Wanita Seribu Luka

Wanita Seribu Luka
Meli Depresi.


__ADS_3

Di musim salju ini setelah melakukan banyak pertimbangan Emine dan Okan memutuskan untuk pindah ke rumah kakek tua.


Alasannya yaitu kasihan kakek tua harus mengurus Cansu sendirian dan jika Emine yang mengurus Cansu kasihan kakek tua nantinya dia akan merasa kesepian.


Jadilah pengantin baru itu yang pindah.


Meli juga akan segera berangkat ke Belgia.


Gadis itu sudah mengeluarkan rayuan mautnya kiranya Okan mengijinkannya melanjutkan kuliah di Turki tapi sayangnya tidak mempan.


Semua pasukan turun tangan untuk membantu Emine dan Okan memindahkan barang-barang.


Bahkan Fika juga ikut membantu atasannya itu. Yang tidak terlihat batang hidungnya dari seminggu lalu adalah Serin.


Setelah Okan dan Emine sah menjadi pasangan suami istri, Serin semkain terpuruk.


" Sayang, kau jangan ikut mengangkat barang-barang ini!! Duduklah di sana!! "


Okan menghampiri Emine yang sedang mencoba membantu karena sedari tadi ia hanya melihat-lihat. Tidak enak rasanya.


Okan sungguh memanjakan Emine meski Emine tidak nyaman diperlakukan seperti itu.


" Aku hanya ingin memindahkan barang mu ke kamar. Tidak berat sayang. Jangan khawatir!!! "


Sejak hamil, Emine selalu di anggap lemah. Rasanya ia ingin membanting Okan agar dia tahu istrinya itu jelmaan Wonder Women.


Tidak lemah.


" Dasar keras kepala. Aku cium kau baru tau rasa."


Sontak Emine menjatuhkan barang yang ia pegang.


Bukan masalah tidak mau di cium, malah Emine mau mau saja di cium apalagi hormon seksnya mengalamai kemajuan saat kehamilan.


Sekarang ia tidak takut lagi dengan ular piton milik Okan.


Hmmm,,,,. Tapi yang menjadi masalahnya adalah di sini ada banyak orang.


Apa kata mereka nanti??


" Okan. Pelankan suara mu!! Nanti ada yang mendengar. "


Seru Emine bisik-bisik.


" Kalau begitu diam di sana!! Duduk yang cantik!! Aku tidak mau kau kelelahan."


" Issss,,,, Baiklah.."


Emine sedikit kesal. Ia hanya bisa menurut seperti bocah yang baik.


Meli melihat kakak iparnya itu berjalan ke arah sofa dengan wajah di tekuk.


" Ehhhh,,, Ada apa dengan Emine?? Kakak


kau apakan dia??"


Tanya Meli membuat pandangan semua orang mengarah ke arahnya kemudian di lempar ke Emine sekilas lalu kembali lagi ke kakak beradik itu.


" Bisa tidak santai sedikit!! Kontrol ekspresi mu itu!! Apa kau kira aku penjahat??"


Okan tidak suka dengan ekspresi Meli yang sudah seperti mendakwanya sebagai tersangka.


Padahal Okan hanya sedikit mengancam .


" Hmmm. Jangan menghindar!! "


" Aku hanya menyuruhnya untuk tidak ikut mengangkat barang. Dia tidak mau. Jadi


aku mengancam akan menciumnya. Kau puas? Dasar anak kecil. Ikut-ikutan saja urusan orang dewasa."


Okan pergi ke atas membawa barang.


Ia selalu kesal jika berhadapan dengan Meli.


" Aihhh,,, Aku ini sudah dewasa. "


Teriak Meli pada Okan.


Dia selalu di anggap anak kecil membuat


Meli jengkel.


Semua orang terkekeh kemudiam tertawa.


Kapan kiranya kakak adik ini bisa akur??

__ADS_1


begitu fikir mereka.


" Sudahlah!! Bagaimana pun dia adalah kakak mu. Cepat bawa ini ke kamar Emine!!"


Perintah Murat menyodorkan sebuah kotak.


" Aishhh,,, Kakak apanaya. Menyebalkan."


Dengusnya merenggut kotak itu lalu membawanya pergi.


Di tangga Meli dan Okan berpapasan.


Meli melihat Okan sinis menyilangkan kedua matanya sambil berdecih.


