
" Okan." Panggil Emine menggiringkan tubuhnya menghadap Okan yang masih tertidur pulas memeluknya erat.
" Sayang. Bangunlah!! Kau tidak berangkat ke kantor?" Tanya Emine namun tidak mendapatkan jawaban.
" Apa dia libur hari ini?" Gumamnya dalam hati.
Emine mengangkat perlahan tangan Okan yang melingkar di tubuhnya dan meletakannya di posisi nyaman agar pria itu tidak terbangun lalu beranjak dari tempat tidur. Emine berdiri, matanya menatap sekeliling kamar yang sangat berantakan. Pakaian berserakan di lantai termasuk pakaian dalamnya. Sedangkan kasur dengan sprai putih sekarang lebih terlihat seperti tempat tidur yang habis dilanda gempa dasyat.
" Ahhhhh,,,," Ringisnya saat melangkah untuk memungut pakaian itu. Emine berjongkok memegang perut bagian bawah yang terasa nyeri.
" Sakit sekali." Ucapnya lirih lalu memaksakan diri untuk melanjutkan memungut pakaian lalu pergi ke kamar mandi.
Tidak lama kemudian, Okan juga ikut terbangun. Ia merasakan tangannya tidak berada di tempat yang seharusnya. Okan meraba-raba kasur yang rata itu tapi tidak menemukan Emine. Okan menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang, mengambil ponsel di meja dan mengabari rekannya bahwa hari ini ia akan terlambat ke kantor.
" Dia sedang mandi." Gumam Okan dalam hati ketika mendengar suara percikan air dari sower kamar mandi menunjukan keberadaan Emine sekarang.
Okan segera bangkit tapi matanya lebih dulu tertuju pada bercak darah yang ada di sprai. Senyum bahagia menyeringai di wajah Okan karena menjadi lelaki pertama yang bisa mendapat mahkota Emine.
" Aku berjanji tidak akan mengecewakan mu." Gumam Okan sudah memutuskan akan menjadikan Emine wanita terakhir dalam hidupnya.
Okan juga ikut membersihkan dirinya. Ia pergi menggunakan kamar mandi Meli karena kamar mandinya di pakai Emine. Setelah selesai mandi dan mendapat kesegarannya lagi, Okan kembali ke kamarnya.
Emine sudah lebih dulu selesai mandi. Sekarang ia sedang mengganti sprai dan menata tempat tidur dimana sebenarnya wanita ini tidak pernah menata tempat tidurnya sendiri. Okan tersenyum mendekati Emine perlahan yang sedang memunggunginya lalu memeluk tubuh Emine dengan manja.
" Okan. apa yang kau lakukan?" Tanya Emine terkejut pagi-pagi sekali sudah mendapat perlakuan yang begitu manis. Okan tidak menjawab tapi malah semakin mengeratkan pelukannya mesra dengan kepala di sanggakan di bahu Emine. Sontak Emine merasa geli karena rambut Okan bergesekan dengan kulit lehernya.
" Seharusnya kau bantu aku merapikan tempat tidur ini. Semua ini karena ulah mu. Kenapa jadi aku yang harus membersihkannya sendiri?" protes Emine agar Okan mau melepas pelukannya karena Emine tidak bisa bergerak sama sekali sedangkan tempat tidur ini masih membutuhkan pertanggung jawabannya atas gempa kemarin.
Okan tidak terima dirinya disalahkan. Ia melepas pelukannya lalu membalikan tubuh Emine dan menatapnya dengan senyum menggoda. Emine tertunduk karena merasa malu.
" Aku belum mengatakan apa pun. Tapi kenapa pipi mu sudah memerah? Jangan katakan kau sedang memikirkan kajadian kemarin malam!! " Tanya Okan sengaja membuat Emine semakin malu.
" Ti,,,tidak. Jangan menuduh seperti itu!!" Emine mencoba menepis ucapan Okan karena tidak ingin dirinya dijadikan bahan ejekan oleh pria ini.
" Benarkah yang kau katakan itu??" Ucapnya kembali menggoda Emine. Okan menyukai sikap salah tingkah Emine sekaligus pipi merahnya yang seperti kepiting rebus.
