Wanita Seribu Luka

Wanita Seribu Luka
In Turki.[This is start]


__ADS_3

Di ruangan Jendral Sam, 3 orang polisi berdiri tegap dalam sikap istirahat di tempat. Wajah mereka terlihat dingin tidak menunjukan ekspresi apa pun meski sebenarnya jantung Tiras dan Murat sudah berdengup kencang melihat Jendral Sam menatap ke arah mereka tajam. Hari ini mereka datang dengan seragam formal polisinya karena menerima panggilan secara resmi dari Jendral Sam.


" Sudah cukup tugas kalian sampai disini!! aku sangat berterimakasih atas kerja keras kalian yang sama sekali tidak membuahkan hasil." Ucap Jendral Sam menghina devisi ini dengan suara beratnya. Jendral Sam dikenal sangat keras dalam menjalankan tugasnya dan selalu berbicara blak-blakan sesuai kenyataan.


Okan, Murat dan Tiras tidak bergeming sedikitpun setelah menerima sindiran yang melukai hati mereka sebagai seorang polisi. Sesuai peraturan, seorang polisi yang pangkatnya lebih kecil harus selalu menjaga etika dan tunduk akan perintah atasannya. Apa pun yang dikatakan seorang atasan itu semata-mata untuk melatih mental para anggotanya secara tidak langsung.


" 1, 2, 3." Jendral Sam menghitung anak buah yang berdiri di depannya dengan menunjuk tepat di wajah mereka. " Kalian bertiga tidak ada gunanya. Tidak becus menjalankan tugas, benar benar memalukan." Sekarang Jendarl Sam mulai meninggikan suaranya.


" Mulai besok kalian akan kembali di tugaskan ke Ankara untuk kasus ini akan di ambil alih oleh devisi pusat."


Tiras tiba-tiba merapatkan kedua kakinya mengambil sikap sempurna.


" Mohon berikan kami kesempatan Pak." Ucap Tiras dengan suara tegas dan kembali ke sikap istirahat di tempat.


Jendral Sam menyeringai meremehkan, entah sudah berapa kesempatan yang diberikan untuk menangkap pembunuh itu dan menghilangkan keresahan warga tapi tidak kunjung berhasil juga.


" Kau berani meminta kesempatan lagi??" Jendral Sam berjalan ke arah Tiras menepuk pundak Tiras santai lalu berbisik " Aku akan memberimu kesempatan tapi harus ada taruhannya!! Katakan apa yang bisa kau pertaruhkan?" Jendral Sam sengaja berbisik keras agar semua anggota mendengarnya.


Murat tak seberani Tiras, ia tak berani angkat suara. Pandangannya masih membeku kedepan tanpa berkedip. Sedangkan Tiras tiba-tiba mulutnya terasa berat tidak bisa membalas ucapan Jendral Sam.


" Saya berani berhenti menjadi polisi jika pembunuh itu tidak tertangkap dalam waktu 1 bulan." Tanpa menunggu undangan, Okan ikut bergabung di dalam percakapan yang sempat hening sesaat antara Tiras dan Jendral Sam.


Semua orang tertegun mendengar Okan tanpa ragu mempertaruhkan dirinya. Ingin rasanya Murat menarik Okan keluar dan menutup mulut Okan yang entah sadar atau tidak telah membuat dirinya terancam menjadi pengangguran.


Jendral Sam sekarang berjalan kearah Okan yang berdiri di ujung barat.


" Wahhh,,,, Okan. Jiwa kepemimpinan mu mulai muncul lagi. Kau bersungguh akan mengorbankan cita-cita yang susah payah kau raih hanya untuk kasus ini?" Tanya Jendral Sam tidak menyangka Okan berani melangkah jauh.


" Siap Pak. Saya bersungguh sungguh atas ucapan saya." Jawabnya tegas tanpa gentar.


Jendral Sam berbalik mengambil ponselnya lalu menghubungi seseorang.


" Katakan pada devisi pusat bahwa tugasnya di kasus ini dibatalkan!!!" Perintah Jendral Sam kepada orang di balik telfon.


Jantung Tiras dan Murat semakin berdebar mendengar sepertinya Jendral Sam menyetujui taruhan Okan. Jika harus memilih, lebih baik dikirim ke Ankara dari pada mengorbankan diri sendiri itulah yang ada di dalam pikiran Murat dan Tiras tapi tidak dengan ketua mereka.


" Devisi pusat telah dibatal tugaskan. Aku berbaik hati padamu untuk memberi kesempatan lagi. Tapi ingat, hanya satu bulan!! Kalau tidak berhasil, bersiaplah untuk hengkang dari profisi mu Okan!!" Jendral Sam menatap tajam ke arah Okan. Okan tetap tak bergeming, tak menunjukan rasa takut sedikit pun.


