Warna Cinta Natasya (SEDANG DI REVISI)

Warna Cinta Natasya (SEDANG DI REVISI)
87


__ADS_3

Sudah tiga jam lebih Vara berada di rumahnya Tasya, namun belum juga ada kabar dari Reyhan. Tasya sudah tertidur di depan TV, sementara Vara lagi sibuk berfikir bagaimana caranya pamit pulang pada sahabatnya tersebut. Karena malam ini Vara akan kembali ke rumah sakit menggantikan Lisa di shift malam. Jam sudah menunjukan pukul enam sore, tinggal satu jam lagi waktu Vara untuk dinas malam. "gimana caranya ya supaya bisa pergi, kasian juga sih harus ninggalin Tasya dalam keadaan kayak gini. Lagian Lisa ngapain sih pake minta ganti shift segala, pake bilang ada acara penting lagi. Acara penting apanya? palingan juga ketemuan ama pacarnya.. " gumam Vara..


"Var, lo kok bengong sih??" tanya Tasya yang tiba-tiba bangun dan sedang mengeliatkan badannya.


"ehh.. lo udah bangun Nat??" gua kira lo masih tidur.." ucap Vara sambil tersenyum yang di buat-buat.


"kenapa sih Var, gelisah amat gua liat. Lo ada janji ya?"


"sebenarnya sih gua pengen nemenin lo sampai Reyhan pulang. Tapi si Lisa minta gua buat gantiin dia dinas malam, katanya lagi ada acara penting gitu.."


"ya udah nggak apa-apa Var, lo pergi aja. Gua nggak apa-apa kok. Kan ada bik Ani juga, mana tau bentar lagi Reyhan pulang kan.."


"lo beneran nggak apa-apa Nat?" tanya Vara meyakinkan.


Tasya pun mengangguk.. "nggak apa-apa.."


"ya udah kalau gitu gua cabut ya Nat. Gua takut terlambat sampai rumah sakit, ntar nyonya Dara ngamuk lagi.." ucap Vara sambil meraih tasnya.


"buruan... hati-hati ya.."


"iya Nat... muaachh...muaaachh..." Vara mencium pipi kanan dan pipi kiri sahabatnya tersebut.


Tak lama setelah kepergian Vara, Tasya pun menuju ke lantai atas untuk mandi. Karena baru bangun tidur, Tasya ingin berlama-lama berada di kamar mandi dan berendam air panas di bathup untuk mengembalikan moodnya. Tiga puluh menit kemudian Tasya pun keluar dari kamar mandi dengan menggunakan kimono dan handuk kecil yang membungkus kepalanya. Dan alangkah terkejutnya Tasya ketika melihat Reyhan sudah berdiri di depannya sambil menatap wajahnya. Tasya bukannya memeluk suaminya itu malah memasang wajah cemberut dan mengalihkan pandangannya ke tempat lain.

__ADS_1


"sayang... aku minta ma'af karena nggak sempat mengabarimu.." itu kata-kata yang pertama terucap oleh Reyhan ketika melihat raut muka istrinya.


Itukan memang sifatmu, udah bukan hal yang aneh kalau pergi-pergi selalu lupa ngasih kabar.


Reyhan meraih tangan Tasya dan membawanya kedalam pelukannya. "aku sangat merindukanmu..."ucapnya lirih.


"nenek meninggal sayang.." lanjutnya lagi dengan suara yang berat seperti ingin menangis.


Tasya pun sangat terkejut mendengar ucapan Reyhan " beneran sayang?? kok bisa?? dan kapan meninggalnya?? kenapa kamu nggak ngabari aku sih??" begitu banyak pertanyaan yang Tasya berikan, karena dia merasa tidak percaya atas apa yang di dengarnya.


"dini hari tadi sayang, dan aku begitu sibuk mengurus jenazahnya nenek, hingga nggak sempat memberitahumu. Apalagi sekarang nenek udah nggak punya rumah lagi di Surabaya. Rumah dan juga hotel milik nenek semua di sita pihak Bank. Jadi jenazah nenek terpaksa di urus pihak rumah sakit sampai ke tempat pemakamannya semuanya rumah sakit yang urus.."


"kok bisa gitu sayang..?" ujar Tasya beruraian air mata.


"iya sayang.. aku siap-siap dulu.." ujar Tasya lalu menuju ruang ganti.


Reyhan pun segera mandi dan setelah itu memakai pakaian serba hitam seperti yang di kenakan Tasya.


"bibik nggak di ajak sayang?" tanya Tasya.


"iya sayang... malam ini dan seterusnya kita akan tinggal di rumah nenek.."


Ternyata bik Ani sudah di beri tahu Reyhan tentang kematian neneknya. Jadi bik Ani pun sudah bersiap-siap untuk pergi ke tempat nenek..

__ADS_1


"ayo bik kita berangkat.."


"iya den..."


Sesampainya di rumah nenek, acara sudah hampir di mulai. Para tamu pun sudah banyak berdatangan untuk mendo'akan nek Zahra. Nek Zahra terkenal baik hati oleh orang-orang sekelilingnya. Mereka pun tidak menyangka jika nek Zahra begitu cepat meninggalkan mereka, karena beberapa hari yang lalu nek Zahra masih terlihat sehat dan sempat melakukan lari pagi bersama para pembantunya. Reyhan pun menyampaikan rasa terima kasihnya kepada semua tamu yang datang dan meminta ma'af atas nama neneknya jika selama hidupnya neneknya pernah berbuat salah.


Sudah jam sepuluh malam, semua tamu sudah kembali ke rumah masing-masing. Reyhan pun mengajak Tasya untuk beristirahat di kamarnya.


"bik Ina, tolong siapkan kamar untuk bik Ani. Karena bik Ani juga akan bergabung bersama kalian di sini.." ucap Reyhan


"baik den.. kebetulan masih ada kamar yang kosong. Karena ada satu orang yang mengundurkan diri.."


"makasih den.." ucap bik Ani.


Reyhan pun mengangguk.. Setelah itu mereka kembali ke kamar masing-masing.


Ketika Tasya menaiki tangga menuju kamarnya, tiba-tiba dia kembali sedih mengingat neneknya itu. Biasanya ada nenek bersama mereka yang penuh kehangatan dan juga kasih sayang. Tapi kini nenek sudah tiada. Tak terasa bulir bening itu mengalir dari sudut mata Tasya.


"aku rindu nenek.." ucap Tasya lirih.


"nenek sudah bahagia di sana sayang.." ujar Reyhan sambil memeluk istrinya itu.


*****

__ADS_1


__ADS_2