" Okan. Berhentilah menggoda ku!" Emine tidak tahan lagi menyembunyikan rasa malunya dan berbalik menghindari tatapan Okan tapi pria itu tidak mau melepas Emine begitu saja. Ia menarik tangan Emine dan memeluk pinggang Emine erat agar wanita itu tidak bisa menghindar lagi. Sedangkan tangan Emine menjadi penyangga di dada kekar Okan.
" Apa?" Tanya Emine sinis karena Okan tersenyum penuh maksud padanya.
" Kita lakukan sekali lagi." Ucap Okan lirih di telinga Emine.
" Kau sudah gila." Emine mendorong dada Okan hingga pelukannya yang erat terlepas. Rasa nyeri di bagian perut bawahnya belum hilang dan sekarang Okan memintanya untuk memutar ronde ke 2. Tentu Emine menolak.
" Kalau begitu 1 ciuman?" Okan mulai menawar.
" Tidak." Jawab Emine singkat lalu berbalik lagi dan melanjutkan menata tempat tidur.
" Ayolah sayang. Hanya 1 ciuman." Okan mendekati Emine dan mulai memelas.
Emine tidak sejahat itu membiarkan kekasihnya merengek seperti bayi. Ia kembali membalikan badannya menghadap polisi menyedihkan ini.
" Hanya 5 detik." Ucap Emine memberi harga awal.
" Apa yang bisa aku lakukan dengan 5 detik??" Protes Okan tidak akan merasa puas hanya dengan 5 detik.
" Terserah jika tidak mau." Ucap Emine acuh.
" Baiklah, baiklah." Okan dengan cepat menghentikan langkah Emine yang ingin keluar kamar sebelum pikiran wanita yang baru kemarin menjadi kekasaihnya itu berubah.
" 5 detik?" Tanya Emine menegaskan.
" Ya." Jawab Okan singkat lalu berjalan cepat ke arah Emine dan mendorong tubuh Emine ke tembok.
Tangan Emine meremas baju Okan ketika pria ini menciumnya ganas. Emine sudah menghitung 5 detik di dalam hatinya tapi entah kenapa ia tidak bisa menghentikan Okan dan malah ikut menyumbangkan gerakan-gerakan kecil di bibir. Okan tersenyum kemenangan di dalam hatinya ketika Emine terseret dalam suasana. Okan mampu mengubah 5 detik menjadi waktu panjang di pagi hari yang cerah ini.
Emine semakin terbawa suasana, ia melingkarkan kedua tangannya di leher Okan dengan jari-jari tangan meremas lembut rambut Okan. Puas dengan aktivitas bibir, sekarang mereka berdua ingin mencari tempat nyaman untuk melakukan morning sexs. Okan dan Emine berputar-putar pelan hingga sampai di kasur yang tadinya rapi lalu menjatuhkan tubuh di atas kasur hingga ciuman mereka terlepas dan kini mereka saling menatap. Hanya 2 detik tatapan yang penuh arti itu berlangsung. Okan mencium Emine kembali dan Emine menyambutnya dengan ganas.
__ADS_1
Kemarin malam sangat mudah untuk Okan melepas baju Emine karena Emine menggunakan kemeja. Tapi sekarang tangan Okan kebingungan harus memulai dari mana. Akhirnya tangan itu menyelundup lagi dar bawah baju Emine kemudian masuk lagi ke dalam bra itu.
Okan sudah tidak sabar memulai ronde ke 2, ia ingin membuat gairah Emine lebih melonjak dengan meberikan perlakuan lembut pada payu*ra itu tapi, " Tring,,, ting,,,Tring,,,ting,,," Suara ponsel menghentikan aksi tangan Okan.
" Aishhhh,,,,," Dengus Okan menahan kesal karena percintaanya terganggu.
Tiba-tiba suasana berubah canggung. Okan dan Emine bangun dari tempat tidur. Okan mengambil ponselnya melihat siapa yang berani mengganggunya. Sedangkan Emine segera membenahi branya lalu menurunkan baju yang sempat tersingkap ke atas.
" Dari siapa?" Tanya Emine penasaran melihat ekspresi Okan yang begitu kesal.
" Dari tim kusus." Jawabnya.
" Angkat saja!! Siapa tau penting." Saran Emine dituruti Okan.
Okan berdiri lalu berjalan ke arah jendela. Emine mengecutkan wajahnya karena tidak habis pikir imannya begitu rapuh ketika berhadapan dengan Okan.
