
Happy reading..
Malampun berganti pagi. Namun matahari tak muncul pagi ini walau jam sudah menunjukan pukul tujuh pagi, karena di luar turun hujan dari semalam sehingga membuat orang-orang merasa malas untuk bangun. Berbeda dengan Tasya, seperti biasa dia sudah bangun terlebih dulu. Bukan karena morning sickness, tapi memang karena sudah kebiasaan. Sejak Reyhan berangkat ke Surabaya Tasya sudah tidak lagi mengalami mual dan muntah, dia sudah mulai merasa baikan dan sudah bisa makan banyak.
Tasya menatap laki-laki yang sedang tidur sambil memeluknya itu, laki-laki yang selalu di rindukannya. Reyhan terlihat begitu pulas hingga tidak menyadari kalau dari tadi ada sepasang mata yang terus menatapnya.
Hingga tak lama kemudian Reyhan membuka matanya dan melihat istrinya yang sedang tersenyum memandangnya. "kamu sudah bangun??" ujar Reyhan seraya menarik Tasya untuk mendekat lagi ke dalam pelukannya.
"hmmmm..." Tasya mengangguk.
"udah nggak mual lagi??"
Tasya menggeleng "nggak.. Aku udah baikan sekarang.."
Reyhan mencium kening istrinya itu bertubi-tubi.. "syukurlah sayang.."
"kamu nggak kerja??" tanya Tasya
"iya..." ujar Reyhan sambil menyatukan bibirnya dengan bibir Tasya.
Tasya perlahan mendorong tubuh Reyhan supaya menjarak karena dia tau jika sudah begitu maka gairah tak bisa di elakkan lagi. "ya udah mandi sana.. nanti terlambat lo.."
"nggak mau.. maunya mandi bareng kamu.." Kini tangan Reyhan sudah menelusup masuk ke dalam baju Tasya lalu mengelus perut Tasya. Reyhan menyentuh bagian sensitifnya, hingga membuat Tasya terpancing gairah. Setelah itu Reyhan melucuti semua pakaian Tasya dan membuangnya ke sembarang arah hingga berserakan di lantai, dan hubungan intim pun tak bisa di elakkan lagi. Mereka kembali merajut kasih di atas ranjang setelah apa yang mereka alami belakangan ini.
Tiba-tiba ponsel Reyhan bergetar menandakan ada notifikasi yang masuk. Di raihnya ponsel di nakas itu, terlihat ada pesan dari Aryo..
"tuan, bukalah ruangan di sebelah kanan ranjang, di sana ada baju ganti buat tuan dan mbak Tasya.."
"siapa sih sayang??" tanya Tasya
"Aryo.." Reyhan lalu bangkit dan mengambil celananya yang berserak di lantai lalu memasangnya. Setelah itu dia berjalan menuju pintu yang ada di samping ranjang dan membukanya. Setelah pintu itu terbuka alangkah terkejutnya Reyhan melihat apa yang ada di depan matanya. Wall in Closet yang begitu mewah dengan banyak cermin di dalamnya. Semua baju, tas, sepatu, jam dengan berbagai merek terkenal tertata rapi di sana. Reyhan sangat terharu, dia tidak menyangka neneknya sudah menyiapkan itu semua untuk dia dan istrinya.
__ADS_1
"ada apa sayang? kok bengong..?" tanya Tasya yang penasaran dengan apa yang di lihat suaminya.
Reyhan lalu mendekati Tasya dan mengangkat tubuh istrinya itu menuju kamar mandi. Tasya pun masih kebingungan, karna belum ada jawaban dari Reyhan. Setelah mereka selesai mandi, Reyhan lalu membawa Tasya menuju ruangan itu. Tasya pun sangat terkejut sama seperti Reyhan atas apa yang di lihatnya.
"wooowww?? ini nenek yang nyiapin sayang??" ujar Tasya dengan mulut menganga. Tasya terkejut melihat koleksi tas, baju dan sepatu dengan warna kesukaannya dia. Nenek seolah tau dengan seleranya padahal mereka tidak terlalu sering bertemu.
