
Tasya sangat bahagia menikmati keindahan pantai bersama dengan orang-orang yang di sayanginya. Sudah lama dia merindukan saat-saat seperti ini, bisa berkumpul dan jalan-jalan ke pantai bersama suami dan juga sahabatnya. Vara pun sangat bahagia berlari- lari sambil kejar-kejaran di tepi pantai dengan Arjuna. Sementara Tasya hanya memperhatikan dan ikut tertawa melihat kebahagiaan sahabatnya itu.
"kamu juga mau kayak mereka??" goda Reyhan.
"iya nggak lah sayang, aku mana boleh lari-larian kayak gitu.." ujar Tasya sambil mencubit lengan Reyhan.
"hehe.. kali aja kan sayang, kayak di film-film gitu.."
"masa orang hamil lari-lari kayak gitu, yang ada ntar janinnya keluar sayang.." ujar Tasya terkikik.
Di saat mereka sedang asyik tertawa, tiba-tiba ponsel Reyhan bergetar. Di raihnya ponsel yang berada di saku celananya tersebut. Ternyata nomor yang tidak di kenal. Reyhan hanya membiarkan saja, karena dia berfikir mungkin itu adalah klien. Saat ini Reyhan tidak ingin membahas pekerjaan, dia hanya ingin fokus pada Tasya. Namun ponsel itu terus berdering, hingga Tasya pun menyuruh Reyhan untuk segera mengangkatnya. "kenapa nggak di angkat sayang??"
"malas, nomor nggak di kenal juga.."
"mana tau penting.."
"ya udah, aku angkat ya?
Tasya menganggukan kepalanya sambil tersenyum.
"hallo.."
"hallo pak Reyhan, ini Aryo asistennya nyonya Zahra.." terdengar suara laki-laki di seberang sana sedikit gemetar.
"kenapa Yo??"
"nyonya Zahra pak, nyonya mengalami serangan jantung dan sekarang lagi di ruangan ICU.."
"apaa?? nenek kena serangan jantung??" tanya Reyhan terkejut.
"iyaa tuan, kalau bisa tuan tolong datang kesini. Karena nyonya tidak sadarkan diri.." suara Aryo seperti memohon.
"iya saya akan segera kesana.." Reyhan lalu memutuskan sambungan teleponnya.
"aku akan segera terbang ke Surabaya.."ucap Reyhan.
"aku ikut sayang, aku juga mau lihat kondisi nenek.."ujar Tasya
"sayang, kamu nggak usah ikut. Kondisi kamu lagi lemah begini, aku nggak mau kalau terjadi apa-apa sama kamu dan juga anak kita.." ucap Reyhan sambil memegang kedua tangan Tasya.
Vara dan Arjuna yang tadi sibuk main kejar-kejaran juga langsung menghampiri Tasya dan Reyhan karena mendengar nenek Reyhan yang mengalami serangan jantung.. "iyaa Nat, terlalu bahaya jika kamu harus terbang dalam kondisi kayak gini.." Vara pun menimpali.
"bro, gua minta tolong anterin Tasya pulang ke rumah ya, gua akan minta Dino buat ngantar gua ke bandara.."
"lo tenang aja bro.. semoga nenek lo baik-baik aja.." ucap Arjuna sambil menepuk pundak Reyhan.
"makasih bro.."
__ADS_1
Tasya tidak bisa berkata-kata lagi, air matanya sudah tidak bisa di bendung lagi. Karena dia begitu ingin ikut dengan Reyhan, tapi di satu sisi dia juga memikirkan kehamilannya yang masih belum kuat. Apalagi dia masih sering mual, bagaimana nanti jika mual dan muntah di dalam pesawat pasti Reyhan bakalan repot mengurusinya.
Reyhan langsung membawa Tasya ke dalam pelukannya "sayang jangan nangis dong. Do'ain aja nenek baik-baik aja supaya aku bisa cepat pulang." ujar Reyhan sambil mencium kening istrinya itu.
Tasya memeluk Reyhan dengan erat.." kamu cepat pulang ya.."
"iya sayang.."
"ya udah kalau gitu ayo kita kembali ke hotel karena aku akan segera berangkat.." ujar Reyhan.
Setibanya di hotel Reyhan langsung meminta Dino untuk mengantarnya ke Bandara. Tasya pun sudah menyiapkan koper yang berisi pakaian Reyhan selama di sana. Untung di hotel ini semuanya sudah di siapkan, seperti pakaian dan lain-lainnya. Karena hotel ini merupakan rumah kedua bagi Reyhan.
Setelah kepergian Reyhan, Arjuna pun mengajak Vara dan juga Tasya untuk pulang ke rumah. Karena hari juga hampir gelap. Sepanjang perjalanan Tasya hanya diam, dia merasa sangat sedih karena harus berpisah dengan Reyhan. Hatinya benar-benar tidak bisa di ajak kompromi, padahal Reyhan bukan pergi untuk hal lain melainkan untuk melihat neneknya yang masuk rumah sakit.
Tasya menyandarkan kepalanya di bahu Vara..
