Wanita Seribu Luka

Wanita Seribu Luka
Biar Aku Yang Pergi.


__ADS_3

Masih di tempat yang sama di rumah seorang polisi telah terjadi banjir yang membuat pemiliknya kerepotan setengah mati.


Setelah berhasil menghentikan air yang menglir keluar dari pipa wastafel, kini Okan di buat pusing memikirkan bagaimana caranya mengatasi kondisi rumahnya yang sudah tak karuan.


" Emine, kau diam disana!! Lantainya licin, ini sangat berbahaya." Okan memerintah Emine untuk diam di tempat. Emine pun mematuhinya kemudian duduk di anak tangga ke tiga dari bawah karena tangga pertama dan kedua telah hilang di telan air.


Okan pun memulai pekerjaannya. Mulai dari membersihkan dapur, menata barang-barang yang berantakan, mengeluarkan barang-barang yang basah seperti sofa dan karpet, terakhir mengeringkan lantai. Pria itu sudah terlihat kelelahan namun berusaha terlihat kuat ketika lalu lalang melewati Emine.


" Okan, Lantainya biar aku saja yang mengepelnya. Kau beristiratlah dulu!!" Emine turun dari tangga hendak mengambil alih pekerjaan kekasihnya.


" Tidak usah, Kau sedang hamil, bagaimana jika terpleset. Lihat ini!! Sangat licin." Okan memperagakan kakinya yang di pleset-plesetkan di lantai bermaksud menunjukan bahwa lantai itu benar licin lalu,,,,


SWINGSSS,,,,,, GDBRAKKKKK, , , , ,


" Aghhhhhh,,,, pinggang ku,,, aghhh,,,," Okan meringis kesakitan memegangi pinggangnya yang terasa patah. Ia terjatuh begitu keras di lantai.


Emine terkejut kemudian menghampirinya dengan hati yang cemas. Ia panik, tidak tau harus berbuat apa saat Okan terus meringis.


" Kau baik-baik saja? Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan? ini yang sakit? Tidak? Lalu yang ini?" Tanya Emine benar-benar panik.


" Aghhhh,,,, Jangan menekannya,,,!!" Okan menjerit kesakitan ketika Emine tidak sengaja menekan pinggangnya. " Bawa aku ke atas!!" Mintanya lanjut.


" Maaf aku tidak tau, Baiklah,,, Ayo bangun!! bertahanlah!!!" Ucapnya sendu.


Emine hendak membantu Okan berdiri tapi tiba-tiba Serin datang.


" Astaga,,, Okan, apa yang terjadi??" Serin terkejut melihat Okan di lantai lalu tanpa sadar Serin merebut posisi Emine yang hendak membantu Okan berdiri.


Tubuh Emine di hempaskan kebelakang, Emine pun sempat terkejut oleh sikap Serin yang sangat aneh. Siapa pun akan kawatir melihat Okan seperti ini, tapi kekawatiran Serin terlihat tidak biasa.


" Ayo pelan-pelan saja!!" Ucap Serin membantu Okan berdiri lalu memapahnya naik ke atas.


Emine menatap kepergian dua orang itu dari bawah. Ada sedikit rasa tidak terima dari perasaan Emine melihat punggung dua orang yang membelakanginya. Emine mencoba mengusir hal-hal negatif yang mulai bermunculan. Tapi mengingat sikap Serin yang terlalu berlebihan membuat Emine tidak bisa berfikir dengan tenang.


Okan sudah berbaring menyandarkan punggungnya di kepala ranjang saat Emine tiba di sana. Hati Emine semakin terpukul melihat Serin begitu dekat dengan Okan. Emine hanya melihat dari balik pintu dengan hati yang pilu.


Selain sikap Serin yang aneh ada satu hal lagi yang membuat Emine semakin penasaran dengan hubungan mereka yaitu Serin mengetahui dimana kotak obat di simpan. Mungkin hal ini begitu kekanak-kanakan untuk di jadikan alasan kecurigaan tapi Serin seakan-akan sudah terbiasa dan hafal dengan isi rumah ini.


Okan menyadari sedari tadi Emine mengamati dirinya dengan Serin dari balik pintu. Ia segera menepis tangan serin yang ingin mengoleskan obat pereda nyeri. Okan menatap Emine, ia takut Emine akan salah paham.


