Wanita Seribu Luka

Wanita Seribu Luka
I'm Comming.


__ADS_3

" Tap,,Tap,,Tap,,," Suara langkah kaki dengan sepatu selop kaca menuruni anak tangga.


Semua orang kagum melihat seorang wanita cantik mengenakan dres merah diatas lutut, rambut digerai, dan riasan tebal bak putri raja. Meski Emine menggunakan tongkat tapi tidak mengurangi keanggunannya yang kini perlahan berjalan kearah segrombolan orang di bawah yang sedang menunggunya dengan raut wajah sedih harus melepas kepergian dirinya pagi ini.


Baru satu langkah Emine menginjakan kakinya dari anak tangga terakhir, Velief langsung memeluk tubuh Emine penuh suka cita.


" Kalau bisa, tinggallah disini lebih lama lagi!!" Ucapnya sedih dengan air mata menetes membasahi pundak Emine.


Emine membalas pelukan Velief lembut.


" Jika bisa aku ingin tetap disini. Tapi maaf kakak, Aku tidak bisa. " Ucapnya masih memeluk Velief. Emine sudah berusaha untuk tetap kuat tapi hawa sedih Velief begitu cepat merambat pada dirinya hingga Emine ikut terbawa suasana dan menangis.


Orang-orang yang melihat mereka berdua berpelukan penuh kasih sayang seperti itu tanpa disadari ikut menangis haru.


" Aku akan sangat merindukan mu Emine. Trimakasih atas semuanya. Sampai kapan pun aku tidak akan pernah bisa membalas kebaikan mu. " Ucap Velief sudah melepas pelukannya.


" Aku juga akan merindukan kakak, Mehmet, dan mereka semua." Emine melempar pandangannya kepada para asisten yang masih berdiri di belakang Velief menunggu giliran untuk bisa memeluk Emine dan mengungkapkan kata perpisahan yang sudah mereka persiapkan sesuai pengalaman hidupnya selama bersama Emine.


Dihapusnya air mata, ditariknya nafas dalam-dalam tanpa suara lalu Emine tersenyum kepada mereka semua.


" Apa kalian tidak ingin memeluk ku?" Tanya Emine ceria kemudian mendapat serbuan dari mereka semua.


Pagi itu rumah Velief dipenuhi dengan air mata kesedihan dan pelukan perpisahan.


" Nona. Kita harus segera berangkat!!" Ucap Ozgur yang sudah selesai dengan persiapannya untuk terbang ke Turki.


Emine kembali tersenyum meyakinkan mereka bahwa perpisahan ini bukanlah akhir dari segalanya.


" Aku harus pergi sekarang." Ucap Emine membuat para asisten yang mengerumbuninya memberi jalan untuk Emine yang kini berjalan kearah Velief. " Muachhh,,, Kakak pergi dulu sayang. Jaga ibumu!! Jangan nakal!!" Emine mencium Mehmet yang sekarang berada dalam gendongan Velief.


" Hati-hati Emine!!!" Ucap Velief dengan raut wajah sedihnya dan mata berkaca-kaca.


Emine tersenyum lalu berbalik meninggalkan mereka semua yang pernah menjadi keluarganya dan terus akan menjadi keluarga jauhnya.


2 mobil Fortuner telah sampai di landasan pribadi milik Velief.


Emine keluar dari mobil pertama bersama Ozgur disusul dengan ke'empat bodyguard lainnya dari mobil kedua.


" Brukkkkk,,,, "


" Aghhhhh,,,,,"


" Maaf Nona. Maafkan saya!! Saya tidak sengaja."


Seorang lelaki tua yang bertugas untuk mengambil barang-barang dari dalam mobil untuk dimasukan kedalam pesawat tiba-tiba menabrak Emine keras hingga Emine hampir terjatuh.


" Dasar tidak berguna." Ozgur menarik kerah baju lelaki tua itu hingga kaki lelaki itu terjinjit.


" Ozgur lepaskan!!!" Bentak Emine kesal kepada Ozgur karena sikapnya yang keterlaluan kepada seorang lelaki tua.


" Lanjutkan pekerjaan mu tuan!!!" Emine memerintah lelaki tua yang nampak ketakutan dan baru dilepaskan dari cengkraman Ozgur.


