya sekali lagi Meli yang tidurnya damai sejahtera tak ada yang mengutik.
" Plaaakkkkkk,,,,,"
" Ayo kita pulang!! Jika tidak mau, lanjutkan saja tidur mu disini!!!" Ucap Emine langsung bangun di bantu Ozgur.
Ozgur mendekatkan kursi roda ke arah Emine, tapi Emine meminta tongkatnya. Hari ini ia akan berjalan kaki untuk mengurangi berat badannya yang hanya naik tak sampai 1 Kg.
Dengan tidak terpaksa Meli ikut bangun, berdiri melenturkan otot-ototnya dengan senam ringan lalu siap untuk pergi dari taman yang pengunjungnya tinggal segelintir orang. Taman ini akan ramai dari pagi sampai jam 10 pagi, menjelang siang pengunjung akan semakin berkurang karena matahari mulai panas dan kembali ramai saat matahari mulai tenggelam hingga petang sekitar pukul 10 malam.
Emine, Meli, dan Ozgur kembali ke tempat parkir. Mereka mengambil jalan sisi taman yang ada pohon-pohon besarnya agar tidak terlalu panas.
Belum sampai di mobil, dua orang berbadan kekar dengan jaket kulit celana jeans yang ada rantai besi di bagian samping lalu sedikit ada desain robek-robeknya di paha dan lutut ditambah wajah mereka yang sangar tiba-tiba menghadang jalan.
Emine dan Ozgur merasa dua orang di depan mereka bukan orang yang baik. Emine menatap tajam kearah dua orang itu tapi mereka berdua malah menatap Meli dengan senyum tidak bisa diartikan.
Meli mulai panik, tubuhnya gemetar, ia menoleh kiri kanan memastikan keadaan, Meli terlihat takut. Emine tau ada sesuatu di antara Meli dan dua preman ini tapi belum sempat mengatakan apa pun, Meli perlahan mundur lalu berbalik dan kabur.
" Etssss,,,, mau lari kemana kamu Meli?? mau kabur lagi? kali ini tidak bisa." Salah satu preman berhasil menangkap Meli dan menarik pergelangan tangan Meli.
" Lepaskan aku!! sudah aku bilang akan membayar semuanya. lepaskan aku!!" Meli meronta-ronta mencoba melepaskan pergelangan tangannya dari cengkraman kuat pria sangar itu.
" Kau pikir bisa membodohi kami lagi hah,,,,?" Pereman itu berbicara keras dengan mata yang melotot tajam.
Emine melihat Meli diperlakukan kasar, ia tidak bisa membiarkannya begitu saja.
__ADS_1
" Lepaskan dia!!" Teriak Emine keras walupun Emine tidak tahu masalah diantara kedua belah pihak tapi Emine tidak bisa melihat Meli hampir menangis karena ketakutan.
" Kau, orang cacat sepertimu tidak usah ikut campur!!"
Ucapan preman itu menggelegar keras di telinga Emine, hatinya terasa panas, otaknya tidak bisa dikontrol, Emine mengepalkan tangannya menahan emosi yang siap meledak kapan pun.
" Brengsek,,, tutup mulut mu!! tidak usah menghinanya!! urusan mu hanya dengan ku." Ucap Meli marah karena Emine dihina.
" Yaa benar sekali, urusan mu hanya dengan ku. PLAKKKKKKK,,,,,," Meli tersungkur kebawah. Tamparan keras preman itu mendarat di pipi Meli.
Melihat ada kekerasan yang terjadi, Ozgur bodyguard handal Velief turun tangan. Ozgur melayangkan sebuah pukulan kearah preman yang menampar Meli lalu " Dorrrrrrrrrr,,,,, " Preman itu tewas di tempat dengan tembakan tepat di dahinya. Darah segar mengalir sampai ke padang rumput.
Semua orang tertegun termasuk Ozgur yang terpaksa menghentikan pukulannya karena musuh sudah tumbang. Meli yang untuk pertama kalinya mendengar suara tembakan jantungnya hampir berhenti. Rekan preman itu juga tak kalah terkejutnya melihat rekannya tewas begitu saja.
Sekarang giliran preman ini yang tubuhnya gemetar dan takut melihat sebuah pistol diarahkan tepat di kepalanya.
Ozgur dan Meli semakin terkejut saat mengetahui Emine yang melakukan hal itu. Hari ini Meli melihat sisi lain diri Emine. Mata Emine memerah, tidak ada rasa takut saat Emine memegang senjata api itu, kemarahan terlihat jelas di sorot matanya. Meli ketakutan melihat Emine yang sepertinya akan menembak untuk kedua kalinya dengan satu tangan. Tidak dengan Ozgur, Ia sudah tahu Emine bisa melakukan hal itu tapi ia hanya tidak menyangka Emine akan melakukan hal ceroboh di tempat umum seperti ini.
" Ozgur, Aku tau kau membawa banyak bodyguard. Panggil mereka kesini untuk mengurus kedua mayat ini." Ucap Emine dengan sorot mata yang tajam.
Mata preman itu membelalak mendengar ucapan Emine yang kelihatannya tak main-main. Mata Meli tak berkedip melihat tangan Emine perlahan menarik pelatuk lalu "Dooooooorrrrr,,,,,"
Meli refleks menutup mulutnya rapat dengan tangan untuk menahan suara teriakan karena terkejut tak menyangka Emine bisa berubah sekeji ini.
Ozgur hanya bisa menghela nafas setelah semuanya sudah terjadi. Untung saja taman ini sepi dan tempat kejadian penembakan yang dilakukan Emine jauh dari pedagang-pedagang yang masih ada disini.
" Mati semua." Ucap Ozgur setelah memngecek denyut nadi preman-preman itu. Ozgur tak habis pikir bagaimana caranya Emine mengambil pistol dari pinggangnya tanpa sepengetahuan dirinya. Emine memang pencuri yang handal. Untuk mengamankan situasi, Ozgur menutupi kedua mayat itu dengan jasnya dan kain pantai milik Meli.
Emine duduk di pinggir taman bersama Ozgur sambil menunggu bodyguard lainnya datang. Sedangkan Meli duduk menjauh dari Emine, ia masih takut dan trauma dengan apa yang terjadi di depannya.
" Nona, aku tau kau Emosi karena mereka menghina mu. Tapi ini sangat ceroboh, untung saja tidak ada orang di dekat sini." Ucap Ozgur memberi penjelasan pada Emine yang tidak bisa mengontrol emosinya.
" Aku masih bisa menahan emosi saat dia menghina ku tapi aku tidak bisa menahannya lagi saat Meli dipukul. Pria pengecut seperti mereka pantas untuk mendapatkannya."
Ozgur tersenyum mendengar penjelasan Emine. Sekeji apa pun Emine tapi Ozgur sudah tau bahwa Emine adalah orang yang baik. Bahkan dia mau membunuh hanya untuk Meli gadis yang belum lama ia kenal.
Tidak lama kemudian, 8 bodyguar lainnya datang.
Emine melirik Meli yang masih duduk termenung.
" Antar dia pulang!! Sepertinya dia masih trauma dan takut dengan ku. Oh ya,,,, berikan ini padanya!! Katakan juga mulai besok jangan datang lagi ke rumah!!!" Perintah Emine pada Ozgur memberikan selembar cek lalu berdiri dan berjalan meninggalkan mereka semua.
Meli menatap kepergian Emine, ia masih tidak menyangka wanita yang berjalan dengan tongkat bantuan di depannya ternyata memiliki sisi lain yang tak mampu Meli bayangkan.
*
*
*
__ADS_1
Jangan lupa like & komen!!!