
Karena sekarang rumah nek Zahra sudah di sita pihak Bank, maka jenazahnya hanya di mandikan di rumah sakit dan juga di sholatkan di mesjid dekat rumah sakit. Hanya ada satu dua orang kerabat dekat yang datang setelah di hubungi Aryo. Setelah di sholatkan lalu mereka menuju pemakaman keluarga, nek Zahra di makamkan di sebelah kuburan suaminya. Karena sebelum meninggal beliau berpesan, jika meninggal ingin di kuburkan di samping suaminya. Reyhan terlihat sangat tegar, dia sudah merelakan neneknya, begitu pun dengan Aryo.
Setelah mereka pulang dari pemakaman, Reyhan dan Aryo segera menuju kantor pengacara atas perintah neneknya tadi malam, karena dia juga ingin segera pulang ke Jakarta.
"tok...tok...tok..."
"iya silahkan masuk.."sahut seseorang dari dalam.
Reyhan pun membuka pintu dan memberi salam kepada pengacara neneknya itu "selamat siang pak.."
"iya siang ini Reyhan ya??" tanya pengacara itu dengan ramah, karena ada Aryo sudah pasti dia datang bersama Reyhan sesuai janji.
"iya pak saya Reyhan.." ujar Reyhan sembari menjabat tangan bapak itu.
"saya Dodi.. saya turut berduka cita atas meninggalnya ibu Zahra. Mohon ma'af karena tidak bisa mengantarkan ibu Zahra ke tempat peristirahatan terakhir, karena saya baru sampai dari Malaysia.."
"iya pak, tidak apa-apa.."
"silahkan duduk dulu Reyhan, Aryo..."
"baik pak..." ucap Reyhan sambil duduk di kursi depan meja pak Dedi yang di ikuti Aryo.
Lalu pak Dodi mengeluarkan amplop besar dari laci mejanya. "ini ada surat wasiat dari ibu Zahra yang akan saya sampaikan kepada kalian berdua.." ucap pak Dodi sambil mengeluarkan sesuatu dari map itu. Terlihat sepucuk surat serta satu buah buku tabungan dan juga 2 sertifikat.
Lalu pak Dodi membaca isi surat yang sudah di tuliskan nek Zahra tersebut.
"Untuk cucuku Reyhan, tak henti-hentinya nenek meminta ma'af karena sudah menelantarkan mu selama ini. Dan nenek sangat bersyukur karena kamu sudah mau menerima nenek dan juga mema'afkan nenek. Hati mu sangat mulia, kamu tumbuh dengan baik walau tanpa kasih sayang penuh keluargamu. Untuk itu sebagai rasa sayang dan juga sebagai penebus dosa nenek kepadamu, maka nenek akan menyerahkan harta yang nenek punya kepadamu. Rumah yang nenek bangun di Jakarta itu, sengaja nenek buat atas nama kamu. Rawatlah rumah itu dengan baik, jangan biarkan rumah itu kosong karena nenek pasti bakalan sedih jika kamu tidak menerima pemberian nenek. Dan juga nenek punya tabungan yang nenek buat atas nama kamu juga, semoga kamu bisa memanfaatkan uang itu untuk membuka cabang hotel yang baru.
Dan Aryo.. kamu sudah nenek anggap seperti cucu sendiri, walaupun dari dulu kamu tidak pernah memanggilku dengan panggilan Nenek. Kamu begitu tulus merawat nenek selama ini, maka nenek pun menghadiahimu sebuah rumah. Rumah itu terletak tepat di depan rumah yang nenek berikan untuk Reyhan. Nenek sengaja membangun rumah berhadapan, supaya kamu bisa hidup berdampingan dengan kakakmu Reyhan dan juga bisa menjaganya beserta keluarganya. Hiduplah dengan rukun dan bahagia.. nenek sayang kalian.."
__ADS_1
Di dalam surat wasiat itu sama sekali tidak di bahas tentang hotel dan juga rumah nek Zahra yang di Surabaya, seakan beliau sudah punya firasat jika hotel dan rumah itu akan hilang. Padahal nek Zahra menulis surat itu sebelum mengetahui bahwa Perusahaannya mengalami kebangkrutan.
Baik Reyhan maupun Aryo sangat terkejut dengan isi wasiat nenek. Reyhan tidak menyangka jika neneknya sudah menyiapkan semua itu untuknya dan Aryo. Aryo pun selama ini tidak pernah mengetahui tentang tabungan beserta rumah untuknya. Hanya rumah yang di tempati nenek di Jakarta itu saja yang dia tahu jika itu di bangun untuk Reyhan.
Setelah pak Dodi menyerahkan buku tabungan dan juga sertifikat rumah, maka mereka berdua pamit untuk segera pulang ke Jakarta.
###
Jam sudah menunjukan pukul dua siang. Sesuai janjinya Vara sudah tiba di rumah Tasya..
"nyonya besar mana bik??" tanya Vara.
"ada mbak di atas. Sepertinya non Tasya lagi gelisah.."
"gelisah kenapa bik??"
"den Reyhan belum menghubunginya dari semalam. Hanya memberi kabar kalau dia sudah sampai, udah gitu nggak ada kabar lagi.." jelas bik Ani.
"tok...tok...tok..."
"Reyhaann.." ucap Tasya sambil membuka pintu. Dan alangkah kecewanya dia karena bukan Reyhan yang datang.. "ehhh lo Var, ayo masuk.."
"kan elo yang nyuruh gua datang, kenapa malah kaget gitu.."
"iya..ya... gua tau.. gua tu lagi kepikiran Reyhan.."
"emang Reyhan belum ngubungi lo??"
"udah sih tadi malam.. sampai sekarang belum ada lagi, mana nomornya nggak aktif lagi.." ucap Tasya kecewa.
__ADS_1
"kali aja dia sibuk ngurusi neneknya.."
"tapi kan gua khawatir Var, sesibuk apapun setidaknya kabari gua lah.."
"bumil nggak usah sewot gitu lah, sabar aja dulu. Mana tau bentar lagi dia datang kan.." Vara mencoba menenangkan sahabatnya itu. "lo udah makan belum??"
"nggak selera gua.."
"lo nggak boleh gitu Nat, ingat di dalam perut lo ada janin yang butuh asupan gizi. Kalau lo nggak makan apa lo nggak kasian??"
"iya sih... ya udah kita makan bareng yok..."
Vara pun mengangguk. Lalu mereka menuju ke bawah untuk makan siang.
"masak apa tadi bik??" tanya Vara yang langsung menuju ke dapur.
"opor ayam mbak, sama capcai gitu.. mbak Vara duduk aja biar bibik siapin.."
"nggak apa-apa bik, biar aku bantuin ya.." ucap Vara sambil menghidangkan makanan di meja makan.
"bumil makan yang banyak ya??" ucap Vara lagi.
"iya ya..."
Lalu setelah itu mereka saling diam menikmati kenikmatan opor ayam buatan bik Ani.Hanya terdengar suara sendok dan garpu yang beradu dengan piring. Tasya sampai nambah dua kali, hingga membuat bik Ani dan Vara senyum-senyum kesenangan. Apalagi bik Ani belum pernah melihat Tasya makan sebanyak itu.
Setelah selesai makan mereka berdua santai di depan TV sambil menonton drama Korea favorit mereka. Sesekali mereka tertawa karena melihat adegan di film itu. Sedangkan bik Ani sibuk bersih-bersih di dapur. Sejak kedatangan Vara, Tasya mulai tenang tidak gelisah seperti tadi...
****
__ADS_1
Like, komen ya..🙏