Emine menatap Ozgur tidak suka lalu pergi begitu saja tanpa sepatah kata. Ozgur kembali menghela nafas kesal, setiap yang dilakukannya selalu saja salah.


" Baiklah Ozgur, mulai sekarang jangan lakukan apa pun!!" Gumamnya mengikuti Emine yang sudah masuk ke dalam pesawat pribadi milik Velief Muhrel.


Lelaki tua yang nampak ketakutan itu kini berjalan ke arah bagasi mobil dengan santai dan tersenyum miring kemudian mengambil ponselnya.


" Lapor komandan. Alat pelacak sudah berhasil dipasang pada target." Ucap lelaki tua itu melapor pada atasannya.


1 buah alat pelacak canggih berukuran mikro tertempel di dres Emine tidak ada yang menyadarinya sama sekali.


Sinyal alat pelacak itu berhasil masuk di server pemantauan. Semua polisi termasuk Okan berkumpul di sebuah ruangan kusus yang sudah dipersiapkan untuk memantau pergerakan Emine.


" Pesawatnya sudah terbang." sinyal alat pelacak yang tadinya berwarna merah kini berubah berwarna hijau menandakan Emine melakukan pergerakan dengan skala luas dan cepat.


" Siapkan mobil!! kau terus pantau dia!! Jangan sampai ada kecerobohan!!" Okan dan timnya mulai bergerak.


" Siap pak." Sahut tegas dari salah satu anggota tim kusus yang mendapat tugas di bidang pemantauan dan informasi.


Pesawat sudah berada di ketinggian 5.000 kaki dari permukaan bumi perlahan semakain naik keatas. Saat Emine duduk di sekolah dasar gurunya sering memperlihatkan bola globe. Bola dunia itu memperlihatkan keindahan bumi dengan warna hijau dan biru mendominasi. Saat itu bayangan Emine tentang bumi sama seperti bola globe itu, indah berseri. Tapi saat ini, saat Emine bisa melihat bumi dari atas ternyata bumi sekarang tidak secantik dan semenarik bola globe. Bumi yang asli nampak kusam dengan warna abu-abu atau semacamnya. Tidak ada lagi warna hijau yang menyejukan dan warna biru yang menggambarkan lautan juga sekarang telah berubah.


Penerbangan dari Belgia ke Turki memakan waktu kurang lebih 3 jam. Itu pun kecepatan pesawat sudah berada di angka max. Emine lebih memilih tidur, ia tidak tertarik menikmati perjalanan ini dengan melihat bumi dibawah. Melihat ke bawah hanya akan menambah rasa ibanya pada bumi yang terlihat begitu tua dan nampak sudah letih menampung manusia-manusia yang memperlakukan bumi se'enaknya. Sedangkan Ozgur dan 4 anak buahnya menjadi satu di kursi paling belakang jauh dari Emine yang duduk di kursi paling depan.


3 Jam kemudian,,,,,,

__ADS_1


Pesawat mendarat di salah satu landasan pribadi milik Velief di Turki, Istanbul.


" Nona bangunlah!! Kita sudah sampai." Ozgur membangunkan Emine yang masih tertidur pulas.


" Uwahemmmm,,,,,Benarkah??" Jawab Emine dengan suara serak dan mata sipit efek masih mengantuk.


Meski pesawat sudah mendarat dan para penumpang diperbolehkan untuk turun, tapi tidak ada yang berani mendahului turun sebelum Nona mereka turun duluan.


Akhirnya Emine turun dari pesawat dengan Ozgur mengekor dibelakang dan bodyguard lainnya.


" Ceklek, Ceklek, Ceklek, Ceklek, Ceklek, Ceklek, Ceklek. " Suara pistol yang di mode on kan.


Kiri kanan depan belakang, Emine dan rombongannya dibuat terkejut saat turun dari pesawat. Mereka dikepung dari segala penjuru arah oleh pria-pria berjaket kulit hitam. Mata Emine memandang mereka dengan tatapan panik. Ozgur juga terkejut tapi ia mencoba untuk tetap tenang lalu memberi kode kepada anak buahnya untuk mengangkat senjata mereka masing-masing ke arah polisi-polisi yang mengepung.


Suasana di tengah-tengah landasan itu begitu hening tapi penuh ketegangan. Hanya pistol-pistol mereka yang siap berbicara jika ada yang berani bertindak ceroboh.