Emine tersenyum ramah mencoba menunjukan dirinya baik-baik saja kepada pria yang sedang menatapnya. Ia berjalan dengan tegar meski tadi sempat terlupakan.


" Serin, Jika kau perlu sesuatu panggil saja aku!! Aku ada di bawah. Aku harus membersihkan lantai disana." Ucap Emine lalu pergi tanpa berbicara pada Okan sepatah kata pun bahkan tidak melirik pria itu saat berbalik pergi.


" Ya, Baiklah." Jawab Serin.


Okan tau Emine sedang menyembunyikan kemarahannya tapi ia tidak bisa mengejar wanitanya.


Membiarkan calon suaminya berada di kamar yang sama dengan wanita lain itu tidaklah mudah. Namun, Emine merasa tetap di sana hanya akan membuatnya terbawa arus cemburu.


" Apa yang kau fikirkan? Serin adalah sahabat mu, dia juga sahabat Okan. Kenapa harus kawatir? Emine, kau tidak boleh berfikiran yang aneh-aneh!!" Ucap Emine kepada diri sendiri. Kata hati dan logikanya tidak selaras.


Sampainya di lantai bawah, Emine pun memulai pekerjaannya. Ia mengeringkan lantai yang basah dengan sangat hati-hati.


" Ayah mu itu sangat ceroboh. Kau pasti juga melihatnya kan sayang? Ayah mu terjatuh. Kau pasti menertawai ayah mu itu. Dasar anak nakal. Baik-baiklah di sana sayang!! Ibu mu ini ingin segera melihat mu. Tunggu sebentar, lebih bagus panggil ibu atau mama? Sepertinya mama lebih bagus. Ibu terlalu formal dan juga kuno. Hihihi,,, baiklah,, panggil mama ya sayang!!!" Celoteh Emine berbicara pada anaknya sambil mengepel lantai.


" Emine, kau sedang berbicara dengan siapa?" Serin bagaikan hantu, kemunculannya selalu tiba-tiba tanpa memperlihatkan tanda-tanda. Bahkan Serin menuruni anak tangga tanpa suara langkah kaki membuat Emine terkejut.


" Oh itu,,, Itu,,, Aku,,, aku tidak berbicara." Respon Emine terbata-bata karena tidak tau harus berucap apa.


Entah kenapa Emine tidak ingin memberi tahu Serin bahwa ia sedang hamil anak Okan.


" Tapi, tadi aku mendengar kau sedang berbicara." Serin yakin mendengar suara meski ia tidak mendengar dengan jelas.

__ADS_1


" Mungkin kau salah dengar. Sungguh dari tadi aku hanya fokus mengepel." Jelas Emine.


" Ya,,, mungkin. Tapi, aku yakin mendengar suara."


" Berhenti mengatakan hal itu Serin, kau membuat ku merinding." Emine mengalihkan aura suasana pembicaraan menjadi horor.


Serin pun jadi ikut merinding. Ia memegangi bulu lehernya yang berdiri lalu menetap sekeliling rumah dengan perasaan takut jika sampai benar suara yang ia dengar adalah suara hantu. Serin segera melupakan suasana horor itu kemudian pergi ke dapur.


Emine juga segera menyelesaikan pekerjaanya lalu melihat apa yang sedang di kerjakan Serin di dapur.


" Kau memasak?" Tanya Emine sambil menggigit apel di tangannya.


" Apa kau kira aku sedang berkebun di sini?" Respon Serin bercanda sambil tersenyum. Emine tertawa mendengarnya, Serin pun ikut tertawa untuk lelucon pasarannya. Untuk beberapa detik hangatnya persahabatan mereka kembali muncul.


Serin menatap Emine yang masih tertawa, untuk sekejap tawa Emine membuat hatinya hangat tapi lagi-lagi kenyataan tentang Emine adalah kekasih dari pria yang dicintainya membuat hati Serin dingin kembali. Serin pernah melewati canda tawa bersama Emine dan kini hanya tinggal rasa benci yang tersisa.


" Andai takdir tidak sekejam ini, kau pasti akan terus menjadi sahabat ku. Sayangnya takdir tak seindah yang kita harapkan." Gumam Serin dalam hati sungguh menyayangkan kisah persahabatannya bersama Emine.


" Apa ada yang salah dengan ku? kenapa kau menatap ku seperi itu?" Tanya Emine usai tertawa kemudian menyadari Serin sedang menatapnya.


