
Happy reading..
Sudah hampir magrib Reyhan baru keluar dari kamar mandi, di lihatnya Tasya sudah tertidur dengan mata yang sedikit sembab. Lalu Reyhan duduk di tepi ranjang, sambil membelai rambut Tasya lalu mencium keningnya dengan lembut.
"ma'afin aku sayang, aku hanya tidak rela jika melihat kamu begitu bahagia dengan laki-laki lain".
Lalu Reyhan beranjak menuju ruang ganti. Setelah selesai berpakaian, dia bergegas menuju ke bawah untuk makan malam karena perutnya terasa lapar setelah lama berendam. Terlihat bik Ani sedang sibuk menata makanan di meja makan karena memang sudah waktunya makan malam.
"bik, tadi Natasya pulang jam berapa? "tanya Reyhan sambil meraih kursi meja makan.
"sekitar jam empat den.."
"Berarti Tasya seharian jalan bersama laki-laki itu.." gumam Reyhan dalam hati.
"oh ya bik, tolong antarkan makan malam buat Tasya ke kamar ya.."
"baik den.." ucap bik Ani lalu bergegas menyiapkan makanan untuk Natasya.
Bik Ani baru saja mau naik ke tangga, tiba-tiba Reyhan memanggilnya kembali.
"bik, tolong sekalian bibik bawakan paperbag yang ada di sofa ke bawah, dan sekalian tolong bibik buang semuanya ya".
"baik den.." lalu bik Ani berjalan menaiki tangga.
"tok...tok... non, bibik mau nganterin makan malam buat non.."
"masuk bik.." sahut Tasya dari dalam dengan suara serak dan masih memejamkan matanya. Tadi Tasya kebangun untuk ke kamar mandi, lalu dia berbaring kembali untuk melanjutkan tidurnya.
"bibik tarok di sini ya non.." ucap bik Ani sambil meletakkan nampan yang berisi makanan dan juga jus jeruk itu ke nakas. Lalu bik Ani menuju ke sofa untuk mengambil paperbag yang di perintahkan Reyhan.
"lo.. ini kan belanjaan non Tasya tadi? kenapa den Reyhan meminta saya untuk membuangnya? saya pikir belanjaannya sudah di simpan di lemari sama non Tasya, tinggal buang paperbagnya doang, ini malah masih ada isinya.." gumam bik Ani.
Bik Ani merasa bingung dan terlihat ragu-ragu untuk mengambil paperbag itu.
Dan akhirnya bik Ani memberanikan diri untuk bertanya pada nona mudanya itu. "non, bibik izin ya bawa paperbag ini ke bawah" ucap bik Ani ragu-ragu.
Dengan terpaksa Tasya membuka matanya dan menoleh ke arah bik Ani. "buat apa bik?" tanya Tasya bingung.
"den Reyhan meminta bibik untuk membuangnya non.."
"di buang bik??? " tanya Tasya terkejut lalu bangkit.
"bibik juga bingung non, kenapa den Reyhan menyuruh bibik untuk membuangnya. bibik pikir cuma sampahnya doang non, ternyata masih ada isinya. Ya udah kalau gitu baju non bibik masukkan lemari ya.."
"iya bik, makasih ya.."
Di saat bik Ani sedang sibuk mengeluarkan pakaian itu dan mau memasukkannya ke dalam lemari, tiba-tiba Reyhan masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
"mau di apain bik? "tanya Reyhan
"mau di masukkan ke dalam lemari non Tasya den.."
"kan udah aku bilang bik, tolong di buang.."
"ta..ta pi den.." ucap bik sambil melirik Tasya.
"nggak ada tapi-tapian bik, aku nggak suka nyimpan sampah di kamar ku.." ucap Reyhan ketus.
"ya udah kalau gitu bibik bawa ke bawah ya non, ma'afkan bibik.." ujar bik ani merasa bersalah lalu bergegas menuju ke bawah.
"kenapa di buang sayang? itukan baju yang aku beli tadi, dan aku belum sempat mencobanya.." ucap Tasya sambil berderaian air mata.
"aku tidak sudi jika istriku memakai pakaian pemberian laki-laki lain. Aku masih mampu membeli semua keperluan mu.." ucap Reyhan ketus.
"dan lagi, kenapa kamu tidak pernah menggunakan kartu kredit yang aku berikan padamu? Bahkan hari ini tidak sekalipun kamu menggunakannya.."
Tasya hanya terdiam mendengar ocehan Reyhan, sambil air matanya terus mengalir. Dia memang belum pernah sekalipun menggunakan kartu kredit milik Reyhan. Semenjak Reyhan memberikan kartu kredit itu padanya, Tasya hanya menyimpannya di dalam dompetnya.
Tak tanggung-tanggung Reyhan memberikan The black card kepada istrinya itu, yang tidak sembarang orang bisa memilikinya. Kartu itu sengaja Reyhan hubungkan dengan ponselnya, bukan karena dia tidak mempercayai Natasya, hanya saja Reyhan ingin tahu apakah Tasya menggunakan uangnya atau tidak. Karena Tasya juga bukanlah orang sembarangan, dia punya banyak uang dari pendapatan bengkel Bagas yang di transfer langsung ke Rekeningnya oleh Dimas setiap bulannya, belum lagi gaji Tasya sebagai dokter yang juga sangat besar.