"aku juga tidak menyangka nenek melakukan ini" ujar Reyhan lirih. Reyhan sangat menyesal karena selama ini tidak banyak waktu untuk neneknya, bahkan dia menolak untuk tinggal bersama neneknya. Padahal neneknya begitu menyayanginya dan juga istrinya. Seandainya Reyhan tahu jika neneknya tidak berumur panjang, mungkin Reyhan tidak akan menyia-nyiakan kesempatan berharga untuk terus berada di sisi neneknya dan membahagiakan neneknya itu.
Tasya seolah mengerti dengan perasaan Reyhan, lalu dia memeluk suaminya sambil mengelus punggung suaminya itu. "sabar ya sayang, do'akan nenek semoga nenek bahagia di sana.."
"iya sayang.. ya udah sekarang kamu pakailah baju yang kamu mau kita akan sarapan di bawah.."
Tasya pun memilih baju untuk dia kenakan. Karena Tasya suka dengan semua model baju yang ada di sana, jadi dia tidak perlu memilih dia tingggal mengambil salah satu dan mengenakannya.
"kamu sangat cantik sayang.."puji Reyhan.
"suami aku juga tampan, apalagi dengan kaos putih ini. Nenek memang pintar memilih baju untuk kita.." ujar Tasya sambil melebarkan senyumnya.
"selamat pagi tuan, dan nona..." sapa mereka serentak sambil membungkukkan badan.
"pagi juga..." balas Tasya sambil melebarkan senyumnya.
"pagi tuan, mbak.." sapa Aryo..
"Yo.. kamu nggak usah panggil aku Tuan. Panggil aja Mas, abang, atau kakak..." ucap Reyhan.
Tasya pun tak mampu menahan tawanya, dia menutup mulutnya dengan tangannya. Sesungguhnya Tasya juga merasa aneh dengan panggilan itu.
"baik tuan.. ehh Mas..." jawab Aryo gugup.
"bik Ina..." panggil Reyhan.
__ADS_1
"iya den..." ucap bik Ina sambil berdiri di samping Reyhan.
"apa bibik dan yang lainnya sudah sarapan??"
"belum den, kami akan sarapan setelah den Reyhan mbak Tasya dan juga Aryo siap.." ujar Bik Ina.
"hmmmm... untuk selanjutnya bik Ina dan pelayan lainnya tidak perlu menunggu kami siap baru sarapan, di saat kami sarapan bik Ina dan yang lain juga di persilahkan untuk sarapan. Dan juga, tidak perlu lagi berdiri seperti ini.."
"baik den.. kami akan melakukannya.."
Bik Ina pun meminta pelayan lain untuk kembali ke bawah, makan bersama di tempat mereka tinggal. Selama ini mereka memang makan setelah mengurus nek Zahra.
Setelah mereka pergi, Reyhan dan Tasya baru akan memulai sarapan. Karena Reyhan tidak biasa dan tidak nyaman jika di perlakukan seperti itu. Dia ingin menjalani hidup biasa-biasa aja.
"Mas, mbak.. aku bolehkan tetap tinggal di sini bersama kalian??" tanya Aryo gugup.
"iya boleh dong Aryo.. memangnya kamu mau tinggal di mana lagi??" sahut Tasya.
"kamu boleh tinggal di sini, tapi setelah menikah kamu harus tinggal di rumah kamu sendiri.." jawab Reyhan.
"aku belum punya pacar mas, gimana mau nikah.." Aryo terlihat malu-malu..
"masa sih Yo, kamu kan tampan masa nggak punya pacar..?"
"belum mbak..." Aryo menundukan kepalanya sambil senyum malu-malu..
"kamu sepertinya sangat tertarik dengan hidup Aryo.." timpal Reyhan ketus.
"hehe.. penasaran aja sayang.."
Setelah itu baik Aryo maupun Tasya tidak ada yang berani bicara lagi. Mereka fokus menikmati sarapan masing-masing..
__ADS_1
*****