
Sungai dengan luas sekitar 4 meter panjangnya entah berapa dengan bebatuan besar ada di tengah sungai itu dan beberapanya lagi ada di tepi sungai. Aliran air sungai itu begitu menenangkan, Airnya sangat jernih hingga krikil-krikil kecil bisa terlihat dari permukaan dengan ikan-ikan kecil berenang melawan arus.
Air sungai itu sangat dangkal sekitar setengah meter tidak sampai menenggelamkan lutut Emine yang langsung masuk ke dalam sungai.
Emine bersandar di batu besar lalu menuduk membasuh wajahnya.
" Wahhhh,,, Segar sekali,,," Ucapnya setelah air sungai yang terasa dingin mengusap lembut wajah mulusnya.
" Hai,,, apa yang kau lakukan disana? Cepat kesini!!" Meli yang sedang menyiapkan tempat untuk bersantai menoleh kebelakang saat mendengar suara Emine.
" Jangan kawatir!! Aku tidak akan tenggelam di air sedangkal ini."
" Aishh,,, dasar keras kepala." Meli segera membuka sepatunya dan ikut masuk ke dalam air untuk menjemput Emine. " Kau memang tidak akan tenggelam, tapi bagaimana jika kau terpleset dan membentur batu-batu disini? Bisa Amesia kau nanti." Oceh Meli memegang lengan Emine dan menuntunnya ketepian.
Tak lama kemudian Ozgur datang bergabung bersama Emine dan Meli.
Mereka bertiga bersantai diatas permadani lembut dengan tenang. Tidak ada suara bising kendaraan yang ada hanya kicauan burung dan suara bambu diterpa angin.
Emine dan Meli sibuk mengisi perut mereka dengan roti lapis ditemani susu kaleng. Sedangkan Ozgur sibuk mengutak ngatik ponselnya untuk memantau pergerakan Kemal lewat bodyguard yang tersebar di Turki.
" Astaga aku lupa." Meli mengambil makanan ikan di sampingnya lalu beranjak pergi menuju sebuah batu besar yang terletak di antara sungai dan tepian sungai.
Emine juga ikut bediri menyusul Meli.
" Wahhh,,,, apa kau yang membuat ini?" Tanya Emine kagum melihat ada ikan koi berbagai warna di atas batu yang memiliki lubang besar.
" Aku hanya menambahkan air dan ikan disini, batu besar ini sudah berlubang seperti kolam semenjak aku datang kemari." Ucapnya menoleh keatas melihat wajah Emine yang masih berdiri.
" Tapi bagaimana kau bisa merawat ikan-ikan ini?" Tanya Emine menyetarakan posisi dengan Meli.
" Tuan Helik yang merawat dan menjaga mereka." Ucap Meli sambil menaburkan makanan ikan.
" Tuan yang ada di kebun tadi?" Tanya Emine kemudian mendapat anggukan dari Meli.
Ikan-ikan koi itu saling berebut makanan, ada yang sampai memunculkan moncong mulut mereka berharap mendapat makanan lagi. Emine tidak tahan untuk tidak menyentuh ikan-ikan cantik itu. Ia mencelupkan jari telunjuknya berusaha menyentuh kulit licin ikan-ikan yang berenang kepermukaan. Emine terlihat bahagia dengan senyum tipis cantiknya, ia menyukai sesuatu yang memiliki fariasi warna seperti ikan-ikan ini dan bunga-bunga mawar di taman Velief.
" Emine, aku ingin meminta maaf padamu." Ucap Meli tiba-tiba mengalihkan perhatian Emine kepadanya.
" Minta maaf, untuk apa?" Ucap Emine bingung.
" Kemarin aku tidak datang untuk menemani mu. Aku minta maaf." Ucap Meli merasa bersalah.
" Tidak apa-apa!!! Aku yang memintamu untuk tidak datang, jadi kau tidak perlu meminta maaf!! Kau pasti merasa takut dengan ku karena kejadian kemarin dan Kau pasti juga tidak menduga aku bisa bertindak sekejam itu." Ucap Emine menatap Meli dan mendapat senyuman tipis.
" Aku percaya kau adalah orang baik. Aku hanya terkejut, kejadian itu tepat terjadi di depan mataku. Aku belum pernah melihat darah keluar dari kepala secara langsung dan belum pernah mendengar suara tembakan."
" Darimana kau tau aku adalah orang baik?" Tanya Emine penasaran apa yang ada di kepala Meli hingga mengatakan dirinya adalah orang baik setelah melakukan pembunuhan.