Okan juga berdecih.


Meli menoleh kebelakang saat Okan sudah lewat. Ia melayangkan kakinya ke udara memperagakan gerakan menendang.


Tidak di sangka ternyata Okan berbalik.


" Sringggg,,,,!!!"


Mata Okan tajam mengkilap di bagian ujungnya.


Meli refleks menyengir kuda sembari menurunkan kakinya perlahan yang masih tersangkut di udara. Tertangkap basah anak itu


lalu kabur sebelum peperangan antar saudara terjadi.


Kamar Emine penuh dengan tumpukan kardus. Kardus-kardus ini adalah barang Okan semua. Meli sampai sulit melangkah di antara kardus-kardus itu.


Tak jarang ia menendang kesal barang kakaknya.


Dreetttt,,,,Drettttt,,,,Drettttt,,,,!!!


" Eh, ponsel siapa itu?"


Sebuah ponsel yang diletakan di atas meja tiba-tiba berdering. Segera Meli meletakan barangnya beralih mengambil ponsel itu.


" Kak Serin?? "


Itu nama yang tertera di layar. Meli berkerut kening. Ekspresinya tidak suka hanya membaca nama itu.


Hanya dua kemungkinan siapa pemilik ponsel ini antara Emine atau Okan.


" Hallo,,,, "


_- Ahhh,,, berarti ponsel ini milik kakak. Kenapa perempuan ini menghubungi kakak??? _-


" Memangnya kenapa? Apa itu masalah buat mu?? Aku ini adiknya dan kau,,,, bukanlah siapa-siapa."


Meli mengejek.


" Cih,,,,"


Serin berdecih pelan namun Meli bisa mendengarnya.


" Aku peringatkan pada mu jangan menghubungi kakak lagi!! Tahu malu sedikit!! Kau sudah menghianati kakak jadi jangan mengejarnya lagi!! Lagi pula kakak sudah bahagia dengan Emine."


Mendengar ucapan Meli membuat Serin geram di ujung telfon.


" Kau yang tidak tahu malu!! Jika aku menjadi dirimu aku tidak akan mau hidup lagi. Bahkan tidak pantas untuk hidup. Bagaimana bisa seorang anak yang sudah membunuh ibunya sendiri masih bisa berbicara menghina orang lain?? Dasar kau pembunuh."


Deg,,,,,!!!


Mata Meli membulat. Tubuhnya gemetar seketika oleh rasa takut dan bersalah.


Bayangan masa kecilnya yang suram berputar kembali di memori yang telah lama terkunci.


" TIDAK!!!! Aku bukan pembunuh!!! Aku bukan pembunuh!!! "


Meli melempar ponsel yang ia pegang hingga hancur. Gadis itu menjambak rambutnya sendiri seperti orang gila.


Terlihat sangat depresi.


Ia ketakutan. Matanya mencari-cari sesuatu untuk ia lempar.


Meli mengamuk. Ia kehilangan kendali.


" Aku bukan pembunuh!!!" Begitu ucapan yang terus terlontar bersamaan barang-barang yang ia lempar.


Fika baru memasuki kamar Emine tapi ia terkejut melihat fas bunga melayang ke arahnya. Untung fas bunga itu sedikit meleset. Hampir saja Fika pingsan, ia bahkan sampai lupa bernafas dibuatnya.


Tempyank,,,,,,!!!!


Suara itu menyadarian Fika sekaligus menarik perhatian semua orang yang berada di bawah.

__ADS_1


Fika melihat Meli berteriak histeris, menangis bahkan dan rambutnya juga berantakan


dengan tubuh meringsuk di sudut ruangan.


" Meli kau kenapa??"


Fika hendak mendekat namun kembali Meli melempar benda-benda ke arahnya seperti Meli tidak mengenal siapa pun.


" Pergi!!! Menjauh dari ku!!! Aku bukan pembunuh!! Hiks,,,Aku bukan pembunuh..."


Sekarang tubuh Fika yang gemetar. Meli seperti sedang kerangsukan. Ini bukan dirinya yang ramah dan ceria. Bergegas Fika keluar berteriak pada semua orang di bawah dari atas.


Fika tidak tahu harus berucap apa.


Bibirnya hanya mampu menyebut nama Meli beberapa kali dengan suara gemetar dan ekspresi ketakutan.