" Apa? Cepat kirim alamatnya!! Baiklah. Aku segera kesana." Emine refleks mengarahkan matanya pada Okan yang berdiri memunggunginya saat mendengar nada suara Okan tidak dalam keadaan netral.
" Apa yang terjadi?" Tanya Emine penasaran menghampiri Okan yang juga berjalan ke arahnya namun pandangan Okan masih fokus pada layar ponselnya.
" Astaga,,, Siapa yang melakukan hal sekejam ini?" Ucap Okan menghela nafas berat melihat foto mayat yang dikirimkan dengan kondisi sangat mengenaskan.
Melihat eksrpresi Okan, Emine semakin dikejar rasa penasaran. Ia melihat apa yang ada di layar ponsel itu.
" Ya Tuhan." Emine tak kalah terkejut. Wanita di foto itu memberikan sebuah ingatan pada Emine.
" Boleh aku lihat?" Minta Emine ingin mengamati lebih detail lagi gambar itu. Okan memberikan ponselnya pada Emine lalu pergi ke arah lemari untuk mengambil jaketnya.
Mata Emine tak berkedip melihat foto mayat itu lalu dengan cepat otaknya terpusat pada seorang wanita yang ia temui saat berada di rumah pembunuh itu. Pantas saja Emine tadi sempat tidak mengenali wanita ini karena kondisi wajah wanita ini jauh lebih hancur dari kondisi sebelumnya. Terdapat jahitan di mulut dan di matanya sedangkan wajahnya sudah membusuk dengan ulat belatung sudah mulai menggrogoti.
Seketika Emine merasa mual, ia berjongkok di bawah ranjang untuk menahan isi perut yang ingin keluar.
" Emine. Kau kenapa?" Tanya Okan dengan cepat menghampiri Emine ketika membalikan badan melihat Emine dengan muka pucat pasihnya. Okan membantu Emine untuk duduk di sisi ranjang.
" Aku hanya sedikit merasa mual melihat foto itu. Aku tidak apa-apa." Ucapnya meyakinkan dengan ekspresi menahan rasa mual.
" Maafkan aku tidak bisa mengantar mu pulang. Aku harus segera pergi." Ucap Okan lalu pergi tergesa-gesa sebelum mendapat jawaban dari Emine.
Setelah tubuh pria itu hilang di balik pintu, Emine segera mengambil foto yang ia letakan di bawah fas bunga di atas meja. Untuk sesaat Emine terdiam menatap potret lelaki yang sampai sekarang Emine tidak tau betul bagaimana sifat asli pria ini dan apa sebenarnya tujuan dari pembantaian terhadap perempuan muda yang dilakukannya. Emine semakin bingung harus menempatkan pria ini di kotak jahat atau di kotak baik. Pasalnya jika dikatakan dia pria jahat, di sisi lain pria ini begitu baik pada Emine. Sekarang Emine berada di posisi bimbang haruskah memberi tahu Okan tentang keberadaan Orsan ataukah tidak.
Tidak ada gunanya Emine duduk diam berkutat dengan semua ini di kepalanya. Ia pun segera pergi pulang ke rumah untuk meminta bantuan pada kakek tua. Emine tidak tau hal apa yang harus di cari tentang Orsan, yang jelas pasti ada sesuatu yang dapat di temukan.
Sampainya di rumah, Emine tidak bisa menemukan kakek tua baik di lantai bawah maupun atas. Emine pergi ke taman belakang namun kakek tua tidak terlihat disana, di kolam renang juga tidak ada. Berulang kali Emine menghubungi via telpon tapi tidak ada jawaban. Emine mulai kesal, ia terus menyusuri rumah ini sembari mengoceh.
" Kakek,,,," Terik Emine.
" Kakek, apa kau ada di rumah?" Teriaknya lagi.
" Kemana perginya kakek tua sepagi ini?" Emine bingung memikirkan keberadaan kakek tua. Tidak biasa kakek tua pergi sepagi ini. Jika pun ia keluar rumah itu pasti di malam hari untuk mencari hiburan di club.
" Coba aku cari di garasi, siapa tau dia sedang memanaskan mobilnya." Gumam Emine menebak lalu segera berlari kecil menuju pintu keluar.