" Tuan Ozgur yang memberitahu ku. Dia juga mengatakan kau pernah koma selama 1 bulan bahkan pernah mati karena menyelamatkan Nyonya Velief. Itu hanya dilakukan oleh orang baik dan berhati tulus. Siapa yang mau mengorbankan dirinya sia-sia? kalau bukan malaikat." Ucap Meli memuji Emine.
Emine tidak merasa terbang atau bangga dikatakan sebagai malaikat tapi ia malah cemas akan sesuatu.
" Sial, Apa Ozgur juga memberitahu identitas asliku? " Gumam Emine dalam hati kawatir jika identitasnya sebagai pencuri malam diketahui Meli. Tidak boleh sembarang orang mengetahui siapa Emine sebenarnya karena itu sangat berbahaya mengingat Emine adalah seorang buronan polisi.
" Apa lagi yang dikatakan Ozgur kepada mu?" Tanyanya dengan wajah serius berharap Meli tidak mengetahui IDnya.
" Hanya itu. tidak ada lagi." Ucap Meli yakin menggeleng-gelengkan kepalanya.
" Untunglah." Gumam Emine merasa lega.
" Nona, kita harus pulang sekarang!! Nyonya Velief sudah berada di rumah." Tiba-tiba Ozgur berbicara dari belakang.
" Bukanya nanti malam pesawat kakak Velief tiba di Brussels?" Tanya Emine terkejut akan kepulangan Velief diluar jadwal.
" Aku juga tidak tau." Jawab Ozgur menunjukan ekspresi bingung.
Segera Emine pulang ke rumah, tapi Meli tidak ikut. Baru saja Meli menerima panggilan dari dosennya untuk ke kampus karena Meli ketahuan telah memalsukan surat keterangan sakit yang ia gunakan untuk tidak mengikuti perkuliahan selama seminggu ini. Emine sempat bingung dan bertanya-tanya apa yang dikakukan gadis itu selama seminggu absen dari mata kuliahnya.
Velif duduk di sofa bersama Mehmet putranya berada dalam pangkuan. Velief sangat merindukan Mehmet, ia tidak henti-hentinya mencium hidung sang buah hati ditengah aksinya yang sedang menghibur Mehmet.
" Uuuu,,,.my lovely. Kau rindu mama sayang? iya? jadi kau merindukan mama? Ooooo,,,, manis sekali anak mama. Cup muachhh,,,," Ucap Velief bermain-main dengan Mehmet yang hanya menunjukan suara tawa rengekannya.
" Kakak, kau pulang mendadak sekali. Apa terjadi sesuatu?" Tanya Emine berjalan kearah Velif dengan cemas.
Velief tersenyum bahagia bisa melihat wajah cantik Emine lagi.
" Kau lihat sayang,,, Kakak Emine sudah pulang." Ucapnya memberi tahu Mehmet.
Emine duduk di samping Velief.
__ADS_1
" Tidak. Semuanya baik-baik saja. Aku tidak bisa menahan rinduku pada kalian, jadi aku menyelesaikan pekerjaan lebih awal." Jelas Velief menghilangkan rasa kekawatiran Emine.
Emine tersenyum lega. Ia mengira telah terjadi sesuatu. Ternyata hanya perasaannya saja.
Untuk merayakan kepulangan Velif sekaligus kepulangan Emine ke Turki besok pagi, Semua orang berkumpul di halaman belakang mengadakan acara kecil-kecilan disana. Halaman yang tadinya kosong hanya ada satu pohon apel, kini begitu ramai. Ada sekitar 20 orang disana termasuk Emine.
Ada Tenda dapur di sisi halaman, Bibi putu dan asisten lainnya bertugas disana untuk memasak. Para Bodyguard yang tidak mendapat tugas, mereka duduk di kursi yang sudah disiapkan ditemani wine mewah sembari menunggu makanan matang. Ozgur dan 2 bodyguard mendapat tugas memanggang ayam. Sedangkan Emine dan Velief bercengkrama dibawah pohon apel bersama Mehmet dan bebysisternya.
Halaman itu sudah diatur sesuai kebutuhan. Ada lampu tumbler di lilitkan dari batang sampai ujung pohon apel untuk menghiasi suasana malam nanti. ada meja makan panjang untuk menampung semua orang saat waktu makan sudah tiba, ada lampu-lampu tambahan yang diletakan untuk menerangi halaman ini saat malam menyapa, Beberapa kembang api super juga telah disiapkan untuk nanti menjadi penutup acara.