Meski tidak tau apa arti ucapan Fika yang hanya menyebut-nyebut nama Meli itu tapi dari ekspresi dan nada suaranya mengatakan bahwa telah terjadi sesuatu pada gadis itu.


Hanya Okan yang bisa mengerti. Ia bergegas naik ke atas dengan perasaan cemas. Disusul yang lain ikut berlari, sama cemasnya.


Okan berhenti di ambang pintu, tidak masuk. Tatapannya membeku. Semua orang juga ikut berhenti disana, dibelakang Okan.


Betapa mengejutkannya saat


melihat Meli mengacungkan sebuah pisau dengan tatapan matanya yang tajam dan penuh kewaspadaan pada semua orang memberi kode untuk jangan ada yang mendekat jika tidak ia akan dengan segan menyerang.


Tidak ada yang berani bicara.


Bahkan sekedar untuk bertanya apa yang sedang terjadi atau ada apa dengan Meli pun rasanya mulut sangat kaku.


" Meli, tenangkan dirimu!! Ini kakak. Kakak bersama mu. Tenanglah Meli!! Tidak ada yang akan menyakiti mu."


Okan berusaha membuka mata Meli yang sepertinya sedang tertutup. Ia menjulurkan tangannya meminta Meli untuk tenang.


" Aku bukan pembunuh. Hiks,,,, Bukan aku yang membunuh ibu, Hiks,,, Bukan aku..."


Meli menangis terisak dalam ketakutannya yang kini menjatuhkan tubuhnya hingga ada di posisi berjongkok merangkul kedua lutut.


Tentu semua orang yang mendengar ucapan Meli terkejut termasuk Emine.


Tidak pernah ia tahu tentang ini.


Tentang kondisi Meli yang menyedihkan di balik sikap ceria nan imutnya.


Okan memanfaatkan situasi ini. Meli sepertinya sudah sedikit tenang tidak seagresif tadi meski masih menangis. Ia perlahan berjalan mendekat di saat semua orang merasa was-was dan tegang.


" Meli, tenanglah!! Kakak percaya pada mu. Kakak tahu kau tidak bersalah. Tenanglah!! Ayo buang pisau itu!! Itu berbahaya!! Kau bisa terluka."


Okan berusaha menahan air matanya.


Terakhir kali ia melihat Meli seperti ini


saat 5 tahun yang lalu karena seseorang tidak sengaja menyebutnya sebagai seorang pembunuh.


Meli mengangkat perlahan pandangannya. Matanya sudah penuh dengan air dan terlihat sembab. Benar, yang sedang berjalan mendekatinya adalah Okan, kakaknya.


Satu-satunya orang yang percaya dan mendukungnya selama ini.


Meli baru bisa membuka matanya sekarang setelah tadi tidak bisa membedakan siapa-siapa.


" Kakak."


Melempar pisau kemudian berlari memeluk Okan dengan erat. Meli menangis terisak di pelukan Okan. Okan menenangkan Meli dengan membelai rambut pendeknya. Mengatakan semua ini baik-baik saja lewat sentuhan lembutnya.


Orang-orang yang masih diam di ambang pintu hatinya berangsur tenang.


Melihat Okan dan Meli dengan tatapan haru.


Tidak ada yang menyangka sekaligus tidak ada yang tahu apa penyebab Meli seperti ini.


Yang jelas mereka kasihan melihat Meli.


Baru saja ia bertengkar dengan Okan di bawah dan sekarang kondisi sudah tak terduga seperti ini.


Okan memberi kode kepada mereka untuk meninggalkannya berdua di kamar ini.


Semua orang mengangguk paham kemudian keluar.


Mereka tahu Okan masih harus menenangkan Meli.


Tidak lama kemudian setelah memberi obat pada Meli, gadis itu tertidur pulas.


Okan menatap adik kecilnya itu dengan rasa bersalah. Tangannya membelai lembut ujung kepala Meli.


Berulang kali Okan berusaha mencoba meyakinkan Meli bahwa kematian ibunya bukan karenanya tapi gadis itu tetap menyalahkan dirinya bahkan sampai sekarang.

__ADS_1


Jika ada yang sengaja atau tidak sengaja meyinggung masalah kematian ibunya maka Meli akan seperti ini lagi, tidak terkendali bahkan bisa melukai orang lain.


__ADS_2