
Selain Okan, kedua kawan sejalannya juga ikut terkejut saat bangkit dari kursi dan mendapati Emine langsung ada di bangku belakang. Melihat Emine menangis tanpa suara membuat mereka kawatir akan nasib sahabatnya yang nampaknya akan menghadapi badai besar.
Dua polisi yang mengapit Orsan terus memaksanya berjalan meninggalkan ruangan tak mau memberi kesempatan untuk tahanan itu berhenti sebentar mengucapkan selamat tinggal pada Emine yang menatapnya dengan hati yang begitu pilu.
Orsan menatap Emine kaku karena tak menyangka wanita itu akan menyaksikan persidangannya.
Emine dengan air matanya berusaha meraih sang kakak yang terus berjalan namun ia terjatuh di lantai karena kondisinya kembali melemah. Orsan sempat cemas tapi apa daya ia tidak bisa melakukan apa-apa hingga akhirnya seluruh tubuhnya hilang di balik pintu keluar.
Okan refleks melangkahkan kakinya cepat saat melihat wanitanya bersimpuh di lantai.
" Berhenti disana!!!!" Seru Emine tegas dengan suara serak. Ia langsung tau saat mendengar suara langkah kaki mendekat itu adalah Okan. Kaki pria itu secara otomatis berhenti di jarak sekitar 4 meter dari Emine.
Seketika aura di ruangan itu langsung membeku. Tiras dan Murat mengerti dengan situasi ini kemudian membiarkan sepasang.kekasih itu menyelesaikan masalahnya berdua.
" Semangat kawan." Murat menepuk pundak Okan lalu melewatinya begitu saja.
Tiras juga ikut menyusul Murat.
" Nona Fika, sebaiknya kita biarkan mereka menyelesaikan masalahnya!!" Tiras menghampiri Fika terlebih dahulu dan mengajaknya keluar.
" Ta,,,tapi Nona Emine bagaimana?" Responnya ragu meninggalkan Nonanya.
" Tidak akan terjadi apa-apa padanya." Meyakinkan.
" Baiklah, Cansu ikut kakak ya!! Kita tunggu kakakmu di luar." Ucap Fika mendapat angukan. Awalnya Cansu menolak keluar tapi Fika berhasil membujuknya.
Mereka bertiga keluar dari ruangan meninggalkan Emine dan Okan.
Emine sudah kembali berdiri, ia menghadap Okan setelah menyeka air matanya.
" Emine,,,~~" Ucapnya terpotong ketika melangkah lagi mendekati Emine.
" Sudah aku bilang berhenti disana!!!" Peringatannya kembali dengan nada suara semakin tinggi dan sorot mata terdapat nyala api disana.
" Dengarkan penjelasan ku dulu!! Ini semua tidak seperti yang kau fikirkan." Berbeda dengan mata Emine, mata Okan memperliatkan air berusaha memadamkan api yang menguasai Emine.
" Tidak ada lagi yang perlu dijelaskan!! Aku tidak ingin mendengar apa pun dari mu Okan!! Aku,,, aku percaya padamu bahwa kau tidak akan mengecewakan ku, tapi apa? Kau sengaja melakukan ini. Kau sengaja membodohi ku. Kau tidak ingin aku menghalangi mu. Iya kan?" Ucap Emine semakin marah.
" Tidak Emine. Kau salah paham." Ucapnya kembali lagi kemudian mengabaikan perintah Emine untuk diam di tempat.
" Jangan menyentuh ku!!!" Teriak Emine. Ia mendorong tubuh Okan kasar yang hendak mendekapnya hingga pria itu terdorong kuat.
Okan hanya bisa menghela nafas frustasi ketika mendapat perlakuan tidak menyenangkan yang menggambarkan bahwa masalah bukanlah masalah sepele.
" Tenangkan dirimu!!! Dengarkan penjelasan ku!!! jangan seperti ini Emine!! Kau sedang hamil. Aku mohon." Okan sebisa mungkin menghindari emosi. Ia berbicara dengan nada suara halus.
" Tenang? kau tidak merasakan apa yang aku rasakan. Dia kakak ku, kami berpisah saat kami kecil. Dia begitu menderita lebih dari aku. Apa kau tahu? Lalu bagaimana aku bisa tenang? Aku tidak bisa Okan, itu membuat perasaan ku hancur." Emine kembali larut dalam kesedihannya tidak sadar air matanya kembali terjun.
Air mata yang terjatuh tetes demi tetes dari bola mata biru Emine membuat hati Okan hancur. Ia ingin memeluk dan menghapus air mata Emine tapi tidak berani karena itu hanya akan membuat Emine semakin marah.