" Deg,,,," Emine berhenti tidak berani melangkah tepat setelah membuka pintu. Ia terkejut dengan tatapan matanya yang membulat ketika melihat seorang pria berdiri di depannya.
Emine perlahan berjalan mundur saat pria yang tidak asing itu berjalan ke arahnya. Emine ketakutan dalam kebisuannya yang tidak berani membuka mulutnya. Seluruh tubuh Emine gemetar, nyalinya menciut saat pria itu ikut masuk dan menutup pintu rumah.
" GDUBRUK,,," Emine terjatuh saat berjalan mundur di 2 anak tangga menuju ruang tengah.
Nafas Emine mulai tidak beraturan.
" Apa mau mu? Kenapa kau kesini?" Tanya Emine yang masih duduk di lantai. Terlihat jelas di mata Emine ia sangat ketakutan.
Orsan membuka topinya dan maskernya sengaja memperlihatkan seluruh wajahnya yang sebenarnya Emine sudah tau wajah itu.
" Jangan takut!! Aku kakak mu. Aku tidak akan menyakiti adik ku sendiri." Ucap Orsan lalu melewati Emine begitu saja menuju sofa dan duduk santai merebahkan tubuhnya di punggung sofa.
Emine membatu setelah mendengar ucapan Orsan. Tapi, Ia tidak mudah percaya begitu saja dengan pria yang sama sekali tidak ia kenal. Emine menganggap Orsan sudah gila hingga menganggap dirinya sendiri sebagai kakak Emine sedangkan yang Emine tau dalam hidupnya Emine adalah anak pertama.
__ADS_1
" Kemarilah!! Duduk disini!! Kita bicarakan semua ini. Aku tau kau sangat terkejut." Orsan mencoba memanggil Emine.
" Terkejut? Kau pikir aku terkejut? Kau pria gila, aku tidak terkejut kau bisa mengatakan hal tidak masuk akal seperti itu." Jawab Emine mencoba menetralkan ekspresinya.
" Duduklah!!!" Suruh Orsan tidak ingin meladeni Emine yang sudah mengatainya pria gila. Orsan ingin bicara langsung ke intinya.
Bagaimana pun Emine harus mencari sesuatu tentang Orsan karena itu ia membranikan diri duduk di sofa menghadapnya. Ini adalah kesempatan baik untuk menggali lebih banyak informasi tentang pembunuh berantai ini.
Emine menatap Orsan penuh dengan kewaspadaan karena ia tau Orsan bisa melakukan apa pun dan kapan pun itu.
" Apa tujuan mu kesini? kenapa kau selalu berada di sekitar ku?" Tanya Emine ingin memecahkan pertanyaan yang selalu menggangu pikirannya.
" Aku juga tidak tau kenapa aku sangat ingin berada di sekitar mu. Dan hari ini aku menemukan jawabannya." Orsan berbicara menegakan punggungnya dan menatap Emine dengan senyum. Emine merasakan sesuatu di balik senyum itu, rasanya ia ingin menangis melihat senyum Orsan yang di dalamnya bersemayam seribu kesedihan. Hati Emine bisa merasakan hal itu.
" Apa?" Tanya Emine dengan mata sendu.
" Ini adalah jawabannya" Orsan menyodorkan sebuah foto di atas meja. Emine mengambil foto itu dan menatapnya lekat. Terlihat foto itu adalah foto lama, kertasnya buram tapi 2 anak kecil yang sedang duduk di sofa dengan 1 anak laki-laki memangku seorang anak kecil di pahanya.
Mata Emine berkaca-kaca menatap foto itu. Sudah ada 1 duga'an di otaknya ketika ia menyadari anak kecil yang di pangku oleh anak laki-laki itu adalah dirinya.
" Siapa anak perempuan dan laki-laki ini?" Tanya Emine langsung menyodorkan kembali selembar kertas itu di atas meja.
" Ini adalah Buzral." Orsan menunjuk anak perempuan yang mirip Cansu adik Emine dengan jari telunjuknya. " Ini adalah aku." Ucapnya lagi menggeser jarinya. " Dan ini,,~ Kau pasti tau siapa ini" Ucap Orsan menatap Emine.
" Aku tidak mengerti. Tolong jelaskan!!" Minta Emine seolah-olah dia tidak mengerti dengan kebenaran yang sudah jelas di matanya. Kebenaran bawha 3 anak kecil itu adalah saudara.