"sabar ya Nat, mudah-mudahan neneknya Reyhan nggak apa-apa.." ucap Vara sambil mengelus tangan sahabatnya itu..
"amiinn... Surabaya itu jauh ya Var?" tanya Tasya karena dia belum pernah pergi ke sana.
"ya lumayan, satu setengah jam kalau naik pesawat.." Vara tentu saja tau, karena Surabaya adalah kampung ibunya.
"eemmm... jauh ya.. Var, lo nginap di rumah gua aja ngapa??"
"emmm.. gimana ya Nat, gua sih mau. Cuma besok gua dinas pagi Nat, lagian gua juga nggak ada persiapan.."
"besok gua janji, sepulang dinas gua langsung ke tempat lo.."
"yeeeee..." Tasya langsung memeluk Vara "janji ya.."
"iyaa gua janji.."
Arjuna hanya senyum-senyum melihat dua sahabat itu dari kaca depan. Hingga tak lama kemudian mobilnya memasuki pekarangan rumah Reyhan..
"yaahh.. udah sampai?"
"iya udah Nat, udah di depan pintu rumah lo juga.." ujar Vara
Tasya lalu membuka pintu mobil, rasanya dia begitu malas untuk turun karena di rumah pasti bakalan kesepian. "Arjuna, nggak mampir dulu, ngopi kek..?? " Tasya berusaha supaya Vara masuk dulu ke dalam rumahnya.
"mau cepat-cepat nganterin Vara Nat, ntar ibunya marah lagi.." sahut Arjuna sambil melirik Vara yang berdiri di samping Tasya.
"ya udah kalau gitu kita pulang dulu ya Nat, lo baik-baik di rumah. Sampai jumpa besok.." ucap Vara lalu Vara mencium pipi kanan dan pipi kiri Tasya.
"makasih ya Var.. Hati-hati di jalan, salam sama ibu ya.."
"iya Nat... da..da...da.. Vara melambaikan tangannya.
__ADS_1
Setelah mobil Arjuna tidak kelihatan lagi, Tasya lalu masuk ke dalam rumah. Baru saja Tasya masuk bik Ani sudah menghampirinya. "eeehh non Tasya dah pulang? den Reyhan mana non?" tanya bik Ani karena tidak melihat Reyhan bersama Tasya.
"Reyhan ke Surabaya bik, nenek masuk rumah sakit.."
"ya Allah.. nyonya Zahra sakit apa non??"
"serangan jantung bik.."
"kasian nyonya Zahra, semoga beliau cepat sembuh.." ucap bik Ani sedih..
"aminn.. ya udah bik, kalau gitu aku mandi dulu ya.."
"iya non, bibik siapin makan malam ya buat non.."
Tasya mengangguk lalu berlalu menuju ke kamarnya. Sesampainya di kamar, Tasya bukannya langsung mandi malah rebahan di tempat tidurnya, karena merasa kelelahan.
"Reyhan dah sampai belum ya?? baru aja di tinggal dua jam yang lalu, rasanya dah kangen bangat.." gumam Tasya.
Lalu dia mengambil hp nya di dalam tas, kali aja Reyhan sudah mengabarinya, ternyata belum ada. Tasya pun mencoba menghubungi nomornya Reyhan, namun tidak aktif.
"mungkin Reyhan masih di dalam pesawat. ya udah aku mandi dulu, kali aja siap mandi nanti ada telpon dari Reyhan.."
Setelah selesai mandi Tasya menuju ke bawah untuk makan malam, karena perutnya sudah sangat lapar. Sambil makan Tasya terus menatap layar ponselnya.
"kok Reyhan belum nelpon juga ya bik? kata Vara satu setengah jam nyampe tuh di Surabaya, ini udah tiga jam lebih lo bik.."
"mungkin hp nya den Reyhan kehabisan batrai non, makanya belum nelpon non.."
"iya kali bik.." Tasya meneruskan kembali makan malamnya. Setelah itu dia langsung menuju ke kamarnya.
"Reyhan.. kok nggak ngabari aku sih?? aku khawatir..! Tasya mondar mandir seperti setrikaan. Tiba-tiba ponselnya bergetar, dengan cepat Tasya menggeser tombol hijau di layar ponselnya dan mendekatkan ponsel itu ke telinganya.. "sayang, kamu udah sampai??"
"udah sayang, ini udah di rumah sakit.." suara Reyhan terdengar sedih.
"nenek gimana??"
"masih belum sadar sayang.. kamu udah makan??"
"ini baru selesai makan sayang. kamu sendiri??"
"aku juga udah makan. ya udah, kamu istirahat ya udah malam.."
"iya sayang.. kamu kabari aku terus ya.. miss u.."
"miss u too sayang, muuuaahh" Reyhan lalu menutup telponnya.
Rasanya Tasya masih belum puas mendengar suara suaminya itu, tapi dia juga tidak ingin memaksakan diri karena Reyhan juga sepertinya lagi tidak bersemangat. Akhirnya Tasya memutuskan untuk segera tidur...
__ADS_1