" Tidak, kau terlihat cantik saat tertawa. Sungguh, aku iri pada mu Emine. Aku juga ingin memiliknya, Kau sangat beruntung." Jawab Serin. Emine tidak sadar ada arti lain yang tersembunyi dari ucapan wanita di depannya.


" Kau meledek ku Serin? Jelas-jelas kau juga sangat cantik. Kau pasti sedang membodohi ku. Aku tidak akan terbang dengan pujian mu itu." Ucap Emine yakin serin sedang membodohinya.


" Terserah kau saja mau percaya atau tidak." Ucapnya sedikit acuh lalu melanjutkan lagi aktivitas dapurnya.


Serin mengambil banyak jenis sayuran dari dalam kulkas.


" Kau mau masak apa?" Tanya Emine penasaran.


" Sup kesukaan Okan. Dia sangat menyukai sup buatan ku. Dulu, dia sering meminta aku untuk membuatkannya." Ucap Serin sengaja memanas-manasi Emine.


Ucapan Serin berhasil membuat Emine terdiam, bahakan ia tidak tahu makanan kesukaan Okan.


" Okan lebih suka jika sayur berwarna hijau lebih banyak dari sayur kol." Celetuk Serin ketika melihat Emine memotong sayur kol dengan porsi ekstra.


Bahkan Emine juga tidak tau tentang hal itu. Segera Emine menghentikan memotong sayur kolnya dan berpindah pada sayur yang berwarna hijau.


Setelah menyelesaikan sayurannya, Serin meminta Emine membantu memotong daging sedangkan ia fokus pada bumbu-bumbunya karena itu adalah poin utama.


Emine tidak melihat ada daging di meja ia pun mengambil dari dalam kulkas.


" Emine, daging apa itu?" Tanya Serin.


" Sapi. lalu daging apa lagi?" Jawab Emine sedikit heran karena untuk sup memang lebih cocok dengan daging sapi.


" Emine,,, apa kau tidak tau Okan lebih menyukai daging ayam? Dia tidak suka memakai daging sapi untuk supnya." Jelas Serin sudah seperti koki di rumah ini.


" Oh,, maaf. Aku tidak tau." Respon Emine kemudian mengganti daging sapi itu dengan daging ayam. Emine merasa buruk di depan Serin.


" Tidak apa-apa." Sahut Serin.


Setelah semua siap, Serin mulai memasukan bahan-bahannya ke dalam teflon. Mulai dari bumbu, daging ayam lalu sayuran namun wortel yang seharusnya di masukan lebih awal dari sayuran lainnya karena memiliki tekstur yang keras malah di masukan paling akhir. Emine pun bertanya.


" Okan suka wortel mentah, tapi ia tidak suka wortel matang jadi untuk wortelnya di masak setengah matang." Jawab Serin sambil mengaduk sup itu.


Serin tau semua hal yang tidak di ketahui Emine. Bagaikan Serin adalah kekasih Okan sedangkan Emine hanyalah orang asing yang tak tahu apa-apa.


Emine merasa ada yang kurang dari sayurannya, ia melihat seledri di atas meja kemudian tersadar seledri belum di masukan ke dalam sup itu. Ia memotong seledri dengan ukuran lumayan besar lalu memasukannya saat Serin sibuk membuat jus.


" Apa yang kau tambahkan?" Serin tiba-tiba berada di belakang Emine.


" Aku hanya menambahkan seledri." Jawab Emine percaya kali ini yakin yang ia lakukan tidak salah lagi.

__ADS_1


" Astaga Emine, Okan sangat tidak menyukai seledri. Ia bisa muntah jika mencium baunya." Dengan cepat Serin membuang seledri itu ke bak sampah.


Lagi dan lagi Serin secara sengaja menyadarkan Emine bahwa ia adalah wanita terburuk yang tidak tahu selera kekasihnya sendiri. Emine merasa sedih, rasanya ia ingin menangis di balik bantal menyembunyikan wajahnya. Semua yang dilakukakannya hampir semua salah tidak ada yang benar.


Hanya butuh beberapa menit, Sup pun sudah matang. Serin mengantarkannya ke dalam kamar Okan. Sedangkan Emine, ia seperti pembantu di rumah kekasihnya sendiri. Emine membersihkan dapur dari sisa-sisa sayuran yang berceceran di sana.