Orsan mengerti sangat sulit bagi Emine untuk menerima kenyataan ini. Ia pun merasakan hal yang sama ketika mengetahui kebenaran tentang hubungan mereka.
" Lihat ini!! Kau akan lebih mudah mengerti." Orsan kembali mengeluarkan foto dari saku jaket hoddienya dan menyodorkan kembali di atas meja.
Emine mengambil foto itu dengan tangan gemetar. Dari kejauhan ia sudah tau foto siapa itu.
" Kebenaran macam apa lagi ini?" Tanya Emine sendu dengan air mata menetes ketika melihat potret sebuah keluarga yang nampak begitu bahagia. Ada 5 orang di dalam foto itu dimana 2 dari 5 orang itu adalah ayah dan ibunya sedangkan 3 anak kecil itu adalah anak kecil yang sama di foto pertama Orsan perlihatkan padanya.
Disaat Emine sedang berusaha mencerna kenyataan ini, Orsan tiba-tiba bercerita. Emine menatap Orsan yang sedang memutar memorinya dengan tatapan kosong ke arah 2 foto di meja.
" Saat itu kau masih kecil. Usia mu baru 3 tahun sedangkan Bruzel 4 tahun dan aku sendiri 5 tahun. Aku dan Bruzel dibuang tanpa alasan yang jelas. Malam itu, ayah dan ibu meninggalkan kami di rumah besar. Mereka berjanji akan segera menjeput kami berdua tapi hingga pagi hari tiba ayah dan ibu tidak kunjung datang. Lalu pemilik rumah itu menyuruh kami untuk masuk. Aku dan Bruzel selalu menunggu ayah dan ibu menepati janjinya tapi hingga 1 bulan berlalu akhirnya kami sadar mereka telah membuang kami. Selama 1 bulan itu kami mendapat perlakuan yang baik di rumah itu tapi lambat laun kami diperlakukan seperti hewan. Kami disuruh bekerja siang malam dan hanya di beri makanan sisa mereka. Jika tidak ada sisa maka kami tidak makan. Aku tidak tahan lagi melihat Bruzel menderita dan aku merenacanakan untuk kabur dari rumah itu. Kami berhasil kabur. Dari sana aku dan Bruzel menjalani hidup yang begitu keras di usia yang begitu muda. Kami berjuang hidup, melakukan semua pekerjaan berat hanya untuk mengisi perut. Aku bersyukur diberikan kekuatan hingga bisa bertahan sampai sekarang." Cerita Orsan singkat meski cerita lengkapnya masih sangat panjang.
Emine tidak menyangka ibu dan ayahnya tega melakukan hal sekejam itu pada anaknya sendiri. Ia mengira hanya dirinyalah yang paling tersakiti di keluarga Zarzat.
" Dimana Bruzel? Kenapa tidak ikut kesini? Apa dia tidak merindukan adiknya?" Tanya Emine menyeka air matanya.
" Dia sangat merindukan mu. Dia sangat cerewet, bagaimana keadaan Emine sekarang? apa yang sedang di lakukannya? bagaimana wajahnya sekarang? Apa dia mengingat ku atau tidak? Apa Emine masih sering memakai baju yang dipilihkannya? Begitu banyak pertanyaan yang dilontarkan hingga mulutnya sampai berbusa." Jelasnya menceritakan sikap Bruzel dengan senyum dan tawa menyelipi wajah Orsan saat mengingat tingkah adiknya Bruzel.
Emine semakin menangis haru. Ia membayangkan memiliki kakak perempuan yang sangat menyayanginya.
" Dimana dia sekarang? Aku ingin menemuinya" Ucap Emine penuh harapan bisa bertemu dengan kakaknya Bruzel.
" Kau tidak bisa bertemu dengannya."
" Kenapa?"
" Dia sudah meninggal."
" Deg,,," Seketika jantung Emine terasa berhenti lagi untuk berdetak.
*
*
*
*
Ayo dong kasih likenya!! Kan gratis gak bayar kalo mencet jempol. Gak bikin beras naik juga kan. Gak bikin jadi gelandangan juga. Apalagi mati cuma kasih like.
Mohon ya para readers like sama komennya!!
__ADS_1