
Para pekerja di rumah itu tampak cemas dengan situasi yang tidak seperti biasanya. Setelah mereka selesai makan bersama lalu mereka berkumpul di taman belakang, kecuali bik Ina kepala pembantu di rumah itu. Karena bik Ina sudah kembali ke ruang makan dimana majikannya berada..
"sepertinya den Reyhan dan non Tasya tidak menyukai kita.." ujar Sumi sambil berbisik kepada teman-temannya.
"iya benar Sumi, aku lihat juga begitu. Mereka seperti tidak suka dengan banyak orang. Seperti tidak nyaman dengan adanya kita.." sahut Siti.
"terus bagaimana dengan nasib kita? jika kita di pecat kita mesti cari kerja di mana lagi? rasanya di sini tempat paling nyaman.." Lina pun menimpali..
Mang Jarwo yang dari tadi sibuk memotong rumput tiba-tiba ikut nimbrung dengan para ART itu. "ada apa?? kenapa pada tegang gini? "ujar mang Jarwo sambil memegang gunting rumput di tangannya.
"mang guntingnya tarok dulu, serem ahh.." ujar Sumi..
"iya sum.. ada apa kalian pada ngumpul di sini??" tanya mang Jarwo lagi.
"anu mang.. tadi di ruang makan ketika kami melakukan tugas kami seperti biasanya, tiba-tiba den Reyhan meminta kami untuk turun ke bawah. Katanya dia nggak suka kalau kita berdiri di sana ketika mereka lagi makan.." Ujar Sumi menjelaskan.
"Mungkin den Reyhan tidak biasa di perlakukan seperti itu. Setau saya den Reyhan hanya tinggal berdua saja dengan non Tasya. Dan hanya ada satu pembantu yaitu bik Ani. Setiap orang kan beda-beda toh..."
"justru itu mang, karena mereka biasanya cuma punya satu pembantu, bisa jadi hanya bik Ina dan bik Ani saja yang tetap bekerja di sini.."
__ADS_1
"kasian anak ku sebentar lagi mau masuk SMP, kalau aku sudah tidak bekerja lagi gimana aku akan membiayai sekolahnya??" ucap bik Konah sedih...
"aku juga, kalau udah nggak kerja gimana mau beli obat untuk ibuku yang nggak bisa putus obat.." ujar Sumi
Disaat mereka sedang berspekulasi dengan pikiran masing-masing, tiba-tiba Reyhan, Tasya dan juga bik Ina sudah berdiri di belakang mereka. "kalian ngapain pagi-pagi sudah berkumpul di sini??" kata bik Ina yang mengejutkan mereka.
Mereka langsung berbalik dan alangkah terkejutnya melihat siapa yang datang bersama bik Ina.
"ma'af tuan, nona... " ujar mereka serentak.
Reyhan hanya tersenyum, karena Reyhan dan juga Tasya sudah mendengar apa yang mereka bicarakan. "Kasian bik Ina dan juga bik Ani jika cuma berdua saja mengurus rumah sebesar ini. Mereka sudah cukup berumur untuk melakukan pekerjaan berat, dan saya harap kalian masih setia bersama bik Ina di sini.." ucap Reyhan sambil melebarkan senyumnya.
"terima kasih den, non.. kami akan melakukan tugas kami dengan baik.. " ujar mereka serentak dengan penuh semangat.
"sekali lagi terima kasih banyak den, kami sangat bahagia dan kami akan bekerja lebih baik lagi.." ucap Sumi dan juga di anggukkan oleh kawan-kawannya..
Dan setelah itu mereka kembali mengerjakan pekerjaan mereka masing-masing. Sedangkan Reyhan dan Tasya masih berkeliling bersama bik Ina untuk melihat rumah itu secara rinci. Basement yang harusnya di jadikan tempat parkir namun di sulap menjadi kamar-kamar buat para ART di sana. Ada ruangan besar untuk mereka berkumpul sambil menonton TV. Dan juga ada dapur yang tak kalah mewah tempat mereka makan. Nenek memperlakukan pembantunya seperti keluarga sendiri. Sehingga mereka sangat betah bekerja dengan nek Zahra.
Setelah itu bik Ina mengajak Tasya dan Reyhan untuk melihat taman belakang. Tasya tampak takjub melihat keindahan taman itu. Banyak bunga-bunga yang lagi bermekaran, dan juga pohon mangga yang sedang berbuah lebat.
__ADS_1
"sayang, aku mau mangga itu.." ujar Tasya sambil menunjuk pohon mangga di depan mereka.
"mang Jarwo, tolong ambilkan buah mangga itu untuk non Tasya.." perintah bik Ina.
Mang Jarwo langsung memanjat batang mangga itu dengan semangat, lalu menurunkannya beberapa buah. Setelah itu menyerahkannya pada bik Ina. Bik Ina pun meminta sumi untuk menyiapkan mangga itu dan mengantarnya ke kamar Tasya.
"oh ya den, ada yang ingin bibik tunjukkan pada non Tadya dan juga den Reyhan.."
"apa itu bik??
"mari ikut bibik.."
Ternyata bik Ina membawa Tasya dan Reyhan menuju kamar Nek Zahra yang berada di samping kamar mereka. Bik Ina membuka pintu kamar itu. Dan alangkah terkejutnya Reyhan dan Tasya ketika melihat kamar neneknya itu sudah di sulap menjadi kamar bayi yang begitu cantik. Kamar itu di dominasi dengan Warna putih biru. Semua peralatan bayi pun sudah tertata lengkap di sana.
"waaaawww bagus bangat sayang??" ujar Tasya takjub..
"nyonya meminta kami menyiapkan ini seminggu sebelum nyonya berangkat ke Surabaya. Nyonya pun langsung pindah ke kamar bawah.." lalu bik Ina membuka lemari pakaian bayi yang sudah terisi penuh.. "ini baju bayinya baru sedikit, karena nyonya belum tau jenis kelamin bayinya. Nyonya sih berharapnya den Reyhan dapat anak cewek.." ucap bik Ina sambil tersenyum memegang salah satu baju bayi untuk anak cewek.
Reyhan sangat terharu. Lagi-lagi neneknya menunjukkan rasa sayang dan pedulinya kepada dirinya maupun kepada keluarganya.
__ADS_1
***
jangan lupa like dan komen...😘