Jendral Sam kembali duduk di kursinya.


" Untuk menghargai kebranian mu ini, jika kalian berhasil dalam tugas kali ini, Aku akan mempromosikan kalian untuk naik jabatan." Ucap Jendral Sam melengkapi dengan memberi sedikit penyokong untuk membuat mereka lebih semangat.


Meski ada hadiah besar tapi dipecat dari kepolisian lebih terngiang ditelinga mereka ketimbang dipromosikan naik jabatan. Bagi mereka presentase keberhasilan dalam misi ini yaitu 80% : 20% Tentu 20% itu adalah keberhasilan.


" Terimakasih telah memberi kami kesempatan Pak." Ucap Okan lagi dengan tegas.


" Jangan membuatku kecewa lagi!!!" Ucap Jendral Sam dengan ekspresi mengancam.


" SIAP PAK.." Jawab serentak 3 polisi itu dengan tegas dan keras membuat suara mereka menggelegar di rungan Jendral Sam.


Jendral Sam tersenyum setelah mereka bertiga meninggalkan ruangannya. Wajah sangar Jendral Sam berubah menjadi wajah yang penuh kagum atas tindakan yang berani diambil Okan. Diam-diam Jendral Sam mulai mengakui Okan.


" Pemimpin masa depan." Gumam Jendral Sam untuk salah satu anak buahnya.


" Ketua bodoh. dasar bodoh. polisi bodoh." Umpat Murat kesal memukul mukul Okan dengan topi polisinya saat sudah berada di luar.


Okan yang menerima pukulan dipantatnya meringis meski sebenarnya tidak terlalu sakit. Okan berlari menghindari amukan Murat dan Murat mengejarnya tapi malang Okan tertangkap dan dipukul lagi dikepalanya bertubi-tubi hingga Okan meringkuk melindungi kepalanya dengan punggung tangan. Bisa kalian pikir, anggota mana yang berani memukul ketuanya. Itu hanya bisa terjadi pada Murat dan Okan.


Tiras yang melihat sikap kekanak-kanakan kedua temannya langsung melerai mereka berdua.


Okan masih meringis memegangi kepalanya yang cukup berdenyut itu sedangkan Murat menatap Okan kesal atas kecerobohannya mengorbankan dirinya sendiri.


" Apa yang kau katakan tadi hah? Bagaimana jika kita tidak berhasil menangkap pembunuh brengsek itu?" Ucap Murat masih kesal bahkan ia mencoba lagi untuk memukul Okan tapi dihalangi Tiras.

__ADS_1


" Kenapa kau kawatir? yang keluar hanya aku. Jika kita berhasil, kita bertiga akan naik pangkat." Okan juga terlihat kesal, dia langsung saja menyambar ucapan Murat.


" Tapi bukan berarti kau harus mengorbankan dirimu sendiri!! Pria bodoh." Walaupun Murat terlihat begitu kesal dan marah tapi dia tidak bisa menerima sikap ceroboh ketuanya.


" Yang dikatakan Murat benar Okan. Kau sudah mengambil kosekuensi yang sangat besar. Ini bukan keputusan yang tepat." Tiras juga menunjukan protesnya meski tak seganas Murat. ia kawatir jika dewi fortuna tidak akan memberkati mereka.


Okan mulai kesal karena tidak ada yang membela dirinya.


" Jangan mencoba untuk mengasihani ku!! Jika kalian kawatir pada ku maka mulai sekarang kita harus bekerja lebih keras lagi!!" Okan membalikan badannya lalu pergi begitu saja memegangi kepalanya yang masih berdenyut.


Tiras dan Murat saling memandang sebentar lalu berlari menyusul Okan dan berteriak.


" Aku berjanji akan bekerja lebih keras lagi." Murat dan Tiras memeluk pundak Okan. Sekarang Okan diapit oleh kedua rekannya. Canda tawa persahabatan mengiringi kepergian mereka bertiga. Okan, Tiras dan Murat sudah saling menyayangi seperti saudara karena mereka telah bersama saat pertama kali dinyatakan sebagai 1 grup di devisi bagian kasus kriminal.


" Jika kita gagal, aku dan Tiras akan ikut mengundurkan diri dari kepolisian. Aku tidak ingin jadi pengecut yang membiarkan temannya sendiri jatuh ke jurang." Ucap Murat mendapat anggukan dari Tiras tanda setuju.


Bukannya bangga mempunyai sahabat yang setia, Okan malah memukul kedua kepala temannya.


" Aghhhhhh,,,," Ringis Tiras dan Murat refleks melepas tangannya dari pundak Okan dan menggosok-gosok kepalanya kasar.