Ozgur datang membawakan segelas Wine untuk Emine yang sedang ada di tenda dapur melihat-lihat kegiatan disana.
" Mau wine Nona?" Menyodorkan Wine saat Emine tepat akan berbalik.
Emine sedikit terkejut.
" Tidak. Aku harus menjaga kondisi ku. Besok adalah hari aku pulang ke Turki."
" Hanya 1 gelas tidak akan membuatmu mabuk." Ucap Ozgur masih menyodorkan Segelas wine itu.
Emine berfikir yang dikatakan Ozgur itu benar, lagi pula dirinya sudah lama tidak minum alkohol.
" Baiklah." Mengambil wine merah dari tangan Ozgur lalu mereka berdua berjalan ke arah Kursi taman berwarna putih lalu duduk.
" Ozgur. Aku ingin meminta maaf jika belakangan ini aku membuat mu kesal." Ucap Emine setelah meneguk Winenya yang tidak ia habiskan dalam sekali tegukan.
" Apa ini Nona,,,? Semacam ucapan perpisahan." Balas Ozgur sedikit tertawa membuatnya terlihat semacam lelucon padahal Emine sedang serius.
" Ozgur. jangan memancing kemarahan ku!! Aku tidak bercanda. Aku ingin saat aku pulang nanti, tidak ada lagi beban. Aku tidak ingin kau dendam padaku dan juga sebaliknya. Jadi aku minta maaf jika aku salah padamu. Dan sebaiknya kau juga minta maaf padaku!!! agar tidak hanya aku saja yang meminta maaf." Kalimat terakhir Emine memberi kesan bahwa dirinya tidak iklas meminta maaf pada Ozgur.
Ozgur berdecih kesal karena mengira Emine mengucapkannya dengan tulus.
" Seharusnya aku sadar, dia tetaplah wanita menyebalkan." Ucapnya kesal dalam hati lalu meneguk wine yang ia bawa sampai habis.
" Nona jika maaf mu adalah semacam kata perpisahan, maka simpan dulu permintaan maaf mu sampai 1 minggu yang akan datang!!!" Ucap Ozgur menatap 2 anak buahnya yang sedang memanggang di samping tenda dapur.
" Kenapa begitu?" Tanya Emine menatap Ozgur penasaran.
Ozgur melempar pandangannya pada Emine. Mereka berdua saling menatap. Emine menatap Ozgur penuh tanda tanya sedangkan Ozgur menatap Emine untuk melihat ekspresi Emine saat mendengar ucapannya.
" Karena Nyonya Velief memerintahkan aku untuk menjaga Nona di Turki selama 1 minggu."
" Apa? Kau dan aku? di Turki? Selama 1 minggu?" Tanya Emine penuh keterkejutan di setiap suku katanya.
Ekspresi Emine menunjukan ia tidak suka dengan berita ini. Ozgur hanya merespon menganggukan kepalanya dengan senyum manis lalu pergi karena tak ingin mendengar rengekan dan keluhan Emine.
" Kau pikir aku senang dengan semua ini? Semenjak kejadian itu, berada di dekatmu bagaikan berada di dekat neraka." Gumam Ozgur yang belakangan ini hidupnya penuh dengan teriakan nyaring dari Emine dan ancamannya.
" Tidak, tidak, tidak. Kenapa nasibku selalu sial seperti ini?? Pria itu, aku tidak ingin bersamanya,,, huaaa,,,,," Emine frustasi karena harapannya untuk goodby dari Ozgur telah sirna. Sebenarnya Emine selalu merasa malu jika melihat Ozgur, Pria yang sudah melihat tubuhnya hampir telanjang.
Emine mengingat lagi sekilas kejadian itu dimana dirinya membalikan badan untuk melihat siapa yang keluar dari kamar mandi. Di saat itulah ia merasa malu karena tengtop yang ia kenakan adalah tengtop transparan yang benar-benar tembus mata. Belum lagi celana yang ia kenakan hampir menyerupai CD.
" Huaaaaa,,,,," Mengacak rambutnya semakin frustasi.
Malam telah tiba. semua makanan sudah siap di meja. orang-orang menempati kursi bagian mereka masing-masing.
" Selamat menikmati makanannya!!!" Ucap Velief sebagai tanda bahwa makanannya sudah bisa di santap. Semua orang mengambil makanan dengan tertib untuk menjaga etika karena sedang makan bersama Nyonya Velief dan Nona Emine.