" Orsan sudah tertangkap sebelum kau memberitahu ku dia adalah kakak mu dan aku sudah tidak bisa berbuat apa pun. Aku mohon mengertilah!!"
" Lalu kenapa kau tidak memberitahu ku? Seandainya kau memberitahuku saat itu mungkin kakek ku bisa melakukan sesuatu."
" Karena kondisi mu sangat buruk, aku tidak ingin terjadi apa-apa pada anak kita."
" Bohong. Kau hanya tidak ingin aku menjadi penghalang mu. Kau tidak benar-benar mencintai ku Okan." Emine sudah berada dalam pengaruh emosi hingga tidak sadar dengan apa yang ia katakan.
__ADS_1
Ucapan Emine membuat Okan terkejut. Bagaimana bisa cinta tulusnya diragukan hanya karena kesalah pahaman ini.
" Apa yang kau katakan? kau meragukan ku Emine? anak yang ada dalam rahim mu adalah bukti cintaku pada mu dan kau masih meragukannya." Ucap Okan sedikit kecewa.
" Kalau begitu aku akan menghilangkan bukti cinta palsu mu ini. Aku tidak menginginkan anak ini. Maafkan aku Okan." Emine pergi dari hadapan Okan dengan langkahnya yang cepat.
Mata Okan terbelalak mendengar ucapan Emine. Ia tidak menyangka Emine berubah menjadi wanita tidak berperasaan dalam waktu sekejap.
" Emine, jangan lakukan itu!!" Teriak Okan dengan hati yang cemas kemudian berlari menyusul Emine.
Fika, Cansu, Murat dan Tiras spontan berdiri ketika Emine keluar dari ruangan dengan wajahnya terlihat sangat kacau. Mereka menyadari bahwa konfliknya semakin parah.
Emine menghampiri Fika.
" Antarkan cansu pulang!! Aku akan pulang dengan taksi." Ucapnya tanpa ekspresi kemudian pergi. Emine tidak bisa satu mobil dengan adiknya di kondisinya yang seperti ini.
Tidak lama setelah Nona rambut pirang itu pergi, Okan muncul dengan ekspresinya terlihat panik.
" Dimana Emin?" Tanyanya langsung kepada 3 orang dewasa yang masih berdiri menatapnya penasaran. Mereka penasaran dengan apa yang telah terjadi.
" KESANA." Sahut tiga orang itu serempak menunjuk arah Emine pergi.
Okan langsung berlari secepat roket namun terlambat karena Emine sudah masuk ke dalam taksi lalu pergi.
Emine benar-benar sudah terbalut dalam amarah. Saat di dalam taksi, tidak ada sedikit niat yang terlintas di hati dan fikirannya untuk mengurungkan keputusannya menggugurkan kandungan yang sama sekali tidak bersalah itu.
Okan terus menghubungi Emine namun panggilannya terus di rijek. Emine bahkan menonaktifkan ponselnya. Hal itu membuat Okan semakin cemas dan khawatir. Ia berharap ucapan Emine hanya sebuah gertakan untuknya.
Sekarang Emine menuju sebuah apotek untuk membeli obat penggugur kandungan. Proses pembeliannya cukup lama karena tiak mudah membeli obat itu. Emine sempat berdebat dengan penjualnya. Namun perdebatan itu dimenangkan Emine saat ia menyodorkan cek dengan jumah yang banyak hingga membuat penjual itu tergoda dan memetuskan untuk mengalah.
Saat Emine ingin masuk ke dalam taksi, tangannya yang menjulur membuka pintu mobil di tahan oleh seseorang.
" Ikut aku!!!" Okan menarik paksa tangan Emine hingga Emine tidak bisa melakukan perlawanan hingga tubuhnya di paksa lagi untuk masuk ke dalam mobil.
" Aku tidak mau bersama mu." Lawan Emine mencoba kabur dari dalam mobil.
Okan mengunci mobilnya hingga Emine tidak bisa membuka pintu mobil.
" Turunkan aku!!!" Perintah Emine sangat kesal.
" Buka kuncinya Okan!! Aku tidak mau bersama mu." Ucapnya lagi ketika tidak mendapat respon apa-apa.
Okan hanya diam tidak mau merespon Emine. Ia hanya memperlihatkan raut wajahnya yang dingin tanpa ekspresi kemudian menyelempangkan sabuk pengaman pada Emine.
" Aku tidak mau memakainya." Emine menepis tangan Okan dengan kasar namun Okan berusaha bersikap sabar dan memasangkan kembali sabuk pengaman itu demi keselamatan kekasihnya.