" Ternyata kalian lebih bodoh dari ku. Jika aku jatuh ke jurang, kalian harus menolongku!! Bukannya malah ikut-ikutan jatuh ke jurang!!" Okan memberi pengertian lalu merangkul kembali kedua pundak sahabatnya yang sempat terlepas.


*


Serin pergi ke gudang penyimpanan untuk mengecek bahan mentah yang baru datang dari pemasok langganan. Semua bahan makanan persedian restoran disimpan di ruangan es kedap suara ini.


" Permisi Nona, ada yang datang ingin bertemu Nona." Ucap salah satu koki restoran yang langsung datang ke gudang penyimpanan.


" Siapa?" Serin tak tau siapa yang ingin bertemu dengannya di jam malam seperti ini.


" Dia seorang lelaki. saya menyuruhnya untuk menunggu di ruangan Nona."


Serin melepas jas penghangatnya dan segera pergi dari sini menuju ke ruangan untuk melihat siapa yang datang.


" Ohhh Serin,,,maaf mengganggu waktu mu." Okan berdiri saat Serin datang.


" Tidak apa-apa. duduklah!!" mempersilakan Okan duduk kembali dengan rasa canggung yang tak pernah hilang.


Serin sudah tau tujuan Okan datang kemari untuk menanyakan informasi tentang Emine. Emine selalu menjadi alasan untuk Serin bisa semakin dekat dengan Okan dan dia senang untuk hal itu meski dirinya bukan tujuan utama.


" Kau kesini untuk mencari tau informasi Emine bukan?" Tanyanya langsung membuat Okan semakin tidak enak.


Serin tersenyum saat melihat ekspresi Okan menunjukan bahwa pertanyaannya benar.


" Aku tau dimana Emine. kau pasti terkejut melihatnya." Serin berdiri mengambil ponsel di mejanya. Membuka apl Instagram dan membuka story seseorang lalu menunjukannya pada Okan.


Okan tertegun tak percaya melihat Emine berada di Belgia. Terlihat jelas meski hanya sekilas di story itu Emine sedang menikmati makanannya. Hal yang lebih mengejutkannya lagi adalah story itu milik Meli.


" Bagaimana bisa dia ada disana?" Tanya Okan masih memutar ulang boomerang dan mencoba menghentikan video itu tepat di bagian Emine terlihat.


" Entahlah,,, aku sudah mencoba menghubungi Meli untuk menanyakan hal itu tapi tidak direspon. Kau tau sendiri Meli tidak menyukai ku." Ucap Serin terlihat sedih.


Okan mengamati screanshoot yang berhasil di dapatkan dan ternyata itu memang Emine.


" Ya ini benar Emine. Apa Emine menghindari ku sampai ke Belgia?" Okan tidak menyangka Emine bisa lari sejauh itu hanya untuk menghindari berurusan dengan polisi.


" Kau juga percaya Emine bekerja sama dengan pembunuh itu?"


Okan terdiam sejenak. Dia sendiri bimbang dengan hati dan logikanya. Hatinya berkata Emine tidak ada sangkut pautnya dengan kasus pembunuhan berantai tapi secara logika, Emine pantas untuk dicurigai karena selalu kabur dan menghilang begitu saja.


" Entahlah,,, Tapi sebagai seorang polisi aku tetap mencurigai Emine. Devisi ku masih terus menyelidiki tentang ini." Ucap Okan.


Serin bisa melihat bola mata Okan berbicara lain tentang ucapannya yang mencurigai Emine. Ada sedikit rasa takut di hati Serin, sorot mata itu terlihat tidak biasa untuk ukuran hubungan antara polisi dan saksi. Sepintas ada rasa yang lewat di mata Okan saat memikirkan tentang Emine. Entah rasa apa itu Serin tidak tau dan tetap kawatir jika benar Okan diam-diam ternyata menyukai Emine.

__ADS_1


" Serin trimakasih untuk informasinya. Ini akan sangat membantuku!! Kalau begitu aku permisi dulu." Okan beranjak dari sofa.


" Okan tunggu dulu!!" Okan berhenti, membalikan tubuhnya menghadap Serin.


" Maukah kau menemaniku untuk minun beberapa gelas wine?" Minta Serin terlihat ragu dan canggung.


Malam ini Okan tidak ada jadwal, ia sudah bekerja keras dari pagi dan malam ini tidak ada alasan untuk menolak permintaan kecil dari Serin. Lagi pula Serin sudah sangat membantunya, tidak enak rasanya jika menolak.


" Baiklah,,,," Okan duduk kembali di sofa, Serin tersenyum lalu pergi untuk memgambil wine di dapur restorannya.


