
"sayang... kamu makan yang banyak ya, hari ini aku pengen ajak kamu jalan-jalan sepuasnya.."
"beneran sayang??" Tasya sangat bersemangat.
"iya beneran dong.."
"kemana?? "
"kemana aja yang kamu suka.."
Tasya tampak berpikir sejenak sebelum menjawab "emmm.. ke hotel kali ya, aku pengen main di pantai sepuasnya.." lagi Tasya sangat bersemangat.
"boleh tuh, lagian aku juga udah lama nggak ke sana. Tapi jangan minta aku ngantri beli bakso mas yang kemaren ya, aku nggak mau..!
"nggak janji sayang, kalau anak kita maunya bakso gimana??" goda Tasya.
Reyhan mengelus perut Tasya dengan lembut "dedek, mintanya jangan yang aneh-aneh ya.." Reyhan lalu mencium perut Tasya.
"gelii ahh..." ucap Tasya terkekeh..
"oh ya gimana kalau kita ajak nenek sekalian, aku pengen minta ma'af sama nenek sekalian mau kasih liat ke nenek kalau aku juga punya hotel mewah yang nggak kalah sama nenek.." ucap Reyhan dengan bangga.
"boleh sayang.. aku siap-siap dulu ya.." Tasya bergegas menuju ke kamarnya untuk bersiap-siap.
30 menit kemudian Tasya kembali turun ke bawah. Tasya mengenakan dress putih selutut yang membuat dia terlihat sangat cantik.
"cantik bangat sih istri gua.." puji Reyhan.
"udah ahh nanti aku melayang lo.." ujar Tasya malu-malu.
"emang cantik kok, tanya aja ma bibik kalau nggak percaya" Reyhan melirik ke arah bik Ani yang sedang membereskan meja makan.
"iya non... non Tasya cantik bangat, apalagi semenjak hamil auranya jadi keluar gitu.."
"udah ahh, jadi malu di puji terus.." Ucap Tasya sambil menggandeng tangan Reyhan.
"bik, kita keluar dulu ya.."
"baik den, hati-hati ya, titip salam sama nyonya Zahra."
"siap bik.." sahut Reyhan sambil berlalu meninggalkan bik Ani.
__ADS_1
Kini Tasya dan Reyhan menuju ke rumah Nek Zahra. Karena jarak rumah mereka tidak begitu jauh, lima menit kemudian mereka sampai di depan rumah nek Zahra, dengan cepat satpam di sana membuka pintu gerbang karena sudah kenal dengan sang pemilik mobil. Lalu Reyhan memarkirkan mobilnya di depan rumah mewah milik neneknya itu..
"Den Reyhan, non Tasya..." sambut bik Ina kepala pembantu di rumah itu dengan ramah.
"Bik Ina... gimana kabarnya? "tanya Tasya ramah.
"baik non..non Tasya gimana? apa masih suka mual?"
"masih sih bik, cuma agak berkurang dari biasanya.."
"Syukurlah non... duduk dulu non, den, bibik akan meminta pelayan untuk membuatkan minum."
"nenek mana bik?" tanya Reyhan sambil membawa Tasya untuk duduk di sofa ruang tamu.
"nyonya pulang ke Surabaya den, katanya ada masalah di Perusahaan. Padahal nyonya baru aja sembuh.." ucap bik Ina sambil menundukkan kepalanya.
"emangnya nenek sakit bik?" tanya Reyhan khawatir.
"iya den, nyonya sangat sedih dan stres karena peristiwa itu hingga jatuh sakit. Nyonya merasa sangat bersalah sama den Reyhan karena sempat menjodohkan den Reyhan dengan Renata itu. Apalagi si Renata tiap hari nagih janji itu sama nyonya, kabarnya Renata juga sempat mau bunuh diri jika nyonya nggak mau menikahkan den Reyhan dengan nya.."
Reyhan tampak meremas rambutnya kasar. Dia tidak menyangka jika gadis itu seserius itu dengan perjodohan yang sama sekali tidak di ketahuinya..
"belum tau den, nyonya belum ngasih kabar.."
"ya udah bik, kalau gitu kita pamit dulu ya.."