" Wahhhh,,,,Luar biasa,,,, !!!Gaya penyambutan kedatangan ku memang lain dari pada yang lain. Bukan bunga atau yang lainnya, tapi aku disambut dengan pistol. Bukankah itu luar biasa Ozgur?" Ucap Emine pelan disamping Ozgur mengagumi gaya penyambutannya yang konyol bahkan sangat bodoh untuk dikatakan luar biasa.


" Ini cocok dengan mu Nona. Siapa yang mau menyambut wanita seperti mu dengan bunga? Bunga hanya cocok untuk tuan putri bukannya untuk wanita labil." Ozgur tidak melewatkan kesempatan untuk meledek Emine.


" Plaakkkkkk,,,," Emine kesal dengan ucapan Ozgur lalu memukul pantatnya hingga membuat Ozgur mengerjap terkejut tidak menyangka akan mendapat perlakuan dibagian sensitifnya.


" Aissss,,,, Nona kau nakal sekali, jangan pukul yang di belakang!! Nanti yang di depan bangun." Ucap Ozgur pelan tepat di samping telinga Emine.


Mata Emine terbelakak sekaligus terkekeh mendengar Ozgur berani berbicara seperti itu padanya.


" Dasar pria cabul. Setelah ini Aku akan menelanjangi mu lalu akan ku pajang kau di pasar." Ucap Emine pelan dengan mimik mulut penuh penekanan dan kekesalan.


Polisi-polisi itu menatap mereka berdua heran karena tidak menunjukan rasa takut. Ozgur dan Emine malah asik dengan perdebatan mereka yang hanya bisa di dengar oleh mereka berdua.


Okan berdiri tepat di depan mereka, tapi Emine tidak bisa mengenalinya karena Okan mengenakan penutup mulut dan kaca mata hitam.


" Apa yang kalian inginkan?" Tanya Ozgur mulai serius dengan situasi disini.


" Wanita itu." Okan mengarahkan pistolnya kearah Emine sontak Ozgur ikut mengarahkan pistolnya pada Okan untuk melindungi Emine.


" Suaranya seperti aku kenal." Batin


Emine menatap mata Okan yang tertutup oleh kaca hitam.


" Jangan!! Kita tidak tau siapa mereka." Tolak Emine dengan sorot mata masih tertuju pada Okan. Emine sebisa mungkin mengingat pemilik suara itu tapi ia benar-benar tidak ingat.


" Turunkan senjata kalian dan serahkan dia!!" Perintah Okan.


" Nona kita habisi saja mereka." Ozgur tidak bisa memberikan Emine begitu saja. Ia bersiap untuk menembak Okan.


" Sudah ku bilang jangan!!!!" Ucap Emine keras lalu merebut pistol Ozgur dan melemparnya ke bawah.


" Nona apa yang kau lakukan?" Ozgur ikut meninggikan suaranya karena kesal dengan sikap Emine yang ceroboh dan tak pernah sejalan dengannya.


Tiba-tiba Okan berjalan mendekati Emine dengan pistol yang masih mengarah ke dahi Emine.


Ozgur tidak tinggal diam, Ia segera menghalangi pistol itu dan menutupi tubuh Emine di belakangnya.


" Aku peringatkan kau untuk minggir!!!"


" Bagaimana kalau aku tidak mau?"


" Aku akan memecahkan kepala mu."


Emine meremas lengan Ozgur cemas.


" Ozgur. Minggirlah!! Aku tidak bisa membiarkan mu mati. Aku akan menyerahkan diriku dan menyelesaikan semua ini." Ucap Emine memegang lengan Ozgur kuat.


Baru kali ini Ozgur tersenyum di dalam hati karena Emine yang biasanya sering marah-marah kini menghawatirkan dirinya.


" Tidak Nona. Melindungi mu adalah tugas ku." Ucap Ozgur percaya diri ingin membuat hati Emine tersentuh.


Bukannya tersentuh, Emine malah kesal karena ucapannya tidak dituruti. Emine bermaksud untuk menyerahkan dirinya karena tidak ingin membahayakan bodyguard lainnya. lagi pula Emine kalah jumlah dengan mereka.


" Akan ku selesaikan ini sendiri." Ucap Emine menarik lengan Ozgur kebelakang. Kini Ozgur di belakang dan Emine di depannya.