Tidak lama kemudian Serin datang dengan senyum manisnya membawa nampan yang berisi 2 botol Wine berusia 2 tahun dan semangkok es batu.


Serin sebagai tuan rumah, ia menuangkan wine itu kedalam gelas lalu memberikannya pada Okan. Ia juga menuangkan wine untuk dirinya sendiri.


" Tingg,,,,,,,," Mereka berdua bersulam.


" Aghhhhhhh,,,,,,,Mnch,,,,Mnch,,," Suara berat Okan dengan berekspresi kecut karena wine ini terasa membakar tenggorokannya. Terlihat Okan berulang kali mengecapkan bibirnya menahan rasa wine yang begitu keras.


Serin hanya tersenyum melihat ekspresi Okan. Tidak seperti Okan yang segelas winenya habis dalam sekali teguk, Serin hanya menyentuhkan gelas berisi Wine itu kedalam mulutnya tanpa meneguk wine yang berwarna coklat ke'emasan itu. Serin hari ini tak ingin kehilangan kesadarannnya karena mabuk.


Gelas kosong Okan terus saja diisi wine oleh Serin. Okan sudah menolak karena nanti dia harus mengemudi tapi Serin tetap memaksa. Akhirnya 30 menit berlalu, kepala Okan mulai berputar, wajah Serin yang cantik itu terlihat buram. Okan mulai tak bisa mengontrol dirinya. Serin sengaja membuat Okan mabuk untuk memastikan sesuatu.


Melihat rencananya berhasil, Serin berjalan mendekati Okan dan duduk di sampingnya.


" Okan. Aku ingin bertanya pada mu." Ucap Serin menatap pria yang menyandarkan kepalanya di bahu sofa.


" Ya katakanlah!!" Suara Okan sudah terdengar seperti orang mabuk berat.


" Apa hubungan mu dengan Emine?" Serin menatap lekat wajah Okan agar ia nanti bisa membaca lewat wajahnya apakah Okan berbohong atau jujur.


" Emine?" Okan menegakan tubuhnya kembali dan menatap Serin dengan matanya yang sudah memerah.


" Emine wanita misterius itu? aku dan dia tidak punya hubungan apa pun." Mata Okan menunjukan kejujuran, Serin bisa melihat itu. Hati Serin sekarang terasa lega. Rasa takut yang sempat terlintas di otaknya sekarang sudah terhapus. Serin merasa bersalah karena membuat Okan sampai mabuk, ia juga merasa bersalah telah mencurigai Emine.


" Kau yakin?" Tanyanya sekali lagi untuk memperjelas dan mendapat anggukan dari Okan tak lama kemudian Okan kembali menyandarkan tubuhnya dan memejamkan matanya.


Serin tersenyum bahagia mengetahui Okan belum memiliki pengganti dirinya. Kebenaran ini akan memudahkan Serin untuk mendapatkan hati Okan kembali.


Serin mengambil ponselnya lalu berdiri menghubungi Tiras untuk memintanya menjemput Okan yang tak mungkin bisa mengemudi sendiri.


" Emine, aku ragu mengatakan perasaanku padanya. " Gumam Okan saat telah kehilangan kesadarannya.


Serin berbalik, tangannya yang memegang ponsel tiba-tiba terasa lemas lalu diturunkan. Ia tidak mungkin salah dengar, Okan tadi mengigau. Suaranya terdengar sangat jelas.


Mata Serin berkaca-kaca mendengar pernyataan Okan yang sama sekali tidak ia duga. Pasalnya tadi Okan terlihat jujur mengatakan bahwa tidak mempunyai hubungan apa pun dengan Emine. Tidak punya hubungan bukan berarti tidak cinta. Seharusnya Serin bertanya apakah Okan mencintai Emine atau tidak dengan begitu ia tidak akan terluka setelah mendapat harapan untuk bisa kembali bersama pria yang dicintainya.


Air mata sakit hati terjun bebas di pipi Serin. Hatinya terluka, orang mabuk biasanya sering berkata jujur.


Okan terlihat lelap tidurnya setelah mengungkap kenyataan yang bagaikan racun untuk Serin.


Serin menangis tak bersuara, ia masih mematung di tempatnya menatap pria yang terlihat begitu tenang setelah mematahkan hatinya.


" Kenapa? Kenapa harus Emine yang kau cintai?" Tanya Serin dengan suara terdengar Sendu dan sorot mata kekecewaan terlihat begitu besar.


*


*


*


Tinggalkan jejak guys!! Jempol merah biar author lebih semangat. Kalau ada masukan tolong kasih tau author!! Author minta pendapat para reader tentang jalan ceritanya.


Trms.

__ADS_1


__ADS_2