Sepanjang perjalanan menuju hotel, Reyhan hanya diam dia kepikiran terus dengan neneknya. Sementara Tasya lebih memilih memainkan ponselnya karena sedang berbalas chat dengan Vara. Sehabis itu dia tertidur karena memang jarak dari rumah ke hotel cukup jauh. Hingga kemudian Reyhan memarkirkan mobilnya di basement hotel miliknya itu. Tempat parkir sangat penuh, sepertinya di hotel itu sedang ada tamu yang mengadakan acara.
"sayang bangun..." bisik Reyhan lembut di telinga Tasya.
Tasya membuka matanya pelan "kita udah sampai ya?"
"sudah sayang.."
Tasya mengucek matanya, lalu melihat keluar mobil "kayaknya lagi banyak tamu nih, sampai tempat parkir aja penuh.." ucap Tasya sambil memperhatikan deretan mobil di parkiran itu.
"iya sayang, di sini memang sering di adakan pertemuan. kita turun yuk.."
Tasya mengangguk pelan.. Kali ini Reyhan sengaja mengajak Tasya masuk melalui lobby utama hotel, biasanya dia langsung masuk melalui lift basement. Mereka lalu berjalan masuk sambil tangan Reyhan terus menggenggam tangan Tasya erat, hingga semua mata tertuju pada mereka. Mereka terpesona dengan ketampanan dan kecantikan pasangan itu. Tasya pun tersenyum ramah, sedangkan Reyhan tetap santai dengan sikap dinginnya. Hingga kemudian mata Tasya tertuju pada sekelompok orang yang memakai seragam jas putih yang sedang mengobrol di lobby hotel.
"Sepertinya di sini lagi ada pertemuan para dokter. Aku rindu seragam itu.." gumam Tasya
__ADS_1
Ketika Tasya dan Reyhan melewati sekelompok dokter itu, tiba-tiba Tasya mendengar ada seseorang yang memanggil namanya hingga dia menghentikan langkahnya..
"Dokter Natasya..." panggil orang itu lagi.
Tasya membalikkan badannya mencari arah suara orang yang memanggilnya..
"dokter Natasya..."
kini Tasya melihat seseorang melambaikan tangan ke arahnya.
Dara ?? Arlan ??
Ternyata Arlan dan Dara juga hadir dalam acara pertemuan itu. Dara lalu menggandeng tangan Arlan dengan mesra dan menghampiri Tasya.
"dokter Natasya juga di undang ya? kok penampilannya kayak gini? Acara resmi masa berpakaian kayak mau ke pantai". ucap Dara sinis sambil memperhatikan penampilan Tasya dari ujung rambut sampai ujung kaki.
Belum sempat Tasya menjawab Dara kembali berkata sinis "dokter kok kayak nggak bermoral gitu, kerjaannya masuk hotel bersama laki-laki.."
Dara tidak tau jika laki-laki yang dia maksud adalah suami Tasya dan juga sang pemilik hotel.
Reyhan mengepal tangannya, ingin rasanya dia meno***k bibir wanita itu, tapi di tahannya. Reyhan tidak ingin hotelnya mendapat citra buruk karena pemilik hotel melakukan kekerasan terhadap wanita.
Sedangkan Arlan hanya diam melihat Dara menghina Tasya..
"oh ya, bulan depan aku sama kak Arlan akan menikah, datang ya.." ucapnya sambil tersenyum sinis lalu kembali berkumpul dengan teman-temannya.
"kur**g a**r bangat sih wanita itu?? "ucap Reyhan penuh emosi. "sayang kamu nggak apa-apa kan??"
Sebenarnya gua sakit bangat mendengar kata-kata Dara, tapi gua harus terlihat biasa aja karena gua nggak mau kalau Reyhan mikir gua marah mendengar Dara yang akan menikah dengan Arlan.
"aku nggak apa-apa kok sayang.." ucap Tasya sambil tersenyum semanis mungkin untuk menutupi sakit hatinya..
Kini mereka berjalan melewati meja resepsionis, terlihat pegawai di sana menundukkan kepalanya memberi hormat. Kemudian Dino datang bersama rekan yang lainnya, mereka sama-sama membungkukkan badannya memberi hormat kepada Reyhan. Lalu Dino membawa Reyhan dan Tasya menuju lift VIP hotel yang tidak sembarang orang bisa menggunakannya.
Sementara mata Arlan dan Dara masih tertuju pada Tasya.
"Siapa laki-laki yang bersama dokter Natasya? sepertinya dia sangat istimewa.." gumam Dara.
****
jangan lupa tinggalkan jejak ya, like dan komen pliiss😁🙏
__ADS_1