Mobil akhirnya melaju dan Emine tidak bisa berbuat banyak. Di dalam mobil, mereka tidak ada yang membuka mulut untuk bersuara.
Okan fokus menyetir karena saking kecewanya ia mendengar ucapan Emine yang ingin menggugurkan kandungannya membuat Okan tidak bisa mengungkapkan kekecewaanya dengan kata-kata.
Sedangkan Emine lebih memilih menatap keluar jendela.
Dari rute jalan yang di ambil Okan, Emine sudah tahu ia akan dibawa ke rumah kekasihnya. Okan membawa Emine kerumahnya agar bisa mengawasi Emine untuk tidak melakukan hal yang macam-macam pada janinnya.
Sampainya di rumah minimalis 2 lantai itu, Okan kembali menarik tangan Emine menuju kedalam rumah. Ia membawanya ke dalam kamar.
" Kau akan tinggal bersama ku disini sampai kau tenang dan menyadari kesalahan mu Emine. Sampai kau kembali menjadI Emineku yang dulu." Ucap Okan dengan matanya yang sendu.
__ADS_1
Sempat hati beku wanita itu tersentuh oleh ucapan dan tatapan pria di depannya namun egonya kembali menutup mata hati Emine.
" Apa itu di tangan mu?" Okan tidak sengaja mengarahkan pandangannya pada kantong plastik yang bergelayut di sana. Ia menatapnya penasaran kemudian dengan cepat merebut benda itu.
" Kembalikan Okan!! Ini bukan urusanmu." Emine merebut kembali kantong plastik itu membuat Okan semakin curiga.
" Tunjukan padaku apa yang kau bawa!!" Tintah Okan tapi Emine malah menyembunyikannya di belakang tubuhnya.
" Tidak." Tolak Emine. Ia mulai takut. Tangannya gemetar, tatapannya panik.
" Tunjukan Emine!!!"
" Sudah ku bilang tidak!!!"
Emine bersihkeras tidak mau menunjukannya. Okan tidak bisa tinggal diam dan langsung merebut paksa kantong plastik itu.
Hati Okan terasa dipatahkan setelah melihat apa yang dibawa kekasihnya.
" Jadi kau benar-benar ingin menggugurkan anak kita?" Tanya Okan sangat kecewa.
" Aku tidak menginginkan anak ini. Kua tidak mencintai ku Okan. Berikan padaku obat itu!! Akan ku akhiri semua ini." Emine kembali mencoba merebutnya.
Terjadi perebutan yang sengit di antara mereka berdua. Okan berusaha menjauhkan obat itu dan Emine berusaha manggapainya.
" Kembalikan Okan!! Aku tidak menginginkan anak ini." Ucapnya tanpa rasa bersalah di sela-sela pertengkaran mereka memperebutkan benda itu.
Telinga Okan mulai panas mendengarkan kalimat itu berulang-ulang kali lalu,,,,,
" PLAKkkkkkk,,,,," Okan menampar Emine hingga wanita itu jatuh kelantai.
Emine tersungkur di bawah, hatinya semakin retak perlahan hancur menyerupai debu yang tertiup terbawa angin, air matanya menetes kembali. Ia terkejut Okan mampu bersikap kasar padanya.
Okan menyadari kesalahan terbesarnya. Ia tidak mampu mengendalikan emosinya. Tangannya yang diangkat digunakan untuk menampar pipi lembut Emine perlahan mulai gemetar hebat. Ia tidak menyangka akan menyakiti wanita yang dicintainya.
" Apa yang sudah aku lakukan??" Gumamnya menyesal.
" Emine, maafkan aku!! A,,,aku terlalu emosi." Okan segera menghampiri Emine yang masih bersimpuh dibawah dengan kepala menunduk kebawah. Wajahnya di tutupi oleh rambutnya yang tergerai kedepan.
Okan menegakan kepala Emine kemudian menyikap rambutnya.
Ia semakin tenggelam dalam rasa bersalah saat melihat darah di sudut bibir Emine. Ia sangat menyesalinya hingga seribu maaf pun tidak cukup rasanya untuk menebus kesalahannya.
" Emine maafkan aku." Okan mendekap tubuh Emine dengan matanya yang berkaca-kaca. Emine tidak membrontak dan membiarkan pria itu memeluknya karena ia tidak punya tenaga untuk sekedar bergerak apalagi menolak. Detik itu tubuh Emine berubah lemas, jiwanya seperti menghilang entah kemana. Hanya air matanya yang terus menetes tiada henti.
*
*
*
Maaf ya author baru bisa up sekarang🙏
Like👍
Komen💬
Vote🌹
__ADS_1