Tasya juga tidak menyangka jika Adrian akan membayar semua belanjaannya. Apalagi harga baju yang di pilihkan Vara dan Adrian untuknya di bandrol dengan harga yang fantastis, tidak ada yang di bawah harga satu juta. Tasya sudah meminta untuk memilih baju yang biasa-biasa aja, yang tidak terlalu mahal, karena memang di toko itu selain menjual pakaian branded, juga menjual pakaian dengan harga standar butik. Tapi tetap aja mereka memilihkan baju mahal, karena kata Adrian ibu hamil itu harus memakai baju yang nyaman. Tasya pun terpaksa menurut, dia juga tak ingin jika Adrian berfikir dia tidak mampu membelinya, bisa saja Adrian akan merendahkan suaminya.
"flash back"
"kali aja Nat.." Vara terkekeh.
"mendingan lo pilihin baju buat lo deh. kan nanti malam lo mau malam mingguan ama juna. Dan kayaknya baju ini cocok buat lo.." ujar Tasya sambil menyodorkan mini dress warna pink ke tangan Vara.
"whatt?? 1,5 jeti Nat? " mata Vara terbelalak ketika melihat harga yang tertera di baju itu.
"nggak apa-apa Var, ntar gua yang bayarin.."
"yeee... makasih Nat, lo memang sahabat gua yang paling baik. Tau aja kalau gua suka dress ini.." ucap Vara sambil memeluk Tasya.
"ya udah kalau gitu kita cabut yuk, udah sore nih. Ntar Reyhan marah lagi kalau gua telat pulangnya.."
"bentar Nat, Adrian kok belum nongol juga ya? lama bangat ke toiletnya. Takutnya dia nggak tau kalau kita udah pulang duluan.."
"biarin aja Var, ngapain juga mikirin Adrian.."
"ya udah kalau gitu.."
Tasya dan Vara menuju ke meja kasir.
"ciiieee, black card ni ye??" ledek Vara yang melihat Tasya menyodorkan kartu hitam itu ke tangan kasir.
__ADS_1
Tasya mencubit pinggang Vara yang berada di sebelahnya.
"tunggu mbak, pakai ini aja.." tiba-tiba Adrian nongol dan menyerahkan kartu yang sama kepada kasir itu.
Mbak kasir mengambil kartu itu, dan menyerahkan kartu milik Tasya.
"lo apa-apaan sih yan?? ngapain juga lo bayarin belanjaan gua" ucap Tasya sewot.
"nggak apa-apa Nat, anggap aja ini sebagai ucapan terima kasih gua karna lo udah mau berteman dengan gua" sahut Adrian dengan senyum manisnya.
Mbak kasir pun senyum-senyum sendiri melihat pertengkaran Tasya dan Adrian.
"flashbackoff"
Tasya membaringkan badannya membelakangi Reyhan. Air matanya masih menetes di sudut pipinya.
Percuma aja gua capek-capek milihin baju seharian kalau akhirnya untuk di buang. Reyhan jahat bangat..
"besok aku akan meminta mbak Elsa untuk mengirimkan baju hamil untukmu" ucap Reyhan sambil membaringkan badannya di sebelah Tasya.
Tasya hanya diam.
nggak perlu, aku tidak suka baju pilihan orang lain tampa aku melihatnya sendiri.
"Satu lagi, untuk selanjutnya aku tidak akan mengizinkanmu pergi selain pergi denganku. Lagian apa kata orang jika melihat istri Direktur Abadi grup jalan berdua dengan laki-laki lain di Mall milik Abadi grup sendiri. Mau di tarok di mana muka ku.."
"aku tidak jalan berdua dengan laki-laki lain, ada Vara juga.." ucap Tasya sambil membalikkan badannya menghadap Reyhan.
"Tapi aku tidak melihat Vara waktu kamu memilih baju dengan dokter itu ".
"ada sayang, Vara juga ada di sana. Adrian hanya ingin berteman dengan ku, apa itu salah?? dia itu sudah punya calon istri, dia tidak mencintaiku lagi, lagian siapa juga yang mau dengan wanita yang sedang hamil seperti ku??" hiks..hiks... aku mencintaimu"
Reyhan menghapus air mata Tasya, lalu membawa Tasya ke dalam pelukannya.. "aku juga sangat mencintaimu, aku tidak rela jika ada laki-laki lain yang membuatmu bisa tertawa lepas seperti tadi.." ucap Reyhan sambil terus mencium pucuk kepala Tasya.
Tasya semakin membenamkan kepalanya di dada bidang Reyhan.. "jangan marah-marah lagi".
"ma'afin aku sayang, udah bikin kamu nangis... ya udah sekarang kamu makan dulu ya, kasian dedek bayinya.."
Reyhan mengambil makanan yang ada di nakas, lalu menyuapi Tasya makan.
"wahh... bajunya cantik-cantik bangat, sayang kalau di buang. mending bajunya saya kirim untuk menantu saya di kampung, kebetulan dia juga hamil.." bik Ani.
****
kali ini up dengan bab terpanjang ya, lagi rajin2nya.. hehe
jgn lupa like dan komennya.🙏
__ADS_1