" Tidak Nona. Kau adalah tanggung jawab ku." Ozgur kembali di depan dan Emine di belakang.


" Dasar keras kepala." Ucap Emine kesal kembali merebut posisi Ozgur.

__ADS_1


" Kau yang kepala batu." Ucap Ozgur kembali menjadikan dirinya tameng.


Batas kesabaran Emine sudah menipis. Ia menarik tangan Ozgur kasar kebelakang. Ozgur dengan keras kepalanya ingin melindungi Emine kembali tapi baru akan melangkah Emine sudah membalikan badannya dengan pistol entah dari mana ia dapatkan diarahkan tepat di mata Ozgur. Bukan hanya Ozgur yang tiba-tiba membeku dengan mata ketakutan tidak percaya Emine bisa berbalik aluan tapi Okan dan lainnya juga ikut terkejut oleh sikap Emine yang tak pernah bisa di tebak.


" Nona. Jangan lakukan itu!! Aku bukan musuh mu." Ucap Ozgur ketakutan tak berani bergeming sedikit pun.


Jika boleh, Emine ingin mengubris tawanya karena berhasil membuat Ozgur ketakutan setengah mati. Tapi ini satu-satunya cara untuk membuat bodyguard keras kepala ini untuk diam ditempat.


" Jika tidak mau mati maka diamlah!! Patuhi perintah ku!! Kau mengerti?" Ucap Emine mengancam Ozgur dengan aktingnya yang seakan-akan ia akan menembak Ozgur jika berani membantah.


Ozgur mengangguk pasrah.


Emine kembali membalikan badan menghadap Okan yang masih setia dengan pistol diarahkan ke kepalanya. Ini adalah hari pertama kepulangannya ke Turki, Emine tidak ingin ada pertumpahan darah karena itu ia membuang pistolnya ke bawah menjadi satu dengan pistol Ozgur.


" Semuanya,,, turunkan senjata kalian!! Letakan disana!!" Perintah Emine kepada para bodyguardnya.


Perintah Emine sudah bagaikan perintah dari Velief, harus dituruti. Para bodyguard itu langsung mengikuti perintah Emine. Sedangkan Ozgur menatap punggung Emine dengan seribu umpatan yang ingin rasanya dilontarkan di depan wanita yang otaknya mungkin sedang mengalami pengkaratan total akibat dari koma sebulan.


" Bisakah kita selesaikan ini baik-baik!! Aku tidak tau apa masalah kalian dengan ku. Tapi, aku tidak ingin ada darah yang menetes membasahi bumi hari ini." Emine mencoba meminta sedikit kerja sama dari mereka.


" Turunkan senjata kalian!!" Perintah Okan pada anggotanya. Okan bernafas lega karena Emine tidak melakukan perlawanan yang akan membuat dirinya bahaya. Okan tidak bisa lagi melindungi Emine, sebisa mungkin ia membawa Emine ke zona aman karena anggota polisi lainnya akan melakukan hal apa pun jika Emine melawan.


Sekitar 20 menit tempat ini di penuhi dengan ketegangan dan akhirnya ketegan itu berkurang setidaknya bisa membuat jantung yang tadinya berdetak kencang kini kembali normal.


" Sekarang katakan tuan, apa yang anda inginkan dari ku??" Ucap Emine tenang tidak lagi menunjukan kepanikan.


Okan membuka kaca matanya, memperlihatkan matanya kepada Emine.


" Mata itu. Mata yang tak asing. Benarkah ini adalah dia?" Gumam Emine dalam hati menerka-nerka dengan perasaan gugup.


Kain hitam yang menyembunyikan wajah Okan ditarik kebawah dagu hingga memperlihatkan wajah Okan yang tampan dan dingin.


" Kami dari tim polisi devisi bagian kasus kriminal akan menangkap dan mengintrogasi Emine Zarzat atas dugaan keterlibatan dalam kasus pembunuhan berantai. Karena itu mohon kerja samanya Nona." Ucap Okan formal sebagai seorang polisi lalu menunjukan kartu IDnya tepat dimata Emine.


Semua orang terkejut termasuk Ozgur yang mengira mereka semua adalah anak buah dari orang-orang yang pernah menjadi target Emine sebagai pencuri malam. Pernyataan dari Okan sungguh di luar nalar Ozgur.