Velief tesenyum bahagia melihat semua orang makan dengan lahap kecuali Emine yang piringnya hanya berisi sayur mentah dan secuil ayam dengan minuman original berwarna bening. Nafsu makan Emine sudah turun drastis.
Pesta kembang api akhirnya tiba. 5 kembang api berbentuk box dengan 300 short berjejer rapi di tengah-tengah halaman. 5 bodyguard bersiap menyalakan sumbu kembang api di posisinya masing-masing.
" APA KALIAN SIAPPP???" Teriak Ozgur kepada semua orang.
" SIAP!!!!!" Balas teriak serentak dari semua peserta.
" KITA HITUNG BERSAMA!!! 1. 2. 3. NYALAKAN....!!!!"
" DUAR,,,DUARDUAR,,DUAR,,PREPETPETPET,,,DUAR,,CWIIIITTTTTTT DUAR,,, HOREEEEE,,,,PROK,,PROK,,PROK,,, DUAR,,,CWIIIIIITTTTTT DUAR,,,HUUUUUU,,,,,," Suara kembang api bercampur dengan suara ricuh kegembiraan dari mereka semua.
" Waooooo,,, indahnya." Ucap Emine menganga memandangi semburan cahaya warna warni menghiasi langit mlam.
" Awas ada nyamuk masuk ke mulut mu Nona cantik." Ucap Velief tiba-tiba datang. Emine refleks menutup mulutnya dan tersenyum ke arah Velief. " Ini." Velief menyodorkan kertas pada Emine.
Emine mengambil kertas itu dan langsung membukanya.
" Trimakasih kakak." Ucap Emine dengan mata berbinar bahagia setelah melihat deretan angka yang tertulis di kertas itu.
" Cepat hubungi kakek mu!!" Velief juga ikut tersenyum karena berhasil membantu Emine mendapatkan nomor ponsel kakek tua yang bahkan tidak bisa dilacak dan tidak terdaftar alias nomor ilegal.
__ADS_1
Emine mengangguk lalu meninggalkan keramaian ini menuju kamarnya untuk menelfon kakek tua.
satu per satu angka itu dimasukan dengan teliti lalu ponselnya ditempelkan ke telinga. Rasa bersalah karena telah menghilang tanpa kabar membuat Emine gugup untuk berbicara kepada kakek tua. Tapi rindunya pada sang kakek sudah tak terbendung lagi. Selama ini Emine kesulitan menghubungi kakek tua karena surel yang dikirimkan tidak pernah mendapat balasan, Emine ingin menelfon tapi karena pernah mengalami koma jadi ia lupa beberapa digit nomor kakek tua.
" Aku sudah tidak menyediakan jasa pencuri lagi. Apa kau mengerti??" Suara kakek tua terdengar serak. Kakek tua mengira telfon itu dari seoarang klien.
Air mata Emine jatuh tak tertahankan ketika mendengar suara kakek tua. Kebahagian, kesedihan, kerinduan dan rasa bersalah melebur menjadi satu.
" Kakek ini Emine hiks,,, kakek Emine rindu kakek,,, Maafkan Emine kek!! hiks,,, " Emine teriasak dalam tangisnya yang begitu menyedihkan.
" Kenapa kau selalu menghantaui kakek Emine? Kakek sering melihat bayangan mu dirumah ini. Bahkan sekarang kau muncul di telfon. Kakek tau kau belum tenang disana dan belum bisa memaafkan kakek tua yang bodoh ini. maafkan kakek Emine!! maafkan kakek!! Kakek sangat menderita disini. Ini mungkin hukuman untuk kakek." Kakek tua menangis sedih. Ia menganggap orang yang ada di telfon adalah halusinasinya semata karena ia berada dalam pengaruh alkohol. Kakek tua tidak percaya itu Emine.
Mendengar kakek tua menangis semakin menyayat hati Emine. Suara kakek tua terdenger kacau.
" Kakek ini benar Emine. hiks,,,Aku Emine gadis nakal yang telah kakek angkat dari panti. Emine masih hidup, Emine selamat hiks,,, jangan menangis lagi kek!! Emine minta maaf telah membuat kakek kawatir."
" Kau,,, kau tidak berbohong kan? Kau bukan hantu Emine yang sering muncul dirumah ini dan berpindah ke telfon kan? Kau,, kau ini benar Emine cucuku?" Tanya kakek tua terbata-bata penuh harapan.