Emine melihat jus yang dibuat Serin masih ada di atas meja. Serin melupakannya. Emine pun berinisiatif untuk membawanya ke atas.


" Okan, makanlah!! Aku membuatkan sup kesukaan mu." Serin meletakannya di atas meja.


" Dimana Emine?" Tanya Okan tidak melirik sup itu sedikit pun. Dulu sup itu memang kesukaannya tapi tidak dengan sekarang.


" Dia ada di bawah." Jawab Serin menahan kesalnya karena Okan malah menayakan Emine.


" Serin, kau pulanglah!! Aku tidak ingin Emine salah paham." Minta Okan terang-terangan.


" Okan, kau tega mengusir ku? Emine tau kita adalah teman, dia tidak akan salah paham." Ucap Serin marah dan kecewa.


" Aku tidak bermaksud seperti itu Serin, mengertilah!!" Okan mencoba menenangkan Serin yang nampaknya tidak bisa mengerti ucapannya.


" Kau keterlaluan Okan. Sungguh kau keterlaluan." Serin mulai merasakan panas di sekujur tubuhnya, ia hendak pergi namun langkah kaki menaiki anak tangga terdengar di telinga. Serin tau siapa itu. Ini adalah kesempatan emas baginya.


Dengan sangat disengaja, Serin pura-pura terpleset. Ia tahu Okan tidak akan membiarkannya jatuh. Seperti duga'annya, Okan yang masih bersandar di tempat tidur itu refleks menarik tangan Serin hingga wanita itu berbalik dan jatuh di pelukannya.


Satu poin emas berhasil di dapatkan Serin saat Emine tiba tepat di adegan tangannya di tarik Okan seakan-akan Okan sengaja menarik tangan Serin dan membuatnya jatuh di pelukan pria itu. Emine tidak melihat Serin yang terpleset meski itu hanya pura-pura.


Lebih menyakitkannya lagi, Emine melihat Okan sepertinya sangat nyaman berada di posisi panas itu bersama Serin. Untuk waktu yang cukup lama mereka saling beradu lensa mata. Okan tidak menyadari Emine sedang berada di pintu menahan rasa sakit hatinya.


Tidak tahan lagi dengan pemandangan di depannya, Emine sengaja melanjutkan langkahnya masuk ke dalam dengan suara kaki yang di perjelas. Okan mendengar suara langkah kaki itu kemudian dengan cepat menjauhkan Serin dari tubuhnya.


Okan terkejut melihat Emine, wajahnya memerah, ia panik. Tidak tau harua berkata apa. Ia mencoba menjelaskan namun suaranya tidak jelas dan terbata-bata.


" Emine, a,,,aku,,~ Ini,, ini semua,,~ Maksud ku,,,~~" Ucap Okan seperti seorang anak kecil yang baru belajar bicara. Bahkan anak kecil bisa berbicara lebih jelas dari pada ini.


Emine meletakan jus itu di samping mangkok sup kemudian menatap Okan dengan ekspresi datar. Hanya ekspresi ini yang bisa ia tunjukan untuk terlihat kuat tidak rapuh.


" Kakek menelfon ku. Ia menyuruhku untuk pulang. Aku harus pulang sekarang. Jaga dirimu!!" Ucapnya lalu pergi meninggalkan Okan dan Serin di dalam kamar.


" Emine, dengarkan penjelasan ku dulu. Emine,,," Panggil Okan namun tak di hiraukan.


Serin tersenyum puas, ia bahagia Emine sepertinya terbakar api cemburu dan kesalah pahaman.


Emine bukanlah wanita denga hati sekeras batu dan setegar batu karang, ia menangis saat menuruni anak tangga. Kondisinya yang hamil membuat hatinya begitu sensitif. Sedikit pun ia melihat sesuatu seperti tadi maka hatinya akan terluka.


*


*


*


Hey hey hey para readers jumpa lagi bersame saye author Kim😂


Jangan lupe ye likenye and komen!!


Kalo tak de komen, sungguh novel ini terase mati. Sepiiiii,,,, kyk kuburan.


Komen lah yeee biar ramelah dikit!! Sambil ngabsenin juga para readers yang tak terlihat😂


Komen bebas lah,, sesuka kalian!!


Trms..


Selamat membaca.

__ADS_1


Muachhhh😘😘😘


__ADS_2