Keterkejutan dari para bodyguard tidak sebanding dengan keterkejutan Emine saat ini. Emine tidak terkejut akan pernyataan tentang dirinya dituduh melakukan kerja sama dengan pembunuh berantai, tapi ia terkejut yang menangkap dirinya adalah Okan.


Okan langsung mengelurkan borgol dan memborgol tangan Emine yang terasa lemas. Emine masih mematung menantap pria yang ia cintai seakan-akan tidak mengenal dirinya. Sikap dan tatapan Okan begitu dingin, membuat Emine sekarang yakin bahwa dirinya bukanlah siapa-siapa untuk menjadi penting di hidup pria ini.


Okan tidak berani menatap mata Emine, ia merasa bersalah. Okan langsung saja menarik lengan Emine hingga membuat tongkat yang terselip di selangkang*n lengannya terjatuh ke bawah.


Bukan suara nyaring tongkat besi yang jatuh itu menghentikan langkah Okan saat ini, tapi sebuah tangan yang menahan tangannya untuk menarik lengan Emine. Okan berbalik melihat siapa yang menahan tangannya dan mata Ozgur penuh kemarahan dan kebencian pertama iya lihat.


" Jangan sembarangan menarik tangan Nona Emine!! dia tidak bisa berjalan tanpa tongkatnya." Ucap Ozgur dengan nada penekanan.


Tangan Emine dipegang Okan, tangan Okan di pegang Ozgur dan Emine masih terjebak dalam tatapan beku kesedihannya. dua pasang mata tajam antara Okan dan Ozgur saling beradu menunjukan rasa kebencian di antara mereka. Jika di Flashback, Okan sempat cemburu melihat Emine yang nampaknya sangat akrab dengan Ozgur. Apalagi tadi saat mereka sempat saling melindungi satu sama lain. Karena itu Okan tidak menyukai Ozgur. Sedangkan Ozgur yang belum tau hubungan antara Emine dan Okan, alasan ia membenci Okan cukup sederhana yaitu perlakuan Okan kepada Emine terlalu ceroboh dan semana-mena.


Tiras yang sedari tadi menonton cuplikan drama di antara mereka bertiga semakin tidak percaya diri akan cintanya. Tiras merasa dirinya bukan apa-apa dibandingkan Okan atau pria gagah yang melindungi Emine.


Tatapan ketegangan di antara Okan dan Ozgur akhirnya meredup saat Okan melepas lengan Emine.


Tapi tiba-tiba Okan berjongkok di depan Emine menyerahkan punggungnya sebagai tumpangan.


" Naiklah!!! Kata dia kau tidak bisa berjalan." Ucap Okan meminta Emine naik ke punggunya.


" Hanya sebuah rasa belas kasih. Tidak lebih. Jangan terbang Emine!! Atau kau akan terjatuh lagi." Gumam Emine meyakinkan dirinya bahwa yang di lakukan Okan semata-mata hanya untuk mengasihani dirinya.


" Brengsek. Dia berani mengambil kesempatan." Umpat Ozgur kesal saat Emine bersedia di gendong oleh Okan. Ozgur tidak menyadari bahwa dirinya telah cemburu dan jatuh cinta pada Emine.


Sekarang Emine berada di gendongan Okan. Jika orang yang tidak tau asal usul kenapa Okan menggendong Emine, mungkin mereka mengira Okan dan Emine adalah sepasang kekasih yang begitu romantis.


Punggung Okan dan dada Emine menempel seperti bintang laut dan trumbu karang. Tidak jarang Emine mengeratkan tangannya yang dilingkarkan di leher bagian bawah karena takut terjatuh. Okan bisa merasakan dada Emine sangat hangat dan Emine bisa merasakan punggung Okan sangat dingin. Jika air dingin dijadikan satu dengan air hangat di sebuah gelasa kaca bukankah gelas itu akan pecah? Itulah pikiran Emine saat ini tentang cintanya.


Murat menghampiri tiras dan merangkul bahu Tiras dari belakang.


" Hai kawan. Masih ada perempuan yang lebih cantik darinya. " Ucapnya dengan senyum mencoba meyakinkan lalu mengajak Tiras untuk menyusul Okan dan Emine yang sudah berjalan di depan.


Murat tau bahwa hati Tiras tidak dalam kondisi baik.


*


*


*

__ADS_1


Jangan lupa like & komennya slurrr!!!


__ADS_2