Di suasana mengharukan seperti ini, kakek tua berhasil mengubris tawa Emine. Bagaimana bisa hantu bisa menelfon?
" Tidak kakek. Aku bukan hantu. Aku Emine." Ucap Emine meyakinkan.
Kakek tua bahagai di dalam rasa kesal yang sekarang sudah meledak.
" Dasar anak nakal. Kau membuatku gila. Kau keterlaluan Emine. Kau,,, Kau membuat kakek himpir mati disini. Kau cucu ndurhaka satu-satunya di dunia ini. Kakek,,, merindukan mu Emine. Cepatlah pulang!!" Kakek tua melampiaskan kerinduannya dalam bentuk omelan dan ocehan. Untuk pertama kalinya telinga Emine tidak terasa sakit mendengar omelan kakek tua, ia tersenyum bahagia bisa mendengar nada suara itu lagi.
" Aku akan pulang besok kakek. Aku akan mengirimkan alamat diamana pesawat ku akan melandas. Sekarang tidurlah!! ini sudah malam. Jaga kesehatan kakek!!" Ucap Emine kepada kakek tua.
" Baiklah. kau juga tidur!! Kakek akan menjemputmu nanti." Balas kakek tua.
Kakek tua dan Emine mengakhiri telfon mereka.
Emine mengambil tisu di dekat jendela untuk menghapus air matanya.
Sebuah cahaya masuk menembus jendela sekaligus tirai kamar Emine.
Sontak Emine langsung membuka tirai itu dan melihat keluar kamar. Seorang pria mengarahkan senter ke rumah ini. Emine curiga dengan pria itu lalu mengambil pistol kemudian diselipkan di pinggangnya dan keluar menemui pria itu.
Di halaman belakang masih ramai meski pesta kembang apinya sudah selesai. Mata Emine mencari-cari sosok pria yang selalu ia marahi belakangan ini dan pria itu ada di meja makan bersama bodyguard lainnya sedang menikmati wine.
" Ozgur. Ikut aku!!" Ucap Emine langsung menarik tangan Ozgur.
Bodyguard lainnya memandang kepergian Emine dan Ozgur seksama kemudian melempar senyum kepada masing-masing bodyguard lainnya.
" Wahhh,,, Jangan-jangan Ozgur dan Nona Emine sudah love love.hihihihi,,,, " Ucap salah satu bodyguard yang sudah mabuk memprofokasi bodyguard lain untuk berfikir bahwa Emine dan Ozgur memang memiliki hubungan spesial.
Ditengah perjalanan mereka menuju keluar gerbang rumah, Emine sudah memberitahu Ozgur ada seseorang yang mencurigakan di luar.
" Hai pak, apa yang sedang kau lakukan?" Tanya Ozgur langsung kepada lelaki yang sudah berumur di depan rumahnya dengan tatapan tajam.
Pria itu terkejut tak sengaja mengarahkan senternya ke arah Emine.
Emine menutup matanya dengan punggung tangan menghalangi sinar putih menyilaukan itu.
" Aishhhhh,,,,," Ozgur kesal lalu merebut senter pria itu yang masih mengarah pada Emine dan melemparnya ke selokan.
" Maaf tuan, saya hanya mencari kucing saya yang lari kesini. Saya tidak bermaksud apa-apa tuan." Pria itu takut melihat Ozgur yang sepertinya salah paham padanya.
" Benarkah tuan?" Tanya Emine merasa curiga kepada lelaki ini.
" Iya Nona. Saya tidak berbohong." Jawab pria itu.
Ekspresi dan tingkah pria itu berhasil membuat Emine dan Ozgur percaya.
" Sekarang sudah malam. Kembalilah besok!! Aku akan membantu menangkap kucing mu jika aku melihatnya." Ucap Emine secara tidak langsung menyuruh pria itu segera pergi.
" Baiklah Nona. Trimakasih dan maaf sudah mengganggu. Saya permisi." Pria itu pergi dari sana. Ozgur dan Emine juga ikut pergi masuk ke dalam rumah dengan rasa curiga yang sudah hilang.
" Aku sudah menemukannya. Kirim pasukan untuk mengintai rumah atas nama Velief Muhrel!! Dia ada di rumah ini." Ucap pria itu kepada rekannya lewat mikrofon yang terpasang di telinga.
Ternyata oh ternyata, pria itu adalah seorang polisi yang sedang menyamar.
*
*
*
Jangan lupa like + Komen + follow juga akun Author ya!!!
__ADS_1